Maoya yang tidak tahu kalau ada begitu banyak orang yang tertarik pada urusan pribadinya, justru bertekad untuk memulai misinya untuk menakhlukkan hati beku Jovan sesuai petunjuk mesin pencari. Jadi ia berniat untuk mulai menjalankan tips pertama hari itu, yaitu dengan mengubah penampilan.
Setibanya Jovan di rumah, seperti biasa Maoya sudah siap menyambutnya dengan penampilan barunya. Ia tidak lagi mengenakan pakaian kasual yang nyaman dipakai sehari-hari, melainkan mengenakan dress selutut yang press body, feminin dan seksi. Ia juga tidak lagi mengenakan sandal rumah melainkan sepatu high heels yang anggun tapi menyiksa. Rambutnya juga tidak lagi digerai atau dikuncir ekor kuda seperti biasanya, melainkan di kriting rapi di bagian bawahnya lalu dipakaikan bando dengan pita yang manis tapi mengganggu karena berkali-kali melorot ke wajah Maoya.
“Selamat datang...” sapanya berlenggak-lenggok mempertontonkan penampilan barunya kepada Jovan.
“Mau ngelenong lo?”
“Ngelenong? Lo pikir gue ondel-ondel? Lo liat baik-baik dong! Ini fashion gadis feminin nan elegan istri idaman.”
Tapi Jovan memilih untuk mengabaikannya.
Tak mau menyerah begitu saja, ia melanjutkan ke tips kedua dan ketiga yaitu menciptakan sentuhan fisik dan bermanja-manja. Ia mengejar langkah Jovan lalu menghadangnya, berdiri di hadapannya sambil memejamkan mata. Tapi lagi-lagi ia mendapat toyoran dari Jovan.
Dengan menahan kesal, ia membawakan tas Jovan dan menemani Jovan berjalan menuju kamar sambil menggamit tangannya manja. Dan lagi-lagi Jovan menghempaskan tangannya, merebut kembali tasnya lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu tepat di hadapan Maoya.
Untungnya kali ini Maoya sudah mulai terbiasa. Ia tidak lagi merasa marah dan berniat menendang pintu kamar sialan itu. Ia justru mengetuk pintu dengan sopan dan meminta Jovan mengijinkannya masuk.
“Mau ngapain lo?” tanya Jovan saat membukakan pintu kamarnya untuk Maoya.
“Boleh kan gue masuk?” Maoya langsung masuk tanpa menunggu persetujuan dari Jovan.
Ia kemudian duduk di sofa yang ada di kamar Jovan sambil membaca buku yang tergeletak di meja. Jovan merasa sikap Maoya sangat aneh dan ia langsung bisa menebak bahwa gadis itu pasti sedang merencanakan sesuatu terhadapnya.
“Mau ngapain?”
“Ngga ngapa-ngapain. Cuma mau baca di sini aja. Ngga boleh?”
Jovan menanggapi Maoya dengan mengeluarkan beberapa buku tebal dari bawah meja. “Baca ini! Dan jangan keluar sebelum lo bisa nyeritain semua isinya ke gue.”
“Tunggu! Bukan itu maksud gue, Van. Iya emang gue pengen baca buku lo dan jadi pinter kaya elo. Tapi bukan berarti otak limited gue bisa langsung otomatis pinter kaya elo dalam waktu singkat kan?”
“Siapa bilang kalau harus singkat? Lo boleh tinggal dan baca buku ini selama waktu yang lo butuhin. Seminggu, sebulan, setahun juga ngga masalah.”
“Maksud lo apa? Lo mau ngurung gue di kamar lo gitu?”
“Pilihan selalu ada di tangan lo.” Jawab Jovan sambil menyandarkan diri di sofa dan menyilangkan kakinya dengan santai namun tetap elegan. Ia juga mulai mengambil dan membaca salah satu buku dengan seksama.
Dan akhirnya Maoya menemukan momen yang pas untuk melanjutkan tips ke empat yaitu mengungkapkan hal yang membuatnya menyukai Jovan.
Ia mengeluarkan ponselnya dan diam-diam memotret Jovan yang sedang sibuk membaca dengan gaya elegan dan mempesonanya. Sementara Jovan lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu demi mengetahui tujuan dan alasan sebenarnya perubahan sikap tidak masuk akal gadis tengik itu.
Tapi nyatanya kegilaan Maoya tidak berhenti sampai disana. Ia memotret hampir setiap gerak dan langkah Jovan yang semakin membuat Jovan merasa tidak nyaman. Ia pun akhirnya menyerah untuk berpura-pura tidak tahu.
“Lo mau ngapain sih?”
“Motret elo.” Jawab Maoya singkat, padat namun tidak jelas.
“Buat apa?”
“Isi galeri gue.”
Jovan meraih ponsel Maoya dan benar saja galeri foto di ponsel Maoya penuh berisi gambar dirinya dalam berbagai angle dan pose.
“Kenapa lo mesti moto gue? Kenapa lo ngga selfie aja kaya cewek-cewek lain?”
“Karna foto gue sama sekali ngga bernilai.”
“Maksud lo?”
“Ah, maksud gue. Foto gue ngga bagus kaya elo. Satu-satunya kelebihan yang lo miliki adalah wajah tampan dan tubuh tinggi lo. Karena itu gue sebagai istri lo, wajib mengeksplor kelebihan lo dengan maksimal.”
Entah kenapa gombalan receh Maoya itu sukses membuat wajah Jovan memerah dan memanas. Meskipun berusaha keras menahan senyuman, tapi ia tidak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajahnya. Ia tahu persis bahwa itu adalah reaksi yang sangat konyol dan berlebihan. Tapi ia sama sekali tidak bisa mengendalikan diri.
Jovan kemudian meraih ponsel Maoya, menarik tubuh Maoya ke dekatnya lalu memotret wajah mereka berdua. Ekspresi kaget dan heran terpancar jelas di wajah Maoya yang berhasil tertangkap kamera ponsel. Sementara ketampanan paripurna seorang Jovan tetap saja tergambar indah bagaimanapun bentuk dan posenya. Dan tentu saja itu membuat Maoya iri kepada balok es itu.
“Sekarang lo bisa pergi dari kamar gue.”
“Lah, kan gue belum selesai moto? Belum selesai baca juga.” Ralat Maoya cepat.
“Gue mau mandi dan istirahat. Lo juga mau motret gue lagi mandi?”
Maoya menggeleng cepat dan bergegas keluar dari kamar. tapi langkahnya tiba-tiba saja berhenti di ambang pintu. Ia kembali berbalik dan menatap Jovan. “Emang lo ngga keberatan kalau gue foto pas lagi mandi?”
“Meiza!!!!”
Maoya langsung kabur sebelum rumah roboh akibat teriakan amarah dari seorang Jovan.
‘Sayang banget. Padahal kalau dia bersedia, itu bakal jadi foto paling mahal yang bisa gue jual.’ Gumam Maoya lirih.
*******************************
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam ketika Maoya selesai merapikan semua hasil jepretan kameranya. Tapi ia masih saja belum mengantuk. Memikirkan tentang uang dan kebucinan Jovan kepadanya selalu saja membuat Maoya menjadi sangat bersemangat sampai kesulitan untuk tidur di malam hari.
‘Sambil menyelam minum air.’ Gumamnya.
Tiba-tiba saja pikiran jahat berkeliaran di benaknya.
'Lo harus punya seenggaknya satu foto masterpiece yang tak ternilai harganya! Makin eksotis makin berharga.'
Ia bergegas mengambil ponselnya, berjalan berjinjit dan mengendap-endap keluar dari kamarnya lalu masuk ke dalam kamar Jovan yang malam itu tidak terkunci. Dengan sangat berhati-hati, Maoya berjinjit mendekati Jovan yang tengah terlelap dengan wajah tetap mempesona.
Maoya goyah sesaat. Wajah itu seolah menghipnotis dan menariknya untuk mendekat. Maoya hampir saja terlena, tapi ia segera menemukan kesadarannya dan memutuskan untuk fokus pada misinya malam itu.
Ia segera mematikan blits kameranya agar tidak membangunkan Jovan, lalu mulai memotret wajah lelap Jovan dari berbagai sudut pandang. Maoya merasa sangat senang karena berhasil mendapatkan foto edisi terbatas yang bakalan laku keras itu. tapi tiba-tiba saja Jovan menggeliat, menarik tangan Maoya dan membuat tubuh gadis itu terjatuh di ranjang tepat di samping Jovan.
Maoya merasa terkejut bercampur takut kalau-kalau pria balok es itu akan memergoki dan memenjarakannya atas tuduhan pelanggaran privasi dan pembobolan.
‘Sial!’
Setelah memastikan Jovan kembali terlelap, Maoya memindahkan tangan Jovan dari tubuhnya perlahan-lahan supaya ia bisa segera kembali ke kamarnya. Tapi sepertinya nasib sial masih belum mau meninggalkan Maoya begitu saja. Bukannya berhasil meloloskan diri, Jovan justru memeluknya makin erat sampai membuat Maoya kesulitan bernafas.
Maoya hanya bisa pasrah menunggu sampai piton tampan itu lengah dan melonggarkan lilitannya. Tapi sampai tiga puluh menit berlalu, pria itu masih saja enggan melepaskan lilitannya yang menyesakkan. Merasa tak berdaya, Maoya hanya bisa kembali menunggu dan menunggu sampai akhirnya ia ikutan terlelap dalam dekapan Jovan yang terasa sangat nyaman.
‘Ah, mungkin ini adalah mencoba hal baru yang dimaksud dalam tips kelima. Ya udah sih, lakuin aja! Yang penting Jovan bisa jatuh cinta sama gue.” Batin Maoya.
***************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments