Mereka terlambat tiba di kantor Jovan. Untung saja, Pak Perdana Menteri juga masih belum tiba karena terjebak macet.
“Dengar! Jangan membuat kekacauan dan berlagak sok jadi istri atau pasangan yang harmonis. Kita hanya orang asing yang kebetulan terjebak dalam sebuah pernikahan paksa demi kepentingan bersama. Ingat itu!”
“Jadi lo terpaksa banget nikah sama gue?” tanya Maoya dengan polosnya.
“Menurut lo?!”
“Emang gue kurang cantik? Kurang seksi?”
Jovan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan membuat Maoya yang berjalan di belakangnya terpaksa menabrak tubuh tinggi Jovan.
“Lo tuh bego atau stupid sih?”
“Ye... sama aja dong!”
“Pokoknya lo harus diem dan nurut sama gue! Jangan berbuat ulah dan ngerusak reputasi gue atau –“
“Iya gue tahu. Gue masih mau tinggal di rumah lo. Gue belum siap milih penjara atau makam.”
“Good!” jawab Jovan sambil membelai rambut Maoya.
Dan entah kenapa Maoya merasa senang dengan sentuhan kecil dan manis Jovan terhadapnya itu. tanpa sadar, ia tersenyum sambil tersipu-sipu di hadapan Jovan.
‘Apa mungkin usaha gue mulai membuahkan hasil?’
“Lain kali kalau habis keramas, ngebilasnya yang bersih!”
Pernyataan Jovan itu sukses meruntuhkan kebanggaan Maoya seketika. Ia segera mencari cermin untuk memastikan apakan masih ada busa shampo yang tertinggal di rambutnya karena terburu-buru tadi.
Sementara Jovan hanya berlalu sambil tersenyum meninggalkan Maoya yang panik dan sibuk memeriksa rambutnya di kaca spion mobil di belakangnya.
‘Dasar dungu!’
**********************************
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Maoya mengikuti langkah Jovan menuju ruang pertemuan dengan Perdana Menteri di lantai lima kantor Jovan. Ia juga sama sekali tidak berniat banyal bicara pagi itu. Ia tidak mau nyawanya melayang sia-sia hanya karena salah bocara dan tertangkap basah sebagai penipu.
“Selamat pagi, Tuan!!”
“Pagi Jovan. Pagi Nyonya.”
“Selamat pagi, Tuan Perdana Menteri.” sahut Maoya sopan.
“Gimana kabarnya pengantin baru? Apa nyonya sudah terbiasa tinggal bersama Jovan?”
“Kami tidak punya kewajiban untuk saling terbiasa satu sama lain.” Tukas Jovan cepat.
“Baiklah. Saya tidak akan ikut campur lagi.” Imbuh Perdana Menteri. “Bagaimanapun juga kalian sudah menikah. Terpaksa atau tidak pernikahan ini sudah terjadi. Alangkah baiknya jika kalian menemukan cara untuk menikmati pernikahan kalian ini dengan sebaik-baiknya.”
Maoya bersiap untuk menimpali tapi Jovan lebih dulu menjawab. “Pernikahan ini hanya jaminan. Baik saya maupun Meiza hanya akan menjalankannya sebagai tugas dan tanggung jawab kami sebagai warga negara yang baik.”
“Ya sudah, sudah. Terserah kalian saja mau bagaimana. Oh ya, Nyonya, saya turut berduka cita atas musibah kecelakaan itu. Mudah-mudahan Nyonya kuat menghadapi cobaan ini.”
Maoya menatap Jovan dengan tajam.
‘Balok es ini adalah cobaan yang lebih besar dan nyata bagi saya.’
Jovan menyenggol lengan Maoya yang melamun sambil menatapnya.
“Ah iya, terima kasih. Saya –“
“Maaf Tuan Perdana Menteri, Meiza masih ada urusan lain. Kalau tidak ada yang perlu dibahas lagi, apa boleh dia ijin pergi lebih dulu?” potong Jovan lagi.
“Urusan?” tanya Maoya bingung.
“Ngga masalah. Silakan kalau nyonya masih ada urusan lain. Silakan saja.” Putus Perdana Menteri.
Maoya segera bangun dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang pertemuan itu. Saat hendak keluar dari pintu, dua orang pria masuk menemui Jovan dan perdana menteri. Maoya melirik sekilas sambil tersenyum.
*******************************
“Selamat Van! Sekarang kamu sudah resmi bergabung di klub para suami.” sapa Cipto yang baru saja tiba bersama Wiryo, atasannya.
“Terima kasih Pak Cip.” Jawab Jovan singkat. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berpura-pura akrab dengan tangan kanan Pak Wiryo itu.
Tak lama kemudian Pak Samir juga datang dan bergabung bersama Jovan, Wiryo, Cipto dan perdana menteri.
“Jadi gimana hasil laporan kamu, Van?” tanya Pak Samir to the point.
Jovan menyerahkan berkas dalam map biru yang sudah dibawanya kepada Samir. Semua sudah saya tuliskan di dalam sini.
“Tunggu!” Pak Wiryo lebih dulu menyodorkan map miliknya kepada Pak Samir untuk diperiksa. “Bukankah senioritas itu juga penting dalam hal pemeriksaan laporan?”
Pak Samir tersenyum. “Tentu saja. Tapi saya baru bisa mengkonfirmasi laporan Pak Wir setelah saya membaca isi laporan Jovan lebih dulu.”
Pak perdana menteri mengangkat cangkir tehnya. “Pak Wir, mari ngeteh dulu sebelum mendengar pembahasan Pak Samir.”
Seperti biasa, Pak Wiryo yang sangat gila hormat dan pujian dari perdana menteri langsung menyambut baik ajakan itu dan mulai hanyut dalam obrolan sambil sesekali menantikan momen saat Jovan akan dipermalukan di depan perdana menteri.
“Oke, Van. Overall sudah oke. Hanya perlu penambahan di sisi ini. Kamu harus menyertakan bukti yang kuat untuk mendukung temuan kamu. Selebihnya kamu bisa sesuaikan dengan situasinya.” Komentar Samir setelah membaca laporan Jovan dengan seksama.
‘Hah? Kok dia bisa baik-baik aja sih?’ batin Wiryo kesal sambil melirik ke arah Cipto yang juga tak kalah bingung dengan atasannya itu.
Cipto langsung meraih map milik Jovan dan membaca isinya dengan seksama.
‘Loh ini tadi kan sudah aku ambil? Kok bisa balik ke Jovan lagi sih?’
“Kenapa Pak Cip? Ada masalah?” tanya Jovan penasaran dengan tingkah aneh Cipto pagi itu.
“Ngga. Bukan apa-apa.” Jawab Cipto sambil melirik ke arah Pak Samir yang tampak mengernyitkan dahi saat membuka map milik Pak Wiryo.
“Pak Wir, apa Pak Wiryo ngga salah bawa laporan?” tanya Pak Samir sambil mengembalikan map milik Wiryo.
Cipto langsung merebut map itu dan melihat foto seksi seorang artis ibu kota yang tengah populer muncul di halaman pertama map tersebut. Halaman berikutnya berisi berbagai foto kucing dan diakhiri dengan sebuah tulisan tangan ‘Jangan coba-coba!’
‘Sial! Kok bisa kaya gini sih?’ rutuk Cipto dalam hati.
Menyadari ada yang tidak beres, Jovan merebut map dari tangan Cipto dan membukanya dengan seksama. Ia berusaha keras menahan senyum ketika tiba di halaman terakhir. Sekarang ia paham situasi apa yang tengah dihadapinya.
“Maaf, Pak Samir. Sepertinya saya salah ambil map. Saya akan kembali dan mengambil laporan yang benar.” Ujar Cipto bergegas pergi kembali ke ruangannya.
***************************************
Beberapa saat sebelumnya
Setelah kembali dari toilet untuk merapikan penampilannya, Maoya tidak sengaja melihat seorang pria mengendap-endap masuk ke dalam ruangan Jovan. Tak lama kemudian pria itu keluar dengan membawa sebuah map berwarna biru milik Jovan. Maoya langsung mengenali map itu karena tadi Jovan bahkan rela putar balik di tengah perjalanan demi mengambil map yang tertinggal di rumah itu.
Ia menduga bahwa map itu sangat penting bagi Jovan sehingga ia memutuskan untuk mengawasi pria mencurigakan itu. Maoya diam-diam mengikuti pria itu hingga kembali masuk ke dalam ruangannya sendiri. Maoya menunggu dengan sabar sampai pria itu keluar agar ia bisa menyelinap masuk untuk memeriksa dokumen itu di dalam ruangan pria mencurigakan tadi.
Dan benar saja, tak lama kemudian, pria itu keluar menuju toilet. Maoya memanfaatkan kesempatan untuk masuk dan mencari keberadaan map milik Jovan. Map itu tergeletak di atas meja dalam keadaan terbuka. Tak ingin membuang-buang waktu, Maoya langsung menutup dan menyembungikan map itu ke dalam bajunya.
'Ngga nyangka kalau kepiawaian gue dalam mencuri dan mengelabuhi ternyata berguna juga.'
Ia kemudian mencari map lain dengan warna yang sama lalu mengisinya dengan gambar artis dan kucing yang berserakan di bawah meja. Di halaman paling belakang, Maoya memperingatkan agar pria itu tidak lagi mencari masalah dengan suaminya. Jadi ia menuliskan sebuah kalimat ancaman paling keras dan menakutkan yang muncul dibenaknya yaitu ‘Jangan coba-coba!’
Maoya kembali ke ruangan Jovan dan meletakkan kembali map biru itu di atas meja Jovan. Tepat saat Maoya hendak keluar dari ruangan itu, Jovan masuk untuk mengambil map itu lalu mengajak Maoya bergegas menuju ruang pertemuan dengan perdana menteri.
‘Fiuh, nyaris aja....’ gumam Maoya lega.
*******************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments