Tak lama setelah perawat pergi, Maoya samar-samar mendengar dua orang pria masuk ke dalam kamarnya sambil berbincang-bincang di kursi penunggu di ruangannya.
“Van, apa lo bakal tetep lanjutin pernikahan ini?” tanya Billy kepada Jovan
“Ngga ada jalan untuk mundur. Pernikahan ini menyangkut keamanan nasional dan keselamatan banyak orang.”
“Tapi dengan adanya musibah ini, mungkin lo bisa minta dispensasi dengan alasan sedang berkabung.”
Jovan menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Apa lo pikir perdana menteri bakal nerima alasan itu sementara yang bersangkutan aja sama sekali tidak mempermasalahkan musibah ini?”
“Maksud lo Bupati Botan? tapi justru itu yang bikin gue makin khawatir sama elo. Apa pengorbanan lo ini sepadan?”
“Ini adalah resiko pekerjaan. Ngga ada yang perlu dikhawatirin.”
Billy makin cemas mendengar jawaban pasrah sahabatnya itu. ia kemudian berjalan mendekati ranjang Maoya dan mengamatinya sesaat. Ia cukup panasaran kenapa gadis itu tak kunjung bangun padahal dokter bilang kondisinya sangat stabil. Jadi ia mencondongkan tubunya agar bisa mengamati wajah Maoya dari dekat.
Maoya yang merasakan wajah Billy kian mendekat ke arahnya langsung bangun dan menyundul wajah Billy dengan keras.
“Aaaaaau!!!!!” erang Billy sambil menutupi dahinya. “Apaan sih lo?! Sakit tahu!!”
“Siapa suruh lo berani macem-macem sama gue?! Dasar cowok mesum!!” balas Maoya tak mau kalah.
“Apa lo bilang?”
“Jelas-jelas ketangkep basah mau nyium gue. Masih aja berani mengelak. Dasar mesum!”
“Sembarangan! Siapa juga yang sudi nyium cewek gila kaya elo!” protes Billy. “Van, lo yakin ini Rumiza dari pulau Botan? Bukannya jambret liar di pasar? Ngga ada akhlak!"
Jovan bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri kedua pihak yang tengah berseteru itu. Ia kemudian menyodorkan gelang mutiara dan sebuah kancing baju kepada Maoya. “Ini punya lo?”
Maoya langsung merebut gelang itu.
“Gelang itu punya lo?” ulang Jovan.
Maoya mengangguk lalu segera menyimpannya. “Kenapa?”
“Darimana lo dapetin gelang ini?”
“Eee..ee.... Itu... pemberian ibu gue. Kenapa?”
“Gimana kondisi lo?” tanya Jovan lagi.
“Udah baikan.”
“Besok kita menikah.”
“Apa? Nikah? Lo gila ya?! Lo ngga lihat semua rombongan meninggal dunia. Ngga ada satupun yang selamat dan lo masih sempet-sempetnya mikirin pernikahan. Lo sehat?”
“Kecelakaan itu ngga ada hubungannya sama pernikahan kita.”
“Dasar sakit jiwa!” Maoya bangun dari ranjangnya, melepaskan infus dari tangannya lalu berjalan menuju pintu keluar.
“Mau kemana lo?” tanya Jovan tanpa menoleh.
“Pulang.” Jawab Maoya singkat.
Jovan menghampiri Maoya lalu manarik tangannya dengan kasar. “Lo itu calon istri gue. Jadi lo ngga boleh pergi kemanapun tanpa ijin gue.”
“Gue ngga mau nikah sama elo. Gue mau pulang!”
“Apa lo lupa kenapa lo dikirim kesini? Lo ngga lihat kalau Bupati Botan, bokap lo itu bahkan ngga datang meskipun tahu elo, putri satu-satunya, baru aja selamat dari kecelakaan maut? Dia lebih peduli sama kerabat lo yang udah meninggal dunia daripada elo, anak kandungnya sendiri, yang masih hidup.”
“Maksud lo......”
Jovan membungkuk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Maoya. Dengan tatapan tajam ia berkata, “Hidup lo udah diserahin ke gue. Dan mulai hari ini nyawa dan tubuh lo milik gue. Cuman gue yang berhak mutusin kapan lo boleh pergi atau mati. Paham?!”
Maoya menelan salivanya dengan berat. “Tapi.........”
Jovan menarik tangan Maoya lalu menghempaskan tubuh Maoya kembali ke ranjang dengan kasar. “Jangan berani-berani kabur dari gue!”
Maoya buru-buru mengangguk lalu pria itu pergi bersama sahabatnya meninggalkan kamar Maoya.
Maoya akhirnya bisa bernafas lega. Pria itu benar-benar menakutkan. Tatapan matanya seperti memiliki sihir magis yang membuat Maoya tak mampu berkutik.
‘Sial! Kenapa sih gue mesti berurusan sama cowok bengis kaya dia?’
Maoya kembali memikirkan situasinya.
‘Tunggu! Jadi dia ngga tahu kalau gue bukan Rumeiza? Tapi gimana mungkin dia ngga ngenalin wajah calon istrinya sendiri?’
Maoya mengendap-endap membuka pintu kamar dan melihat ada banyak pengawal yang berjaga di depan kamarnya.
“Anda mau kemana, Nyonya?”
“Nyonya?” ulang Maoya.
“Tuan Jovan sudah berpesan agar anda tidak meninggalkan kamar Anda sampai beliau menjemput anda besok pagi. Jadi sebaiknya anda kembali masuk.”
Maoya memikirkan cara untuk bisa melewati penjagaan itu tapi dari ujung lorong ia melihat Bimo sedang berjalan bersama komplotannya.
‘Sial! Kenapa si babi bego ada di sini sih?’
Maoya buru-buru masuk dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
**********************
Keesokan paginya, ia mendengar seorang perawat dan petugas pengantar makanan masuk ke kamarnya sambil bergosip.
“Beruntung banget yah dia bisa nikah sama Tuan Jovan, cowok nomer satu di ibu kota. Jaksa tampan dan sukses dambaan seluruh gadis di pelosok negeri.”
“Beruntung apanya? Emang sih, Pak Jovan itu tampan dan populer. Tapi siapa juga yang betah hidup sama suami yang dingin dan ngga berperasaan kaya dia. Ibarat pepatah bagai hidup di sangkar emas.”
“Iya juga sih.. tapi kalau gadis sandra kaya dia ngga dinikahi sama Tuan Jaksa, hidupnya di sini pasti sulit karena semua orang akan takut dan mengucilkannya ckckckck.... kasian...”
“He’eh.. bener. Siapa coba yang ngga takut sama putri pemberontak? Ya kan?”
Maoya pura-pura menggeliat.
“Selamat pagi, Nyonya. Saya periksa dulu yah?” sambut si perawat ramah. “Gimana kabar Nyonya hari ini?”
“Nyonya? Kenapa semua orang memanggil saya nyonya?”
“Anda seharusnya sudah menikah dengan Tuan Jovan kemarin. Setelah itu, semua orang harus memanggil anda dengan sebutan nyonya.”
“Iya, tapi kenapa?”
Perawat itu tertawa. “Anda pasti bercanda. Bukannya itu panggilan yang umum untuk seorang istri pejabat penting eselon satu?”
“Eselon satu?” ulang Maoya.
Perawat itu mengangguk. “Tuan Jovan bahkan lebih istimewa karena termasuk dalam tiga menteri utama yang bernaung langsung di bawah perdana menteri. Karena itu beliau sangat populer dan dihormati.”
“Menteri utama?” ulang Maoya lagi dengan wajah melotot penuh semangat.
Perawat itu mengangguk. “Anda sangat beruntung.”
‘Menteri utama? Dia pasti kaya raya, punya banyak harta. Kalau gue jadi istrinya, bukankah kekayaannya adalah milik gue juga?’
“Maaf, Nyonya. Saya sudah melepas infus dan menyiapkan obat untuk anda. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa anda sebelum pulang.”
“Dokter? Sepagi ini?”
“Ini adalah permintaan khusus Tuan Jovan. Tidak ada yang berani menolaknya.”
“Bahkan dokter tidak berani menolak permintaannya?” ulang Maoya.
‘Wah, pria ini benar-benar luar biasa. Kalau gue jadi istrinya, maka semua dokter di rumah sakit Citra Medika akan tunduk dan memperlakukan ibu dengan baik.’
“Nyonya!”
Lamunan Maoya buyar seketika. “Ya?”
“Saya permisi dulu.”
“Oh iya.”
‘Oke Yaya, pikirkan baik-baik. Lo cuma perlu jadi istri cowok kaya itu, dapetin semua hartanya lalu pergi tanpa jejak. Lo udah ahli dalam hal ini. Ngga ada yang perlu lo takutin. Setega dan sekejam apapun pria itu, dia ngga bakal bisa nahan lo lama-lama. Dia juga ngga bakal pernah bisa nemuin jejak pelarian lo dengan mudah. Karena lo Maoya, si maling cantik dari Desa Arjuna.'
*****************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
YuWie
Jaksa terhormat no. satu kok ngomongnya elo gua..mmg umur berapa pak Jaksa
2023-12-28
0