Maoya menyimpan kontak Jovan dengan nama balok es di ponselnya. Ia sedikit kecewa karena Jovan pun tidak mampu membantunya menemukan kontak milik Salma dan ibunya. Datang langsung ke rumah sakit tentu bukan pilihan yang bijak mengingat situasi yang dihadapinya saat ini. Ia tidak boleh membuat Jovan curiga dan menyadari kebohongannya lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukannya.
Jadi, untuk sementara waktu, dokter Galih adalah satu-satunya harapannya untuk bisa terhubung kembali dengan ibu dan sahabatnya itu. Jadi ia memutuskan untuk menunggu dengan tenang sampai dokter Galih kembali dari dinasnya dari luar kota.
Maoya kemudian ingat bahwa ia akan sangat membutuhkan banyak uang saat berhasil menghubungi dokter Galih nanti. Selain untuk membayar biaya rumah sakit, ia juga memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi untuk bolak-balik ke rumah sakit dengan taksi online yang jaraknya cukup jauh dari rumah Jovan. Karena itu, Maoya mulai memutar otak untuk mendapatkan uang selain dengan cara mencuri dan dipenjarakan oleh si balok es seperti yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya.
Karena belum juga menemukan cara mendapatkan uang, Maoya kembali membuka mesin pencari di ponselnya tentang tips membuat suami jatuh cinta. “Well, mari kita mulai dari ini!”
Memikirkan cara membuat Jovan jatuh cinta dan mendapatkan banyak uang dengan mudah membuat Maoya mengantuk dan langsung terlelap begitu saja.
Keesokan paginya, Jovan menerobos masuk ke dalam kamarnya dan membuat keributan yang memaksa Maoya bangun dua jam lebih pagi dari jadwal yang sudah direncanakannya.
“Lo kenapa sih, Van? Hobi banget ngerusak ketenangan gue?” protes Maoya ketika melihat Jovan masuk dan membangunkannya dengan kasar.
“Lo sengaja bikin gue ngelakuin hal sia-sia dengan nungguin elo tidur kaya babi?!”
“Maksud lo apa? Siapa juga yang nyuruh elo nungguin gue tidur?”
Jovan mengambil ponsel Maoya di atas meja lalu melemparnya ke ranjang dekat Maoya tertidur. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata dan membuka satu-satunya pesan yang masuk ke ponselnya itu.
(Nanti jam sembilan pagi, menemui Pak Perdana Menteri)
Pesan itu terkirim pada pukul 03.00 dini hari saat ia terlelap.
“What? Perdana Menteri?”
Jovan mengangguk.
“Jam sembilan?”
Jovan kembali mengangguk.
Maoya melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat dan ia sama sekali belum bersiap-siap.
“Sial!!” Maoya bergegas turun dari tempat tidurnya dan berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.
“Handuk gue!!!” teriak Maoya dari dalam kamar mandi.
Bik Atun kebetulan baru datang dengan membawa handuk baru untuk Maoya. “Maaf saya terlambat, Pak. biar saya antar handuknya ke Nyonya sekarang.”
“Biar saya aja.” Jovan mengambil handuk itu lalu menyuruh Bi Atun pergi.
Maoya yang sedang sibuk mencuci rambut segera membukakan pintu ketika mendengar ketukan dari orang yang mengiriminya handuk. Jadi dengan mata setengah tertutup demi menghindari busa sampo, ia membuka sedikit pintu kamar mandi dan menjulurkan tangannya untuk menerima handuk.
Cukup lama ia menyodorkan tangan dan tidak segera menerima handuk yang ditunggunya, Maoya menyeka busa di wajahnya dan membuka mata untuk melihat dengan lebih jelas apa yang terjadi.
“Aaaaaa!” Maoya langsung menjerit, merebut handuk dari tangan Jovan dan menutup pintu kamar mandi dengan keras. “Kenapa elo yang nganterin handuk? Kemana Bi Atun?”
Merasa tidak menemukan alasan lain yang cukup masuk akal, Jovan lebih memilih untuk segera pergi tanpa memberikan penjelasan apapun.
Di dalam kamar mandi, Maoya benar-benar dibuat panik dan penasaran dengan apa saja yang sudah pria itu saksikan saat ia membuka pintu dan menjulurkan tangannya.
‘Apa mungkin dia sudah ngelihat tubuh telanjang gue? Dasar mesum! Cabul!’ gumam Maoya sambil memaki-maki pantulan wajahnya di cermin.
Tapi ia sadar tidak punya lebih banyak waktu lagi untuk mengeluh. Ia harus segera pergi untuk menemani Jovan bertemu orang paling berpengaruh di negeri ini jika tidak ingin berakhir di penjara atau makam seperti yang selalu Jovan ancam terhadapnya.
************************
“Soal tadi......” ujar Maoya membuka obrolan ketika mereka tengah terjebak canggung di dalam mobil selama perjalan menuju kantor Jovan.
“Jangan berharap macam-macam! Gue cuman bantuin Bi Atun karena dia lagi buru-buru. Gue juga sama sekali ngga tertarik buat ngelihat tubuh kerempeng lo.” Jawab Jovan santai sambil terus mengemudikan mobilnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Enak aja! Siapa juga yang ngarepin elo?! Gue ini ngerasa jadi korban pelecehan dan gue sedang menunjukkan aksi protes gue. Tahu?!”
“Lapor aja ke polisi! Ribet amat.” tukas Jovan singkat.
“Menurut lo polisi bakalan nanggepin laporan dari seorang istri yang merasa dirinya dilecehkan oleh suaminya sendiri yang sedang ngintipin dia mandi?”
“Lo pinter tapi juga bego. Pinter karena tahu kalau ngga bakal ada seorangpun yang bisa nyalahin gue dan bego karena udah berani nuduh dan memfitnah gue ngintipin lo mandi.”
“Emang bener kan?! Lo sengaja ngintip.”
“Kalau lo masih bersikeras, gue yang bakal lapor polisi atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik.” Ancam Jovan yang mulai merasa terpojok.
“Jadi lo bener-bener ngga ngeliat apa-apa kan? Gue masih suci kan?”
“Fiuh!”
*************************************
Beberapa saat sebelumnya
Jovan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali lalu pintu mulai sedikit terbuka dan Maoya menyodorkan tangannya keluar dari celah pintu. Jovan kaget melihat sebuah tangan putih mulus yang menjulur tepat di hadapannya. Buliran air mengalir dari tangan tersebut lalu menetes dan jatuh ke lantai. Pikiran Jovan mulai mengembara kemana-mana. Jantungnya berdegup kencang dan ia berkali-kali menelan ludah tanpa sadar.
Ia buru-buru menepis otak kotornya yang muncul pada saat yang tidak tepat itu. Tapi hasratnya sebagai pria dewasa dan juga seorang suami membuatnya berperang batin.
Maoya berteriak, menarik kasar handuk di tangannya lalu menutup pintu dengan sangat keras. Saat itulah Jovan sadar bahwa ia sudah tersesat begitu jauh dari pikiran logisnya. Ia buru-buru menenangkan diri lalu pergi meninggalkan kamar Maoya sebelum hal buruk lain terjadi pagi itu.
**************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments