Karena musibah yang sedang menimpa mereka, maka pernikahan digelar dengan sederhana. Hari itu, Maoya resmi menjadi istri Jovan dan menggunakan identitas Meiza, calon istri Jovan yang meninggal dunia akibat jatuh ke dalam jurang. Ia juga tinggal di rumah mewah Jovan yang dipenuhi banyak pelayan.
“Silakan Nyonya!” ajak salah seorang pelayan yang membawa Maoya menuju kamar di lantai dua. “Silakan pilih kamar yang nyonya suka!”
Maoya melihat-lihat kelima kamar yang terletak di lantai dua itu. Tapi ia justru tertarik pada satu-satunya kamar yang tidak direkomendasikan oleh si pelayan.
“Saya mau ini.”
“Maaf, nyonya. Tapi ini kamar tuan. Tidak ada satu orangpun yang Tuan perbolehkan untuk masuk apalagi tinggal tanpa ijin dari Tuan di kamar ini.”
“Tapi saya suka yang ini. Kamu tenang aja!”
“Tapi Nyonya –“
“Ssssst! Kamu boleh pergi.” Maoya mengusir pelayan itu lalu masuk ke dalam kamar Jovan yang tidak terkunci.
Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang super empuk dan besar di dalam kamar itu. “Nyamannya...”
Maoya kemudian sadar bahwa ada hal penting yang harus segera ia lakukan sebelum bermalas-malasan di kasur super nyaman itu. ia bergegas bangun lalu memeriksa semua benda yang ada di meja dan laci di dalam kamar itu. Semua barang yang ada di sana adalah produk mahal keluaran merk ternama. Ada puluhan jam tangan mewah juga di dalam laci dan tumpukan uang tunai berserakan di salah satu laci meja yang lain.
'Lo ngga boleh buang-buang waktu, Yaya! Kumpulin sebanyak mungkin lalu kabur secepatnya!'
Merasa semakin penasaran dan bersemangat, Maoya memeriksa isi lemari pakaian Jovan, berharap ia bisa menemukan lebih banyak uang dan perhiasan yang bisa dibawanya saat kabur nanti. Tapi belum sempat ia membuka lemari itu, Jovan sudah lebih dulu muncul dari balik pintu kamar.
“Ngapain lo di kamar gue?!”
“Ngga ngapa-ngapain kok. Penasaran aja sama lemari pakaian ini, model dan gayanya sangat mewah. Gue baru pertama kali lihat yang sebagus ini, hehe...”
Jovan kembali menarik tangan Maoya menjauh dari lemari pakaiannya. “Denger baik-baik! Gue paling ngga suka sama orang yang berani nyentuh milik gue. Kalau lo masih berharap bisa hidup sedikit lebih lama di rumah ini, sebaiknya lo jaga sikap lo!”
“Emang lo bakal segera mulangin gue?”
Jovan kaget mendengar pertanyaan konyol Maoya.
‘Bisa-bisanya dia setenang dan sebodoh itu? Apa kecelakaan itu berpengaruh pada otaknya?’
“Kok diem? Kalau gue bikin lo kesel, apa lo bakal ngusir gue dan mulangin gue ke rumah gue lagi?”
“Setelah keluar dari rumah ini, satu-satunya tempat yang bisa lo datengin cuma penjara dan makam. Lo bisa mulai putuskan dari sekarang.”
“He-he... sepertinya gue salah masuk kamar.” Maoya berniat untuk segera melarikan diri dari intimidasi Jovan. Ia tidak ingin mati mengenaskan malam itu.
“Tunggu!”
Langkah Maoya terhenti seketika. Jovan mendekati Maoya, menarik tangannya, lalu memelototinya. “Keluarin!”
“Apa?” tanya Maoya berlagak bodoh.
Alih-alih menjawab, Jovan hanya menatap tajam ke arah Maoya menyembunyikan hasil jarahannya. Merasa gagal menyembunyikan aksinya, Maoya menghempaskan tangan Jovan dengan kasar. Dalam situasi saat ini, maka ia harus mengambil posisi menekan jika tidak ingin terus diintimidasi. Jadi, dari pelaku, Maoya langsung membalikkan keadaan dan memposisikan dirinya sebagai korban.
“Lo kenapa sih? Kasar banget jadi cowok. Jangan pikir karena kita sudah nikah terus lo bisa seenaknya sama gue. Dasar cabul!”
Tidak seperti Billi yang langsung protes saat dikatai mesum oleh Maoya, Jovan justru terlihat lebih tenang.
“Memangnya kenapa kalau gue cabul?”
Maoya terus melangkah mundur seiring langkah maju Jovan yang kian mengintimidasinya hingga terpojok di dinding. Maoya sudah bisa menebak adegan selanjutnya, jadi ia memejamkan mata sambil memonyongkan bibirnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk lolos dari jebakan Jovan malam ini.
“Aaaaaaa!!” teriak Maoya ketika Jovan menarik gaun pengantinnya hingga robek.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Jovan akan bertindak sejauh itu tanpa pemanasan. Karena fokus pada adegan mesum di kepalanya, Maoya justru tidak sadar bahwa uang yang ia simpan di balik baju itu sudah tercecer berhamburan di lantai. Dengan tangan yang masih memegang gaunnya yang robek, Maoya membuka matanya perlahan dan melihat wajah Jovan tepat di hadapannya sambil menyeringai.
Maoya langsung mendorong tubuh Jovan menjauh darinya agar ia bisa memungut uang-uang kesayangannya itu. Tapi ia lupa bahwa gaunnya sudah sobek sehingga melorot dan terlepas begitu saja dari tubuh atasnya yang mulus.
“Aaaaaaaaarghh!” teriakan Maoya kian mengeras.
Jovan langsung mengalihkan pandangannya, mengambil selimut lalu melemparkannya ke arah Maoya. Ia bergegas keluar dari kamar dan meninggalkan Maoya seorang diri.
*********
“Kenapa lo? Kok keluar lagi? Bukannya adegannya udah semakin memanas?” goda Billy yang tersipu-sipu membayangkan alasan Maoya berteriak dari dalam kamarnya.
Jovan menoyor kening Billy. “Daripada mikir yang ngga-ngga mending lo pulang aja sana!”
“Van, kita ini kan sudah berteman dari kecil. Masa kaya gitu aja lo masih malu sama gue.”
Jovan mengambil apel di meja lalu memasukkannya ke mulut Billy. “Kalau masih ngga bisa diem, keranjang buahnya juga bakalan pindah ke mulut lo.”
Billy menggigit apelnya lalu kembali menyerocos seperti biasanya. “Lo kenapa sih, Van?”
“Lo sadar ngga kalau Meiza ini aneh banget.”
“Aneh gimana?” tanya Billy sambil terus memamah apelnya.
“Dari yang gue dengar, Meiza itu cewek yang anggun dan cerdas. Meskipun keluarganya tidak kaya, tapi mereka sangat terpandang, mengedepankan keadilan dan sangat dihormati warga Botan. Tapi kenapa yang datang malah maling ngga ada akhlak yang ngga punya otak dan bermulut besar?”
“Tuh kan? Bener kan yang gue bilang. Dia mirip jambret pasar yang ngga ada akhlak. Btw, kenapa lo tiba-tiba berfikiran sama kaya gue? Jarang-jarang kan kita sepakat kaya gini?"
“Ah, udahlah! Percuma gue ngomong panjang lebar sama elo. Kalian berdua sama aja. Sama-sama ngga punya otak dan bermulut besar.”
“Haha.. gue demen sama pujian lo.” Jawab Billy santai. Ia sudah sangat terbiasa dengan mulut keji sahabatnya itu.
“Dasar otak udang!”
Tak lama kemudian, Riko datang dengan membawa setumpuk dokumen.
“Van, lo mesti lihat ini.” Ujar Riko sambil menyerahkan berkas yang dibawanya. “Mobil sedannya udah ketemu. Ada dua orang korban juga yang ditemukan di perairan dasar jurang, laki-laki dan perempuan. Tubuh mereka hancur sehingga sulit dikenali. Tapi menurut informasi, mobil itu adalah salah satu mobil yang kita kirim untuk menjemput mereka. Kondisinya hancur dan sekarang masih dilakukan proses pengecekan lebih lanjut.”
“Dua orang? Bukannya cuma ada satu orang yang hilang? Kenapa malah ditemukan dua orang?” tanya Jovan sambil membaca semua berkas berisi data korban, dan temuan lain terkait kecelakaan maut yang menimpa rombongan pengiring pengantinnya kemarin.
“Kenapa ngga nanya sama Meiza aja sih? Ribet amat.” Celoteh Billy sambil menyuapkan potongan apel terakhir ke mulutnya.
“Untuk sementara tolong simpan dulu masalah ini sampai kita menemukan titik terang.” pinta Jovan serius.
“Van, penemuan ini terlalu besar buat kita tutupin.” Tolak Riko.
“Kita ngga boleh membuat musuh waspada sementara kita belum menemukan petunjuk apapun.”
“Kalian tenang aja! Biar gue yang urus.” Tawar Billy sambil mengambil sebuah apel lagi sebelum pergi.
***************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
YuWie
masih setia nyimak
2023-12-28
0