“Jangan coba-coba?” ulang Jovan ketika masuk ke ruangannya dan mendapati Maoya tengah menunggunya sambil mengutak-atik ponselnya.
“Jadi lo udah tahu?”
“Ngga ada kata-kata ancaman yang lebih keren, apa?”
“Itu sudah yang paling keji dan menakutkan yang ada di otak gue, tahu!”
“Pantes aja orang selalu ngeremehin elo! Ngancem aja kaya orang ngiklanin minyak kayu putih.”
“Udah puas ngeledeknya? Lo tu mestinya berterima kasih sama gue. Kalau bukan karena kegesitan gue, lo udah jadi badut di hadapan atasan lo.”
“Makasih? Buat sesuatu yang ngga gue minta?”
“Terserah lo aja deh! Gue juga ngga butuh ucapan makasih dari elo. Yang pasti gue mau pulang dan tidur sekarang. Oke?”
Kriiiing.....
Sebuah panggilan telpon masuk ke ponsel Jovan. Jadi ia mengangkatnya sambil berjalan mengikuti Maoya menuju parkiran.
“Gimana? Udah dapet?”
“Udah Van. Gue udah selidiki nomor yang lo minta. Itu adalah nomor telpon rumah sakit Citra Medika.” Jawab Riko dari ujung telpon.
“Rumah sakit? Untuk apa Meiza menghubungi rumah sakit?” gumam Jovan.
“Meiza?! Jadi itu nomernya Meiza?" ulang Riko. “Van, sepertinya kita harus ketemu sekarang.”
***********************
Setelah keluar dari ruang pertemuan, Wiryo marah besar kepada Cipto. “Kenapa bisa jadi seperti ini? Bukannya kamu bilang kalau perempuan itu sudah meninggal? Kenapa dia malah datang dalam keadaan sehat dan utuh? Dia bahkan berani membantu Jovan mempermalukan kita di hadapan Tuan Perdana Menteri.”
“Maaf, Tuan. Tapi dia dengan jelas dan yakin mengatakan bahwa wanita itu terluka parah dan nyaris meninggal.” Jelas Cipto ketakutan.
“Nyaris?!” bentak Wiryo. “Dasar bodoh! Pekerjaan semudah itu aja ngga bisa tuntas!”
“Maaf, Tuan. Tapi kalau diperhatikan lagi wanita itu sedikit aneh. Dia memang tidak mengalami luka fisik yang berarti, tapi kalau dilihat dari perilakunya, sepertinya dia mengalami luka mental, amnesia.”
“Amnesia?”
Cipto mengangguk cepat. “Coba Tuan ingat-ingat lagi, dia bersikap sangat liar dan tidak tahu aturan, juga picik dan penakut. Sama sekali tidak seperti Meiza yang kita dengar dulu. Sepertinya dia melupakan identitasnya sendiri. Dia bahkan bersedia bersikap sopan dan patuh terhadap perdana menteri padahal gadis itu sangat angkuh dan membenci perdana menteri karena pernikahan politik ini.”
Wiryo terdiam sesaat. Sepertinya ia sedang memikirkan baik-baik apa yang baru saja Cipto sampaikan.
“Mungkin juga. Tetap awasi! Jangan sampai kita kecolongan. Sebaiknya habisi tanpa jejak sebelum ingatannya kembali dan membahayakan kita.”
“Siap, Tuan!”
******************************
“Jadi, lo minta Riko buat nyelidikin nomor yang ada di riwayat panggilan ponselnya Meiza?” tanya Billy ketika mereka bertiga akhirnya berkumpul untuk membahas Maoya.
Riko mengangguk. “Karena itu adalah satu-satunya nomor yang ada di daftar panggilan Meiza.”
“Ya jelas satu-satunya lah, Van. Hp dia kan baru. Lo sendiri yang bilang kalau dia kehilangan semua kontak di hp lamanya kan? Apanya yang aneh?” tanya Billy masih tidak mengerti dengan tindakan Jovan yang dianggapnya berlebihan itu. "Masa lo curiga sama istri lo sendiri?"
"Lo belum lupa kan kalau dia itu anak musuh?" sahut Jovan.
“Justru Jovan penasaran kenapa nomor itu yang pertama kali dihubungi oleh Meiza.” Imbuh Riko menengahi.
“Terus?”
Riko menyerahkan hasil rekaman percakapan mereka yang sengaja ia minta ke kantor grapari pusat sesuai perintah Jovan. Billy mengambil dan membacanya dengan seksama.
“Wali?” tanya Billy setelah menemukan keanehan dari isi percakapan itu.
Riko kembali mengangguk. “Kita harus mencari tahu apa hubungan Meiza dengan pasien bernama Kartika Dewi ini.”
“Apa mungkin dia ibunya?” tebak Billy asal.
“Ngga mungkin. Ibu Meiza sudah meninggal sebelum ayahnya diangkat menjadi Bupati Botan.” Tukas Jovan.
“Bener juga. Apa mungkin ibu angkat? Bisa jadi kan?”
“Kalau memang benar, maka ini semakin harus diselidiki lebih jauh. Kalau sampai perdana menteri tahu Meiza punya relasi lain di sini, maka urusannya bakal semakin rumit.”
“Lo bener, Van. Ini masalah serius. ibu kota tidak aman lagi karena mudah dimasuki penyusup dan mata-mata. Sementara elo bakal dicurigai karena terlibat dengan mereka.” Balas Billy.
“Ada lagi yang harus kita selidiki.” Jovan menunjuk nama dokter galih dalam transkrip percakapan telpon itu. “Meiza sepertinya sangat mengenal orang ini. Dan kalau dipikir-pikir, rumah sakit memang tempat yang paling aman untuk menyembunyikan mata-mata. Jadi kita harus lebih waspada dan berhati-hati.”
“Jadi apa rencana lo?” tanya Billy dengan entengnya.
“Awasi semua gerak-gerik Meiza. Jangan sampai kecolongan! Gue bakal sadap hpnya dan elo berdua awasi semua yang dia lakuin selama gue ngga ada.”
************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments