Tahi Lalat

Maoya menerobos masuk ke dalam kamar Jovan begitu saja. Sebuah kebiasaan lama yang belum bisa ia hilangkan.

“Ngapain lo?!” teriak Jovan sambil melempar bantal ke arah Maoya.

Maoya yang terlonjak kaget langsung menutup mata dan berbalik begitu melihat Jovan tengah bertelanjang dada dengan balutan handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya. “Cabul banget sih lo!”

Sebuah bantal kembali menghantam punggung Maoya.

“Elo tuh yang cabul dan ngga tahu aturan! Main masuk kamar orang seenaknya. Ah, jangan-jangan lo sengaja baut ngintipin gue kan?!”

“Sembarangan!” elak Maoya cepat. “Gini-gini gue ini masih polos dan suci.”

Maoya membalik badannya sambil mengintip dari sela jari yang menutupi matanya. sebenarnya ada sedikit harapan liar kecil di dalam benaknya. Bagaimanapun juga, tubuh tegap dan dada bidang pria balok es itu cukup memberikan sentuhan magis pada pandangan polos Maoya meskipun hanya sesaat. Itu adalah kali pertama ia melihat secara langsung tubuh seksi pria bertelanjang dada. Dan dengan membayangkannya saja sudah membuat Maoya cengar-cengir sendiri.

“Ngapain lo?!”

Maoya kembali terlonjak kaget karena tubuh setinggi tiang gapura kabupaten milik Jovan sudah berdiri tepat di hadapannya. Tapi kali ini sudah tertutup oleh kaos putih dan celana pendek yang membuatnya terlihat lebih segar dan mempersona.

‘Dasar bego! Kenapa malah gue yang kegatelan sih? Harusnya kan gue yang bikin dia bertekuk lutut karena cinta di hadapan gue?’ rutuk Maoya pada dirinya sendiri.

Maoya melepaskan tangannya lalu kembali bersikap normal seolah tidak terjadi apapun. “Jangan salah paham dulu! Gue kesini cuma mau minta tolong lo buat mulihin kontak di ponsel baru gue.”

Jovan berpaling meninggalkan Maoya lalu duduk di tepi ranjang sambil mengelap rambut setengah basahnya dengan handuk. Maoya mengikuti Jovan dan duduk di sampingnya. Jovan menggeser duduknya beberapa puluh centi dari Maoya dan Maoya yang sama sekali tidak peka justru ikut bergeser dan kembali mendekati Jovan dengan jarak yang sangat dekat.

Dengan acuhnya ia menunjukkan ponselnya ke hadapan Jovan. “Coba lo liat, ngga ada satupun kontak di hp gue. Gimana cara gue ngehubungin keluarga dan teman-teman gue?”

Jovan benar-benar merasa terganggu dengan Maoya yang terus saja mengomel sambil mengikutinya bergeser hingga tiba di ujung tepian ranjang.

“Lo kenapa sih? Dari tadi geser-geser mulu.” Protes Maoya pada akhirnya. Ia cukup kesal karena Jovan terus saja bergeser dan menjaga jarak dengannya. “Tubuh gue bau?”

Jovan menggeleng. “Gue ngga suka ada orang yang nempel sama gue kaya tahi lalat.”

“Apa lo bilang?! Tahi lalat?!” suara Maoya mulai meninggi. “Lo pikir gue seneng apa deketan sama elo? Ngga banget! Lo tuh siluman balok es paling ngga berperasaan yang bikin kulit gue merinding karena gatal dan alergi. Tahu ngga lo!”

Alih-alih membalas cercaan Maoya, Jovan hanya memandangnya dengan tajam tanpa berkedip sediktpun. “Udah ngomelnya?”

“Belum! Gue mau lo tahu kalau lo selalu aja bikin gue kesel! Keseeeel!!!”

“Udah?”

Maoya mengangguk sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena terlalu bersemangat mengungkapkan aspirasi terpendamnya selama ini.

“Pintu keluarnya ada di sana.”

“Apa?! Lo ngusir gue?”

“Pinter!”

“Nggak! Gue ngga bakal pergi sebelum lo bantu pulihin kontak hp gue.”

Dengan arah padangan dan gerakan kecil kepalanya, Jovan membuat Maoya paham bahwa ia harus duduk di lantai dan menjaga jarak darinya jika ingin dibantu. Dengan bersengut-sengut Maoya menurunkan posisi duduknya menuju lantai beralaskan karpet di dekat kaki Jovan.

“Apa email lama lo?”

Maoya menggeleng. “Ngga inget.”

“Ngga lo singkronin sama email?”

Maoya mengangkat kedua bahunya tanda tak yakin. “Jadi lo bisa ngga bantuin gue?”

“Entahlah.” Jawab Jovan singkat sambil mengotak-atik ponsel baru Maoya.

Ia tidak sengaja membuka mesin pencari dan menemukan history pencarian terakhir Maoya tentang tips membuat suami jatuh cinta. Dan entah kenapa, Jovan tidak bisa menahan senyuman yang terus saja memaksa untuk mengembang di wajahnya. ‘Dasar dungu!’

Baru beberapa menit saja ia bermain-main dengan ponsel itu, Maoya sudah tertidur dengan menyandarkan kepalanya di tepi ranjang di dekat Jovan.

Jovan mengamati wajah polos Maoya saat tertidur itu dengan seksama. Itu adalah salah satu ekspresi paling disukainya dari seorang Maoya, tenang dan polos. Ia menyibakkan anak rambut yang menutup mata Maoya, menyentuh alis, mata dan hidung mancung Maoya. Sentuhan jari telunjuknya berhenti seketika saat hendak menyentuh bibir indah Maoya yang penuh dan segar kemerahan. Ada desir aneh menyeruak dari dalam hatinya. Ia buru-buru menarik tangannya dan berdiri menjauh dari gadis bodoh itu.

Sekitar satu jam kemudian Maoya bangun dan mendapati dirinya tengah tertidur sambil duduk di lantai dan bersandar di tepi ranjang Jovan sementara pria itu tengan sibuk membaca di atas ranjang seolah sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya.

“Gimana hp gue? Udah bisa?”

Jovan mengarahkan pandangan matanya ke arah meja tempat ponsel Maoya berada. Gadis itu langsung berdiri mengambil dan mengecek ponselnya. “Kok masih kosong?”

“Siapa bilang? Sudah ada nomer gue disana.”

“Nomor lo? Gue ngga butuh nomor lo. Gue butuh kontak di ponsel lama gue.”

Jovan cukup tersinggung dengan penolakan Maoya. “Kalau gitu cari aja ponsel lama lo.”

“Apa?!” Maoya menghentikan keinginan protesnya. Ia sadar bahwa sia-sia saja berdebat dengan pria balok es itu. terlebih lagi ia masih sangat mengantuk dan lelah. Jadi ia memutuskan untuk menyudahi perseteruan malam itu dan kembali ke kamarnya.

Saat hendak keluar dari kamar Jovan, ia melihat sebuah selimut tereletak di lantai tempat ia tertidur tadi.

‘Si balok es nyelimutin gue? Ngga mungkin. Pasti selimutnya terjatuh. Ngga mungkin banget si balok es peduli sama gue. Jelas-jelas dia udah nipu dan mainin gue dengan berpura-pura bisa mulihin kontak hp gue.’

Maoya mengambil selimutnya lalu meletakkan kembali di atas ranjang. “Selimut lo jatuh. Gue bakal minta Bi Atun bawain yang baru.”

“Ngga perlu. Bawa aja selimut itu ke kamar lo. Itu lebih tebal dari yang ada di kamar lo.”

“Jadi tadi elo yang nyelimutin gue?” tanya Maoya ragu.

“Ngarep banget sih lo! Kaya gue kurang kerjaan aja.”

‘Tuh kan.. apa gue bilang. Ngga mungkin banget si balok es peduli sama elo, Yaya!’

Maoya membawa selimut itu kembali ke kamarnya sesuai titah sang tuan.

**************************

Beberapa saat sebelumnya

Jovan berdiri untuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kencang saat memandang bibir Maoya.

‘Mikir apa sih lo, Van!’ gumam Jovan pada dirinya sendiri.

Maoya terlihat menggigil kedinginan. Meskipun lantainya beralaskan karpet, tetap saja udara malam itu terasa sangat dingin. Jovan menaikkan suhu ac-nya beberapa derajat agar Maoya merasa lebih nyaman. Tapi gadis itu masih saja menggigil kedinginan.

Jovan berniat untuk membopongnya naik ke atas ranjang tapi ia buru-buru menghentikan ide gilanya itu.

‘Ngapain juga gue ngebopong dia? Emangnya dia siapa? Ngga Van, lo ngga boleh bertindak impulsif dan ngga efisien.’

Maoya masih menggigil jadi Jovan menarik selimutnya untuk ditutupkan ke tubuh Maoya.

‘Tunggu! Selimut ini sepertinya terlalu tipis.’

Jovan membuka lemarinya dan mencari selimut lain. Kali ini mengambil selimut yang lebih tebal berwarna biru.

‘Ngga! Ini ngga cocok. Meiza suka warna hijau. Lagi pula selimut ini masih kurang tebal.’

Jovan membongkar semua selimut di dalam lemarinya sampai akhirnya menemukan satu yang tepat, sebuah selimut bulu halus berwarna krem yang ia dapatkan sebagai oleh-oleh dari Rusia. Ia kemudian menutupkannya dengan sangat hati-hati ke tubuh Maoya.

Gadis itu tidak lagi menggigil seperti sebelumnya dan entah kenapa Jovan merasa sangat puas dengan usahanya seolah ia telah berhasil memenangkan sidang gugatan atas kasus besar di pengadilan.

Maoya menggeliat dan Jovan buru-buru mengambil buku lalu duduk manis di ranjangnya. Beberapa menit kemudian suasana kembali sepi. Gadis itu tidak lagi menunjukkan pergerakan apapun. Sepertinya ia merasa sangat nyaman dengan selimut yang Jovan berikan padanya. Jovan kembali senyum-senyum sendiri sambil mengintip dari balik buku yang pura-pura di bacanya.

Tak lama kemudian, Maoya terbangun dan selimut itu jatuh ke lantai begitu saja tanpa disadarinya. Gadis itu langsung bangun menuju meja untuk mengambil ponselnya dan menginjak-injak selimut yang dipilihnya dengan susah payah itu begitu saja.

‘Dasar tahi lalat!’

*******************************

Episodes
1 Bukan Kecelakaan Biasa
2 Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3 Tertangkap Basah
4 Harga Sebuah Informasi
5 Siluman Balok Es
6 Ungkapan Terima Kasih
7 Tahi Lalat
8 Dorongan Batin
9 Jangan Coba-Coba
10 Wali
11 Sambil Menyelam Minum Susu
12 Bisnis Baru Myonya
13 Apa Salahnya?
14 Makan Bersama
15 Janji Temu
16 Peri Sawi
17 Logika / Lo gila
18 Modus Jimmy
19 Dating
20 Ancaman Tak Terduga
21 Ditipu Mentah-Mentah
22 Musibah Membawa Berkah
23 Botan
24 Senjata Makan Tuan
25 Mata-Mata
26 Pelampiasan Kecil
27 Gelagat Aneh Jimmy
28 Peringatan Keras
29 Nyaris
30 Bantuan Galih
31 Kejelasan Masa Depan
32 Anniv Party
33 Teman Lama
34 Serangan Balik
35 Keputusan Jovan
36 Friend Zone
37 Dukungan Terbaik
38 Kerja Bersama
39 Kehilangan
40 Siuman
41 Pentingnya Pengakuan
42 Sidang Akhir
43 Temuan Baru
44 Menelusuri Pelaku
45 Hasil Tes
46 Perubahan Tak Terencana
47 Dilema
48 Kegilaan Bimo
49 Pilihan di Tangan Maoya
50 Pergi atau Tinggal
51 Teralihkan
52 Kota Persinggahan
53 Sang Kepala Desa
54 Menginap di Gudang
55 Ambruk
56 Berlatih Peran
57 Masuk Hutan
58 Mencari Jovan
59 Keributan Kecil
60 Rute Alternatif
61 Bimbang
62 Pasti Bisa
63 Menipu Penipu
64 Dihadang Musuh
65 Mencari Bantuan
66 Kejutan di Perjalanan
67 Perayaan Bersih Desa
68 Perundingan Alot
69 Membalik Keadaan
70 Terkecoh
71 Tak Ada Jalan Mundur
72 Duka Mendalam
73 Didesak
74 Sidang Darurat
75 Status Baru
76 Sweet Moment
77 EPILOG
78 Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bukan Kecelakaan Biasa
2
Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3
Tertangkap Basah
4
Harga Sebuah Informasi
5
Siluman Balok Es
6
Ungkapan Terima Kasih
7
Tahi Lalat
8
Dorongan Batin
9
Jangan Coba-Coba
10
Wali
11
Sambil Menyelam Minum Susu
12
Bisnis Baru Myonya
13
Apa Salahnya?
14
Makan Bersama
15
Janji Temu
16
Peri Sawi
17
Logika / Lo gila
18
Modus Jimmy
19
Dating
20
Ancaman Tak Terduga
21
Ditipu Mentah-Mentah
22
Musibah Membawa Berkah
23
Botan
24
Senjata Makan Tuan
25
Mata-Mata
26
Pelampiasan Kecil
27
Gelagat Aneh Jimmy
28
Peringatan Keras
29
Nyaris
30
Bantuan Galih
31
Kejelasan Masa Depan
32
Anniv Party
33
Teman Lama
34
Serangan Balik
35
Keputusan Jovan
36
Friend Zone
37
Dukungan Terbaik
38
Kerja Bersama
39
Kehilangan
40
Siuman
41
Pentingnya Pengakuan
42
Sidang Akhir
43
Temuan Baru
44
Menelusuri Pelaku
45
Hasil Tes
46
Perubahan Tak Terencana
47
Dilema
48
Kegilaan Bimo
49
Pilihan di Tangan Maoya
50
Pergi atau Tinggal
51
Teralihkan
52
Kota Persinggahan
53
Sang Kepala Desa
54
Menginap di Gudang
55
Ambruk
56
Berlatih Peran
57
Masuk Hutan
58
Mencari Jovan
59
Keributan Kecil
60
Rute Alternatif
61
Bimbang
62
Pasti Bisa
63
Menipu Penipu
64
Dihadang Musuh
65
Mencari Bantuan
66
Kejutan di Perjalanan
67
Perayaan Bersih Desa
68
Perundingan Alot
69
Membalik Keadaan
70
Terkecoh
71
Tak Ada Jalan Mundur
72
Duka Mendalam
73
Didesak
74
Sidang Darurat
75
Status Baru
76
Sweet Moment
77
EPILOG
78
Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!