Sore harinya, Billy dan Maoya kembali ke ruangan Jovan dengan keadaan berantakan. Sementara Jovan yang masih marah memilih untuk diam dan mengabaikan mereka begitu saja.
“Van, gue udah kumpulin semua foto lo. Ngga ada satupun yang terlewat. Lo jangan marah lagi yah? Gue janji ngga bakal ngulangin kesalahan kaya gini lagi. Gue janji.” Jelas Maoya sambil mengacungkan jari tengan dan telunjuknya ke udara dengan wajah memelas.
Tapi Jovan sama sekali tidak tergerak. Ia belum pernah merasa sekesal itu pada seorang wanita.
Tak ingin menyerah begitu saja, Maoya menarik ujung lengan kemeja Jovan sambil merengek. “Van, gue tahu gue salah. Lo mau kan maafin gue? Jangan marah lagi dong!”
Jovan masih saja bergeming. Amarahnya belum juga mau mereda.
Melihat situasi itu, Billy mengambil inisiatif untuk menengahi keduanya.
“Za, mendingan lo pulang dulu aja deh! Biar gue yang bantuin Jovan beresin pekerjaannya dulu. Nanti kalian bisa bicara lagi di rumah. Oke?”
Maoya tidak punya pilihan lain selain menurut. Jadi ia melepaskan tangannya dari lengan kemeja Jovan, meletakkannya bertumpuk di atas perut lalu sedikit membungkuk di hadapan Jovan. “Tuan muda balok es, tolong maafkan saya yah? Saya pergi dulu. Permisi.”
“Van udah dong marahnya.” Bujuk Billy setelah Maoya menghilang di balik pintu.
“Kalau lo jadi gue, lo bisa ngga marah lagi?” Balas Jovan pada akhirnya.
“Iya gue tahu. Tapi dia sudah ngakuin kesalahannya, dia juga sudah minta maaf dan berusaha keras memperbaiki kesalahannya. Apa lo tahu kalau dia minta tolong gue supaya mau minjemin duit buat dia?”
“Duit, buat apa?”
“Buat ngebeli lagi semua foto yang udah dia jual. Kebanyakan dari mereka menawarkan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang Maoya berikan kepada mereka. Lo tahu kan dia sama sekali ngga punya duit maupun benda berharga? Jadi dia ngasih ini ke gue sebagai jaminan.” Jelas Billy sambil menunjukkan ponsel Maoya kepada Jovan.
“Lo nerima hp ini sebagai jaminan?”
“Gue ngga punya pilihan lain. Dia benar-benar bersikeras untuk menebus kesalahannya. Dia bahkan rela ngelepasin satu-satunya benda berharga yang dia sayangi demi elo. Apa menurut lo itu masih belum cukup buat lo maafin dia?”
Jovan mengela nafas dalam-dalam. “Lo balik dulu aja! Udah sore.”
*************************
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Saat Jovan hendak merapikan pekerjaannya dan pulang, tiba-tiba saja Maoya sudah muncul lagi di balik pintu ruangannya. Rupanya Maoya belum mau menyerah. Ia masih memiliki satu tips terakhir untuk membuat Jovan jatuh cinta kepasanya, yaitu dengan memberikan kejutan manis. Pria dingin itu pasti tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali sambil membawa makanan kesukaannya. Maoya berharap upaya terakhirnya itu akan membuahkan hasil dan membuat Jovan memaafkannya.
“Udah mau pulang?” sapa Maoya ramah. Tapi Jovan masih bergeming.
“Gue tahu lo masih marah banget sama gue. Gue datang ke sini bukan buat gangguin elo kok. Gue cuma mau anterin makanan buat elo. Tadi pagi lo belum sempat sarapan dan gara-gara gue, gue yakin tadi siang lo juga pasti ngga sempat makan siang gara-gara gue lagi. Jadi gue balik ke sini buat anterin nasi goreng hawai kesukaan lo.”
‘Tau aja kalau gue laper berat. Hah? Hawai? Darimana dia tahu kalau gue suka nasi goreng hawai? Tapi kan resto itu jauh banget dari sini. Apa jangan-jangan dia langsung kesana setelah pergi dari kantor gue tadi sore?’ batin Jovan.
Sementara itu, Maoya menyiapkan nasi goreng, sendok dan minuman yang dibawanya di meja tamu ruang kerja Jovan. Ia menatanya dengan rapi sesuai kebiasaan Jovan. Ia kemudian menarik Jovan menuju meja tamu tempat ia sudah menata makan malam untuk Jovan. Tidak seperti biasanya, kali ini Maoya tidak pergi tapi malah duduk menemani Jovan makan.
“Kenapa masih di sini?” tanya Jovan sebelum menyentuh makanannya.
Maoya mengambil sendok lalu meletakkannya di tangan Jovan. “Mulai hari ini gue bakal selalu nemenin elo makan dan mastiin lo makan dengan baik.”
Jovan akhirnya mulai memakan makanannya. Itu adalah kali pertama setelah delapan tahun ini, ia makan bersama orang lain meskipun malam itu lebih tepatnya Maoya benar-benar hanya menemaninya saja.
“Lo ngga makan?”
Maoya menggeleng. “Gue udah makan tadi.”
“Makan apa?”
“Rotiguy waktu di bus kota tadi.”
Jovan berhenti mengunyah. “Lo sudah kenyang padahal cuma makan rotiguy?”
Maoya tersenyum, “ngelihat lo ngga marah lagi aja udah bikin perut gue kenyang semalaman. Hehe..”
Jovan menyodorkan kotak nasi goreng hawai miliknya kepada Maoya. “Makan ini!”
“Tapi kan ini punya lo? Dan cuma ada satu sendok di sini.” Tolak Maoya.
Maoya kemudian berdiri untuk mencari sendok.
“Mau kemana lo?”
“Cari sendok.” Jawab Maoya sambil berdiri hendak menuju lemari penyimpanan di sudut ruangan Jovan.
“Lo pikir ruangan gue pantry?”
Maoya berbalik arah menuju pantry.
“Pantry-nya jauh dan ini sudah malam.” lanjut Jovan
'Ni orang maunya apa sih?!' gerutu Maoya dalam hati. 'Sabar... Sabar... '
Maoya akhirnya kembali ke tempat duduknya lalu Jovan mulai menyendok nasi goreng dan menyuapkannya kepada Maoya. Maoya membuka mulutnya untuk menerima niat baik Jovan. Dan sungguh di luar dugaan, bukannya jijik dengan sendok yang bekas dipakai Maoya, Jovan justru kembali melanjutkan makan seperti biasa seolah sama sekali tidak mempermasalahkan soal sendok bekas pakai itu.
tidak hanya itu, dia juga kembali menyuap Maoya setelah memakan nasi goreng untuk dirinya sendiri. Terus seperti itu sampai nasi goreng di dalam kotak itu habis tak bersisa.
Wajah Maoya menghangat. Itu adalah kali pertama ada seorang pria yang menyuapinya selain dokter Galih. Tapi kali ini berbeda, bukan karena sedang sakit dan tidak bisa makan sendiri sehingga harus dibantu seperti yang dilakukan dokter Galih untuknya, melainkan karena pria itu memang ingin makan sesendok bersama dengannya.
‘Romantis. Apa seperti ini yang situasi yang bisa menumbuhkan cinta itu?’
“Enak kan?” tanya Jovan.
Maoya mengangguk. “Emang enak tapi masih banyak nasi goreng lain yang jauh lebih enak daripada ini. Hanya saja gue yakin ini adalah yang terenak buat lo karena dia istimewa.”
Jovan tertegun sesaat. Ia tidak menyangka Maoya bisa menebak isi pikirannya begitu saja.
“Dulu sewaktu masih hidup, Ayah selalu mengajak gue sama Ibu makan nasi goreng di restoran Hawai setiap kali ia mendapatkan gaji maupun uang lainnya. Waktu itu kami tinggal tidak jauh dari resto Hawai dan itu menjadi satu-satunya resto termewah di sana saat itu. karena itu, gue selalu saja pamer dan merasa bangga karena itu. Siapa sangka waktu cepat berlalu dan dunia berubah sebanyak ini.”
Maoya menggenggam tangan Jovan. “Mulai sekarang, gue bakal ajak lo menjelajah wisata kuliner di banyak tempat di dunia ini. Lo bakal nemuin banyak makanan istimewa lainnya karena ada gue yang nemenin elo nikmatin mereka semua.”
Jovan menyodorkan sebuah kartu kredit unlimited kepada Maoya. “Lo butuh ini buat nemenin gue makan dan wisata kuliner.”
Maoya langsung menerima kartu itu dengan senang hati. Tak lama kemudian Jovan juga mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya dan menyerahkannya kepada Maoya.
“Ini kan?”
“Gue udah beresin semuanya. Mulai sekarang, jangan sembarangan ngasihin barang pemberian gue ke orang lain! Satu lagi, jangan berani-berani nyebarin foto gue sembarangan.”
“Janji! Mulai hari ini gue bakal nyimpen foto lo buat gue sendiri. Ngga bakalan ada lagi orang lain yang gue ijinin buat nikmatin wajah tampan lo meskipun cuma dalam foto.”
“Bukan hak lo ngatur hubungan gue sama orang lain.”
“Kenapa nggak? Lo masih suami gue dan sebagai Nyonya Jovan Pranata, gue jelas berhak buat ngatur hidup lo melebih lo ngatur gue.”
Jovan berpura-pura menguap mendengar pernyataan pongah Maoya. “Apa gadis Botan selalu over pede dan ngga punya malu kaya elo gini?”
“Gue ngga yakin sih, tapi kalau lo bilang gue ngga punya malu, dengan berat hari harus gue akuin kalau lo sembilan puluh sembilan persen, benar. Hehe..”
“Ayo pulang!”
Sebelum pulang, Maoya membereskan sisa makanannya lalu membuka lemari penyimpanan untuk mencari tisu atau lap untuk membersihkan meja. Tapi ia justru menemukan banyak sendok makan siap pakai yang sudah bersih dan dikemas plastik rapi di dalam sana. Dan bibir Maoya pun mengembang lebar.
'Dasar siluman balok es. '
*****************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments