Pagi itu, Maoya sudah duduk berhadapan dengan Jovan di meja makan. Ia masih saja memasang wajah cemberut dan memilih untuk membuang muka menghindari pria yang membuatnya merasa sangat kesal itu. Seumur hidup, ia belum pernah dipermalukan seperti malam itu. Tidak hanya ditangkap basah bersama barang bukti, tapi juga ditelanjangi dengan keji.
“Ada yang mau gue tanyain sama elo.” Ujar Jovan memulai pembicaraan.
Melihat Maoya tidak menjawabnya, maka Jovan langsung kepada inti permasalahan yang ingin ia ketahui dari gadis itu.
“Ada berapa orang yang ikut dalam rombongan itu?”
‘Sial! Mana gue tahu?’
Melihat Maoya masih mengunci mulutnya rapat-rapat, Jovan melanjutkan pertanyaan berikutnya. “Siapa saja penumpang yang ada di dalam sedan putih itu?”
‘Sial! Kenapa nasib gue gini amat sih? Gue mesti bilang apa nih?’
Maoya melirik Jovan untuk memastikan situasi yang tengah dihadapinya. Pria itu tetap saja memasang wajah kaku, datar dan dingin seperti balok es. Melihat bagaimana pria itu menatapnya, Maoya yakin, upayanya mengulur waktu akan segera gagal.
“Kenapa? Bukannya elo jaksa tampan nomer satu di ibu kota? Apa sesulit itu mencari informasi receh seperti itu? Sampe lo harus nanya sama gue.”
“Lo jawab gue atau –“
“Atau apa?”
“Kita ke penjara sekarang.”
“Tunggu! Kenapa penjara? Gue kan cuma menolak menjawab pertanyaan elo? Apa itu juga termasuk tindak kriminal?”
Jovan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan setumpuk uang yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik berwarna putih bening lalu melemparnya ke atas meja.
“Sudah ada bukti dan saksi. Cukup untuk menjarain elo beberapa bulan atas tuduhan pencurian.”
‘Sial! Gue mesti gimana nih?’
“Oke. Gue bakal ceritain semuanya sama elo. Tapi ada syaratnya.”
Jovan mengangkat alisnya dan Maoya langsung tahu bahwa pria itu hendak bertanya ‘Apa syaratnya?’
“Pertama, lo ngga boleh semena-mena lagi sama gue. Lo mesti lebih lembut dan manis sama gue. Biar gimanapun gue ini istri lo, nyonya Jovan Pranata. Kalau di luar sana ada yang tahu lo nindas gue, reputasi lo sebagai pria idaman nomer satu bakal hancur seketika.”
Jovan menghembuskan nafas kasar.
“Kedua, lo ngga boleh ungkit lagi soal kejadian semalam. Gue ngga berniat nyuri duit lo. Gue cuman butuh duit buat beli baju dan handphone. Lo liat sendiri kan kalau gue ngga punya apa-apa lagi selain gelang ini?” papar Maoya sambil menunjukkan gelang mutiara titipan Meiza.
Jovan kembali menghembuskan nafas. Ia kemudian meraih cangkir teh dan mulai menyeruputnya.
“Ketiga, lo harus panggil gue sayang.”
Jovan langsung menyemburkan teh yang diminumnya.
“Ah, aneh ya? Susah yah?” tanya Maoya setelah melihat reaksi Jovan. “Oke, gimana kalau istriku? Panggil gue, istriku haha...”
**********************
“Lo kenapa sih, Van? Dari tadi mondar-mandir ngga jelas.” Gerutu Billy yang mulai jengah melihat tingkah aneh Jovan pagi itu.
“Lo udah tanya Meiza kan?” sela Riko cepat, sebelum komentar Billy sukses memperparah moodnya yang sudah rusak. “Gimana?”
“Apa susahnya sih jawab pertanyaan seperti itu?”
Jovan kemudian menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama Meiza pagi ini, lengkap dengan ketiga permintaan konyolnya.
Billy dan Riko tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka yang kram akibat terlalu banyak tertawa.
“Puas?” sergah Jovan kesal.
“Sori, sori. Habisnya lucu banget. Ini pertama kalinya gue tahu ada orang yang selancang itu sama elo.” Sahut Riko yang mulai bisa mengendalikan tawanya. “Jadi gimana mau lo sekarang?”
“Cari cara lain. Gimanapun caranya lo mesti dapetin semua informasi terkait kasus ini!”
“Sudah, Van. Lo tahu gimana cara kerja gue kan?”
“Masa iya sih ngga ada satu saksi pun yang bisa dimintai keterangan selain dia?”
Riko menggeleng. “Ketika petugas hutan itu datang, sedan itu sudah tidak ada di sana. Semua yang dia ketahui dan temukan sudah tertulis secara rinci di sini. Sementara data dari pihak Botan juga hanya sebatas ini.”
“Sial!”
“Banyak kejanggalan dalam kasus kecelakaan ini. Satu-satunya saksi kunci yang mungkin bisa membantu penyelidikan kasus ini hanya Meiza.”
“Jadi, maksud lo......”
Riko mengangguk cepat. “Exactly!”
“Soal bersikap manis, tenang aja! Billy ahlinya.” Imbuh Billy sambil menepuk dadanya penuh percaya diri.
Kali ini, Jovan tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa mengikuti skenario konyol yang sangat dibencinya itu.
************************
Sementara itu, setelah kepergian Jovan ke kantor, Maoya menghabiskan waktunya di ruang kerja Jovan. Ia harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang Meiza sebelum Jovan berhasil mengungkap kebohongannya dan mengulitinya hidup-hidup.
Tok..Tok..Tok..
“Nyonya, sudah waktunya makan siang.”
“Iya, Bi. Nanti aja saya makan. Saya masih ada urusan.”
“Maaf, kalau boleh tahu, nyonya lagi cari apa? Kok Bibi perhatikan nyonya sibuk banget sejak pagi tadi.”
“Oh bukan apa-apa. Hanya penasaran saja, apa Jovan menyimpan berkas khusus tentang saya. Bibi tahu kan kalau kami ini pasangan baru yang belum banyak mengenal satu sama lain. Kalau Jovan memiliki catatan khusus tentang saya, maka saya akan merasa lebih yakin bahwa dia perhatian dan peduli kepada saya. Bener kan, Bi?”
“Nyonya benar. Kalau soal dokumen saya kurang tahu. Tapi kalau soal bagaimana pandangan Tuan kepada Nyonya, saya rasa saya tahu sedikit.”
“Oh ya? Gimana?”
“Menurut informasi yang Tuan terima, Nyonya sangat cantik dan cerdas, memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi dan sangat dihormati. Meskipun Tuan terpaksa menikahi Nyonya, tapi Tuan sama sekali tidak pernah berniat menyusahkan Nyonya.”
“Terpaksa?”
“Nyonya adalah putri dari Bupati Botan yang dianggap sebagai pemberontak paling berbahaya di negeri ini. Mana mungkin pejabat dengan reputasi setinggi Tuan bersedia menikahi Nyonya tanpa ada paksaan?”
“Tapi kenapa? Untuk apa?”
“Sebagai sandra, jaminan supaya Bupati Botan tidak melakukan aksi pemberontakan terhadap pemerintah.”
“Apa?!”
“Tunggu! Apa Nyonya benar-benar tidak tahu soal ini?”
Maoya menggeleng. “Lalu apa yang akan terjadi pada seorang gadis sandra?”
“Tergantung kemurahan hati Tuan.”
“Jovan tidak akan berani mencelakai saya. Bagaimanapun juga, saya adalah sandra. Jika terjadi sesuatu pada saya, bukankah itu berarti perang?”
“Awalnya Tuan berfikir seperti itu. Tapi melihat bagaimana Bupati Botan sama sekali tidak peduli setelah Nyonya selamat dari kecelakaan maut itu, sepertinya mereka sudah benar-benar menyerahkan Nyonya sepenuhnya.”
Glek! Maoya menelan ludah. "Maksud Bibi, mati pun tidak masalah?”
“Bibi tidak berani, Nya.”
Maoya merasa sangat cemas. Ia sama sekali tidak tahu bahwa gelang itu ternyata membawa petaka bagi hidup dan masa depannya. Saat itulah ia baru menyesali keputusannya menyamar sebagai Meiza.
‘Kenapa jadi seperti ini? Dasar Yaya bodoh! Mau-maunya lo terlibat dalam urusan pelik seperti ini? Kurang puas lo hidup di ujung tanduk gara-gara Bimo? Yaya, Yaya, kenapa sih nasib lo selalu aja sial?’
“Kalau gitu, Bibi permisi dulu, Nya.”
‘Ngga. Gue ngga boleh mati gitu aja di tangan Jovan. Satu-satunya cara supaya dia bisa maafin kebohongan gue adalah dengan membuatnya jatuh cinta sama gue. Kalau dia cinta sama gue, kelak dia ngga bakal terlalu mempermasalahkan meskipun tahu bahwa gue bukan Meiza yang asli. Ya! gimanapun caranya, gue harus bisa membuat balok es itu jatuh cinta sama gue. Harus!'
***********************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments