Ungkapan Terima Kasih

Maoya duduk melamun di meja dapur. Pikirannya melayang kemana-mana dan ia masih enggan untuk bertemu dengan pria tidak berperasaan itu.

“Nya, nyonya ngga papa?” tanya Sari, pelayan yang diselamatkannya di meja makan tadi.

“Saya ngga papa.”

Sari menyodorkan semangkuk sup buntut buatan Maoya. “Nyonya juga belum coba kan?”

“Makasih Sari. Kamu sudah makan?”

“Sudah, Nya. Ini sup buntut paling enak yang pernah Sari makan.”

“Bisa aja kamu.”

“Ngga, Nya. Ini beneran. Ketiga koki di sini juga sudah sering masak sup buntut ala resto dan hotel mewah langganan Tuan. Tapi belum ada yang seenak ini.” Puji Sari lagi.

“Sari benar, Nyonya. Saya sudah sering masak sup buntut dengan berbagai macam resep andalan. Tapi sup buntut milik Nyonya ini rasanya sangat otentik dan sederhana khas rumahan yang justru terasa istimewa.” Imbuh koki dapur yang bertugas malam itu.

“Oh ya? Tapi kenapa Jovan menolak masakan saya?”

“Mungkin karena Tuan tidak terbiasa makan dengan banyak menu seperti malam ini. Tuan biasanya hanya makan satu atau dua menu masakan saja dengan porsi kecil. Tuan juga selalu makan sendiri dan tidak mau ada orang yang mengganggunya saat makan.”

“Apa? Tapi kenapa?”

“Sejak tuan besar meninggal, Tuan Muda tidak pernah lagi mau makan bersama orang lain. Beliau terbiasa makan sendiri dengan tenang. Beliau juga selalu menolak tawaran makan bersama dari para koleganya.” Sahut Bi Atun yang baru saja tiba dan bergabung dengan mereka.

“Oh.. terus kenapa dia marah karena saya masak banyak. Di rumah ini kan ada banyak orang, memangnya kenapa kalau masak banyak? Dasar pelit!”

“Tuan Besar selalu mengajarkan kami untuk tidak membuang-buang makanan sia-sia. Tuan muda bukan orang yang pelit dan perhitungan, sama seperti tuan besar, beliau sangat menyayangkan kita menghambur-hamburkan makanan sementara di tempat lain masih banyak orang yang kesulitan mencari sesuap nasi.” imbuh Bi Atun. “Nanti juga nyonya bakal lihat sendiri betapa royal dan dermawannya tuan muda.”

Maoya menyuapkan sup buntut ke dalam mulutnya. Ia kemudian ingat bahwa tadi Jovan belum sempat makan apapun karena ia sudah lebih dulu mengangkut semua makanan kembali ke dapur.

“Sari, Tuan sudah makan belum?”

Sari menggeleng. “Setelah nyonya membereskan meja makan, Tuan langsung kembali ke ruang kerjanya dan tidak meminta apa-apa lagi.”

*************

Sudah hampir satu jam Jovan berada di dalam ruang kerjanya, tapi tak satupun pekerjaan yang berhasil dirampungkannya. Ia hanya membolak-balik berkas dan berkali-kali menghela nafas. Ia tidak tahu kenapa mengecewakan Maoya begitu berpengaruh terhadap konsentrasinya malam itu.

‘Pasti karena gue laper.’ Gumam Jovan membela diri sendiri.

Tok..Tok..Tok..

“Masuk!”

Maoya masuk dengan membawa nampan berisi sepiring nasi, semangkok sup buntut, sambal, segelas air minum dan sepiring apel. Ia meletakkan nampan itu di meja tamu yang ada di ruang kerja Jovan. “Ayo makan dulu!”

“Siapa suruh lo bawa makanan ke ruang kerja gue?!” hardik Jovan.

“Gue janji ngga bakal ngotorin dokumen kesayangan lo, asal lo mau makan sup buntut buatan gue.”

Jovan bergeming. Meskipun perutnya sudah keroncongan dan melilit tapi harga dirinya terlalu tinggi. Ia enggan melanggar aturan yang sudah ia tetapkan sendiri.

“Kalau lo ngga mau kesini, gue yang bakal bawa makanan ini ke hadapan lo!” ancam Maoya.

“Jangan!”

Maoya tersenyum. Ia senang karena trik kecilnya berhasil kali ini. Ia bangun dari duduknya lalu menghampiri Jovan yang berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Ia mengambil berkas yang dibaca Jovan, meletakkannya di meja, lalu menarik tangan Jovan menuju meja tamu yang hanya berjarak beberapa meter saja dari meja kerja Jovan.

Jovan tidak punya pilihan lain selain menurut saja ketika Maoya mendudukkannya di sofa, dan menata makanan tepat di hadapannya dengan rapi.

“Lo silakan nikmatin makanannya, biar gue tunggu lo di luar.”

“Tunggu!” Jovan menarik tangan Maoya untuk mencegahnya pergi, tapi karena tidak siap, tubuh Maoya oleng dan jatuh tepat di pangkuan Jovan. Keduanya saling bertatapan sesaat, lalu sadar dan buru-buru kembali bersikap normal.

Maoya bergegas bangun dari pangkuan Jovan. “Sori, gue ngga sengaja. Kalau gitu gue keluar dulu.”

Jovan yang salah tingkah langsung mengiyakan permintaan Maoya.

“Oh ya, tadi lo mau bilang apa?” tanya Maoya penasaran kenapa Jovan berusaha menghentikannya tadi.

“Oh, ngga. Gue cuman mau pastiin kalau lo ngga naruh racun di makanan gue.”

Maoya yang sempat melunak kembali dibuat emosi oleh pernyataan singkat Jovan itu. ia benar-benar dibuat kesal oleh mulut berbisa pria balok es itu. jadi ia merebut sendok dari tangan Jovan, mengambil sesendok kuah sup lalu meminumnya dan mengembalikan lagi sendoknya kepada Jovan. “Puas?!”

“Tunggu!”

“Apalagi sih? Lo takut racunnya gue taruh di apel?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Ambilin gue sendok yang baru.”

Brak! Maoya membanting pintu ruang kerja Jovan dengan keras.

**********************

“Aaaaaargh!!!!” Maoya berteriak-teriak seorang diri di dalam kamarnya. Ia benar-benar dibuat kesal oleh mulut berbisa si balok es itu. tapi ia sadar sekesal apapun ia, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalas dendam. Ia harus berhasil menyelesaikan misinya dulu. Setelah Jovan benar-benar cinta setengah mati terhadapnya, maka saat itulah ia harus segera membawa lari semua hartanya dan menghilang begitu saja. Dengan begitu, Jovan pasti akan sangat menderita dan sengsara hingga nyaris gila dan bunuh diri. Saat itulah pembalasan dendamnya akan berhasil dengan sempurna.

Sedangkan untuk saat ini, ia hanya bisa memukul bantal, mengomel dan berguling-guling di tempat tidur saja sebagai pelampiasan marah dan dendam kesumatnya kepada Jovan.

Tok..Tok..Tok..

“Permisi Nyonya, saya Sari.”

“Masuk!”

Sari menyerahkan sebuah kantong belanja dari kertas berwarna putih polos. “Ini dari Tuan.”

“Apa ini?”

“Saya permisi, Nya.”

Maoya membaca kartu ucapan yang ada di bagian luar atas tas kertas itu.

(Terima kasih sup buntutnya)

‘Ternyata bisa juga lo bilang makasih.’

Maoya membuka kantong belanja itu dan menemukan sebuah kotak ponsel keluaran terbaru berwarna midnight green kesukaannya. Maoya melonjak kegirangan. Setelah semua kemalangan yang menimpanya, ternyata Tuhan masih mendengar doanya dan mengabulkan keinginannya untuk memiliki ponsel baru.

Ia segera menyalakan ponsel itu dan mendapati sebuah kartu pasca bayar sudah aktif di dalamnya.

‘Wow, dia benar-benar tahu cara bekerja efektif dan efisien.’ Gumam Maoya sambil senyum-senyum.

Ia kemudian menekan tombol panggilan telpon dan baru sadar bahwa ia sudah kehilangan semua kontak di ponsel lamanya. “Tidaaaaak!!!”

Sia-sia ia memiliki ponsel baru kalau ia tidak mengingat satupun nomor di daftar kontak lamanya.

‘Gimana cara gue hubungin Salma? Huaaa....’

Ia kemudian mendapatkan sebuah ide cemerlang. Satu-satunya nomor yang mungkin masih bisa ia hubungi adalah rumah sakit Citra Medika, tempat ibunya dirawat. Melalui mesin pencari, ia berhasil mendapatkan nomor rumah sakit itu. ia segera menghubungi customer service untuk menanyakan kondisi ibunya.

“Maaf Bu, sebaiknya anda datang langsung ke rumah sakit. Karena kami tidak diijinkan untuk sembarangan membicarakan kondisi pasien melalui sambungan telpon.” Tolak suara di ujung telpon.

“Tapi saya ini walinya, Mbak.”

“Maaf, Bu. Ini adalah kebijakan rumah sakit kami. Mohon ibu dapat memakluminya. Apa ada lagi yang bisa kami bantu?”

“Ah iya.” Ide brilian lainnya kembali muncul. “Tolong sambungkan ke dokter Galih, ahli bedah syaraf.”

“Maaf Bu. Tapi dokter galihnya sedang cuti karena ada urusan dinas di luar kota.”

“Boleh saya minta nomornya?”

“Maaf, tapi kami juga tidak bisa memberikan nomor pribadi dokter kepada pihak lain tanpa ijin. Kalau ada hal lain yang ingin ibu tanyakan, kami bisa bantu hubungkan dengan dokter ahli bedah syaraf lain yang sedang bertugas. Bagaimana?”

“Ngga perlu. Jadi kapan dokter Galih datang?”

“Sesuai jadwal, beliau akan kembali minggu depan lagi, Bu.”

‘Sabar, Yaya! Seminggu doang, lo pasti bisa!’

*********************************************

Episodes
1 Bukan Kecelakaan Biasa
2 Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3 Tertangkap Basah
4 Harga Sebuah Informasi
5 Siluman Balok Es
6 Ungkapan Terima Kasih
7 Tahi Lalat
8 Dorongan Batin
9 Jangan Coba-Coba
10 Wali
11 Sambil Menyelam Minum Susu
12 Bisnis Baru Myonya
13 Apa Salahnya?
14 Makan Bersama
15 Janji Temu
16 Peri Sawi
17 Logika / Lo gila
18 Modus Jimmy
19 Dating
20 Ancaman Tak Terduga
21 Ditipu Mentah-Mentah
22 Musibah Membawa Berkah
23 Botan
24 Senjata Makan Tuan
25 Mata-Mata
26 Pelampiasan Kecil
27 Gelagat Aneh Jimmy
28 Peringatan Keras
29 Nyaris
30 Bantuan Galih
31 Kejelasan Masa Depan
32 Anniv Party
33 Teman Lama
34 Serangan Balik
35 Keputusan Jovan
36 Friend Zone
37 Dukungan Terbaik
38 Kerja Bersama
39 Kehilangan
40 Siuman
41 Pentingnya Pengakuan
42 Sidang Akhir
43 Temuan Baru
44 Menelusuri Pelaku
45 Hasil Tes
46 Perubahan Tak Terencana
47 Dilema
48 Kegilaan Bimo
49 Pilihan di Tangan Maoya
50 Pergi atau Tinggal
51 Teralihkan
52 Kota Persinggahan
53 Sang Kepala Desa
54 Menginap di Gudang
55 Ambruk
56 Berlatih Peran
57 Masuk Hutan
58 Mencari Jovan
59 Keributan Kecil
60 Rute Alternatif
61 Bimbang
62 Pasti Bisa
63 Menipu Penipu
64 Dihadang Musuh
65 Mencari Bantuan
66 Kejutan di Perjalanan
67 Perayaan Bersih Desa
68 Perundingan Alot
69 Membalik Keadaan
70 Terkecoh
71 Tak Ada Jalan Mundur
72 Duka Mendalam
73 Didesak
74 Sidang Darurat
75 Status Baru
76 Sweet Moment
77 EPILOG
78 Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bukan Kecelakaan Biasa
2
Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3
Tertangkap Basah
4
Harga Sebuah Informasi
5
Siluman Balok Es
6
Ungkapan Terima Kasih
7
Tahi Lalat
8
Dorongan Batin
9
Jangan Coba-Coba
10
Wali
11
Sambil Menyelam Minum Susu
12
Bisnis Baru Myonya
13
Apa Salahnya?
14
Makan Bersama
15
Janji Temu
16
Peri Sawi
17
Logika / Lo gila
18
Modus Jimmy
19
Dating
20
Ancaman Tak Terduga
21
Ditipu Mentah-Mentah
22
Musibah Membawa Berkah
23
Botan
24
Senjata Makan Tuan
25
Mata-Mata
26
Pelampiasan Kecil
27
Gelagat Aneh Jimmy
28
Peringatan Keras
29
Nyaris
30
Bantuan Galih
31
Kejelasan Masa Depan
32
Anniv Party
33
Teman Lama
34
Serangan Balik
35
Keputusan Jovan
36
Friend Zone
37
Dukungan Terbaik
38
Kerja Bersama
39
Kehilangan
40
Siuman
41
Pentingnya Pengakuan
42
Sidang Akhir
43
Temuan Baru
44
Menelusuri Pelaku
45
Hasil Tes
46
Perubahan Tak Terencana
47
Dilema
48
Kegilaan Bimo
49
Pilihan di Tangan Maoya
50
Pergi atau Tinggal
51
Teralihkan
52
Kota Persinggahan
53
Sang Kepala Desa
54
Menginap di Gudang
55
Ambruk
56
Berlatih Peran
57
Masuk Hutan
58
Mencari Jovan
59
Keributan Kecil
60
Rute Alternatif
61
Bimbang
62
Pasti Bisa
63
Menipu Penipu
64
Dihadang Musuh
65
Mencari Bantuan
66
Kejutan di Perjalanan
67
Perayaan Bersih Desa
68
Perundingan Alot
69
Membalik Keadaan
70
Terkecoh
71
Tak Ada Jalan Mundur
72
Duka Mendalam
73
Didesak
74
Sidang Darurat
75
Status Baru
76
Sweet Moment
77
EPILOG
78
Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!