Selama di perjalanan, Maoya terus saja merancau. Ia tiba-tiba saja menangis karena kesal mendengar gunjingan para gadis tadi. Tapi tak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak mengingat bagaimana Jovan mengatainya sayur sawi.
“Gue emang peri sawi, gue gadis sandra, penipu dan pencuri. Jadi kalian mau apa? Apa hak kalian ngelarang gue datang ke sana? Emangnya kalian pikir kalian siapa? Kalau gue sehebat Nona Botan, gue pasti udah habisi kalian dan mulut comel kalian itu! Haha..." omel Maoya kepada orang dan kendaraan yang mereka lewati di jalanan.
Tak lama kemudian Maoya berpaling menatap ke arah Jovan yang sedang fokus mengemudi. Ia kembali merancau sambil tersenyum-senyum. “Tuan Jaksa Tampan, lo juga takut sama gue kan?Jangan takut! gue bukan mata-mata apalagi pemberontak yang suka membunuh. Gue emang penipu dan pencuri tapi gue ngga bakal pernah nyakitin cowok ganteng dan seksi kaya elo."
Maoya menyandarkan kepalanya di pundak Jovan. “Gue.. Gue...”
Dan dia pun kembali terlelap sambil bergumam lirih, "bukan Meiza...."
"Lo ngomong apa sih? Gue ngga denger. "
Jovan yang tidak mendengar pengakuan lirih Maoya itu membenahi posisi kepala Maoya dan meletakkanya dengan nyaman di pundaknya.
“Dasar bodoh! Kenapa lo malah minum-minum sendiri padahal gue ada di sana? Lo bener, meskipun lo penipu dan pencuri, tapi gue sama sekali ngga takut sama elo. Bukan karena lo ngga bakal bisa nyakitin gue tapi karena gue ngga bisa lagi makan sendiri tanpa elo.” gumam Jovan lirih.
**********************************
Sesampainya di rumah, Jovan langsung membopong tubuh Maoya masuk ke dalam kamarnya.
“Tuan, Nyonya kenapa?” tanya Bi Atun yang menyambut kedatangan mereka.
“Nyonya salah minum minuman keras dan sekarang sedang mabuk berat.” Ujar Jovan sambil merebahkan tubuh Maoya di ranjang.
“Biar Bibi bantu.”
“Ngga usah, Bi. Tolong ambilkan air hangat aja buat nyeka tangan dan kakinya.”
“Baik, Tuan.”
Jovan melepas sepatunya dan mengganti pakaiannya. Ia juga menyeka tangan dan kaki Maoya dengan air hangat yang Bi Atun bawakan tadi. Setelah memastikan posisi tidur Maoya nyaman, Jovan berniat segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan tidur.
Saat Jovan hendak bangkit dan kembali ke kamarnya, Maoya menggeliat dan menarik tangannya dengan kuat hingga tubuh Jovan hilang keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Maoya dengan posisi berhadapan. Tanpa sengaja bibir Jovan jatuh tepat di atas bibir Maoya sehingga mereka tanpa sengaja berciuman.
Jovan berniat melepaskan diri tapi Maoya justu membuka bibirnya dan mulai melumat bibir Jovan lebih dalam dan lama. Jantung Jovan berdebar kencang, tangannya mencengkeram seprei dengan kuat sembari menopang berat badannya agar tidak menindih tubuh Maoya.
Awalnya Jovan menolak dan terus berusaha melepaskan diri. Tapi karena Maoya terus saja menahannya, Jovan akhirnya menyerah. Ia mendekap tubuh Maoya lalu mulai melancarkan serangan balasan tanpa ampun di bibir Maoya. Hasrat lelakinya terus mendorongnya untuk berbuat lebih jauh. Tapi akal sehatnya kembali menyeruak dan membuatnya melepaskan tubuh Maoya begitu saja.
‘Lo ngga boleh ngelakuin itu, Van.’
Ia tidak ingin Maoya merasa marah dan kecewa, ia juga tidak ingin melakukannya tanpa cinta dan kerelaan kedua belah pihak. Terlebih lagi, ia terikat oleh tugas dan misi. Ia tidak boleh egois dan membiarkan gadis itu menanggung akibatnya seorang diri. Terlebih lagi karena ia paham betul dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini.
Karena itu, Jovan memilih untuk segera meninggalkan kamar Maoya sebelum logikanya hilang arah.
*****************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments