\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Agra terlihat mondar-mandir di dalam kamar
dengan wajah yang sudah sangat kelam.Tapi
kepanikan lebih menguasai dirinya saat ini.
Kiran yang sudah sadar tampak begitu tersiksa
dengan kondisinya. Kulitnya terlihat semakin
membeku, dia tidak mampu membuka matanya.
Dokter sedang memeriksa keadaan Kiran yang
terlihat semakin memprihatinkan. Tampaknya
gadis itu mengalami hipotermia akut. Tubuhnya
terus saja menggigil dan mengigau. Bibirnya
terlihat sudah mulai kaku kebiruan.
"Bagaimana keadaannya..?"
Agra bertanya dengan cepat saat dokter itu
selesai mengecek kondisi Kiran.
"Kondisi Nona Kiran cukup memprihatinkan
Tuan..! dia harus mendapatkan perawatan
lebih lanjut, tapi di daerah ini tidak ada rumah
sakit yang memadai fasilitas nya."
"Apa yang bisa di lakukan ? sebagai dokter bisa
apa kamu hahh..?"
Agra menghardik Dokter itu karena tidak puas
dengan hasil analisanya. Dokter tadi hanya bisa
menundukkan kepala bingung.
"Saya tidak membawa alat yang cukup karena
tidak tahu kondisi Nona akan seperti ini Tuan."
"Terus bagaimana sekarang.?"
"Ada satu cara yang bisa di lakukan Tuan untuk
menstabilkan kondisi suhu tubuh Nona. "
"Apa itu , cepat katakan.!"
Agra melirik cepat, dokter tadi terlihat sedikit ragu
untuk mengatakan nya, tapi tidak ada pilihan lain
sebab hanya itu cara yang bisa di lakukan saat ini.
"Dengan sentuhan kulit ke kulit Tuan..!"
Ucap Dokter itu pelan dan menunduk. Wajah
Agra sontak saja berubah sedikit memerah.
Dia menatap tajam wajah Dokter itu.
"Apa kau yakin cara itu akan berhasil.?"
Agra mencoba meyakinkan. Dokter tadi kembali
mengangguk pelan namun dengan raut wajah
penuh keyakinan.
Agra menghembuskan napas berat, dia melirik
kearah Kiran yang saat ini terlihat sedang sangat
menderita, menggigil dan meracau tidak jelas.
Sesekali mendesah gelisah.
"Baiklah..kau boleh keluar sekarang.! bilang pada orang-orang yang ada di bawah jangan ada yang
naik ke lantai atas !"
Titah Agra setelah merenung sejenak.
"Baik Tuan, saya permisi."
Dokter tadi membungkuk sebentar setelah itu
dia berlalu keluar kamar. Agra kembali menarik
napas dalam-dalam mencoba untuk menetralkan
detak jantung nya yang tiba-tiba saja berdebar
kencang tidak terkendali.
Dia segera mengunci pintu kamar. Dan Seakan
di sengaja tiba-tiba saja turun hujan dengan
sangat deras membuat cuaca semakin dingin
dan Kiran semakin menggigil parah.
Perlahan Agra mendekat ke sisi tempat tidur,
menatap ragu campur tegang wajah Kiran yang
terlihat semakin pucat membeku.
Dengan tatapan yang terus mengunci wajah
pucat Kiran perlahan Agra membuka kemeja
yang di pakainya hingga kini tubuh bagian atas
nya yang gagah dan berotot polos tak tertutupi
kain sehelai pun. Dia naik ke atas tempat tidur, kemudian masuk ke balik tumpukan selimut
yang di pakai untuk membungkus tubuh Kiran.
Di tengah kondisinya yang tidak stabil Kiran
menyadari ada sosok lain yang masuk ke balik
selimut, dia membuka matanya perlahan. Mata
mereka bertemu dalam kabut yang samar.
"Apa yang kau lakukan..? kenapa naik kesini.?"
Lirih Kiran bergetar. Tatapan Agra begitu dalam.
Keduanya saling menatap, namun tidak lama
Kiran kembali memejamkan matanya.
"Maafkan aku Kiran..ini satu-satunya cara untuk
memulihkan kondisi tubuhmu."
Kiran menggeleng lemah, saat ini dia tidak bisa
menolak ataupun membantah. Tangan Agra
mulai bergerak lembut membuka atasan yang
di pakai oleh Kiran. Gadis itu berjingkat mencoba menahan tangan Agra di tengah kondisi tubuh
nya yang tiada henti menggigil.
"Ja-jangan Agraa..ini tidak benaaar..."
Gumam Kiran dengan tatapan sendu yang malah membuat naluri lelaki Agra makin meronta.
"Maafkan aku sayang..ini terpaksa.. percayalah
aku akan bertanggung jawab untuk semua ini.
Aku adalah suamimu.."
Bisik Agra dengan suara yang sangat berat.
Hati Kiran bergetar mendengar kata sayang
yang terucap dari bibir Agra. Akhirnya dia
pasrah karena hawa dingin itu kini kembali menyerangnya. Dengan gerakan lembut dan
hati-hati Agra melepaskan pakaian Kiran
hingga kini hanya tersisa dalaman saja.
Keduanya langsung memejamkan mata saat
menyadari tubuh mereka saat ini dalam keadaan
setengah polos, hanya menyisakan bawahan saja.
Agra segera menarik tubuh halus lembut Kiran ke dalam dekapan hangatnya. Kulit mereka saling bersentuhan dalam ketegangan yang kini sudah
menguasai keduanya. Mereka terdiam di balik
selimut mencoba untuk meminimalisir gerakan
dan sentuhan karena itu akan sangat berbahaya.
Rasa dingin kembali menyerang Kiran membuat
dia menggigil hebat. Agra semakin mempererat pelukannya hingga kini tubuh mereka merapat seluruhnya. Agra memejamkan mata mencoba menguasai diri dan mengontrol hasratnya yang
mulai menyeruak saat dada sintal Kiran
menyentuh perutnya. Tubuh bagian bawahnya
kini mulai meronta menyesakkan celananya.
Bagaimana dia bisa bertahan dalam kondisi
seperti ini. Tapi sekuat tenaga Agra menekan
segala gejolak hasrat dan gairah yang kini
semakin menenggelamkan dirinya kedalam
keinginan untuk memiliki gadis ini seutuhnya
saat ini juga. Napasnya kian berat, wajahnya memerah.
Tidak kuat dengan hawa dingin yang di rasakan
Kiran menekan tubuhnya semakin menempel di
tubuh Agra ,menyusupkan wajahnya di lekukkan
dada bidang laki-laki itu, tangannya kini bergerak melingkar di punggung kokoh suaminya itu.
Agra semakin berat menerima semua ini. Dia
memejamkan matanya rapat, wajahnya di
benamkan di puncak kepala Kiran.
"Ini cobaan yang sangat berat bagiku Kiran.."
Gumam Agra serak mencoba mengontrol dirinya. Juniornya benar-benar sudah menegang dengan
sempurna saat ini. Kiran pun sebenarnya mulai merasakan gelagat tidak beres di bagian bawah namun keadaannya yang sedang setengah sadar membuat dia tidak memperdulikan nya.
Beberapa saat kemudian kondisi tubuh Kiran
mulai tenang dan stabil. Hawa dingin yang tadi
tercipta berangsur mulai menghilang berganti
hawa panas yang justru semakin lama semakin
membakar aliran darah keduanya.
"Apa sekarang sudah lebih baik.?"
Suara serak Agra membuat Kiran menegang
dan bergerak pelan menjauhkan dirinya.
"Iya..sudah tidak sedingin tadi."
Lirih Kiran masih menundukkan wajahnya.
Agra kembali menarik tubuh Kiran ke dalam
pelukan nya.
"Kau harus bertanggung jawab sekarang.!'
Kiran mendongakan kepala perlahan, menatap
wajah tampan Agra tidak mengerti. Wajah pria
itu kini terlihat sangat merah. Keduanya saling pandang kuat.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti.."
Seringai senyum tipis tercipta di bibir seksi Agra membuat Kiran semakin tegang. Dia bergerak
menjauh tapi Agra tidak membiarkan nya.
"Agraa.. aku sudah lebih baik sekarang, jadi
kau sudah bisa melepaskan aku.."
"Tidak, kau harus membayar semua ini.."
Bisik Agra parau, tatapan matanya kini sudah
terkunci di bibir indah Kiran yang mulai normal,
tidak kebiruan lagi seperti.
"Aku tidak mengerti maksudmu.."
Kiran mencoba untuk mendorong dada kekar
Agra tapi usahanya sia-sia saja. Tangan Agraa
kini mengangkat dagu lonjong nya.
"Aku menginginkan dirimu saat ini.."
"Apa..? ta-tapi Agraa..aku.."
"Tubuh ku yang tersiksa sekarang Kiran.."
Mata tajam Agra terlihat sudah di penuhi oleh
kabut gairah yang membuat tubuh Kiran semakin tegang, tapi dia juga tidak bisa mengingkari satu
hal bahwa ada hasrat aneh yang kini menguasai dirinya membuat aliran darahnya serasa terbakar
melihat wajah kemerahan Agra.
Keduanya saling pandang kuat, napas mereka
semakin berkejaran.
Dengan gerakan yang sangat halus bibir Agra
memagut bibir ranum Kiran, ********** lembut penuh perasaan, menghisap pelan dan menjilat
nya dengan gerakan intens yang begitu membuai.
Agra terhenyak..bibir ini begitu manis dan lembut membuat dia melayang ke awan. Kiran hanya bisa membulatkan matanya terkejut dengan serangan dadakan Agra. Denyut jantungnya bergelombang.
Shit.! laki-laki ini sudah mencuri ciuman pertama
nya. Dan Kiran seakan langsung terlena dalam
sensasi kenikmatan yang baru pertama kali di
rasakannya itu. Lebih anehnya lagi dia tidak bisa keluar dari semua kelembutan ini.
Agra kembali melancarkan serangan selembut
kapas nya yang mampu membuat Kiran terbuai
dan memejamkan matanya. Kiran tidak mampu
melepaskan diri, karena dia merasakan ciuman
ini terasa begitu lembut, begitu manis dan sangat memabukkan.
Gila.! Kiran benar-benar tidak ingin melepaskan
diri dari semua sensasi baru ini.
Agra semakin memperdalam ciumannya dengan
menekan lidahnya agar bisa masuk menjelajah
segala kenikmatan bibir manis dan lembut istri
nya itu.Bibir yang sudah lama ingin di nikmatinya.
Dia mengigit kecil bibir Kiran membuat gadis itu
membuka mulutnya hingga lidah Agra bisa leluasa masuk menjelajah membuat Kiran kewalahan
karena gerakan Agra semakin lama semakin liar.
Keduanya terhanyut dalam kehangatan dan
kelembutan ciuman pertamanya yang semakin
lama semakin panas. Agra melepas sebentar
pagutannya saat Kiran kehabisan napas, namun
tidak lama dia kembali menyergap bibir ranum
itu, melancarkan permainan bibirnya yang makin
menggila membuat Kiran mulai membalas nya.
Akhirnya setelah menghabiskan durasi yang
cukup lama Kiran mendorong keras dada Agra
saat dia mulai kehabisan pasokan udara.Ciuman mereka akhir nya terlepas. Keduanya tampak mengatur napas, menghirup oksigen sebanyak-
banyaknya. Wajah Kiran terlihat sangat merah.
Mata mereka saling menatap tajam, ada rona
malu yang memenuhi wajah cantik Kiran.
Sekilas Agra kembali ******* lembut bibir
Kiran sebelum benar-benar melepaskan nya.
"Apa aku bisa memiliki mu sekarang..?"
Kiran membulatkan matanya, menggeleng kuat
dan mencoba menjauhkan dirinya.
"Maafkan aku.. a-aku belum siap Agraa.."
Lirih Kiran ragu, namun ada nada penyesalan
dalam ucapannya. Ada seulas senyum tipis
terukir di bibir Agra.
"Baiklah..aku tidak akan memaksamu. Aku akan
sabar menunggu sampai kamu siap..Maaf juga..
tadi aku kehilangan kendali.."
Bisik Agra sambil mengusap lembut bibir Kiran
yang terlihat sedikit membengkak dengan tatapan
yang begitu memuja hingga mampu merontokkan seluruh sendi yang ada dalam tubuh Kiran.Hatinya bergetar melihat bagaimana lembut dan sabarnya laki-laki ini memperlakukan dirinya.
Kiran hanya bisa menundukkan wajahnya yang
saat ini sudah semerah tomat. Rona di wajahnya
kini sudah kembali. Suhu tubuh nya pun sudah
pulih dan normal kembali.
Kiran menjauhkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Mereka masih
saling menatap. Agra bangkit, wajah Kiran
semakin memerah saat melihat tubuh setengah
polos nya Agra yang terlihat begitu menggoda.
"Mau aku bantu berpakaian..?"
Tawar Agra dengan senyum tipis tersungging
di bibir seksinya. Kiran merasa senyuman itu
terlihat begitu manis hingga membuat dadanya
kembali berdebar hebat.
"Tidak, aku bisa sendiri. Kau bisa keluar sekarang."
Agra masih menatap wajah Kiran dengan intens.
"Baiklah..aku keluar sekarang. Setelah ini kita
akan membicarakan semuanya.!"
Dia turun dari atas tempat tidur kemudian
meraih kembali kemejanya dan memakainya.
Saat ini dia harus segera mendinginkan suhu
tubuh nya agar hasrat yang membakar dirinya
bisa di padamkan.
Tidak lama Agra keluar dari kamar di iringi
tatapan Kiran yang tampak terdiam menahan
serbuan perasaan yang tidak menentu, antara
tegang namun juga merasa bersalah karena
tidak bisa mengabulkan permintaan Agra.
Kiran mendekap kuat dadanya yang masih
saja terasa berdebar tidak karuan. Tubuh nya
saat ini lemas, bayangan ciuman barusan
kembali melintas dalam ingatannya membuat
dia tersenyum dan merasa malu sendiri.
------- -------
Sementara itu saat ini Badar dan Bara sedang
berada di balai desa. Pria bertubuh tinggi besar
dengan tampang yang cukup membuat orang
ketakutan itu terlihat sedang meluapkan segala
emosi jiwanya kepada semua warga atas kejadian
yang telah menimpa Nona nya tadi pagi.
"Tuan Agra memastikan akan memproses kalian
di kepolisian ! karena kalian telah melakukan
kesalahan dengan melakukan hukum adat yang
tidak pada tempatnya.!"
Tegas Badar dengan berapi-api. Semua orang
langsung riuh rendah saling menyalahkan satu
dengan yang lainnya. Mereka juga terlihat sangat
ketakutan saat mendengar kata kepolisian.
"Tolong maafkan kesalahan kami Bang..kami
benar-benar tidak tahu kalau Nona Kiran itu
istrinya Tuan Agra.."
"Benar Bang.. tolong kasihanilah kami..kami
akan memohon maaf dan merawat Nona Kiran
sampai sembuh.."
Beberapa diantaranya terlihat maju ke hadapan
Badar seraya menunduk memohon maaf.
Badar masih dalam mode kebakaran, tatapan
nya masih menyemburkan api amarah.
"Hanya Tuan Agra lah yang bisa memaafkan
dan mengampuni kalian..!"
"Maaf Bang..kami semua sudah mempercayai
informasi yang di berikan oleh mbak Lintang."
Sang pemimpin hukum adat mencoba membela
diri dengan melempar semua kesalahan pada
Lintang yang terlihat duduk di ujung ruangan.
Saat ini gadis itu masih mencoba mempercayai kenyataan pahit bahwa pria yang di idamkan nya
itu merupakan suami sah nya Nona Kiran.
Ini sulit di percaya ! selama ini mereka bahkan
tidak terlihat sebagai suami istri.!
Semua orang kini memusatkan perhatian pada
gadis itu yang langsung meringis merasa bersalah.
"Maaf..karena saya juga baru tahu semua ini.
Saya hanya tidak suka melihat semua orang
begitu menyukai Nona Kiran..!"
Ucap gadis itu terus terang. Pak Nurdin sebagai
kepala desa sekaligus ayah nya Lintang hanya
bisa menepuk keningnya sambil menggeleng.
Badar menggeram menahan kemarahan yang
kini tertuju pada bawahan nya itu. Dia tidak
menduga Lintang akan bertindak bodoh dengan
memprovokasi warga desa.
"Baiklah..kita serahkan saja semuanya pada
Tuan Agra..!"
Putus Badar sambil kemudian melangkah
pergi keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Bara
dan beberapa anggota pasukan bayangan
hitam yang berwajah dingin tanpa ekspresi.
"Lintang..! bapak benar-benar tidak percaya
kamu bisa bertindak bodoh seperti ini. Kamu
bapak sekolah kan tinggi-tinggi untuk apa.?"
Keluh Pak Nurdin di hadapan Lintang yang
tertunduk merasa sangat bersalah.
"Maaf Pak, Lintang sangat cemburu pada Nona
Kiran..semua orang sangat mengaguminya dan
menyukainya, Lintang menyukai Tuan Agra.."
"Aduhh...Lintang..Lintang.. harusnya kamu tahu
diri, siapa kita dan siapa itu Tuan Agra..dia itu
bukan sembarang orang..!"
Pak Nurdin semakin menepuk dahinya. Orang-
orang hanya bisa saling pandang menahan rasa
jengkel terhadap gadis kembang desa itu.
"Sekali lagi Maaf Pak, tapi Lintang benar-benar
mencintai Tuan Agra..!"
Ucap Lintang masih keukeh dengan pembelaan
dan perasaannya yang tulus pada majikannya itu.
"Sudah..sudah..! bapak jadi pusing mendengar
nya, mulai sekarang kamu harus melupakan
Tuan Agra..! dia bukanlah tandingan kita..!"
Ketus Pak Nurdin lelah sambil kemudian
melangkah keluar dari ruangan itu.
"Huuh.. mustinya kamu lihat-lihat dulu siapa
yang kamu sukai itu nak Lintang..!"
Ledek ibu-ibu sambil kemudian mereka pun
keluar dari tempat itu satu persatu. Lintang
hanya bisa menarik napas perih, hatinya kini
patah bahkan sebelum rasa itu tersampaikan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Asmawatikadri Wati
wanita seperti Lintang itu yang wajib dikenakan Hukum Adat
2024-08-24
0
andi hastutty
lintang biang kerok
2023-10-27
1
Ernadina 86
ini gak di apa2in gak di tindak warga desa dan Lintangnya
2023-05-01
0