20. Hipotermia

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Agra terlihat mondar-mandir di dalam kamar

dengan wajah yang sudah sangat kelam.Tapi

kepanikan lebih menguasai dirinya saat ini.

Kiran yang sudah sadar tampak begitu tersiksa

dengan kondisinya. Kulitnya terlihat semakin

membeku, dia tidak mampu membuka matanya.

Dokter sedang memeriksa keadaan Kiran yang

terlihat semakin memprihatinkan. Tampaknya

gadis itu mengalami hipotermia akut. Tubuhnya

terus saja menggigil dan mengigau. Bibirnya

terlihat sudah mulai kaku kebiruan.

"Bagaimana keadaannya..?"

Agra bertanya dengan cepat saat dokter itu

selesai mengecek kondisi Kiran.

"Kondisi Nona Kiran cukup memprihatinkan

Tuan..! dia harus mendapatkan perawatan

lebih lanjut, tapi di daerah ini tidak ada rumah

sakit yang memadai fasilitas nya."

"Apa yang bisa di lakukan ? sebagai dokter bisa

apa kamu hahh..?"

Agra menghardik Dokter itu karena tidak puas

dengan hasil analisanya. Dokter tadi hanya bisa

menundukkan kepala bingung.

"Saya tidak membawa alat yang cukup karena

tidak tahu kondisi Nona akan seperti ini Tuan."

"Terus bagaimana sekarang.?"

"Ada satu cara yang bisa di lakukan Tuan untuk

menstabilkan kondisi suhu tubuh Nona. "

"Apa itu , cepat katakan.!"

Agra melirik cepat, dokter tadi terlihat sedikit ragu

untuk mengatakan nya, tapi tidak ada pilihan lain

sebab hanya itu cara yang bisa di lakukan saat ini.

"Dengan sentuhan kulit ke kulit Tuan..!"

Ucap Dokter itu pelan dan menunduk. Wajah

Agra sontak saja berubah sedikit memerah.

Dia menatap tajam wajah Dokter itu.

"Apa kau yakin cara itu akan berhasil.?"

Agra mencoba meyakinkan. Dokter tadi kembali

mengangguk pelan namun dengan raut wajah

penuh keyakinan.

Agra menghembuskan napas berat, dia melirik

kearah Kiran yang saat ini terlihat sedang sangat

menderita, menggigil dan meracau tidak jelas.

Sesekali mendesah gelisah.

"Baiklah..kau boleh keluar sekarang.! bilang pada orang-orang yang ada di bawah jangan ada yang

naik ke lantai atas !"

Titah Agra setelah merenung sejenak.

"Baik Tuan, saya permisi."

Dokter tadi membungkuk sebentar setelah itu

dia berlalu keluar kamar. Agra kembali menarik

napas dalam-dalam mencoba untuk menetralkan

detak jantung nya yang tiba-tiba saja berdebar

kencang tidak terkendali.

Dia segera mengunci pintu kamar. Dan Seakan

di sengaja tiba-tiba saja turun hujan dengan

sangat deras membuat cuaca semakin dingin

dan Kiran semakin menggigil parah.

Perlahan Agra mendekat ke sisi tempat tidur,

menatap ragu campur tegang wajah Kiran yang

terlihat semakin pucat membeku.

Dengan tatapan yang terus mengunci wajah

pucat Kiran perlahan Agra membuka kemeja

yang di pakainya hingga kini tubuh bagian atas

nya yang gagah dan berotot polos tak tertutupi

kain sehelai pun. Dia naik ke atas tempat tidur, kemudian masuk ke balik tumpukan selimut

yang di pakai untuk membungkus tubuh Kiran.

Di tengah kondisinya yang tidak stabil Kiran

menyadari ada sosok lain yang masuk ke balik

selimut, dia membuka matanya perlahan. Mata

mereka bertemu dalam kabut yang samar.

"Apa yang kau lakukan..? kenapa naik kesini.?"

Lirih Kiran bergetar. Tatapan Agra begitu dalam.

Keduanya saling menatap, namun tidak lama

Kiran kembali memejamkan matanya.

"Maafkan aku Kiran..ini satu-satunya cara untuk

memulihkan kondisi tubuhmu."

Kiran menggeleng lemah, saat ini dia tidak bisa

menolak ataupun membantah. Tangan Agra

mulai bergerak lembut membuka atasan yang

di pakai oleh Kiran. Gadis itu berjingkat mencoba menahan tangan Agra di tengah kondisi tubuh

nya yang tiada henti menggigil.

"Ja-jangan Agraa..ini tidak benaaar..."

Gumam Kiran dengan tatapan sendu yang malah membuat naluri lelaki Agra makin meronta.

"Maafkan aku sayang..ini terpaksa.. percayalah

aku akan bertanggung jawab untuk semua ini.

Aku adalah suamimu.."

Bisik Agra dengan suara yang sangat berat.

Hati Kiran bergetar mendengar kata sayang

yang terucap dari bibir Agra. Akhirnya dia

pasrah karena hawa dingin itu kini kembali menyerangnya. Dengan gerakan lembut dan

hati-hati Agra melepaskan pakaian Kiran

hingga kini hanya tersisa dalaman saja.

Keduanya langsung memejamkan mata saat

menyadari tubuh mereka saat ini dalam keadaan

setengah polos, hanya menyisakan bawahan saja.

Agra segera menarik tubuh halus lembut Kiran ke dalam dekapan hangatnya. Kulit mereka saling bersentuhan dalam ketegangan yang kini sudah

menguasai keduanya. Mereka terdiam di balik

selimut mencoba untuk meminimalisir gerakan

dan sentuhan karena itu akan sangat berbahaya.

Rasa dingin kembali menyerang Kiran membuat

dia menggigil hebat. Agra semakin mempererat pelukannya hingga kini tubuh mereka merapat seluruhnya. Agra memejamkan mata mencoba menguasai diri dan mengontrol hasratnya yang

mulai menyeruak saat dada sintal Kiran

menyentuh perutnya. Tubuh bagian bawahnya

kini mulai meronta menyesakkan celananya.

Bagaimana dia bisa bertahan dalam kondisi

seperti ini. Tapi sekuat tenaga Agra menekan

segala gejolak hasrat dan gairah yang kini

semakin menenggelamkan dirinya kedalam

keinginan untuk memiliki gadis ini seutuhnya

saat ini juga. Napasnya kian berat, wajahnya memerah.

Tidak kuat dengan hawa dingin yang di rasakan

Kiran menekan tubuhnya semakin menempel di

tubuh Agra ,menyusupkan wajahnya di lekukkan

dada bidang laki-laki itu, tangannya kini bergerak melingkar di punggung kokoh suaminya itu.

Agra semakin berat menerima semua ini. Dia

memejamkan matanya rapat, wajahnya di

benamkan di puncak kepala Kiran.

"Ini cobaan yang sangat berat bagiku Kiran.."

Gumam Agra serak mencoba mengontrol dirinya. Juniornya benar-benar sudah menegang dengan

sempurna saat ini. Kiran pun sebenarnya mulai merasakan gelagat tidak beres di bagian bawah namun keadaannya yang sedang setengah sadar membuat dia tidak memperdulikan nya.

Beberapa saat kemudian kondisi tubuh Kiran

mulai tenang dan stabil. Hawa dingin yang tadi

tercipta berangsur mulai menghilang berganti

hawa panas yang justru semakin lama semakin

membakar aliran darah keduanya.

"Apa sekarang sudah lebih baik.?"

Suara serak Agra membuat Kiran menegang

dan bergerak pelan menjauhkan dirinya.

"Iya..sudah tidak sedingin tadi."

Lirih Kiran masih menundukkan wajahnya.

Agra kembali menarik tubuh Kiran ke dalam

pelukan nya.

"Kau harus bertanggung jawab sekarang.!'

Kiran mendongakan kepala perlahan, menatap

wajah tampan Agra tidak mengerti. Wajah pria

itu kini terlihat sangat merah. Keduanya saling pandang kuat.

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti.."

Seringai senyum tipis tercipta di bibir seksi Agra membuat Kiran semakin tegang. Dia bergerak

menjauh tapi Agra tidak membiarkan nya.

"Agraa.. aku sudah lebih baik sekarang, jadi

kau sudah bisa melepaskan aku.."

"Tidak, kau harus membayar semua ini.."

Bisik Agra parau, tatapan matanya kini sudah

terkunci di bibir indah Kiran yang mulai normal,

tidak kebiruan lagi seperti.

"Aku tidak mengerti maksudmu.."

Kiran mencoba untuk mendorong dada kekar

Agra tapi usahanya sia-sia saja. Tangan Agraa

kini mengangkat dagu lonjong nya.

"Aku menginginkan dirimu saat ini.."

"Apa..? ta-tapi Agraa..aku.."

"Tubuh ku yang tersiksa sekarang Kiran.."

Mata tajam Agra terlihat sudah di penuhi oleh

kabut gairah yang membuat tubuh Kiran semakin tegang, tapi dia juga tidak bisa mengingkari satu

hal bahwa ada hasrat aneh yang kini menguasai dirinya membuat aliran darahnya serasa terbakar

melihat wajah kemerahan Agra.

Keduanya saling pandang kuat, napas mereka

semakin berkejaran.

Dengan gerakan yang sangat halus bibir Agra

memagut bibir ranum Kiran, ********** lembut penuh perasaan, menghisap pelan dan menjilat

nya dengan gerakan intens yang begitu membuai.

Agra terhenyak..bibir ini begitu manis dan lembut membuat dia melayang ke awan. Kiran hanya bisa membulatkan matanya terkejut dengan serangan dadakan Agra. Denyut jantungnya bergelombang.

Shit.! laki-laki ini sudah mencuri ciuman pertama

nya. Dan Kiran seakan langsung terlena dalam

sensasi kenikmatan yang baru pertama kali di

rasakannya itu. Lebih anehnya lagi dia tidak bisa keluar dari semua kelembutan ini.

Agra kembali melancarkan serangan selembut

kapas nya yang mampu membuat Kiran terbuai

dan memejamkan matanya. Kiran tidak mampu

melepaskan diri, karena dia merasakan ciuman

ini terasa begitu lembut, begitu manis dan sangat memabukkan.

Gila.! Kiran benar-benar tidak ingin melepaskan

diri dari semua sensasi baru ini.

Agra semakin memperdalam ciumannya dengan

menekan lidahnya agar bisa masuk menjelajah

segala kenikmatan bibir manis dan lembut istri

nya itu.Bibir yang sudah lama ingin di nikmatinya.

Dia mengigit kecil bibir Kiran membuat gadis itu

membuka mulutnya hingga lidah Agra bisa leluasa masuk menjelajah membuat Kiran kewalahan

karena gerakan Agra semakin lama semakin liar.

Keduanya terhanyut dalam kehangatan dan

kelembutan ciuman pertamanya yang semakin

lama semakin panas. Agra melepas sebentar

pagutannya saat Kiran kehabisan napas, namun

tidak lama dia kembali menyergap bibir ranum

itu, melancarkan permainan bibirnya yang makin

menggila membuat Kiran mulai membalas nya.

Akhirnya setelah menghabiskan durasi yang

cukup lama Kiran mendorong keras dada Agra

saat dia mulai kehabisan pasokan udara.Ciuman mereka akhir nya terlepas. Keduanya tampak mengatur napas, menghirup oksigen sebanyak-

banyaknya. Wajah Kiran terlihat sangat merah.

Mata mereka saling menatap tajam, ada rona

malu yang memenuhi wajah cantik Kiran.

Sekilas Agra kembali ******* lembut bibir

Kiran sebelum benar-benar melepaskan nya.

"Apa aku bisa memiliki mu sekarang..?"

Kiran membulatkan matanya, menggeleng kuat

dan mencoba menjauhkan dirinya.

"Maafkan aku.. a-aku belum siap Agraa.."

Lirih Kiran ragu, namun ada nada penyesalan

dalam ucapannya. Ada seulas senyum tipis

terukir di bibir Agra.

"Baiklah..aku tidak akan memaksamu. Aku akan

sabar menunggu sampai kamu siap..Maaf juga..

tadi aku kehilangan kendali.."

Bisik Agra sambil mengusap lembut bibir Kiran

yang terlihat sedikit membengkak dengan tatapan

yang begitu memuja hingga mampu merontokkan seluruh sendi yang ada dalam tubuh Kiran.Hatinya bergetar melihat bagaimana lembut dan sabarnya laki-laki ini memperlakukan dirinya.

Kiran hanya bisa menundukkan wajahnya yang

saat ini sudah semerah tomat. Rona di wajahnya

kini sudah kembali. Suhu tubuh nya pun sudah

pulih dan normal kembali.

Kiran menjauhkan dirinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Mereka masih

saling menatap. Agra bangkit, wajah Kiran

semakin memerah saat melihat tubuh setengah

polos nya Agra yang terlihat begitu menggoda.

"Mau aku bantu berpakaian..?"

Tawar Agra dengan senyum tipis tersungging

di bibir seksinya. Kiran merasa senyuman itu

terlihat begitu manis hingga membuat dadanya

kembali berdebar hebat.

"Tidak, aku bisa sendiri. Kau bisa keluar sekarang."

Agra masih menatap wajah Kiran dengan intens.

"Baiklah..aku keluar sekarang. Setelah ini kita

akan membicarakan semuanya.!"

Dia turun dari atas tempat tidur kemudian

meraih kembali kemejanya dan memakainya.

Saat ini dia harus segera mendinginkan suhu

tubuh nya agar hasrat yang membakar dirinya

bisa di padamkan.

Tidak lama Agra keluar dari kamar di iringi

tatapan Kiran yang tampak terdiam menahan

serbuan perasaan yang tidak menentu, antara

tegang namun juga merasa bersalah karena

tidak bisa mengabulkan permintaan Agra.

Kiran mendekap kuat dadanya yang masih

saja terasa berdebar tidak karuan. Tubuh nya

saat ini lemas, bayangan ciuman barusan

kembali melintas dalam ingatannya membuat

dia tersenyum dan merasa malu sendiri.

------- -------

Sementara itu saat ini Badar dan Bara sedang

berada di balai desa. Pria bertubuh tinggi besar

dengan tampang yang cukup membuat orang

ketakutan itu terlihat sedang meluapkan segala

emosi jiwanya kepada semua warga atas kejadian

yang telah menimpa Nona nya tadi pagi.

"Tuan Agra memastikan akan memproses kalian

di kepolisian ! karena kalian telah melakukan

kesalahan dengan melakukan hukum adat yang

tidak pada tempatnya.!"

Tegas Badar dengan berapi-api. Semua orang

langsung riuh rendah saling menyalahkan satu

dengan yang lainnya. Mereka juga terlihat sangat

ketakutan saat mendengar kata kepolisian.

"Tolong maafkan kesalahan kami Bang..kami

benar-benar tidak tahu kalau Nona Kiran itu

istrinya Tuan Agra.."

"Benar Bang.. tolong kasihanilah kami..kami

akan memohon maaf dan merawat Nona Kiran

sampai sembuh.."

Beberapa diantaranya terlihat maju ke hadapan

Badar seraya menunduk memohon maaf.

Badar masih dalam mode kebakaran, tatapan

nya masih menyemburkan api amarah.

"Hanya Tuan Agra lah yang bisa memaafkan

dan mengampuni kalian..!"

"Maaf Bang..kami semua sudah mempercayai

informasi yang di berikan oleh mbak Lintang."

Sang pemimpin hukum adat mencoba membela

diri dengan melempar semua kesalahan pada

Lintang yang terlihat duduk di ujung ruangan.

Saat ini gadis itu masih mencoba mempercayai kenyataan pahit bahwa pria yang di idamkan nya

itu merupakan suami sah nya Nona Kiran.

Ini sulit di percaya ! selama ini mereka bahkan

tidak terlihat sebagai suami istri.!

Semua orang kini memusatkan perhatian pada

gadis itu yang langsung meringis merasa bersalah.

"Maaf..karena saya juga baru tahu semua ini.

Saya hanya tidak suka melihat semua orang

begitu menyukai Nona Kiran..!"

Ucap gadis itu terus terang. Pak Nurdin sebagai

kepala desa sekaligus ayah nya Lintang hanya

bisa menepuk keningnya sambil menggeleng.

Badar menggeram menahan kemarahan yang

kini tertuju pada bawahan nya itu. Dia tidak

menduga Lintang akan bertindak bodoh dengan

memprovokasi warga desa.

"Baiklah..kita serahkan saja semuanya pada

Tuan Agra..!"

Putus Badar sambil kemudian melangkah

pergi keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Bara

dan beberapa anggota pasukan bayangan

hitam yang berwajah dingin tanpa ekspresi.

"Lintang..! bapak benar-benar tidak percaya

kamu bisa bertindak bodoh seperti ini. Kamu

bapak sekolah kan tinggi-tinggi untuk apa.?"

Keluh Pak Nurdin di hadapan Lintang yang

tertunduk merasa sangat bersalah.

"Maaf Pak, Lintang sangat cemburu pada Nona

Kiran..semua orang sangat mengaguminya dan

menyukainya, Lintang menyukai Tuan Agra.."

"Aduhh...Lintang..Lintang.. harusnya kamu tahu

diri, siapa kita dan siapa itu Tuan Agra..dia itu

bukan sembarang orang..!"

Pak Nurdin semakin menepuk dahinya. Orang-

orang hanya bisa saling pandang menahan rasa

jengkel terhadap gadis kembang desa itu.

"Sekali lagi Maaf Pak, tapi Lintang benar-benar

mencintai Tuan Agra..!"

Ucap Lintang masih keukeh dengan pembelaan

dan perasaannya yang tulus pada majikannya itu.

"Sudah..sudah..! bapak jadi pusing mendengar

nya, mulai sekarang kamu harus melupakan

Tuan Agra..! dia bukanlah tandingan kita..!"

Ketus Pak Nurdin lelah sambil kemudian

melangkah keluar dari ruangan itu.

"Huuh.. mustinya kamu lihat-lihat dulu siapa

yang kamu sukai itu nak Lintang..!"

Ledek ibu-ibu sambil kemudian mereka pun

keluar dari tempat itu satu persatu. Lintang

hanya bisa menarik napas perih, hatinya kini

patah bahkan sebelum rasa itu tersampaikan.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

TBC....

Terpopuler

Comments

Asmawatikadri Wati

Asmawatikadri Wati

wanita seperti Lintang itu yang wajib dikenakan Hukum Adat

2024-08-24

0

andi hastutty

andi hastutty

lintang biang kerok

2023-10-27

1

Ernadina 86

Ernadina 86

ini gak di apa2in gak di tindak warga desa dan Lintangnya

2023-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!