3. Kota Kecil

 

**********

 

Akhirnya Kiran pergi sesuai dengan keinginan

nya. Dia ingin menjauh sementara dari semua

hal yang bisa membuat dirinya teringat kembali

akan rasa sakit hatinya.Walau berat meninggalkan

ayah dan ibu yang sangat menyayanginya tapi

keputusan nya sudah tidak bisa di ubah lagi.

Semula Nyonya Amelia tampak berat untuk

melepas kepergian putri sambung nya itu.Tapi

ketika Tuan Zein mengatakan bahwa Kiran

tidak akan pergi lama, akhir nya dengan berat

hati dia membiarkan Kiran pergi sesuai dengan keinginannya. Namun Nyonya Amelia tahu nya

Kiran akan pergi ke luar negeri.

Tuan Zein sendiri terlihat sangat berat ketika

melepas kepergian Kiran saat mereka tiba di

terminal keberangkatan di bandara.

Penerbangan menuju kota kecil tersebut hanya

ada satu kali saja sekitar jam 1 siang.

"Hati-hatilah di sana..Badar akan menjemputmu

di bandara nanti."

"Baiklah..Kiran percaya ayah sudah mengatur

semuanya dengan baik."

Tuan Zein memeluk erat tubuh putrinya itu

penuh rasa tidak rela. Ada suatu perasaan tidak nyaman yang dia rasakan mengingat putrinya itu

akan pergi sendiri ke tempat itu.

"Sebenarnya ayah masih tidak tega melepasmu

pergi ke tempat itu tanpa ayah nak."

"Ayah tenang saja, percayakan semuanya sama

Kiran, insya Allah Kiran bisa jaga diri.."

Sahut Kiran setelah mereka saling melepaskan

diri. Tuan Zein memperhatikan seluruh tampilan

putrinya itu. Dia sudah memberi arahan agar

Kiran berpenampilan tidak mencolok.

Saat ini gadis itu memakai setelan kaos putih

polos di padu celana jeans biru plus jaket kulit

warna hitam, kacamata hitam, wajahnya juga di

tutup masker, rambutnya yang biasanya tergerai

indah kini di ikat kuncir kuda. Dia terlihat seperti seorang wanita tomboy pada umumnya, tidak

ada yang terlalu menonjol.

Setelah semuanya siap Tuan Zein akhirnya rela

tidak rela memang harus melepaskan kepergian

putrinya itu ke tempat yang entah apakah Kiran

akan bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan

di tempat barunya itu. Bahkan hanya untuk

sebuah jaringan selular saja harus mencari

arah tertentu untuk menemukannya.

Kini Kiran sudah berada di dalam pesawat, duduk

di kelas satu. Dia menatap tenang ke luar jendela

dengan perasaan yang begitu berkecamuk. Ada

tetesan cairan bening yang kini mulai menetes

menyusuri pipi putihnya. Bayangan wajah

Nathan terus saja bermain di pelupuk matanya.

"Kenapa kamu tega melakukan semua ini

padaku Nathan..hingga aku harus menjauh

seperti ini. Kalau masih ada di dekatmu..

aku tidak yakin bisa bertahan dengan semua

egoku, hatiku pasti akan luluh kembali..!"

Gumam Kiran dalam hatinya. Dia menghapus

kasar air matanya. Sudah cukup baginya untuk

membiarkan nama Nathan berada di hatinya.

Mulai sekarang dia harus melupakan nya,

merelakan nya dan menghapus namanya

dari ingatannya untuk selamanya.

------- -------

Setelah menempuh penerbangan selama 4 jam

lamanya akhirnya pesawat yang di tumpangi

Kiran mendarat juga.

Kota xxx..adalah sebuah kota kecil yang ada di

pulau terpencil di bagian timur negara ini. Kota

ini memiliki pesona keindahan alam yang sangat eksotis dan masih sangat alami. Hampir 60% luas wilayah ini terdiri dari perkebunan yang sangat

subur, yang di kuasai hampir separuhnya oleh

pihak swasta diantaranya adalah perkebunan

kayu milik Tuan Zein yang termasuk paling luas

dan paling potensial untuk menghasilkan laba

yang sangat besar di setiap musim panen.

Kehidupan masyarakat di daerah ini juga masih

sangat sederhana, terikat oleh tradisi serta

mengacu pada kearifan lokal yang berlaku.

Namun jangan salah, di balik kesederhanaan

gaya hidup penduduk aslinya, ternyata kota

kecil ini banyak di datangi oleh beberapa

komunitas pecinta alam serta menjadi incaran beberapa pengusaha besar untuk mencoba

menggali dan mengeksplor segala potensi

yang tersembunyi di kota sejuk ini.

Kekuasaan di kota ini terpusat pada kepala

daerah yang memimpin kota kecil ini. Semua

orang tunduk dan patuh di bawah perintah atau

arahan kepala daerah tersebut.

Setelah melalui proses pengecekan terlebih

dahulu, Kiran keluar dari terminal kedatangan di bandara yang tidak begitu besar itu. Dia kembali memakai kacamata hitamnya.Keadaan di bandara

ini terlihat cukup sepi karena penerbangan dari

dan keluar kota ini sangat terbatas. Kebanyakan

para pengusaha selalu menggunakan helikopter

untuk keluar masuk kota ini.

Walau berusaha di sembunyikan seperti apapun

namun tetap saja aura kehadiran dirinya mampu

menarik perhatian semua orang yang ada di

sekitar bandara.

Bentuk tubuh Kiran yang sangat sempurna di

balut pakaian yang pas di badannya membuat

setiap mata kini terfokus pada dirinya yang

sedang berjalan tenang menuju titik

penjemputan. Namun Kiran berusaha untuk

tidak memperdulikan pandangan orang-orang

tersebut pada dirinya.

Kiran berdiri memperhatikan keadaan di sekitar

ruangan tempat penjemputan itu. Ada beberapa

orang yang sudah bertemu dengan penjemputnya

masing-masing dengan saling menyapa dan

berangkulan penuh kehangatan.

Kiran masih berdiri melihat ke sekitar, namun

Om Badar yang akan menjemput dirinya belum

juga kelihatan batang hidungnya. Kiran mencoba

untuk bertahan walau dia sedikit kesal mengingat

waktu sudah semakin mepet menjelang magrib.

Dia melihat lagi kearah depan tapi orang yang

di tunggu belum kunjung tiba.

"Kemana sih Om Badar ini, apa mungkin ada

masalah di jalan."

Kiran bergumam sendiri seraya mendudukkan

bokong nya di bangku sambil menghembuskan

napas kasar membuang rasa kesal. Beberapa

security tampak memperhatikan dirinya.

Kiran membuka kacamata nya membuat mata

lebarnya yang indah terpampang nyata hingga

membius semua orang yang kebetulan bertemu pandang dengannya.

Kiran mencoba menghindari kontak mata dengan orang-orang dengan melihat kembali jam tangan

nya, sudah lebih dari setengah jam dia menunggu, orang-orang yang tadi datang bersamanya kini

sudah pergi semua ke tempat tujuan mereka masing-masing. Dia kembali menghembuskan

napasnya pelan seraya menundukan kepala,

mengurut keningnya yang terasa sedikit pusing.

"Apa anda Nona Kiran..?"

Ada sebuah suara berat di samping nya. Kiran

mendongakkan kepala, mata mereka bertemu.

Dia melihat seorang pria tinggi tegap dengan

tampang sedikit urakan, memakai anting-anting

kecil di telinganya, kalung kecil menggantung di

lehernya, rambut sedikit berantakan, tubuhnya

berbalut jaket kulit hitam kini tengah berdiri di

depannya dengan tatapan setajam elang.

Kiran segera sadar dari keterkejutan nya.

"Iya.. saya Kiran, anda siapa ya.?"

Sahut Kiran kemudian dengan nada penuh rasa

curiga, dia berdiri berhadapan dengan laki-laki

berwajah dingin itu.

"Ikuti saya..!"

Pria dengan tampang urakan itu langsung

menarik koper dari tangan Kiran kemudian

melangkah.

"Hei.. tunggu dulu, siapa kamu ini..hei..!"

Sontak saja Kiran langsung mengejar langkah

pria tadi kemudian mengambil koper nya.

"Jangan asal ambil ya kamu, enak saja..! kamu

maling ya..?"

Ketus Kiran sambil memegang kuat pegangan

koper nya. Pria tadi menatap dingin wajah Kiran

dengan sorot mata lebih tajam dari tadi membuat

nyali Kiran sedikit ciut.

"Saya orang yang di tugaskan untuk menjaga

anda selama anda ada di tempat ini. !"

"Apa, siapa yang memberimu perintah.? yang

aku tahu Om badar lah yang akan menjagaku

di sini.! bukan orang macam kamu ini..!"

Sergah Kiran seraya menatap sekilas penampilan

pria tadi yang terlihat seperti preman jalanan itu.

Tapi anehnya aura yang dimiliki nya sangat kuat

dan berbeda.

Dengan gerakan cepat pria tadi kembali meraih

kopper dari tangan Kiran kemudian melangkah

acuh. Kiran langsung mengejarnya.

"Hei.. tunggu ! aku tidak bisa percaya begitu saja.! mana buktinya kalau kamu suruhan Om Badar !

Kamu pikir saya percaya sama omongan orang

asing seperti kamu, tunggu dulu, aaww...!"

Pria tadi menghentikan langkahnya mendadak

membuat Kiran menubruk punggung kokohnya.

Kiran terhuyung sambil meringis sedikit. Wajah

Kiran memerah menahan rasa kesal atas sikap

seenaknya pria aneh itu.

"Sebentar lagi gelap Nona, sebaiknya anda

jangan banyak bertanya.!"

Desisnya masih dalam posisi yang sama

membelakangi Kiran, tanpa rasa bersalah pria itu kembali berjalan acuh menuju sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman bandara.

Kiran mengetatkan rahang nya menahan geram.

Kenapa Om Badar harus mengirim orang model

begini sih untuk menjemputnya.!

"Tunggu dulu.! aku akan menelepon Om badar !

aku harus yakin bahwa kamu adalah orang yang

telah di perintahkan untuk datang kesini.!"

Gertak Kiran seraya mengambil ponselnya dari

dalam tas punggung nya. Ohh shit ! ponselnya

ternyata kehabisan daya.

"Uhh.. bagaimana ini.! kenapa harus mati segala

sih hape nya.! gimana aku bisa menghubungi

Om Badar kalau begini.!"

Gerutu Kiran sambil terpaksa mengikuti langkah

pria tadi yang terlihat sudah sampai di depan

sebuah mobil bak terbuka.

Tiba di depan mobil mata Kiran membulat tak

percaya, apakah dia akan pergi dengan mobil

model begini.? Dengan cepat Kiran merebut

kembali kopper nya, kemudian mengunci di tangannya.

"A-apa..kita akan pergi dengan mobil ini.?"

Tanya nya dengan wajah tidak percaya. Pria

itu kembali menarik koper dari tangan Kiran

hingga akhirnya mereka tarik-tarikan dengan

mata saling menatap panas.

"Mobil ini sudah lebih baik daripada anda harus

berjalan kaki ke perkebunan.!"

Ucap pria itu setelah dia berhasil menarik koper

dari tangan Kiran kemudian memasukkannya

ke bagian jok kedua karena mobil ini merupakan

jenis Jeep dobel kabin.

"Silahkan naik Nona..!"

Dia membukakan pintu mobil untuk Kiran yang

masih berdiri kaku di tempat nya.

"Aku tidak mau, aku akan naik taksi saja..!"

Tolak Kiran dengan wajah kesalnya. Pria tadi

tampak tersenyum miring. Dia berdiri seraya

menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dengan

kaki menyilang.

"Di sini tidak ada taksi Nona, cepat masuk.!"

Titahnya dengan tatapan tajam penuh intimidasi.

Kiran menatap kesal kearah pria tadi sambil

kemudian melengos sebal. Dengan terpaksa dia

nurut juga beranjak naik ke dalam mobil yang

memiliki ukuran cukup tinggi itu, namun kakinya

yang menggunakan sepatu high heels tidak pas menginjak pijakan mobil membuat tubuhnya

terpelanting ke belakang, ketika sadar dia sudah

berada di dalam pangkuan pria tadi.

Kedua mata mereka kembali bertemu dengan

wajah sedikit pias karena terkejut, tangan Kiran

tanpa sadar melingkar kuat di leher kokoh pria

itu, wajah mereka begitu dekat. Mata mereka

saling bertaut dalam. Napas mereka kini saling

berkejaran.

Dengan perlahan pria itu mendudukkan Kiran di

atas jok, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi

apapun. Dia melirik kearah tangan Kiran yang

masih belum terlepas dari lehernya.

"Maaf, aku tidak sengaja.."

Desis Kiran dengan wajah yang kini sudah

semerah tomat, malu bukan main, apa yang

akan dipikirkan oleh pria aneh itu.! Kiran

merutuki diri sendiri atas kebodohan nya.

Pria itu menutup pintu mobil kemudian dia

memutar badannya berjalan masuk ke balik

kemudi. Tidak lama mobil yang sudah sedikit

usang dan menimbulkan suara decitan yang

cukup menggangu kenyamanan Kiran itu

mulai melaju meninggalkan area bandara.

Hari sudah semakin gelap ketika mobil yang

membawa Kiran semakin jauh menyusuri

jalanan yang tidak selicin jalanan di ibukota

dengan suasana yang sangat mencekam sebab

di kanan kiri jalan hanya di hiasi oleh hutan

lebat yang cukup menyeramkan bila di lihat

malam hari seperti ini..

 

***********

 

TBC....

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

Presdir kali yg nyamar 🤭🤣

2023-10-26

0

Nur Ckhanela

Nur Ckhanela

apa mungkin itu Presdir yg lagi nyamar,,?😅😅

2022-12-25

0

Siti hawa

Siti hawa

Hahahahahahahaha..lucu jgk kirana ya..kenapa pake heel ke perkebunan..

2022-11-12

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!