**********
Akhirnya Kiran pergi sesuai dengan keinginan
nya. Dia ingin menjauh sementara dari semua
hal yang bisa membuat dirinya teringat kembali
akan rasa sakit hatinya.Walau berat meninggalkan
ayah dan ibu yang sangat menyayanginya tapi
keputusan nya sudah tidak bisa di ubah lagi.
Semula Nyonya Amelia tampak berat untuk
melepas kepergian putri sambung nya itu.Tapi
ketika Tuan Zein mengatakan bahwa Kiran
tidak akan pergi lama, akhir nya dengan berat
hati dia membiarkan Kiran pergi sesuai dengan keinginannya. Namun Nyonya Amelia tahu nya
Kiran akan pergi ke luar negeri.
Tuan Zein sendiri terlihat sangat berat ketika
melepas kepergian Kiran saat mereka tiba di
terminal keberangkatan di bandara.
Penerbangan menuju kota kecil tersebut hanya
ada satu kali saja sekitar jam 1 siang.
"Hati-hatilah di sana..Badar akan menjemputmu
di bandara nanti."
"Baiklah..Kiran percaya ayah sudah mengatur
semuanya dengan baik."
Tuan Zein memeluk erat tubuh putrinya itu
penuh rasa tidak rela. Ada suatu perasaan tidak nyaman yang dia rasakan mengingat putrinya itu
akan pergi sendiri ke tempat itu.
"Sebenarnya ayah masih tidak tega melepasmu
pergi ke tempat itu tanpa ayah nak."
"Ayah tenang saja, percayakan semuanya sama
Kiran, insya Allah Kiran bisa jaga diri.."
Sahut Kiran setelah mereka saling melepaskan
diri. Tuan Zein memperhatikan seluruh tampilan
putrinya itu. Dia sudah memberi arahan agar
Kiran berpenampilan tidak mencolok.
Saat ini gadis itu memakai setelan kaos putih
polos di padu celana jeans biru plus jaket kulit
warna hitam, kacamata hitam, wajahnya juga di
tutup masker, rambutnya yang biasanya tergerai
indah kini di ikat kuncir kuda. Dia terlihat seperti seorang wanita tomboy pada umumnya, tidak
ada yang terlalu menonjol.
Setelah semuanya siap Tuan Zein akhirnya rela
tidak rela memang harus melepaskan kepergian
putrinya itu ke tempat yang entah apakah Kiran
akan bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan
di tempat barunya itu. Bahkan hanya untuk
sebuah jaringan selular saja harus mencari
arah tertentu untuk menemukannya.
Kini Kiran sudah berada di dalam pesawat, duduk
di kelas satu. Dia menatap tenang ke luar jendela
dengan perasaan yang begitu berkecamuk. Ada
tetesan cairan bening yang kini mulai menetes
menyusuri pipi putihnya. Bayangan wajah
Nathan terus saja bermain di pelupuk matanya.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini
padaku Nathan..hingga aku harus menjauh
seperti ini. Kalau masih ada di dekatmu..
aku tidak yakin bisa bertahan dengan semua
egoku, hatiku pasti akan luluh kembali..!"
Gumam Kiran dalam hatinya. Dia menghapus
kasar air matanya. Sudah cukup baginya untuk
membiarkan nama Nathan berada di hatinya.
Mulai sekarang dia harus melupakan nya,
merelakan nya dan menghapus namanya
dari ingatannya untuk selamanya.
------- -------
Setelah menempuh penerbangan selama 4 jam
lamanya akhirnya pesawat yang di tumpangi
Kiran mendarat juga.
Kota xxx..adalah sebuah kota kecil yang ada di
pulau terpencil di bagian timur negara ini. Kota
ini memiliki pesona keindahan alam yang sangat eksotis dan masih sangat alami. Hampir 60% luas wilayah ini terdiri dari perkebunan yang sangat
subur, yang di kuasai hampir separuhnya oleh
pihak swasta diantaranya adalah perkebunan
kayu milik Tuan Zein yang termasuk paling luas
dan paling potensial untuk menghasilkan laba
yang sangat besar di setiap musim panen.
Kehidupan masyarakat di daerah ini juga masih
sangat sederhana, terikat oleh tradisi serta
mengacu pada kearifan lokal yang berlaku.
Namun jangan salah, di balik kesederhanaan
gaya hidup penduduk aslinya, ternyata kota
kecil ini banyak di datangi oleh beberapa
komunitas pecinta alam serta menjadi incaran beberapa pengusaha besar untuk mencoba
menggali dan mengeksplor segala potensi
yang tersembunyi di kota sejuk ini.
Kekuasaan di kota ini terpusat pada kepala
daerah yang memimpin kota kecil ini. Semua
orang tunduk dan patuh di bawah perintah atau
arahan kepala daerah tersebut.
Setelah melalui proses pengecekan terlebih
dahulu, Kiran keluar dari terminal kedatangan di bandara yang tidak begitu besar itu. Dia kembali memakai kacamata hitamnya.Keadaan di bandara
ini terlihat cukup sepi karena penerbangan dari
dan keluar kota ini sangat terbatas. Kebanyakan
para pengusaha selalu menggunakan helikopter
untuk keluar masuk kota ini.
Walau berusaha di sembunyikan seperti apapun
namun tetap saja aura kehadiran dirinya mampu
menarik perhatian semua orang yang ada di
sekitar bandara.
Bentuk tubuh Kiran yang sangat sempurna di
balut pakaian yang pas di badannya membuat
setiap mata kini terfokus pada dirinya yang
sedang berjalan tenang menuju titik
penjemputan. Namun Kiran berusaha untuk
tidak memperdulikan pandangan orang-orang
tersebut pada dirinya.
Kiran berdiri memperhatikan keadaan di sekitar
ruangan tempat penjemputan itu. Ada beberapa
orang yang sudah bertemu dengan penjemputnya
masing-masing dengan saling menyapa dan
berangkulan penuh kehangatan.
Kiran masih berdiri melihat ke sekitar, namun
Om Badar yang akan menjemput dirinya belum
juga kelihatan batang hidungnya. Kiran mencoba
untuk bertahan walau dia sedikit kesal mengingat
waktu sudah semakin mepet menjelang magrib.
Dia melihat lagi kearah depan tapi orang yang
di tunggu belum kunjung tiba.
"Kemana sih Om Badar ini, apa mungkin ada
masalah di jalan."
Kiran bergumam sendiri seraya mendudukkan
bokong nya di bangku sambil menghembuskan
napas kasar membuang rasa kesal. Beberapa
security tampak memperhatikan dirinya.
Kiran membuka kacamata nya membuat mata
lebarnya yang indah terpampang nyata hingga
membius semua orang yang kebetulan bertemu pandang dengannya.
Kiran mencoba menghindari kontak mata dengan orang-orang dengan melihat kembali jam tangan
nya, sudah lebih dari setengah jam dia menunggu, orang-orang yang tadi datang bersamanya kini
sudah pergi semua ke tempat tujuan mereka masing-masing. Dia kembali menghembuskan
napasnya pelan seraya menundukan kepala,
mengurut keningnya yang terasa sedikit pusing.
"Apa anda Nona Kiran..?"
Ada sebuah suara berat di samping nya. Kiran
mendongakkan kepala, mata mereka bertemu.
Dia melihat seorang pria tinggi tegap dengan
tampang sedikit urakan, memakai anting-anting
kecil di telinganya, kalung kecil menggantung di
lehernya, rambut sedikit berantakan, tubuhnya
berbalut jaket kulit hitam kini tengah berdiri di
depannya dengan tatapan setajam elang.
Kiran segera sadar dari keterkejutan nya.
"Iya.. saya Kiran, anda siapa ya.?"
Sahut Kiran kemudian dengan nada penuh rasa
curiga, dia berdiri berhadapan dengan laki-laki
berwajah dingin itu.
"Ikuti saya..!"
Pria dengan tampang urakan itu langsung
menarik koper dari tangan Kiran kemudian
melangkah.
"Hei.. tunggu dulu, siapa kamu ini..hei..!"
Sontak saja Kiran langsung mengejar langkah
pria tadi kemudian mengambil koper nya.
"Jangan asal ambil ya kamu, enak saja..! kamu
maling ya..?"
Ketus Kiran sambil memegang kuat pegangan
koper nya. Pria tadi menatap dingin wajah Kiran
dengan sorot mata lebih tajam dari tadi membuat
nyali Kiran sedikit ciut.
"Saya orang yang di tugaskan untuk menjaga
anda selama anda ada di tempat ini. !"
"Apa, siapa yang memberimu perintah.? yang
aku tahu Om badar lah yang akan menjagaku
di sini.! bukan orang macam kamu ini..!"
Sergah Kiran seraya menatap sekilas penampilan
pria tadi yang terlihat seperti preman jalanan itu.
Tapi anehnya aura yang dimiliki nya sangat kuat
dan berbeda.
Dengan gerakan cepat pria tadi kembali meraih
kopper dari tangan Kiran kemudian melangkah
acuh. Kiran langsung mengejarnya.
"Hei.. tunggu ! aku tidak bisa percaya begitu saja.! mana buktinya kalau kamu suruhan Om Badar !
Kamu pikir saya percaya sama omongan orang
asing seperti kamu, tunggu dulu, aaww...!"
Pria tadi menghentikan langkahnya mendadak
membuat Kiran menubruk punggung kokohnya.
Kiran terhuyung sambil meringis sedikit. Wajah
Kiran memerah menahan rasa kesal atas sikap
seenaknya pria aneh itu.
"Sebentar lagi gelap Nona, sebaiknya anda
jangan banyak bertanya.!"
Desisnya masih dalam posisi yang sama
membelakangi Kiran, tanpa rasa bersalah pria itu kembali berjalan acuh menuju sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman bandara.
Kiran mengetatkan rahang nya menahan geram.
Kenapa Om Badar harus mengirim orang model
begini sih untuk menjemputnya.!
"Tunggu dulu.! aku akan menelepon Om badar !
aku harus yakin bahwa kamu adalah orang yang
telah di perintahkan untuk datang kesini.!"
Gertak Kiran seraya mengambil ponselnya dari
dalam tas punggung nya. Ohh shit ! ponselnya
ternyata kehabisan daya.
"Uhh.. bagaimana ini.! kenapa harus mati segala
sih hape nya.! gimana aku bisa menghubungi
Om Badar kalau begini.!"
Gerutu Kiran sambil terpaksa mengikuti langkah
pria tadi yang terlihat sudah sampai di depan
sebuah mobil bak terbuka.
Tiba di depan mobil mata Kiran membulat tak
percaya, apakah dia akan pergi dengan mobil
model begini.? Dengan cepat Kiran merebut
kembali kopper nya, kemudian mengunci di tangannya.
"A-apa..kita akan pergi dengan mobil ini.?"
Tanya nya dengan wajah tidak percaya. Pria
itu kembali menarik koper dari tangan Kiran
hingga akhirnya mereka tarik-tarikan dengan
mata saling menatap panas.
"Mobil ini sudah lebih baik daripada anda harus
berjalan kaki ke perkebunan.!"
Ucap pria itu setelah dia berhasil menarik koper
dari tangan Kiran kemudian memasukkannya
ke bagian jok kedua karena mobil ini merupakan
jenis Jeep dobel kabin.
"Silahkan naik Nona..!"
Dia membukakan pintu mobil untuk Kiran yang
masih berdiri kaku di tempat nya.
"Aku tidak mau, aku akan naik taksi saja..!"
Tolak Kiran dengan wajah kesalnya. Pria tadi
tampak tersenyum miring. Dia berdiri seraya
menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dengan
kaki menyilang.
"Di sini tidak ada taksi Nona, cepat masuk.!"
Titahnya dengan tatapan tajam penuh intimidasi.
Kiran menatap kesal kearah pria tadi sambil
kemudian melengos sebal. Dengan terpaksa dia
nurut juga beranjak naik ke dalam mobil yang
memiliki ukuran cukup tinggi itu, namun kakinya
yang menggunakan sepatu high heels tidak pas menginjak pijakan mobil membuat tubuhnya
terpelanting ke belakang, ketika sadar dia sudah
berada di dalam pangkuan pria tadi.
Kedua mata mereka kembali bertemu dengan
wajah sedikit pias karena terkejut, tangan Kiran
tanpa sadar melingkar kuat di leher kokoh pria
itu, wajah mereka begitu dekat. Mata mereka
saling bertaut dalam. Napas mereka kini saling
berkejaran.
Dengan perlahan pria itu mendudukkan Kiran di
atas jok, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi
apapun. Dia melirik kearah tangan Kiran yang
masih belum terlepas dari lehernya.
"Maaf, aku tidak sengaja.."
Desis Kiran dengan wajah yang kini sudah
semerah tomat, malu bukan main, apa yang
akan dipikirkan oleh pria aneh itu.! Kiran
merutuki diri sendiri atas kebodohan nya.
Pria itu menutup pintu mobil kemudian dia
memutar badannya berjalan masuk ke balik
kemudi. Tidak lama mobil yang sudah sedikit
usang dan menimbulkan suara decitan yang
cukup menggangu kenyamanan Kiran itu
mulai melaju meninggalkan area bandara.
Hari sudah semakin gelap ketika mobil yang
membawa Kiran semakin jauh menyusuri
jalanan yang tidak selicin jalanan di ibukota
dengan suasana yang sangat mencekam sebab
di kanan kiri jalan hanya di hiasi oleh hutan
lebat yang cukup menyeramkan bila di lihat
malam hari seperti ini..
***********
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
Presdir kali yg nyamar 🤭🤣
2023-10-26
0
Nur Ckhanela
apa mungkin itu Presdir yg lagi nyamar,,?😅😅
2022-12-25
0
Siti hawa
Hahahahahahahaha..lucu jgk kirana ya..kenapa pake heel ke perkebunan..
2022-11-12
0