**********
Dengan menatap ragu-ragu kearah pengawal
nya Kiran kembali merebahkan tubuhnya di
atas tempat tidur. Dia terpaksa meraih selimut
untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang
terbuka. Tubuhnya di miringkan ke arah dinding
kamar membelakangi pengawalnya itu yang
duduk setengah jongkok di dekat pintu.
Tatapan pria itu tampak terfokus pada gerakan
Kiran yang masih saja gelisah. Saat ini Kiran
memang masih merasakan resah walau rasa
takut karena suara burung hantu sudah hilang.
Tidak tahu kenapa hatinya tetap saja merasa
tidak nyaman.
"Kenapa belum tidur Nona.? saya di sini untuk menjaga anda.!"
Ucap pria itu membuat gerakan Kiran terhenti.
Aneh memang, kenapa dia jadi kepikiran pria pengawalnya itu terus yang terpaksa harus
berdiam diri untuk mengawasinya dengan cara
duduk seperti itu, tentunya sangat tidak nyaman.
Lah, tapi kenapa dia harus peduli pada pria itu.?
Bodo amat.! toh itu kan memang tugasnya.!
Tapi kok hatinya semakin bertambah gelisah.
Mata pria itu tampak tidak lepas dari sosok Nona
nya yang terus saja bergerak tidak beraturan. Dia
mengernyitkan alisnya. Kedua tangan bertumpu
di lututnya, rambutnya yang berantakan jatuh di
wajahnya yang kini sedikit memerah saat melihat
selimut yang di pakai Kiran jatuh melorot ke
bawah karena gerakannya hingga paha putih berkilaunya sedikit terekspos. Ingin sekali dia
bergerak untuk membenarkan letak selimut itu
tapi takut menimbulkan kesalahpahaman.
Tidak tahan dengan rasa gelisah nya, gadis itu
kini membalikan badan kearah sebaliknya,
matanya langsung bersirobos tatap dengan
mata pria pengawalnya. Keduanya saling pandang dalam diam, ada desiran halus yang kini mulai merambat menjalari aliran darah keduanya.
Dalam diamnya tanpa sadar Kiran mengamati
wajah pria itu. Kalau di lihat dengan seksama
pria itu memiliki bentuk wajah yang sangat
sempurna di semua bagian. Dia terlihat sangat
istimewa dan berbeda. Namun semua itu seolah lenyap dan tersembunyi di balik sikapnya yang
dingin, sedikit liar serta penampilan urakannya.
Apakah pria ini bisa di andalkan olehnya.? apa
dia bisa di percaya.? mengingat tampilan nya
yang sangat meragukan itu.!
"Tidurlah Nona..saya tidak akan macam-macam.
Anda harus istirahat sekarang.!"
Kembali ucap pria itu dengan suara beratnya
seolah mengerti apa yang sedang di pikirkan
oleh Kiran. Wajah gadis itu tampak langsung
bersemu merah. Dia kembali menarik selimut,
kali ini mencapai dadanya.
"Siapa namamu.? aku berhak tahu bukan.?"
Pria itu tampak mengernyitkan alisnya, Kiran
menatapnya menuntut jawaban.
"Panggil saja saya Agra Nona.."
"Agraa.., apa itu nama aslimu.?"
Pria itu yang mengenalkan diri bernama Agra
tampak tersenyum kecil.
"Tentu saja itu nama asli saya Nona..!"
Kiran tersenyum kecut, dia mencoba membenahi
posisi badannya supaya lebih nyaman.
"Kalau kau ngantuk.. tidur saja di sini.!"
Gumam Kiran dengan pelan sambil kemudian
memejamkan matanya karena rasa kantuk kini
mulai menyerangnya setelah dia merasa puas menatap wajah pengawalnya itu yang masih
setia memperhatikannya.
Tidak lama akhirnya Kiran benar-benar terlelap
dalam tidur lelahnya. Pria tadi beranjak dari
duduknya, melangkah ke arah tempat tidur.
Dia berdiri menatap lekat wajah cantik Kiran
yang kini ada di di hadapannya. Perlahan dia berjongkok, tangannya bergerak merapihkan
anak rambut yang jatuh di wajah mulus gadis
itu. Di pandangnya tiada henti wajah itu seolah
sedang mengukir nya di dasar hati. Hatinya
saat ini begitu bergejolak, berbagai perasaan
kini berkecamuk memenuhi dadanya.
Dia menarik napas panjang, kemudian membuka
jaket kulit yang di pakainya, lalu di selimutkan
ke tubuh bagian atas Kiran yang tampaknya
mulai merasakan kedinginan. Gadis itu terlihat
bergerak perlahan, tanpa sadar merapatkan jaket tersebut hingga dia terlihat nyaman dalam tidurnya.
Pengawal itu kembali ke posisinya semula,duduk berselonjor kaki, melipat kedua tangan di depan
dada bidang nya yang kini hanya terbungkus kaos hitam tipis rapat di kulit hingga tubuhnya yang
gagah terlihat jelas tanpa bisa di sembunyikan.
Pria itu mulai memejamkan matanya, tidak lama kemudian dia pun ikut terlelap.
------ ------
Pagi menjelang...
Suasana di luar kamar tiba-tiba saja terdengar
gaduh dan riuh. Ada suara perdebatan seru yang semakin lama semakin terdengar ramai.
Kiran dan Agra tersentak bangun dari tidurnya.
Mereka tampak saling pandang bingung.
"Cepat buka pintu kamar ini..!"
"Maaf Pak, tapi kami harus menjaga privasi
setiap tamu yang datang.!"
"Hei.. mereka itu bukan pasangan suami istri.!
ini sudah melanggar norma dan adat yang ada
di tempat kita !"
"Tapi mereka adalah tamu kami.!"
"Jangan banyak alasan, cepat kita dobrak saja
pintunya kalau tidak di buka baik-baik !"
Itulah sebagian perdebatan yang tertangkap
oleh pendengaran Agra. Dengan cepat dia
mengenali situasi kemudian segera beranjak
dari duduknya, menghampiri Kiran yang baru
saja turun dari tempat tidur dengan wajah di
penuhi rasa tidak nyaman.Tanpa basa basi Agra segera menarik tangan Kiran di suruh masuk
kedalam kamar mandi.
"Cepat ganti pakaianmu, pakai jaketnya, jangan
lupa pakai masker juga..!"
Titah Agra membuat Kiran gelagapan saat
pengawalnya itu menyodorkan semua barang
yang tadi di sebutkan nya.
"Tapi..apa yang terjadi.?"
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang
tadi saya perintahkan.!"
Titah Agra membuat Kiran mendengus kesal,
dia segera menutup pintu kamar mandi.
Beberapa saat kemudian pintu kamar di buka
paksa dari luar. Agra melihat di luar kamar sudah banyak orang yang langsung menatap kearah nya dengan sorot mata penuh penghakiman.
Tapi kebanyakan dari mereka malah terkesima
saat melihat dirinya yang saat ini masih berpenampilan seksi tanpa jaket nya.
"Ohh..Gusti Allah..kok ada ya manusia cakepnya
kayak gini.!"
"Oalah..orang kota rupanya dia, pantas saja dia
tidak tahu aturan daerah sini..!"
Itulah sebagian percakapan yang terdengar di
antara orang-orang itu . Dua orang yang terlihat
sebagai aparat tampak menghampiri Agra yang
masih berdiri tenang, berjaga di depan pintu
kamar mandi.
"Maaf Tuan, kami harap anda ikut kami ke kantor.
Kita selesaikan semua ini di kantor.!"
"Ada apa ini sebenarnya.?"
Tanya Agra dengan suara bariton nya membuat
para petugas itu terdiam sesaat saling pandang.
"Sebaiknya kita bicarakan baik-baik di kantor
Tuan, kami akan menjelaskan semuanya."
Jawab salah seorang petugas itu seraya melirik
kearah pintu kamar mandi di mana Kiran baru
saja keluar. Dia tampak terkejut bukan main
melihat keberadaan orang-orang asing itu.
Agra menarik tangan Kiran agar dia berdiri di
belakang nya, tapi Kiran tampaknya penasaran
dengan semua kejanggalan yang terjadi.
"Ada apa ini.? kenapa kalian masuk ke kamar
ini tanpa izin.?!"
Tanya Kiran dengan suara sedikit menekan
sambil menatap orang-orang itu satu persatu.
"Maaf Nona, kalian berdua harus ikut kami ke
kantor desa, kalian sudah melanggar adat dan
tradisi di tempat kami dengan menginap di satu
kamar tanpa ikatan pernikahan.!"
"Apa ?? ta-tapi..kami tidak melakukan apapun.!
kami sedang di perjalanan, kami hanya butuh
tempat untuk beristirahat, itu saja kok.!"
Sergah Kiran tidak terima. Beberapa orang
tampak memaksa maju ingin menyeret Kiran.
"Kalian bisa mengatakan semuanya di kantor,
ayo ikut kami.!"
"Jangan ada yang coba-coba menyentuh nya.!"
Suara berat Agra membuat semua orang terdiam
membeku di tempat. Tatapan pria itu tampak
sudah sedingin salju. Dia segera menggenggam
tangan Kiran, di tariknya ke belakang.
"Kami akan ikut kalian.! kita selesaikan semua
nya di kantor kalian.!"
Tegas Agra membuat Kiran membulatkan
matanya tidak setuju. Dia menatap geram
kearah Agra dengan sorot mata tidak terima.
"Apa kau sudah gila.?"
Desisnya dengan kekesalan yang memuncak.
"Kita lihat saja dulu, apa maunya mereka.!"
Kilah Agra santai, Kiran mendengus kesal
seraya menepis genggaman tangan Agra, tapi
pria itu kembali memegang nya dengan kuat.
"Baiklah..kalau begitu kalian berdua ikut kami.!"
Putus salah satu petugas sambil menatap tajam
kedua orang yang masih berdebat itu. Kemudian
melangkah keluar dari kamar di ikuti oleh yang
lainnya. Orang-orang yang ada di luar tampak
menatap penuh rasa penasaran kearah dua
orang yang kena gerebek itu. Mereka kembali
sibuk kasak kusuk mencoba berasumsi tentang
hubungan kedua sejoli itu.
Mau tidak mau akhirnya Kiran dan Agra ikut
pergi ke kantor wilayah daerah tersebut.
------ -----
"Kalian berdua terpaksa harus kami nikahkan
sekarang juga, di tempat ini..!"
"Apa..?? menikah..??"
Bagai tersambar petir di siang bolong, Kiran
langsung syok begitu mendengar ucapan
kepala desa. Sedangkan Agra tampak hanya
bisa terdiam dengan wajah yang semakin
dingin. Kenapa jadi begini ??
"Benar..karena kalian sudah melanggar batas
norma dan tradisi di tempat kami..!"
"Bukankah saya sudah menjelaskan semuanya
tadi, apa itu kurang jelas Pak kepala desa.?"
Debat Kiran masih tidak terima. Apa-apaan ini?
Dia yakin dirinya saat ini sedang bermimpi.!
Bagaimana bisa dia terpaksa harus menikah
dengan laki-laki pengawalnya itu.! Ohh Tuhan..
apa ini, ini tidak mungkin terjadi.!
"Maaf Nona, apapun alasan kalian kami tidak
akan bisa mentolerir kesalahan yang sudah
kalian lakukan, karena ini sama saja sebagai
penghinaan terhadap adat dan budaya kami.!"
"Ohh ya Tuhan.. harus bagaimana lagi kami
memberi penjelasan pada kalian.!"
Kiran kehabisan kata-kata, dia melirik kearah
Agra yang terlihat sedang berdiri melakukan
panggilan telepon. Kekesalan kini berpuncak
pada pria itu, semua ini gara-gara orang itu.!
Kenapa dia harus memaksanya untuk nginep
di tempat ini.! jadinya seperti ini kan.?
Uuhh..dasar pengawal sialan.!
Kiran mengomeli Agra tiada henti dalam hatinya
seraya meremas kuat jemari tangannya.
"Kami beri waktu dua jam pada kalian untuk mempersiapkan diri sembari menunggu Pak
penghulu menyiapkan segala sesuatunya.!"
Ujar Kepala desa memutuskan. Kiran menutup
wajahnya penuh rasa tidak percaya.
"Untuk Nona Kiran silahkan anda hubungi ayah
anda terlebih dahulu untuk meminta izin pada
beliau. Kalau beliau tidak bisa datang maka
kami akan menyediakan wali hakim di sini."
Kembali ucap Pak kepala desa. Kiran hanya
bisa mengangguk, kemudian dia meraih ponsel
nya untuk segera menghubungi Tuan Zein.
"Saya sudah menghubungi ayah anda Nona.
Beliau menyerahkan semuanya pada aturan
adat yang ada di tempat ini..!"
Ucap Agra tiba-tiba saat Kiran masih mencoba
menghubungi nomor ayahnya. Kiran kembali
mendudukkan dirinya dengan lemas.
Bagaimana ini ? Apakah semua mimpi buruk
ini benar-benar harus terjadi.? dia datang ke
kota ini bermaksud untuk menghindari masalah,
tapi kenapa malah tersandung masalah yang
lebih besar lagi. Menikah gitu loh ! ini bukanlah
hal sepele.!
Dan.. akhirnya tidak ada pilihan lain lagi buat
mereka berdua. Mereka ada di tempat asing
dan tidak bisa melawan aturan yang ada.!
Pak penghulu sudah siap, para saksi juga sudah
siap, di tambah para warga sekitar yang semakin
lama semakin banyak saja yang datang untuk menyaksikan pernikahan dadakan ini karena ini
merupakan suatu hal yang sangat sensitif bagi masyarakat di daerah ini.
Mereka semua sudah berkumpul dan berkerumun
di sekitar balai desa. Kiran terpaksa harus nurut
apa kata ibu-ibu di sana untuk berganti pakaian
yang sedikit lebih formal. Dia masuk ke sebuah
ruangan yang ada di dalam balai desa itu untuk
berganti pakaian di iringi tatapan tidak nyaman
yang terlihat dari sorot mata Agra.
Sementara Agra hanya merangkap kaos yang di
pakainya dengan kemeja pas body supaya sedikit
lebih resmi. Meski begitu tetap saja pesona nya
yang luar biasa dan istimewa dapat membius
semua mata wanita yang ada di tempat itu tanpa terkecuali. Tampaknya mereka memang belum
pernah melihat pria seperti Agra.
Namun kesan urakan dan serampangan tetap di perlihatkan oleh pria berekspresi datar itu. Tapi
justru karena hal itulah para gadis yang berada di
tempat itu semakin terjerat oleh pesona nya yang berbeda itu. Kesan bad boy yang sangat unik dan
menggemaskan.!
Di luar ruangan para wanita sedang heboh dengan
calon mempelai pria, lain hal nya di ruang khusus
tempat Kiran bersiap. Saat ini beberapa ibu-ibu
sedang ternganga melihat penampakkan asli dari
gadis yang kena hukum adat itu. Mereka semua
bengong melihat eloknya rupa gadis kota itu. !
Padahal gadis itu tidak tersentuh make up sedikit
pun, benar-benar natural. Tapi kecantikan nya
sudah begitu berkilau dan memukau, ibu-ibu itu
seakan baru melihat seorang bidadari.!
**********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
Agra CEO menyamar
2023-10-26
0
Andi Fitri
Assalamualaikum aku mampir lgi ke karya author yg ke 3 dan akan mampir sampai selesai membaca semua karya2 author..👍👍👍
2023-08-28
0
gia gigin
Jangan2 akal bulus nya Agra 🤔
2022-08-03
0