*********
Agra saat ini sedang melakukan pembicaraan
serius dengan para penghulu. Dia juga kembali
melakukan panggilan telepon pada seseorang.
Dan seorang ustadz yang juga bertindak sebagai
penghulu di tempat itu tampak meraih ponsel
yang di sodorkan oleh Agra lalu berbicara dengan seseorang di telepon.
"Baiklah kalau begitu Tuan.. Insya Allah saya
akan bertanggung jawab untuk hal ini. Maaf
atas semua ketidaknyamanan ini Tuan."
Ucap pak Ustadz dengan wajah sedikit tidak
enak, rupanya dia sedang berbicara dengan
Tuan Zein yang memberi kuasa kepada ustadz
tadi untuk mewakili dirinya.
"Baik Tuan..kami hanya menjalankan aturan
adat yang berlaku di tempat kami."
Kembali ucap ustadz itu, tidak lama akhirnya dia mengakhiri pembicaraan nya dan menyerahkan
kembali ponsel itu ke tangan Agra.
Mungkin ini sedikit tidak masuk akal bagi Kiran
maupun Agra. Mereka harus menikah tanpa
persiapan ataupun persetujuan kedua belah
pihak terlebih dahulu, namun aturan adat yang
berlaku tidak bisa di kesampingkan begitu saja.
Dengan terpaksa mereka harus menjalani semua
ini walaupun masih tidak bisa menerima nya.
Demi menghormati aturan yang ada, keduanya
mau tidak mau harus melaksanakan nya.
Kiran keluar dari ruangan tempat nya bersiap
di iringi oleh ibu-ibu yang tadi bersamanya.Dia
terlihat mengenakkan baju adat daerah itu yang
tampak cantik melekat di tubuh indahnya.
Rambutnya di gelung manis, dengan polesan
natural di wajahnya.
Semua mata tampak terkesima melihat pesona
kecantikan gadis kota itu yang benar-benar
menyilaukan mata setiap orang. Agra melihat
kearah kedatangan Kiran, rahangnya mengeras,
tangannya terkepal kuat saat melihat bagaimana
orang-orang menatap melongo ke arah Nona
mudanya itu seakan sedang melahapnya.
Agra segera bangkit berdiri dari duduknya saat
Kiran mendekat kearahnya. Keduanya kini saling
menatap kuat, sorot mata Kiran terlihat jelas menghakimi Agra atas semua peristiwa aneh
yang kini harus di jalaninya. Tangannya tampak mencengkram kuat ujung pakaian nya.
"Maafkan saya Nona.. saya juga tidak tahu
kalau kejadiannya akan seperti ini."
Bisik Agra dengan memalingkan pandangannya.
Kiran memejamkan mata sesaat menahan rasa
kesal yang kini seakan sudah menelan dirinya.
"Aku tidak akan memaafkan mu untuk semua
kejadian ini Tuan pengawal..!"
Desis Kiran semakin kuat meremas pakaian yang
di kenakannya menahan rasa geram.
"Silahkan kalian duduk..Kita akan segera mulai
acaranya.!"
Kepala desa mengingatkan kemudian setelah
dia sadar dari keterpesonaan nya terhadap Kiran.
Agra dan Kiran akhir nya duduk berdampingan
di depan dua penghulu juga beberapa saksi.
Semua orang tampak antusias, memandangi
pasangan tersebut silih berganti dengan sorot
mata yang begitu terpesona pada keduanya.
Mereka juga tiada henti bergosip ria.
"Baiklah..kita mulai saja acara ijab kabul nya.
Kami sudah memeriksa kartu identitas kalian
berdua. Semuanya asli ya.."
Ujar pak penghulu seraya menatap sedikit
ragu dan segan kearah Agra.
"Kami sudah tahu alasan kalian datang ke
daerah ini, tapi yang jelas hukum adat harus
tetap di tegakkan tanpa melihat latar belakang
ataupun kedudukan kalian..!"
Kembali ucap pak penghulu menjelaskan.
Kiran hanya terdiam menundukkan kepala
sambil memanjatkan doa dalam hatinya.
Saat ini dia tidak peduli pada semua ucapan
dan pernyataan pak penghulu yang sedang
meyakinkan identitas dan nama lengkap dari
kedua calon mempelai itu. Yang dia pedulikan
adalah perasaannya yang masih saja tidak bisa menerima semua kenyataan ini.
Tuhan.. tolong, kalau ini memang jalan yang
harus di tempuhnya, maka lancarkan lah semua
nya, tapi kalau ini bukan jalan hidupnya semoga
ada sesuatu yang bisa mengubah semua ini.!
Sedang Agra tampak duduk tegak penuh
kharisma yang anehnya bisa begitu kuat dari
seorang pria berpenampilan berantakan seperti
dirinya.! Dia mendengarkan semua perkataan
pak penghulu dengan seksama.
Pak penghulu memulai prosesi akad nikah ini
dengan berdoa terlebih dahulu. Setelah melihat
kartu identitas kedua orang asing itu, ternyata
mereka berdua adalah seorang muslim, maka
hal itu cukup memudahkan semua acara ini
karena penduduk di kota kecil ini juga mayoritas
adalah muslim.
Kiran memejamkan matanya.. apakah ini tidak
bisa di batalkan.? dia menggigit bibirnya sendiri
saat Agra mulai berjabat tangan dengan ustadz
yang berlaku sebagai wali hakim.
Semua orang menahan napas saat Agra bersiap
merunut pernyataan wali hakim. Kiran semakin
menundukan kepalanya memohon kepada Tuhan
agar semua ini tidak terjadi. Bayangan wajah
ayah dan ibunya kini memenuhi pikirannya.
Namun sepertinya semua ini memang sudah
menjadi takdirnya. Tidak bisa di cegah lagi..
Agra mengucapkan ijab kabul pernikahan dalam
satu tarikan napas dengan sangat lancar tanpa hambatan.
"Bagaimana, sah.?!"
"Saahh..!"
Serempak semua hadirin dengan kompak.
"Alhamdulillah.. Barakallahu.."
Pak penghulu langsung memanjatkan doa
khusyuk dan panjang karena semua prosesi
sakral ini berjalan dengan baik dan lancar.
Agra menarik napas panjang, sementara Kiran
hanya bisa meneteskan air mata perih. Kenapa
jadi begini ya Allah..?
"Alhamdulillah.. sekarang kalian berdua sudah
sah menjadi suami istri, sah di mata agama
maupun negara.!"
Tegas pak penghulu sambil memandangi kedua
nya yang masih saling terdiam mencoba untuk
meyakini semua kenyataan ini.
"Nah..karena sekarang kalian sudah halal, kalian
bisa melakukan apapun yang kalian mau tanpa
takut terjadi fitnah atau zina.! silahkan Tuan
Agra anda bisa mencium kening istrinya.!"
Ucap Pak penghulu membuat tubuh kedua orang
itu tampak menegang seketika. Orang-orang kini
kembali riuh rendah berbicara tidak jelas. Mereka
memfrovokasi Agra agar segera mencium Kiran.
"Ayo Tuan.. silahkan sentuh istrinya. Dia sudah
menjadi milik anda sekarang.!"
Pak penghulu kembali mengingatkan seraya
menatap heran kearah Agra yang masih terlihat
ragu dalam diam. Istri kepala desa tampak
berbisik di dekat Kiran yang langsung terkejut.
Akhirnya Kiran melirik kearah Agra yang juga
sedang meliriknya. Keduanya saling pandang
dengan sorot mata yang sama-sama kompleks.
Perlahan sedikit bergetar tangan Agra meraih
kening Kiran yang sontak memejamkan mata
saat laki-laki yang tiba-tiba saja menjadi suami
nya itu mencium lembut kening nya, lama..
Keduanya saling memejamkan mata, entah apa
yang kini sedang mereka rasakan. Ada gelenyar
aneh yang mengalir hangat di setiap tetesan
darah mereka dan tidak di sadari keduanya.
Kiran menjerit perih dalam hatinya..Tuhan..
apakah ini semua sudah benar, bagaimana bisa
pria pengawalnya itu menjadi suaminya.!
Bahkan dalam mimpi pun dia tidak pernah
membayangkan bahwa pernikahan nya akan
se tragis ini.!!
******* *******
Setelah semua urusan yang tidak terduga itu
beres, mereka kembali melanjutkan perjalanan
yang sempat tertunda. Keduanya saling membisu dengan isi pikiran masing-masing yang sama-
sama berkecamuk. Saat ini Kiran merasa masih berada di dalam mimpi.
"Aku ingatkan padamu Tuan Agra..biarkan semua
ini hanya di antara kita saja yang tahu.! aku belum
bisa menerima semua ini..!"
Tiba-tiba ucap Kiran dengan suara yang sangat
tertekan dan masih saja tidak terima.
"Lakukan semua sesuai keinginan anda Nona.
Saya tidak akan mengubah apapun yang harus
terjadi selama anda ada di sini.!"
"Aku akan belajar untuk menerima semua ini
secara pelan-pelan.! kalau tidak bisa juga, maka setelah tugasku di tempat ini selesai kita akan
mencari penyelesaian yang terbaik untuk semua
masalah ini.!"
Kembali tegas Kiran mengambil keputusan.
Agra melirik sekilas kearah Kiran, wajahnya
semakin terlihat dingin. Cengkraman tangan
nya di setir mobil semakin kuat.
"Saya hanya bertugas untuk menjaga dan mendampingi anda selama ada di tempat ini.!
silahkan lakukan yang menurut anda benar.!"
Sahut Agra terdengar dingin. Kiran memalingkan
wajahnya kearah jendela. Saat ini dia sudah
kembali berpakaian tomboy hanya saja tidak menggunakan masker karena rasanya itu tidak
di perlukan lagi, mengingat sekarang ini mereka
tidak berada di tempat umum.
Jalanan yang mereka tempuh kini sudah masuk
ke kedalaman hutan yang sangat sunyi. Kiran
mulai merasakan sedikit tidak nyaman dengan suasana di sepanjang jalan yang mereka susuri.
Dia mencengkram sabuk pengaman dengan kuat.
Sedang tatapan Agra saat ini tampak waspada
melihat keadaan sekitar jalanan karena dia mulai
merasakan ada gelagat tidak beres. Dan benar
saja, apa yang di khawatirkan akhirnya nongol
juga. Ada beberapa bayangan yang meloncat
ke tengah jalan.
Agra mengerem mobilnya dengan mendadak
membuat tubuh Kiran terhuyung ke depan.
Mata nya tampak membulat sempurna karena
rasa terkejut. Untung saja dengan sigap telapak
tangan Agra yang kuat menahan kening Kiran
hingga tidak membentur dashboard mobil.
Kiran yang siap menyemburkan omelan nya
pada pengawal sekaligus suaminya itu tiba-tiba
saja menutup mulutnya ketika dia melihat di
depan mobilnya kini ada sekitar 6 orang laki-laki bertopeng dengan tampilan menyeramkan
tengah berdiri menghadang mobil mereka.
Dan yang membuat nyali Kiran ciut adalah
orang-orang itu tidak berdiri dengan tangan
kosong. Berbagai senjata kini ada di tangan
mereka, mulai dari clurit, rantai, pentungan
sampai dengan linggis.
Wajah Kiran tampak sedikit memucat melihat bagaimana seram nya orang-orang itu yang kini
maju mendekat dengan tatapan buasnya.
Namun tampaknya Agra tidak terlihat panik
ataupun takut, dia menatap dingin kearah para
perampok kutu kupret itu dengan wajah datar
tanpa ekspresi apapun. Saat para perampok itu
semakin mendekat Agra mulai bergerak, tapi
terhenti saat Kiran menahan tangannya.
Keduanya saling pandang kuat. Ada sorot mata
penuh kecemasan yang kini terlihat dari mata
indah Kiran.
"Tidak apa-apa Nona, jangan keluar dari mobil.!"
Ucap Agra meyakinkan, Kiran menggelengkan
kepala kuat.
"Berikan saja apa yang mereka inginkan.!"
Agra hanya tersenyum smirk masih menatap
tajam wajah istrinya itu.
"Aku ingatkan sekali lagi, jangan keluar mobil.!"
Tegasnya sambil kemudian membuka pintu
mobil, menguncinya otomatis dari luar. Kiran
hanya bisa menatap cemas kearah pengawal
nya itu yang kini berjalan santai kearah barisan
para perampok yang sedang menatap kearah
nya dengan senyum meremehkan.
Kini Agra sudah berhadapan dengan barisan perampok itu dengan tangan kosong tanpa
senjata apapun di tangannya.
Dia menggerakkan kepala untuk meregangkan otot-otot nya. Kemudian menggerakkan tangan
melemaskan persendian, tatapannya tidak lepas
kearah barisan perampok tadi yang terlihat saling pandang dengan tatapan mengejek kearah Agra.
"Apa yang kalian inginkan.?"
Tanya Agra yang kini sudah berdiri siaga.
"Serahkan barang-barang kalian, maka kalian
bisa lewat dengan aman..!"
"Kalau tidak.?"
Potong Agra dengan tatapan elangnya, dia
memiringkan kepalanya hingga rambutnya
jatuh berantakan di sekitar pelipisnya.
"Nyawa kalian jadi taruhannya.!"
Geram kepala perampok mulai memutar
pentungan menggertak Agra. Yang lain juga
mulia menggerakkan semua senjatanya
berusaha untuk mengintimidasi Agra.
"Ohh..kalau begitu kita lihat saja siapa disini
yang sedang menaruhkan nyawa..!"
Desis Agra sambil tersenyum miring membuat
para perampok itu menggeram.
"Habisi dia..!"
Seru kepala perampok sambil menyerang Agra.
Mereka semua langsung bergerak cepat berusaha
menyerang Agra dari segala arah. Akhirnya pertarungan pun tidak terelakkan lagi.
Kiran menutup wajahnya di penuhi kepanikan
saat melihat Agra kini di kepung oleh 6 orang perampok dengan senjata lengkap.
Namun laki-laki itu ternyata memiliki ilmu bela
diri bukan main-main. Dia terlihat menggerakkan tubuhnya dengan lincah menghindari setiap
serangan brutal dari lawan tanpa gerakan yang
berlebihan. Kemudian langsung melakukan
serangan balik dengan memasukan tendangan
dan pukulan ke berbagai titik vital di tubuh lawan hingga menyebabkan mereka terhuyung ke
belakang, senjata di tangan mereka langsung
di tendang dalam satu gerakan cepat oleh Agra
hingga terpental.
Tanpa memberi jeda untuk mengambil napas
Agra kembali melakukan serangkaian serangan
dengan gerakan kilat membagi pukulan juga
tendangan mematikan ke tubuh para perampok
itu hingga kini mereka terkapar semuanya di
atas jalan dengan kondisi yang cukup parah,
mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.
Tubuh mereka hancur babak belur.
*********
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Dhia Syarafana
arga Bimantara
2024-12-07
0
Mar Wiyah
Agra mah sudah siap lahir batin ijab kabulnya..
2024-09-20
0
Mar Wiyah
gimana GK hapal soalnya Arga ttp belajar sprtinya🤣🤣
2024-09-20
0