**********
Agra menarik tangan Kiran untuk berdiri tanpa
melepas genggamannya. Kiran merapatkan
tubuhnya ke tangan Agra sambil menyusupkan
wajahnya ke punggung laki-laki itu karena tidak
sanggup melihat bagaimana hewan-hewan
lapar itu kini siap menerkam mereka.
"Tetaplah di samping ku, jangan bergerak keluar.!"
Titah Agra sambil bersiaga dan mengeluarkan
senjata dari balik jaketnya. Sebenarnya dia tidak
ingin menggunakan senjata api, namun melihat
gelagat yang cukup membahayakan ini mau
tidak mau dia harus memakainya.
"Tapi aku takut Agraa..apakah kita akan berakhir
disini sekarang.."
Suara Kiran bergetar menahan rasa takut dan
tubuh nya yang semakin lemas. Tatapan Agra
tampak waspada melihat semua pergerakan
para serigala itu yang sedang menyalak kearah mereka dengan suara yang sangat memekakkan telinga. Mulut mereka juga mengeluarkan cairan
yang sangat menjijikkan.
"Berpikir positif, berusaha untuk tetap tenang,
jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku ada di
sini, kau tidak perlu takut oke ?!"
Bisik Agra menenangkan, Kiran berusaha untuk
percaya pada suaminya itu namun kemudian dia
menjerit histeris saat tiba-tiba seekor serigala
menerjang kearah mereka. Dengan gerakan cepat
Agra kembali menendang kepala hewan itu lalu
memukulnya memakai senjata di tangan nya.
Dia juga meletuskan senjata ke udara untuk
memberi peringatan pada hewan-hewan itu
agar menjauh, namun beberapa diantara malah
meloncat menerjang dan menyerang Agra.
Tanpa melepas perlindungan nya terhadap Kiran
Agra kembali melawan dan melumpuhkan hewan
liar itu mengunakan tendangan dan pukulan
hingga beberapa diantaranya terlempar jauh
dan mengerang kesakitan.
Dalam keadaan itu Badar dan Bara datang ke
sana langsung menyerang hewan-hewan buas
itu mengunakan senjata yang mereka bawa.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka semua
bisa memukul mundur hewan-hewan itu hingga
kabur dengan keadaan babak belur.
Kiran menjatuhkan dirinya di atas tanah karena
tubuhnya lemas dan sakit akibat pergerakan
Agra yang memaksa nya untuk mengikuti setiap gerakannya.Gadis itu kini menangis ketakutan.
Agra berjongkok di hadapannya, meraih wajah
gadis itu dan merapihkan rambutnya yang
tampak berantakan. Tidak peduli apapun lagi
Kiran memeluk erat tubuh tegap Agra menangis
tersedu di dadanya.
"Kenapa harus seseram ini tinggal di sini..rasa
nya aku tidak kuat lagi Agra..aku ingin pulang
saja ke kota..!"
Rengek Kiran semakin tersedu, Agra menarik
napas berat sambil mempererat pelukannya.
Dia menciumi puncak kepala Kiran dengan
wajah yang kini sudah sedingin kutub utara.
Badar dan Bara hanya bisa terdiam melihat
keduanya masih mencoba mengatur napas.
"Kita akan bicarakan ini nanti, sekarang sebaik
nya tenangkan dirimu dulu.!"
Bisik Agra sambil kemudian mengangkat tubuh
Kiran ala bridal style. Mereka semua berjalan
menuju ke pondok tanpa ada lagi suara.
Tiba di pondok semua orang tampak ribut
menanyakan kondisi Kiran yang sedang
meringkuk di dalam pangkuan Agra.
Tanpa kata Agra langsung membawa Kiran
masuk ke dalam kamar tempat nya beristirahat. Lintang dan beberapa pegawai wanita ikut
masuk ke dalam kamar untuk membantu
menangani keadaan Kiran.
"Tolong bantu dia membersihkan diri.!"
Titah Agra pada Lintang yang mengganguk
pelan. Dia kembali menatap Kiran yang kini
terlihat memejamkan matanya mencoba untuk
menenangkan dirinya. Agra keluar dari kamar
untuk kembali menemui tamunya .
"Nona tidak apa-apa..? apa ada yang terluka.?"
Tanya Lintang sambil membuka jaket yang di
pakai Kiran. Pegawai wanita yang lain membantu
melepaskan sepatunya. Kiran membuka matanya.
"Aku tidak apa-apa Lintang, tapi tubuh ku rasa
nya remuk semua."
Lirih Kiran seraya menggerakkan badannya
yang kini terasa linu di semua bagian.
"Apa mau saya pijat Nona ? "
Tawar salah seorang pegawai wanita dengan
tatapan yang begitu mengkhawatirkan Kiran.
"Tidak usah Bu, saya hanya perlu istirahat."
Tolak Kiran sambil tersenyum lembut.
"Saya akan menyiapkan air hangat untuk Nona."
Ucap seorang lagi sambil kemudian berlalu
keluar dari kamar.
"Apakah kehidupan di tempat ini memang
seperti ini Lintang, harus se ekstrim ini.?"
Tanya Kiran dengan tatapan mata yang sendu,
lelah dan seakan ingin menyerah.
"Iya memang seperti ini Nona, kami sudah
terbiasa dengan semua ini."
"Bagaimana kalian bisa bertahan dengan semua
bahaya yang selalu mengancam setiap saat.!"
"Kami hanya bisa menghindari nya Nona, tidak
berusaha untuk mendatangi bahaya. Kita punya
lingkungan kehidupan sendiri."
Jawab Lintang sambil meletakkan jaket Kiran
di ujung tempat tidur. Kiran terdiam, sungguh
bagi dirinya ini semua memang sangat tidak
masuk akal, dia tidak menyangka kalau tempat
ini sangat di luar dugaan.
"Baiklah.. terimakasih atas bantuan kalian. Aku
akan membersihkan diri, kalian boleh keluar."
Kiran beranjak dari atas tempat tidur saat
melihat seorang pegawai membawa air hangat
seember penuh.
"Baik Nona, kalau begitu kami permisi.!"
Sahut Lintang sambil kemudian keluar di ikuti
oleh para pegawai lainnya. Kiran menarik napas panjang , apakah dia harus menyerah sekarang, padahal baru beberapa hari saja ada di tempat ini.
Dia segera masuk ke dalam kamar mandi yang
hanya seukuran 2 kali 3 meter saja.
------ ------
Setelah berbicara beberapa saat dengan Agra
para tamu tadi akhirnya pamit pulang. Moza
terlihat berat untuk meninggalkan Agra.
"Saya masih bisa bermain lagi ke sini kan
Tuan Agra.? saya ingin mengajak anda untuk
bermain lumpur di lintasan sebelah.!"
Moza berucap penuh harap seraya menatap
dalam wajah tampan Agra yang terlihat datar
saja, tapi justru hal itu membuat gadis pecinta
balapan itu semakin penasaran.
"Apa saya bisa menolak permohonan seorang
putri penguasa di daerah ini Nona Moza.?"
Wajah gadis itu kontan saja merona di penuhi
rasa senang, dia kembali tersenyum manis.
"Terimakasih Tuan..kita lihat apakah anda
bisa menguasai lintasan liar di tempat ini !"
Ucap Moza sambil membungkuk sedikit, setelah
itu dia kembali melempar senyum memikat nya
pada Agra kemudian melangkah kearah mobilnya.
Dia melambaikan tangan kearah Agra sesaat
sebelum melajukan mobil Jeep mewah nya.
"Dia itu pembalap idola di daerah sini Tuan.!
Banyak pengusaha luar yang ingin melamar
nya untuk di jadikan istri.!"
Terang Badar yang ada di sampingnya. Bara
juga terlihat masih menatap kagum kearah
gadis pembalap tadi.
"Kau pikir itu penting bagiku.? "
Geram Agra dengan tatapan yang sangat dingin.
Badar langsung menunduk, dia telah melupakan
satu fakta penting.
"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar lupa
kalau anda sudah memiliki Nona Kiran.!"
"Kumpulkan semua penjaga, aku ingin memberi instruksi penting. Dalam waktu satu jam semua
sudah harus ada di dekat pos.!"
"Baik Tuan laksanakan..!"
Sambut Badar sambil kemudian membungkuk
lalu pergi dari hadapan Agra.
"Kamu sudah menghubungi Russel ? katakan
padanya jangan terlalu mencolok, pilih anak
buahnya dari daerah lokal saja.!"
Agra berbicara dengan mimik yang sangat
serius, Bara langsung mengangguk antusias.
"Sudah Tuan, kapanpun di butuhkan mereka
siap terbang kesini, hanya saja sarana di tempat
ini sangat terbatas !"
"Itu akan kita atur sekarang.!"
Sahut Agra dengan rahang yang semakin tegas
dan wajah yang semakin dingin. Sudah cukup
bagi dia menyaksikan bagaimana Kiran begitu tertekan dengan semua kondisi di tempat ini.
Dia harus membereskan apapun itu yang bisa membuat sisi trauma istrinya bangkit kembali.
Akhirnya setelah sekitar satu jam menunggu
kini semua penjaga yang hanya tersisa sekitar
15 orang telah berkumpul di pos jaga depan.
Mereka semua berasal dari berbagai wilayah
perkebunan. Jumlah mereka memang sudah
berkurang. Sudah 3 hari ini pencurian terus saja berlangsung hingga para penjaga banyak yang
terluka dan tidak bisa bertugas.
Agra sudah memastikan siapa dalang di balik
aksi pembalakan liar ini. Dan dia hanya akan
menuggu waktu yang tepat untuk membekuk
mereka semua sekaligus membereskannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya.? kalian sudah
menyelidiki semuanya.?"
Tanya Agra dengan membagikan tatapan tajam
pada semua penjaga yang berbaris patuh di hadapannya sambil menunduk.
"Seperti dugaan semula Tuan, semua sengaja
di gerakkan.!"
Jawab seorang penjaga yang bertugas menjadi
koordinator bagi para penjaga lainnya.
Rahang Agra tampak mengeras, tangannya
terkepal kuat, wajahnya berubah kelam.
"Mereka sengaja ingin menggiring Kiran dan
aku untuk keluar dari tempat ini.! kita lihat
saja sampai dimana permainan mereka.!"
Geram Agra sambil memainkan senjata di
tangannya kemudian membidikkan kearah
luar hingga membuat lutut para penjaga
bergetar ketakutan.
"Sisir semua tempat di seluruh wilayah.! kalian
harus pastikan tidak akan ada lagi binatang liar
yang bisa datang ke tempat ini.!"
Titah Agra dengan suara yang sangat tegas di
penuhi oleh emosi yang tertahan.
"Baik Tuan, tapi kami kekurangan personil, kita
perlu tambahan tenaga baru untuk membentengi
setiap wilayah.!"
Sahut Badar karena dia menyadari kekuatan
mereka saat ini semakin berkurang. Anak buahnya
hanya tersisa 15 orang lagi, dan itu sangat tidak
cukup untuk menjaga 4 wilayah. Sudah sekitar 20 orang bawahannya terluka dan tidak bisa lagi
bertugas untuk saat ini.
"Semuanya sudah aku atur, mereka akan
datang kalau sudah waktunya.!"
Ucap Agra sambil kembali berdiri tegak di
hadapan para bawahannya itu.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian di sini
untuk memastikan loyalitas kalian semua.!"
Kembali tegas Agra dengan gestur dan sikap
yang sangat berbeda dari biasanya. Seorang
Agra yang asli kini keluar seluruhnya.
"Mungkin diantara kalian belum banyak yang
tahu siapa Tuan Bimantara Agra Bintang..tapi
aku akan pastikan kalau kalian berkhianat
maka hidup kalian tidak akan selamat.!"
Bara memberi penegasan dengan menekan
kan kata-katanya. Semua penjaga tampak
menunduk dalam, gemetar ketakutan.
"Kami tidak akan berani Tuan Bimantara.."
Kompak mereka dengan kepala yang semakin
menunduk. Agra tersenyum miring.
"Baiklah..Aku minta kalian harus menyiapkan
landasan helikopter yang baru di dekat sini.
Semuanya sudah harus siap dalam 7 hari.!"
Badar dan Bara serta para penjaga tampak
terkejut bukan main. Mereka saling pandang
di penuhi rasa penasaran.
"Minta bantuan pada para pekerja, kalau perlu
kerjakan juga di malam hari.! Badar kau atur
semua kebutuhan materialnya.!"
Badar masih dalam mode bingung dan kaget.
Agra menatap tajam wajah laki-laki bertubuh
besar itu.
"Apa kau masih ada pertanyaan Badar.?"
"Ma-maaf Tuan..a-apakah anda akan segera melakukan penebangan ?"
"Iya..Kita akan memancing ikan itu agar
segera masuk ke dalam perangkap.!"
"Kalau begitu kita harus segera menemui Tuan
Hasim yang sudah berani membeli dengan
harga yang telah di tetapkan oleh Nona Kiran."
"Suruh orang itu datang kesini untuk segera
menandatangi nota jual beli.! kita akan ikuti
dulu apa yang di tetapkan oleh Kiran.!"
Bara tampak tidak setuju dengan ide konyol
Tuan nya itu karena dia yakin semuanya akan
sia-sia saja, sebab para bandar di tempat ini
masih terpusat di satu otoritas.
"Tuan.. pembeli bukanlah masalah bagi kita.
Kenapa anda harus repot-repot terjun langsung
untuk masalah sepele seperti ini.!"
Ucap Bara berusaha mengingatkan Agra bahwa
semua ini hanyalah masalah sepele bagi Tuan
nya itu, lalu apa yang di rencanakan olehnya.!
Agra tersenyum miring sambil menatap lurus
kearah pondok.
"Kau benar, pembeli bukanlah masalah bagiku.!
yang paling penting aku ingin segera membawa
Kiran dari tempat ini ! Tapi tidak secepat itu
pula, dia harus mulai menerima ku sedikit
demi sedikit.!"
Sahut Agra dengan sesungging senyum tipis
yang mampu menguraikan wajah kelamnya.
"Tapi Tuan kita hanya akan membuang-buang
waktu saja dengan berada di tempat ini.! anda
lihat bukan, semuanya sungguh tidak layak
bagi anda.! makanan, tempat tinggal, kulit
anda akan alergi berat kalau terlalu lama
tinggal di tempat ini.!"
"Kamu terlalu bawel Bara, apa yang tidak bisa
aku lakukan untuk wanita yang selama 15
tahun ini aku dambakan.!"
Debat Agra membuat Badar dan para penjaga
hanya bisa terdiam dalam kebingungan melihat
perdebatan Tuan dan asistennya itu.
"Baiklah, terserah Tuan saja."
Akhirnya Bara hanya bisa menarik napas berat.
Kalau soal hati dan perasaan apapun itu tidak
akan bisa mengalahkan nya, apalagi perasaan
Tuan nya terhadap Kiran yang sudah di pendam
nya selama belasan tahun.
**********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
Agra sudah lama jatuh cinta ke Kiran hahhaha penasaran kelanjutannya
2023-10-26
0
Rosnawati Realme
dr semua cerita sy paling suka ceritanya dr novel kk, soalnya serasa sy melihat kejadian didpn mata dan ikut tegang dgn kejadian yg menimpa mereka,sy salut dr setiap episode selalu ad rasa penasaran ap yg selanjutnya.
2023-08-21
0
Wirda Wati
luar biasa Agra...cinta terpendam
2022-12-04
0