***********
Pintu kamar kembali di ketuk dari luar. Mau tidak
mau Kiran beranjak dan membukanya. Ke dalam
kamar muncul Bara dan Badar. Mereka membawa
dua nampan berisi makan malam. Kiran hanya
bisa terdiam mematung melihat kedua orang itu.
"Kenapa kalian harus repot-repot membawanya
kesini, kami bisa turun untuk makan malam di
bawah Om."
Badar dan Bara tampak saling lirik.
"Tuan Agra yang memintanya Nona."
"Apa ? iisshh orang itu, sebenarnya apa yang dia
inginkan, selalu saja seenaknya.!"
"Aku hanya ingin kita makan berdua, tanpa ada
gangguan dari orang lain.!"
Mereka semua melirik ke asal suara. Agra muncul
dari arah kamar mandi. Saat ini dia sudah berganti
pakaian, namun tampaknya bukan pakaian santai
yang biasanya di kenakkan oleh orang yang akan
beristirahat, melainkan pakaian resmi biasa.
Kiran menatap laki-laki itu dengan sorot mata
sedikit kesal mengingat sikap seenaknya yang memutuskan sesuatu tanpa bicara dulu padanya.
"Kami permisi Tuan, Nona.. silahkan nikmati
makan malamnya."
Badar berkata sambil kemudian membungkuk
sedikit setelah itu dia keluar bersama Bara.
Agra beranjak duduk di sofa yang ada di kamar
itu menghadap makanan yang sudah tersaji.
Perlahan Kiran juga ikut duduk di samping nya.
Untuk sesaat mereka saling pandang.
"Apa kau tidak ada keinginan untuk melayani
suamimu ini.?"
Suara Agra membuat Kiran tersadar, wajahnya
langsung saja bersemu merah. Dengan sedikit
canggung dia mulai menuang makanan ke atas
piring yang ada di hadapan Agra. Ada kegugupan
yang kini di rasakan nya saat menyadari laki-laki
itu sedang memperhatikan dirinya.
"Silahkan..!"
Kiran mendekatkan piring berisi makanan ke
hadapan Agra. Pria itu tampak memulai santap
malamnya. Kiran juga memaksakan diri mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Maaf kalau selama ini aku belum mampu
menempatkan diri dengan baik, aku.."
"Aku tahu kau belum bisa menerima semua ini.!"
"Ini sesuatu yang cukup sulit untuk di terima.
semua ini rasanya seperti mimpi bagiku.."
"Tapi yang harus kamu ingat, semuanya akan
tetap seperti ini, tidak akan ada yang berubah."
Potong Agra sambil kembali menyuapkan
makanan ke mulutnya, tampaknya makanan
itu cukup cocok di lidahnya. Dia tidak tahu saja
bahwa makanan itu adalah hasil buatan Kiran.
Kiran melirik, menatap wajah Agra penuh
tanda tanya.
"Apa maksudmu sebenarnya.? bukankah kamu
tahu sendiri semuanya terjadi di luar dugaan."
"Tentu saja aku tahu, dan aku menerima semua
ini sebagai takdir Tuhan.. sebuah ketentuan
yang sudah seharusnya terjadi.!"
"Tidak.! aku tidak bisa menerima nya begitu saja."
"Kau hanya belum bisa menerima nya.!"
"Ini sesuatu yang sulit bagiku, kita orang asing
yang tidak saling mengenal, jadi rasanya sangat
tidak mungkin bagiku.!"
"Mulai sekarang kau harus belajar menerima nya
Nona Kiran..kau adalah istri Agra Bintang.!"
Kedua mata mereka bertemu panas. Ada sedikit
pertanyaan yang menggelitik di benak Kiran.
Agra Bintang.? rasa-rasanya dia cukup mengenal
nama itu, tapi rasanya itu tidak mungkin. Nama
seperti itu pasti banyak.!
"Makanlah..kau harus menjaga kesehatan mu
sebelum kita kembali ke tempat seharusnya.!"
Agra kembali melanjutkan makan malamnya.
Ada kehangatan di hati Kiran saat melihat Agra
tampaknya sangat menikmati makanan buatan
nya itu. Dia terlihat begitu lahap.
Kiran kembali menyuapkan makanan ke mulut
nya. Tapi ini rasanya sulit sekali untuk masuk
ke perutnya. Perasaan nya yang tidak menentu
seakan menyumbat makanan itu dan hanya
tertahan di mulutnya saja.
Agra kembali melirik kearah Kiran, dia terlihat
tidak suka melihat istrinya itu malah terdiam
dalam renungan.
"Ayo makan..!"
Pria itu menyodorkan sendok berisi makanan
ke mulut Kiran yang langsung membulatkan
matanya terkejut. Dia menggeleng kuat sambil
menutup rapat mulutnya.
"Makan, atau kau yang akan aku makan malam
ini juga.!"
"Uhukk uhukk..!"
Kiran tampak langsung tersedak. Agra segera
memberikan gelas air putih padanya yang
langsung di teguk oleh Kiran.
Saat ini wajah Kiran terlihat memerah seluruh
nya. Sedang Agra hanya mengulas senyum tipis.
Sungguh rasanya dia gemas sendiri melihat Kiran
kalangkabut mendengar ancamannya tadi.
"Ayo aku akan menyuapimu."
Kembali Agra menyodorkan sendok berisi
makanan ke mulut Kiran.
"Aku tidak mau makan, aku mau tidur saja.!"
Tolak Kiran sambil menjauhkan wajahnya.
"Apa aku perlu membuktikan ancaman ku.?"
"Agraaa.. bukankah sudah aku peringatkan.!
jangan melewati batas.!"
"Aku ini suamimu Nona Sashikirana..! aku punya
hak penuh atas dirimu.!"
Deg !
Jantung Kiran kembali terguncang. Debaran
di dadanya kini semakin tidak karuan.Tubuh
nya tiba-tiba saja lemas. Keduanya saling
menatap kuat seolah ingin menyalurkan apa
yang ada dalam hati dan pikiran mereka yang
tidak mampu tersampaikan lewat lisan.
"Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah keluar
dari batasan mu.! aku belum bisa menerima
semua ini. "
Dengus Kiran sambil meneguk air putih. Agra
menjatuhkan sendok nya cukup kencang,
membuat Kiran sedikit terkejut. Pria itu juga mengakhiri makan malam nya. Dia mengelap
mulutnya menggunakan tisu.
"Aku bisa membatasi diriku, tapi kau juga
harus tahu posisimu Nona.!"
Kiran melirik tajam kearah Agra yang terlihat
duduk santai, menatapnya dengan tenang.
"Kalau sudah selesai, kau bisa keluar dari
kamar sekarang juga, aku ingin segera tidur.!"
Ketus Kiran sambil bangkit berdiri namun
sesaat kemudian dia memekik kuat saat Agra
mengangkat tubuh nya ke dalam pangkuannya.
"Hei.. turunkan aku, apa yang kau lakukan.!"
"Bukankah kau mengatakan ingin segera tidur,
jadi ayo kita tidur sekarang.!"
"Apa ? tidak.! tentu saja tidak tidur dengan mu.!"
"Ini seharusnya sudah terjadi dari kemarin.!"
Kiran meronta tapi Agra sudah merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan cepat
Kiran bangkit beringsut menjauh, menatap
tegang ke arah Agra yang mulai naik ke atas
tempat tidur.
"Mau apa kamu, pergilah ! kamarmu kan ada
di bawah.!"
"Aku ingin tidur di sini malam ini.!"
"Agraa.. jangan keterlaluan.!"
Kiran tidak tahan lagi dia memukulkan bantal
kearah Agra yang hanya menepisnya santai.
"Hei.. kenapa kau ketakutan begitu.! "
Kiran menatap tegang wajah Agra yang kini
sudah mengurung tubuh nya, menguncinya
di kedua sisi.
"Agra..aku mohon jangan melewati batas.!
Aku belum bisa menerima mu .!"
Suara Kiran terdengar gemetar karena gugup
dan tegang sudah menguasai dirinya saat ini.
Tangan Agra bergerak perlahan mengelus pipi
bening Kiran, tatapannya begitu dalam.Sekuat
tenaga dia menyembunyikan semua rasa yang terpendam terhadap gadis ini. Tapi rasanya itu
sulit untuk saat ini.
Di tengah rasa tegang nya Kiran melihat ada
tatapan lembut penuh perasaan yang kini
terpancar dari kedua bola mata berwarna
cokelat gelap suaminya itu. Sorot mata yang
langsung melumpuhkan hatinya hingga kini
dia hanya bisa terdiam membalas tatapan itu.
"Kau pikir aku mau apa.? apa kau pikir aku
laki-laki yang suka memaksakan kehendak
pada seseorang.?"
Bisik Agra, napasnya yang hangat dan berat kini menerpa wajah Kiran. Kiran terhenyak menatap
kuat wajah tampan Agra. Mata mereka bertemu
saling menerobos jauh kedalaman hati keduanya.
"A-aku.. perlu waktu untuk menerima semua ini.
Aku mohon.. biarkan aku memahami semua ini
secara pelan-pelan."
Lirih Kiran dengan suara yang sangat pelan dan
sedikit bergetar membuat Agra tidak bisa lagi
mengendalikan perasaannya. Tatapan nya kini
mengunci bibir ranum Kiran yang merah alami
sangat menggiurkan. Ingin sekali dia *******
dan menikmati keranuman bibir itu. Tapi tidak
sebelum Kiran bisa menerima dirinya.
"Tentu saja, aku akan memberimu waktu yang
cukup untuk memahami semua ini.."
Suara Agra semakin berat, jarinya turun mengelus
bibir ranum Kiran yang semakin tegang dan
mencoba untuk menjauhkan wajahnya.
"To-tolong.. biarkan aku sendiri sekarang."
Agra kembali menatap lekat wajah cantik Kiran.
Dia berusaha mati-matian untuk meredam gejolak hasratnya yang saat ini menggedor jiwanya saat melihat keindahan tubuh Kiran yang kini tampak
nyata di depan matanya karena gaun malamnya memang sedikit transparan.
"A-aku mohon Agra..biarkan aku sendiri.."
Kembali Kiran berucap dengan gemetar saat
wajah Agra semakin mendekat. Mata Agra
terpejam kuat seraya menghembuskan napas
nya berat. Dia mencoba untuk mengontrol
hasratnya yang masih saja menguasai dirinya.
Agra segera menjauhkan tubuh nya membuat
Kiran menarik napas lega. Pria itu turun dari atas
tempat tidur kemudian menegakkan badannya
di sisi ranjang, menatap Kiran sebentar.
"Tidurlah, aku akan pergi melakukan patroli.!"
Kiran langsung terkejut, dengan cepat dia
meraih tangan Agra dan memegang nya kuat.
"Kenapa kamu harus kesana juga ? bukankah
sudah ada penjaga yang bertugas.?"
Agra menatap pegangan tangan Kiran, kemudian
menatap wajah Kiran dengan seringai senyum
tipis tak terlihat.
"Apa kau sedang mencemaskan ku.?"
"Tidak, bukan begitu, lagipula untuk apa aku
mencemaskan mu, kau kan jagoan.!"
Bantah Kiran dengan wajah merahnya, merasa
malu sendiri. Dia melepas pegangan tangan nya kemudian melempar pandangan ke arah jendela.
"Baiklah kalau begitu ! aku berangkat sekarang.!"
"Kau benar-benar harus pergi ?"
Suara Kiran terdengar tidak suka, dia menatap
tajam pergerakan laki-laki itu.
"Bukankah kau tidak suka aku di sini.?"
Agra berjalan acuh kearah sofa, meraih mantel kemudian kembali memakainya. Kiran semakin
merasa tidak nyaman, dia turun dari atas kasur.
Dan tiba-tiba saja hujan kembali turun dengan
sangat derasnya membuat keduanya terdiam
menatap ke arah luar.
"Kenapa hujan harus kembali turun.!"
Gerutu Agra sambil melangkah ke dekat jendela
dan membuka gorden melihat keadaan di luar.
"Itu artinya kamu tidak boleh pergi aaaww..!"
Kiran langsung berteriak dan menutup telinganya begitu terdengar suara petir menyambar. Agra
membalikan badannya menatap Kiran yang
terlihat memucat dengan raut wajah di penuhi
ketakutan.
"Agra..aku mohon.. jangan pergi, di luar sana
tidak aman saat ini, aku takut terjadi apa-apa
padamu."
Kiran memohon dengan wajah di penuhi oleh
kecemasan sekaligus ketakutan. Agra mendekat
tanpa di duga dia meraih tubuh Kiran ke dalam
pelukan nya. Kiran tidak sanggup untuk menolak
ataupun melepaskan pelukan itu. Perlahan dia
balik memeluk erat tubuh Agra. Rasa aman dan
nyaman kini melingkupi diri nya.
"Jangan pergi..aku tidak akan bisa tidur kalau
keadaan hujan begini, aku takut.."
Lirih Kiran sambil menyusupkan wajahnya di
belahan dada bidang Agra.
"Kau ini sebenarnya penakut, tapi kenapa berani- beraninya datang ke tempat ini.!"
Ledek Agra membuat Kiran memukul pelan
punggung laki-laki itu.
"Jangan meledekku terus.!"
Rengek Kiran sambil melonggarkan pelukan
nya dan mengerucutkan bibir mungilnya.
Agra kembali mengangkat tubuh ramping
Kiran di bawa ke atas tempat tidur kemudian
membaringkan nya dengan hati-hati.
"Tidurlah..aku akan menemanimu..hanya tidur !
aku janji tidak akan macam-macam kalau kamu
tidak menginginkan nya.!"
Ucap Agra yang membuat wajah Kiran kembali
bersemu merah. Mata mereka masih terpaut
dalam. Agra menarik selimut menutupi tubuh
Kiran sampai perutnya. Perlahan dia pun ikut
berbaring di sebelahnya. Kedua nya terdiam
menatap langit-langit kamar sambil mencoba
mengatur pernapasan.
Agra melirik kearah Kiran yang memiringkan
badan kearahnya, keduanya saling pandang.
"Kemarilah, mendekat padaku.!"
Agra merentangkan tangan kanannya. Kiran
tampak ragu, namun rasa takut akan hujan
mengalahkan ketegangan nya. Dia bergeser
ke dekat Agra, menatapnya malu sesaat sebelum akhirnya Agra menarik tubuh gadis itu kedalam rengkuhannya, memeluknya erat dan hangat,
melingkari pinggangnya dengan kuat. Kiran
hanya bisa terdiam menyembunyikan tubuhnya
dalam kurungan pria itu.
Perlahan tangan Kiran bergerak melingkari
punggung kokoh Agra, tubuh mereka kini
menempel satu sama lain menyisakan deru
napas yang sama-sama berat. Aroma wangi
maskulin yang menguar dari tubuh Agra kini
menyatu dengan wangi jasmine yang keluar
dari tubuh Kiran. Kedua mata mereka tampak
terpejam mencoba menguasai diri yang saat
ini seakan meronta tidak terkendali.
"Tidurlah..aku akan menjagamu..!"
Ucap Agra seraya mencium lembut puncak
kepala Kiran berkali-kali sambil menghirup
aroma segar dari rambut indahnya.
"Tapi kamu tidak akan pergi kan.?"
Suara Kiran terdengar di penuhi keraguan.
"Kalau kamu menginginkan nya, aku akan
menjagamu semalaman di sini. Tapi aku
tidak yakin tidak akan terjadi apa-apa.!"
"Agra...aku mohon.. jangan mulai lagi.."
Keluh Kiran sambil mengerucutkan bibirnya.
Agra menurunkan pandangannya. Dia melihat
saat ini Kiran sedang berusaha memejamkan
matanya. Dia tersenyum tipis, gadis ini memang
benar-benar polos. Dia semakin mempererat
pelukan nya.
"Bagaimana aku bisa bertahan berada di dekat
mu Kiran..kau wanita yang terlalu menarik.!"
Bisik Agra setengah bergumam, tubuh Kiran
kembali tegang di sertai semburan hawa panas
yang kini mulai membakar aliran darahnya saat
mendengar bisikan Agra. Dia menarik dirinya
dari rengkuhan Agra membuat pria itu menatap
nya tajam.
"Tapi aku tidak akan melakukan apapun tanpa
seizin darimu, aku menghormati dirimu.!"
Kembali bisik Agra meyakinkan membuat wajah
Kiran terlihat menatap tak percaya. Seteguh
itukah jiwa dan kepribadian laki-laki ini.?
"Ayo tidur, ini sudah malam..!"
Agra menarik kembali tubuh Kiran kedalam
dekapan hangatnya membuat gadis itu kini
memejamkan matanya. Setelah beberapa saat kenyamanan dan kedamaian semakin membawa
Kiran ke alam bawah sadarnya hingga akhirnya
dia tertidur pulas dalam pelukan laki-laki yang
sudah sah menjadi suaminya itu.
Saat tengah malam setelah memastikan Kiran
tertidur lelap Agra bangkit, melepas pelukannya dengan hati-hati, menyelimuti tubuh istrinya itu.
Untuk sesaat dia tampak tersenyum puas,menatap lembut wajah Kiran, kemudian mendaratkan
kecupan manis di kening dan bibirnya.
Setelah itu dia keluar dari dalam kamar karena
Badar dan Bara sudah menunggu nya di lantai
bawah. Mereka bertiga berangkat menuju
lokasi pembuatan landasan baru..
***********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
mulai 😍❤️🥰
2023-10-26
0
할루 리니
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🤩
2022-08-14
0
Nyiur Kidul🌅
pacaran halal Thor,lanjuut
2022-03-28
0