***********
Pagi hari yang sangat cerah di sekitar Villa..
Suara kicau burung bersahutan terdengar
nyaring seolah menjadi nyanyian alam yang
sangat merdu dan menentramkan jiwa..
Hari ini Kiran akan memulai aktifitas nya di
tempat ini dengan semangat 45. Dia sudah
siap dengan kostum yang menurut nya cukup
cocok dengan lingkungan sekitar.
Saat ini Agra dan Bara sudah ada di ruang
makan untuk sarapan pagi. Agra tampaknya
cukup kesulitan untuk beradaptasi dengan
makanan lokal, sehingga Rasmi menyiapkan
makanan alternatif yang bisa masuk ke dalam
perut pria itu, roti dan nasi goreng.
Kalau soal kopi, jangan di tanya karena daerah
ini adalah gudangnya kopi. Agra terlihat sangat
menyukai kopi buatan Rasmi.
Mereka berdua memulai sarapan nya tanpa
menunggu kehadiran Kiran terlebih dahulu
karena gadis itu sepertinya belum siap turun.
"Selamat pagi semuanya.."
Agra dan Bara melirik kearah pintu tengah.Mata
Bara tampak sedikit terpesona pada satu sosok
yang sedang berdiri di ambang pintu dengan
senyum manis terkembang sempurna kearah
Agra yang kembali fokus pada sarapan nya.
Sosok itu adalah seorang gadis berwajah cukup
cantik, bertubuh tinggi langsing dengan kulit
sawo matang yang sangat eksotis, rambut hitam
lurus nya terikat manis, dia terlihat sangat menarik hingga mampu membuat mata Bara mengerjap beberapa kali.
Gadis itu memakai celana jeans ketat dengan
atasan kemeja flanel yang membungkus dada
montoknya, sangat cocok melekat di tubuhnya.
"Ohh..mbak Lintang, selamat pagi juga."
Sambut Rasmi dengan tersenyum hangat kearah
gadis itu sambil membimbing nya ke arah meja
makan. Bara juga langsung tersenyum manis.
"Mau ikut sarapan juga, ayo duduk !"
Tawar Bara sambil menggeser kursi di sebelah
nya. Gadis itu hanya mengangguk sopan.
"Terimakasih..tidak usah Mas Bara, saya sudah
sarapan tadi di rumah."
Tolak nya dengan tersenyum manis, lalu dia
mencuri pandang kearah Agra yang terlihat acuh
dan fokus pada sarapannya. Bara mengangkat
bahu kemudian meneruskan sarapan nya kembali.
"Silahkan duduk mbak Lintang."
Rasmi menyiapkan kursi untuk gadis itu yang
langsung mengangguk bersamaan di pintu
masuk ruangan muncul Kiran.
Semua orang menatap lurus kearah Kiran yang
terlihat sudah sangat siap memulai harinya.
Mereka semua hanya bisa ternganga melihat
penampilan Kiran saat ini. Agra yang baru saja
menyadari kedatangan Kiran tampak menoleh
ke belakang. Mata mereka berdua kembali
bertemu dalam sorot mata yang sangat rumit.
Yang jelas saat ini wajah Agra berubah menjadi
sedingin kutub utara saat melihat penampilan
istrinya itu.
Saat ini Kiran mengenakkan celana pendek di
atas lutut warna khaki, kemeja putih pas body,
di lengkapi sepatu boots berbahan ringan dan
nyaman yang membalut manis kaki indahnya.
Rambut nya tampak di ikat asal menampakkan
sebagian leher jenjang nya yang sangat menggoda.
Tas selempang kecil melingkar di bahunya,
tangannya menenteng sebuah topi lebar.
Gadis itu benar-benar sangat mempesona.
"Selamat pagi mbak Rasmi.."
Kiran segera memutus pandangan nya kearah
Agra dengan menyapa Rasmi dan segera menuju
kursi nya membuat semua orang kini tersadar
dan kembali ke permukaan.
"Pagi juga Nona Kiran.."
Sambut Rasmi yang lagi-lagi merasa malu
sendiri karena dia selalu saja terpesona setiap
kali melihat Nona nya itu.
Gadis yang baru datang tadi tampak menatap
kagum kearah Kiran, namun ada sorot mata
lain yang kini tersirat dari pancaran kedua
matanya saat dia melihat bagaimana tatapan
Agra pada Kiran.
"Selamat pagi Nona Kiran.. perkenalkan..nama
saya Lintang, saya pegawai baru di perkebunan
anda, bagian administrasi.!"
Gadis itu berdiri lalu membungkuk sopan di
hadapan Kiran seraya memperkenalkan diri
sebagai Lintang. Kiran juga ikut berdiri lalu
menyodorkan tangannya sambil tersenyum
ramah.
"Hallo Lintang.. senang bertemu dengan mu.
Semoga kita bisa cocok ya."
Sambut Kiran dengan antusias, keduanya tampak berjabat tangan dengan senyum yang sama-sama terkembang sempurna.
"Mbak Lintang ini putrinya Pak kades Nona."
Rasmi menerangkan sambil menyiapkan
sarapan untuk Nona nya itu. Kiran menatap
Lintang sebentar lalu mengangguk.
"Baiklah.. semoga kita bisa bekerjasama dengan
baik ya, saya masih harus banyak belajar.!"
"Iya Nona.."
"Saya senang karena ada teman di sini."
Ujar Kiran terlihat senang, dia melihat kearah
Agra yang juga sedang melihatnya. Posisi duduk
mereka kini bersebrangan. Untuk sesaat mereka
tampak saling pandang dalam diam.
"Om Badar kemana mbak..?"
Kiran segera berpaling dan memulai sarapan
nya berusaha untuk mengabaikan Agra yang
terlihat masih saja memperhatikan dirinya
membuat tubuh Kiran kini panas dingin.
"Dia sudah berangkat duluan Nona."
Sahut Rasmi, Kiran mengangguk pelan. Bara
mencoba mencuri pandang kearah Nona Muda
nya, yang notabene nya adalah istri Tuan nya itu.
Tidak di pungkiri dia sangat mengagumi segala
pesona yang ada pada Nona nya itu.
Akhirnya mereka bertiga melanjutkan sarapan
nya dengan tenang.
-------- -------
Bara berangkat duluan bersama dengan Lintang
yang terlihat menatap berat kearah Agra yang
masih berdiri tenang di dekat mobilnya.
Tidak lama Kiran muncul dengan memakai
topi lebarnya, terlihat sangat cantik. Agra
menatap kedatangan Kiran dengan sorot
mata yang sulit di jabarkan. Kiran berjalan
menghampiri Agra dengan memalingkan
wajah mencoba untuk menghindar kontak
mata dengan laki-laki itu.
Agra membukakan pintu mobil dengan wajah
datar dan gaya santainya. Baru saja mereka
akan masuk tiba-tiba ada gerombolan bapak
bapak yang lewat ke depan halaman Villa.
Mereka terlihat sudah siap dengan perkakas
kerja masing-masing.
"Selamat pagi Nona Kiran.."
Sapa bapak-bapak itu dengan wajah malu-malu
nya sambil membungkuk sopan. Mata mereka
terlihat sangat terpesona pada gadis itu.
"Ohh..iya selamat pagi juga bapak-bapak..!
selamat beraktifitas semua nya.."
Sambut Kiran sambil menautkan alisnya sedikit
bingung karena rombongan itu tampaknya lebih
dari 20 orang. Mereka semua juga memasang
senyum penuh kekaguman kearah Kiran. Dalam
sekali tebak, Agra sudah bisa membaca situasi.
Kiran hanya bisa menggelengkan kepalanya
pusing melihat tingkah aneh orang-orang itu
karena ujung-ujungnya terlihat ketakutan.
Kiran melirik kearah Agra. Pantas saja orang-
orang tadi terlihat sedikit ketakutan, ternyata
pengawal sekaligus suami nya itu sedang menyemburkan tatapan penuh salju kearah
mereka. Mereka semua dengan cepat berlalu
dari tempat itu sembari masih mencoba mencuri
pandang kearah Kiran.
"Ayo kita berangkat sekarang.."
Ajak Kiran sambil kemudian naik keatas mobil.
Sekarang dia sudah tidak merasa kesulitan lagi
karena sepatu yang di gunakannya memang
cocok. Dengan wajah yang masih saja sedingin
salju Agra mulai melajukan mobilnya tanpa
menoleh sedikit pun pada Kiran .
Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk bisa
sampai ke perkebunan dengan menggunakan
mobil seperti ini. Dan bukan perkara mudah
untuk bisa melalui nya. Jalanan yang di lalui
tidak semulus jalan desa karena aspalnya
sudah hancur. Bukan tidak di perhatikan oleh
pihak pengusaha namun karena mobilitas
yang terlalu tinggi dari kendaraan-kendaraan
berat yang keluar masuk wilayah ini makanya
jalan mulus tidak pernah bisa bertahan lama.
Sepanjang perjalanan Kiran tampak sedikit syok
melihat medan yang di lalui, sangat terjal dan
menegangkan. Tak jarang mobil terguncang
karena harus melewati jalanan yang berbatu
dan berlobang. Dia berseru dan berteriak
histeris saat mobil kadangkala miring seperti
akan terjatuh, namun untungnya Agra adalah
sopir yang handal hingga dia bisa membawa
kendaraan itu dengan sangat lihai.
Kiran tampaknya sudah tidak tahan dengan
semua yang sudah di lalui nya. Wajahnya kini
memucat, perutnya kembali bergejolak. Agra
melirik kearah Kiran yang mulai berkeringat
dingin.
"Apa yang kau rasakan ?"
Tanya Agra sambil menepikan mobilnya. Gadis
itu menggeleng lemah sambil menutup mulutnya.
Tanpa kata Agra segera menghentikan mobilnya
kemudian turun dari mobil lalu memutar badan
nya kearah pintu penumpang dan membukanya.
Dalam sekali gerakan dia mengangkat tubuh
Kiran di bawa kearah semak-semak. Tiba di sana
gadis itu langsung mengeluarkan semua gejolak
di dalam perut nya tanpa tersisa.
Wajah Kiran tampak semakin pucat setelah dia
selesai mengeluarkan semua isi perutnya.Agra memberikan botol air mineral sekaligus membantu gadis itu meminum nya.
Perlahan tangan Agra mengusap keringat yang
membanjiri dahi istrinya itu. Tubuh Kiran kini
bersandar di dada bidang Agra. Keduanya saling
pandang lekat, Kiran membiarkan saja tangan
pria itu mengusap seluruh keringat di dahinya.
"Apa yang kau rasakan sekarang.? apa kita
perlu kembali ke Villa.?"
Agra bertanya setelah dia mengakhiri usapan
tangannya. Mata mereka masih saling terpaut.
Wajah mereka pun begitu dekat hingga napas
keduanya seakan menjadi satu.
"Tidak, kita lanjutkan saja..!"
Lirih Kiran sambil mencoba berdiri di bantu
oleh Agra, namun sesaat kemudian mata Kiran
membulat sempurna melihat ke arah samping.
"U-ulaar..Agra..ada ulaar..!"
Jerit Kiran, dengan spontan dia naik ke dalam
gendongan Agra sambil melingkarkan kakinya
kuat di perut laki-laki itu.
"Tenanglah.. jangan berisik.!"
Ucap Agra sambil menahan tubuh Kiran dengan
satu tangan, dan tangan yang satu lagi bergerak
pelan meraih sebatang kayu yang ada di pinggir
jalan, dia mencoba menghalau ular phyton yang
berukuran besar itu.
"Tapi aku takuut.. ularnya sangat besar Agraa.."
Rengek Kiran semakin mempererat pelukannya
di punggung pria itu, wajahnya di sembunyikan
di bahu lebar suaminya itu. Ular seukuran betis
orang dewasa itu tampak bergerak melata ke
hadapan Agra yang mundur perlahan.
Tubuh Kiran bergetar ketakutan saat melihat
ular itu semakin mendekat. Namun dalam sekali
gerakan cepat Agra menangkap buntut ular itu
kemudian memutar nya beberapa kali setelah
itu melempar nya jauh ke dalam semak belukar.
Kiran menghembuskan napas lega.
"Kau bisa turun sekarang.."
Ucap Agra setelah beberapa lama Kiran masih
belum turun dari gendongan nya.
"Aku tidak mau turun.. aku masih takut.."
"Hei.. ularnya sudah tidak ada Nona.."
"Tidak, nanti ada lagi ular yang lain."
Kilah Kiran malah semakin memperkuat
lingkaran kakinya di pinggang Agra yang
hanya tersenyum tipis.
"Kau hanya mencari alasan saja Nona, bilang
saja kalau kau masih betah dalam posisi seperti
ini.!"
Desis Agra sambil berjalan kearah mobil.
"Siapa bilang, aku tidak mencari alasan, aku
benar-benar takut masih banyak ular lain
yang nanti datang lagi."
Sergah Kiran tidak terima saat dia sudah duduk
kembali di jok mobil. Keduanya saling melihat.
"Ular seperti tadi ada di mana-mana Nona, kau
harus mulai membiasakan diri.!"
"Apa ? tidak, apa kau serius.?"
Wajah Kiran kembali pucat karena ketakutan.
Agra semakin semangat mengerjai gadis itu.
"Tentu saja, di daerah ini, ular sudah seperti
cacing, bisa muncul di mana saja, bahkan di
dalam mobil ini..!"
"Tidaakk..!"
Kiran sontak berteriak histeris sambil menubruk
dada Agra, menyusupkan wajahnya ke dalam
rengkuhan dada bidang laki-laki itu.Tangannya
mencengkram kuat jaket yang di pakai Agra.
Agra hanya bisa tersenyum geli setengah
menahan tawa melihat reaksi paranoid Kiran.
"Apa kau sedang mempermainkan ku.?"
Desis Kiran seraya mengangkat wajah nya.
Keduanya kembali saling pandang kuat, wajah
mereka hanya berjarak beberapa inchi saja.
Napas mereka tiba-tiba saja menjadi berat, ada
hawa panas yang kini membakar aliran darah
keduanya.
"Aku tidak bercanda, tempat ini bukan lah
tempat yang cocok untuk gadis kota seperti
mu, kenapa kamu nekad datang kesini.?"
Suara Agra berubah sangat berat dan tegas,
tidak seperti biasanya. Kiran menatap wajah
dingin laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Wajah yang bisa di bilang terlampau tampan
kalau dia harus jujur mengakuinya.
"A-aku.. punya misi sendiri untuk datang kesini.
Aku tidak ingin perusahaan kembali gagal dan
mengalami kerugian.!"
Desis Kiran seraya menjauh namun dia terkejut
ketika tiba-tiba Agra menarik pinggangnya
hingga tubuh mereka kembali merapat. Mata
mereka beradu kuat, jantung Kiran seakan
mau meloncat keluar dari tempatnya ketika
Agra mendekatkan wajahnya.
"Sebaiknya kau pikirkan semuanya baik-baik
sebelum situasinya semakin parah.!"
Bisik Agra di daun telinga Kiran membuat tubuh
gadis itu panas dingin dan aliran darahnya
seakan tersumbat. Shit.! apa yang terjadi.?
Kenapa laki-laki ini seolah memiliki bisa yang
sangat mematikan. ! Darah Kiran mendidih.
Dengan santai Agra menutup pintu bagian
penumpang, kemudian kembali berjalan tenang masuk ke balik kemudi, melirik sekilas kearah
Kiran yang masih berusaha untuk menguasai dirinya.
Seolah tidak terjadi apapun pria aneh itu kembali melajukan mobilnya menuju ke perkebunan yang sudah tidak jauh lagi jaraknya..
**********
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
semakin kesini nanti Kiran akan jatuh kepesona Arga
2023-10-26
1
Wirda Wati
udah 2 x bc thort....suka ceritanya
2022-12-03
0
Siti hawa
Hahahahhahaha…lawak la kiran..
2022-11-12
0