9. Hari Pertama

 

***********

 

Pagi hari yang sangat cerah di sekitar Villa..

Suara kicau burung bersahutan terdengar

nyaring seolah menjadi nyanyian alam yang

sangat merdu dan menentramkan jiwa..

Hari ini Kiran akan memulai aktifitas nya di

tempat ini dengan semangat 45. Dia sudah

siap dengan kostum yang menurut nya cukup

cocok dengan lingkungan sekitar.

Saat ini Agra dan Bara sudah ada di ruang

makan untuk sarapan pagi. Agra tampaknya

cukup kesulitan untuk beradaptasi dengan

makanan lokal, sehingga Rasmi menyiapkan

makanan alternatif yang bisa masuk ke dalam

perut pria itu, roti dan nasi goreng.

Kalau soal kopi, jangan di tanya karena daerah

ini adalah gudangnya kopi. Agra terlihat sangat

menyukai kopi buatan Rasmi.

Mereka berdua memulai sarapan nya tanpa

menunggu kehadiran Kiran terlebih dahulu

karena gadis itu sepertinya belum siap turun.

"Selamat pagi semuanya.."

Agra dan Bara melirik kearah pintu tengah.Mata

Bara tampak sedikit terpesona pada satu sosok

yang sedang berdiri di ambang pintu dengan

senyum manis terkembang sempurna kearah

Agra yang kembali fokus pada sarapan nya.

Sosok itu adalah seorang gadis berwajah cukup

cantik, bertubuh tinggi langsing dengan kulit

sawo matang yang sangat eksotis, rambut hitam

lurus nya terikat manis, dia terlihat sangat menarik hingga mampu membuat mata Bara mengerjap beberapa kali.

Gadis itu memakai celana jeans ketat dengan

atasan kemeja flanel yang membungkus dada

montoknya, sangat cocok melekat di tubuhnya.

"Ohh..mbak Lintang, selamat pagi juga."

Sambut Rasmi dengan tersenyum hangat kearah

gadis itu sambil membimbing nya ke arah meja

makan. Bara juga langsung tersenyum manis.

"Mau ikut sarapan juga, ayo duduk !"

Tawar Bara sambil menggeser kursi di sebelah

nya. Gadis itu hanya mengangguk sopan.

"Terimakasih..tidak usah Mas Bara, saya sudah

sarapan tadi di rumah."

Tolak nya dengan tersenyum manis, lalu dia

mencuri pandang kearah Agra yang terlihat acuh

dan fokus pada sarapannya. Bara mengangkat

bahu kemudian meneruskan sarapan nya kembali.

"Silahkan duduk mbak Lintang."

Rasmi menyiapkan kursi untuk gadis itu yang

langsung mengangguk bersamaan di pintu

masuk ruangan muncul Kiran.

Semua orang menatap lurus kearah Kiran yang

terlihat sudah sangat siap memulai harinya.

Mereka semua hanya bisa ternganga melihat

penampilan Kiran saat ini. Agra yang baru saja

menyadari kedatangan Kiran tampak menoleh

ke belakang. Mata mereka berdua kembali

bertemu dalam sorot mata yang sangat rumit.

Yang jelas saat ini wajah Agra berubah menjadi

sedingin kutub utara saat melihat penampilan

istrinya itu.

Saat ini Kiran mengenakkan celana pendek di

atas lutut warna khaki, kemeja putih pas body,

di lengkapi sepatu boots berbahan ringan dan

nyaman yang membalut manis kaki indahnya.

Rambut nya tampak di ikat asal menampakkan

sebagian leher jenjang nya yang sangat menggoda.

Tas selempang kecil melingkar di bahunya,

tangannya menenteng sebuah topi lebar.

Gadis itu benar-benar sangat mempesona.

"Selamat pagi mbak Rasmi.."

Kiran segera memutus pandangan nya kearah

Agra dengan menyapa Rasmi dan segera menuju

kursi nya membuat semua orang kini tersadar

dan kembali ke permukaan.

"Pagi juga Nona Kiran.."

Sambut Rasmi yang lagi-lagi merasa malu

sendiri karena dia selalu saja terpesona setiap

kali melihat Nona nya itu.

Gadis yang baru datang tadi tampak menatap

kagum kearah Kiran, namun ada sorot mata

lain yang kini tersirat dari pancaran kedua

matanya saat dia melihat bagaimana tatapan

Agra pada Kiran.

"Selamat pagi Nona Kiran.. perkenalkan..nama

saya Lintang, saya pegawai baru di perkebunan

anda, bagian administrasi.!"

Gadis itu berdiri lalu membungkuk sopan di

hadapan Kiran seraya memperkenalkan diri

sebagai Lintang. Kiran juga ikut berdiri lalu

menyodorkan tangannya sambil tersenyum

ramah.

"Hallo Lintang.. senang bertemu dengan mu.

Semoga kita bisa cocok ya."

Sambut Kiran dengan antusias, keduanya tampak berjabat tangan dengan senyum yang sama-sama terkembang sempurna.

"Mbak Lintang ini putrinya Pak kades Nona."

Rasmi menerangkan sambil menyiapkan

sarapan untuk Nona nya itu. Kiran menatap

Lintang sebentar lalu mengangguk.

"Baiklah.. semoga kita bisa bekerjasama dengan

baik ya, saya masih harus banyak belajar.!"

"Iya Nona.."

"Saya senang karena ada teman di sini."

Ujar Kiran terlihat senang, dia melihat kearah

Agra yang juga sedang melihatnya. Posisi duduk

mereka kini bersebrangan. Untuk sesaat mereka

tampak saling pandang dalam diam.

"Om Badar kemana mbak..?"

Kiran segera berpaling dan memulai sarapan

nya berusaha untuk mengabaikan Agra yang

terlihat masih saja memperhatikan dirinya

membuat tubuh Kiran kini panas dingin.

"Dia sudah berangkat duluan Nona."

Sahut Rasmi, Kiran mengangguk pelan. Bara

mencoba mencuri pandang kearah Nona Muda

nya, yang notabene nya adalah istri Tuan nya itu.

Tidak di pungkiri dia sangat mengagumi segala

pesona yang ada pada Nona nya itu.

Akhirnya mereka bertiga melanjutkan sarapan

nya dengan tenang.

-------- -------

Bara berangkat duluan bersama dengan Lintang

yang terlihat menatap berat kearah Agra yang

masih berdiri tenang di dekat mobilnya.

Tidak lama Kiran muncul dengan memakai

topi lebarnya, terlihat sangat cantik. Agra

menatap kedatangan Kiran dengan sorot

mata yang sulit di jabarkan. Kiran berjalan

menghampiri Agra dengan memalingkan

wajah mencoba untuk menghindar kontak

mata dengan laki-laki itu.

Agra membukakan pintu mobil dengan wajah

datar dan gaya santainya. Baru saja mereka

akan masuk tiba-tiba ada gerombolan bapak

bapak yang lewat ke depan halaman Villa.

Mereka terlihat sudah siap dengan perkakas

kerja masing-masing.

"Selamat pagi Nona Kiran.."

Sapa bapak-bapak itu dengan wajah malu-malu

nya sambil membungkuk sopan. Mata mereka

terlihat sangat terpesona pada gadis itu.

"Ohh..iya selamat pagi juga bapak-bapak..!

selamat beraktifitas semua nya.."

Sambut Kiran sambil menautkan alisnya sedikit

bingung karena rombongan itu tampaknya lebih

dari 20 orang. Mereka semua juga memasang

senyum penuh kekaguman kearah Kiran. Dalam

sekali tebak, Agra sudah bisa membaca situasi.

Kiran hanya bisa menggelengkan kepalanya

pusing melihat tingkah aneh orang-orang itu

karena ujung-ujungnya terlihat ketakutan.

Kiran melirik kearah Agra. Pantas saja orang-

orang tadi terlihat sedikit ketakutan, ternyata

pengawal sekaligus suami nya itu sedang menyemburkan tatapan penuh salju kearah

mereka. Mereka semua dengan cepat berlalu

dari tempat itu sembari masih mencoba mencuri

pandang kearah Kiran.

"Ayo kita berangkat sekarang.."

Ajak Kiran sambil kemudian naik keatas mobil.

Sekarang dia sudah tidak merasa kesulitan lagi

karena sepatu yang di gunakannya memang

cocok. Dengan wajah yang masih saja sedingin

salju Agra mulai melajukan mobilnya tanpa

menoleh sedikit pun pada Kiran .

Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk bisa

sampai ke perkebunan dengan menggunakan

mobil seperti ini. Dan bukan perkara mudah

untuk bisa melalui nya. Jalanan yang di lalui

tidak semulus jalan desa karena aspalnya

sudah hancur. Bukan tidak di perhatikan oleh

pihak pengusaha namun karena mobilitas

yang terlalu tinggi dari kendaraan-kendaraan

berat yang keluar masuk wilayah ini makanya

jalan mulus tidak pernah bisa bertahan lama.

Sepanjang perjalanan Kiran tampak sedikit syok

melihat medan yang di lalui, sangat terjal dan

menegangkan. Tak jarang mobil terguncang

karena harus melewati jalanan yang berbatu

dan berlobang. Dia berseru dan berteriak

histeris saat mobil kadangkala miring seperti

akan terjatuh, namun untungnya Agra adalah

sopir yang handal hingga dia bisa membawa

kendaraan itu dengan sangat lihai.

Kiran tampaknya sudah tidak tahan dengan

semua yang sudah di lalui nya. Wajahnya kini

memucat, perutnya kembali bergejolak. Agra

melirik kearah Kiran yang mulai berkeringat

dingin.

"Apa yang kau rasakan ?"

Tanya Agra sambil menepikan mobilnya. Gadis

itu menggeleng lemah sambil menutup mulutnya.

Tanpa kata Agra segera menghentikan mobilnya

kemudian turun dari mobil lalu memutar badan

nya kearah pintu penumpang dan membukanya.

Dalam sekali gerakan dia mengangkat tubuh

Kiran di bawa kearah semak-semak. Tiba di sana

gadis itu langsung mengeluarkan semua gejolak

di dalam perut nya tanpa tersisa.

Wajah Kiran tampak semakin pucat setelah dia

selesai mengeluarkan semua isi perutnya.Agra memberikan botol air mineral sekaligus membantu gadis itu meminum nya.

Perlahan tangan Agra mengusap keringat yang

membanjiri dahi istrinya itu. Tubuh Kiran kini

bersandar di dada bidang Agra. Keduanya saling

pandang lekat, Kiran membiarkan saja tangan

pria itu mengusap seluruh keringat di dahinya.

"Apa yang kau rasakan sekarang.? apa kita

perlu kembali ke Villa.?"

Agra bertanya setelah dia mengakhiri usapan

tangannya. Mata mereka masih saling terpaut.

Wajah mereka pun begitu dekat hingga napas

keduanya seakan menjadi satu.

"Tidak, kita lanjutkan saja..!"

Lirih Kiran sambil mencoba berdiri di bantu

oleh Agra, namun sesaat kemudian mata Kiran

membulat sempurna melihat ke arah samping.

"U-ulaar..Agra..ada ulaar..!"

Jerit Kiran, dengan spontan dia naik ke dalam

gendongan Agra sambil melingkarkan kakinya

kuat di perut laki-laki itu.

"Tenanglah.. jangan berisik.!"

Ucap Agra sambil menahan tubuh Kiran dengan

satu tangan, dan tangan yang satu lagi bergerak

pelan meraih sebatang kayu yang ada di pinggir

jalan, dia mencoba menghalau ular phyton yang

berukuran besar itu.

"Tapi aku takuut.. ularnya sangat besar Agraa.."

Rengek Kiran semakin mempererat pelukannya

di punggung pria itu, wajahnya di sembunyikan

di bahu lebar suaminya itu. Ular seukuran betis

orang dewasa itu tampak bergerak melata ke

hadapan Agra yang mundur perlahan.

Tubuh Kiran bergetar ketakutan saat melihat

ular itu semakin mendekat. Namun dalam sekali

gerakan cepat Agra menangkap buntut ular itu

kemudian memutar nya beberapa kali setelah

itu melempar nya jauh ke dalam semak belukar.

Kiran menghembuskan napas lega.

"Kau bisa turun sekarang.."

Ucap Agra setelah beberapa lama Kiran masih

belum turun dari gendongan nya.

"Aku tidak mau turun.. aku masih takut.."

"Hei.. ularnya sudah tidak ada Nona.."

"Tidak, nanti ada lagi ular yang lain."

Kilah Kiran malah semakin memperkuat

lingkaran kakinya di pinggang Agra yang

hanya tersenyum tipis.

"Kau hanya mencari alasan saja Nona, bilang

saja kalau kau masih betah dalam posisi seperti

ini.!"

Desis Agra sambil berjalan kearah mobil.

"Siapa bilang, aku tidak mencari alasan, aku

benar-benar takut masih banyak ular lain

yang nanti datang lagi."

Sergah Kiran tidak terima saat dia sudah duduk

kembali di jok mobil. Keduanya saling melihat.

"Ular seperti tadi ada di mana-mana Nona, kau

harus mulai membiasakan diri.!"

"Apa ? tidak, apa kau serius.?"

Wajah Kiran kembali pucat karena ketakutan.

Agra semakin semangat mengerjai gadis itu.

"Tentu saja, di daerah ini, ular sudah seperti

cacing, bisa muncul di mana saja, bahkan di

dalam mobil ini..!"

"Tidaakk..!"

Kiran sontak berteriak histeris sambil menubruk

dada Agra, menyusupkan wajahnya ke dalam

rengkuhan dada bidang laki-laki itu.Tangannya

mencengkram kuat jaket yang di pakai Agra.

Agra hanya bisa tersenyum geli setengah

menahan tawa melihat reaksi paranoid Kiran.

"Apa kau sedang mempermainkan ku.?"

Desis Kiran seraya mengangkat wajah nya.

Keduanya kembali saling pandang kuat, wajah

mereka hanya berjarak beberapa inchi saja.

Napas mereka tiba-tiba saja menjadi berat, ada

hawa panas yang kini membakar aliran darah

keduanya.

"Aku tidak bercanda, tempat ini bukan lah

tempat yang cocok untuk gadis kota seperti

mu, kenapa kamu nekad datang kesini.?"

Suara Agra berubah sangat berat dan tegas,

tidak seperti biasanya. Kiran menatap wajah

dingin laki-laki yang ada di hadapannya itu.

Wajah yang bisa di bilang terlampau tampan

kalau dia harus jujur mengakuinya.

"A-aku.. punya misi sendiri untuk datang kesini.

Aku tidak ingin perusahaan kembali gagal dan

mengalami kerugian.!"

Desis Kiran seraya menjauh namun dia terkejut

ketika tiba-tiba Agra menarik pinggangnya

hingga tubuh mereka kembali merapat. Mata

mereka beradu kuat, jantung Kiran seakan

mau meloncat keluar dari tempatnya ketika

Agra mendekatkan wajahnya.

"Sebaiknya kau pikirkan semuanya baik-baik

sebelum situasinya semakin parah.!"

Bisik Agra di daun telinga Kiran membuat tubuh

gadis itu panas dingin dan aliran darahnya

seakan tersumbat. Shit.! apa yang terjadi.?

Kenapa laki-laki ini seolah memiliki bisa yang

sangat mematikan. ! Darah Kiran mendidih.

Dengan santai Agra menutup pintu bagian

penumpang, kemudian kembali berjalan tenang masuk ke balik kemudi, melirik sekilas kearah

Kiran yang masih berusaha untuk menguasai dirinya.

Seolah tidak terjadi apapun pria aneh itu kembali melajukan mobilnya menuju ke perkebunan yang sudah tidak jauh lagi jaraknya..

 

**********

 

TBC....

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

semakin kesini nanti Kiran akan jatuh kepesona Arga

2023-10-26

1

Wirda Wati

Wirda Wati

udah 2 x bc thort....suka ceritanya

2022-12-03

0

Siti hawa

Siti hawa

Hahahahhahaha…lawak la kiran..

2022-11-12

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!