\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pintu kamar Kiran terus saja di ketuk dari luar
tiada henti. Cukup sudah.! tidak ada lagi air
mata yang musti keluar mulai detik ini.! bathin
Kiran seraya menghembuskan napasnya pelan
mencoba membuang semua rasa sesak yang
masih saja memenuhi dadanya.
Dengan tubuh yang terasa lemas dia berjalan
kearah pintu, kemudian membukanya. Wajah
sang ibu tampak cemas saat melihat putri
sambung nya itu bermata sembab, hidungnya
sedikit memerah, Kiran yang biasanya selalu
ceria, menebar senyum penuh keceriaan di
setiap kesempatan kini terlihat kacau.!
"Ada apa Kiran sayang ? dari tadi siang kamu
tidak pernah keluar dari kamar.?"
Nyonya Amelia mengelus lembut wajah Kiran
yang langsung merangkul dan memeluk erat
tubuh ibunya itu.
"Ada apa sebenarnya ? apa kamu sedang ada
masalah dengan bos mu itu.? dari tadi dia ada
di ruang tamu menunggumu sayang."
Tubuh Kiran sedikit menegang. Mau apalagi
pria brengsek itu datang kesini.? Dia segera
melepaskan pelukannya kemudian menatap
wajah teduh sang ibu.
"Apa ibu bisa bilang padanya kalau Kiran sedang
tidak ingin di ganggu saat ini.?"
Pinta nya namun sedikit ragu. Nyonya Amelia
tersenyum lembut seraya memegang tangan
Kiran dan mengusapnya lembut.
"Menurut ibu sebaiknya kamu temui dia,
selesaikan baik-baik kalau kalian ada masalah,
jangan menghindarinya, itu bukanlah solusi."
Saran Nyonya Amelia dengan bijak. Kiran nampak
terdiam menimbang-nimbang, sampai akhirnya
dia mengangguk pelan.
"Baiklah Kiran turun sekarang."
Lirihnya, Nyonya Amelia tersenyum lembut
seraya mengelus rambut Kiran penuh sayang.
"Jangan terbawa emosi."
Dia mengingatkan sambil melangkah pergi
dari hadapan Kiran.
Akhirnya mau tidak mau Kiran turun ke lantai
bawah langsung menuju ke ruang tamu. Nathan tampak langsung menegakkan badan nya begitu melihat kemunculan wanita yang di cintainya itu.
Matanya tampak berbinar, di tatapnya lekat wajah cantik Kiran yang saat ini terlihat sedikit pucat
dan tidak bersemangat itu.
Kiran memilih duduk di seberang Nathan dengan wajah datar tak berminat.
"Apa masih ada yang ingin anda sampaikan Tuan
Nathan ? surat resign akan saya kirim besok."
Suara Kiran terdengar dingin dan acuh membuat
hati Nathan terasa sakit. Dia beranjak dari kursi
nya mendekat kearah Kiran yang sontak bergeser menjauh. Wajah Nathan terlihat mulai memerah karena tidak terima dengan semua kebekuan Kiran.
"Kiran..aku mohon maafkan aku.! aku janji tidak
akan pernah lagi bermain api di luar sana. Aku
sangat mencintaimu, aku tak bisa jauh darimu.!"
Kiran melirik cepat, menatap jengah wajah Nathan
yang terlihat sangat serius dengan ucapannya.
Dia tersenyum getir masih menatap kearah laki-
laki yang sudah menghancurkan kepercayaan nya
itu. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau tahu, kau sudah menghinaku dengan
semua pengkhianatan mu itu.? apa kau bisa
bayangkan bagaimana perasaan ku saat ini.?"
Suara Kiran terdengar tertekan dan berat. Nathan
menundukan kepalanya seraya menggeleng.
"Aku mengerti perasaan mu Kiran.."
"Kalau begitu kamu juga pasti mengerti, bahwa
saat ini aku hanya butuh ketenangan, aku butuh
waktu untuk menata kembali hatiku yang sudah
kamu hancurkan.! jadi aku mohon jangan lagi
kamu datang dan memohon padaku, karena itu
semua akan berakhir sia-sia saja.!"
Tegas Kiran sambil kemudian berdiri, bersamaan
di pintu masuk muncul Aryella yang baru saja
datang. Gadis bertubuh tinggi semampai itu
terlihat menatap kedua orang di hadapannya itu dengan sorot mata di penuhi kecemburuan tapi
juga ada sedikit rasa malu terhadap kakak tirinya.
Kiran menatap wajah Aryella sambil tersenyum
miring. Sementara Nathan terlihat semakin
merasa tertekan karena sepertinya Kiran saat
ini masih di penuhi oleh emosi.
Kiran menghampiri Aryella yang terlihat
berpaling muka tidak berani mengadu tatap
dengan mata indah kakak tirinya yang seolah
sedang menghakimi dirinya.
"Aku minta, hentikan semua keliaranmu ini
sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.!"
Desis Kiran seraya menatap tajam wajah adik
nya itu yang kini melirik cepat saat mendengar
ucapan Kiran.
"Aku tidak menyesali semua yang telah terjadi,
karena aku mencintai Tuan Nathan.!"
Kiran terhenyak sesaat, wajahnya terlihat sedikit
pias. Nathan tampak menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku.?
Kenapa malah meraihnya di belakang ku.?"
Mata kedua kakak beradik itu beradu panas.
Aryella kembali memalingkan wajahnya.
"Memangnya kamu rela melepasnya untukku
kalau aku memintanya baik-baik ?"
Kiran kembali tersenyum tipis sambil menarik
napas berat. Nathan tampak hanya bisa melihat
kedua wanita yang sudah membuat pusing kepala
nya itu. Namun tatapannya tidak lepas dari wajah
Kiran yang sekilas melirik kearahnya.
"Kalau kalian berjodoh aku bisa apa.?"
Aryella terdiam, sementara Nathan tampak
semakin terpuruk.
"Aku sungguh kecewa padamu, kau sudah
mengkhianati seluruh keluarga dengan kelakuan
kotormu di luar sana, tolong..lihatlah ibu yang
sangat percaya padamu.!"
Ucap Kiran dengan suara pelan. Aryella menatap
tajam wajah Kiran seolah memberi ancaman
agar Kakaknya itu tidak berani buka mulut.
Kiran lagi-lagi hanya tersenyum getir.
"Aku permisi Tuan Nathan, semoga kalian bisa
segera mengakhiri semua dosa ini.! "
Ucap Kiran sambil kemudian melangkah pergi.
"Kiran..aku mohon dengarkan aku dulu..Kiran...!".
Seruan Nathan tidak di gubris oleh Kiran yang
terus berlalu ke lantai atas. Aryella menghampiri
Nathan dan memeluknya erat.
"Sudahlah Nathan..semua sudah terjadi.! dia itu
memang tidak cocok untukmu..!"
Nathan mendorong tubuh Aryella seraya menatap
tajam wajah gadis itu yang terlihat kecewa.
"Semua ini gara-gara kamu.! aku jadi kehilangan
Kiran ku, kau tahu, aku sangat mencintai nya.!"
"Tapi Nathan sayang.. bagaimana dengan aku
yang juga mencintaimu.?"
"Kau..! di mataku dirimu tidak lebih dari wanita
lain di luar sana yang berani melakukan apapun
hanya untuk mendapatkan ku.!"
Dengus Nathan sambil kemudian melangkah
keluar dari dalam rumah dengan wajah yang
di penuhi oleh kemarahan sekaligus rasa
kecewa atas semua yang terjadi.
******* *******
Setelah makan malam Kiran menemui Tuan
Zein di ruang kerjanya, kemudian mengutarakan
niatnya pada ayahnya itu.
Tuan Zein nampak terkejut setengah mati saat
mendengar permohonan putrinya itu. Dia menatap tidak percaya kearah putrinya yang terlihat sangat serius dengan apa yang di sampaikan nya barusan.
"Apa kau serius dengan ucapan mu barusan
Kiran, kau tidak sedang bercanda kan.?"
Tanya Tuan Zein berusaha untuk meyakinkan diri.
Apa yang terjadi, kenapa putri kesayangannya ini
tiba-tiba saja ingin pergi ke tempat yang sangat
jauh itu.? dan tempat itu bukanlah tempat yang
cocok untuk di kunjungi oleh putrinya itu.
"Tidak Ayah.. Kiran sangat serius.! tolong ijinkan
Kiran pergi ke sana.!"
"Tapi perkebunan kita itu sekarang.."
Tuan Zein terhenyak dalam diam. Bagaimana dia
mengatakan hal sebenarnya pada Kiran kalau
tempat itu sudah beralih tangan sekarang.
"Bukankah beberapa bulan lagi perkebunan kita
itu akan mendekati masa panen.? peran Kiran
akan sangat di butuhkan saat ini untuk menangani
masalah penjualan nya. Kiran tidak mau kita harus
kembali mengalami kerugian seperti masa-masa
kemarin.!"
Susul Kiran terlihat sangat antusias. Tuan Zein semakin di buat bingung. Alasan apa yang harus
dia lontarkan pada putrinya ini.
"Kiran..kau tahu tempat itu bukanlah tempat yang
cocok untukmu.! di sana tidak aman nak.!"
"Bukankah di sana banyak penjaga Ayah.? Kiran
bahkan masih ingat waktu kecil Pak Badar selalu
menjaga dan melindungi Kiran. Lagipula sekarang
kan jaman nya sudah berubah Yah, di sana pun
tentunya mengikuti perkembangan zaman.!"
"Kiran..! ayah tidak berani mengambil resiko
dengan mengirimmu ke tempat itu !"
"Ayah..Kiran mohon.! Kiran sangat ingin kesana.
Kiran butuh menenangkan diri di sana.! Kiran
tidak ingin bertemu dengan Nathan dulu. Kiran
sedang ada masalah dengan nya, Kiran mohon
ayah.. ijinkanlah Kiran pergi..!"
Tuan Zein tampak terdiam, jadi rupanya putri
nya itu sedang ada masalah pribadi. Selama
ini dia memang tidak pernah bisa menolak
setiap keinginan putrinya itu. Tapi apakah
dengan mengirim nya ke tempat itu adalah
tindakan yang benar ? lagipula perkebunan
miliknya itu kini sudah beralih tangan.
"Ayah..Kiran mohon..ijinkan Kiran pergi..! dan
ini hanya antara kita berdua saja yang tahu."
Kiran kembali memohon seraya memeluk
erat Tuan Zein dari samping. Laki-laki paruh
baya itu semakin tidak tega melihatnya. Dia
mengelus lembut puncak kepala putrinya itu.
"Baiklah..ayah akan mengatur semuanya.."
Akhirnya Tuan Zein memutuskan. Wajah Kiran
tampak berbinar. Dia semakin mempererat
pelukannya tidak lupa mendaratkan kecupan
lembut di pipi sang ayah.
"Terimakasih Yah.. besok juga Kiran sudah
harus berangkat. ! Kiran janji panen tahun ini
pasti akan berhasil di tangan Kiran, kita tidak
akan mengalami kerugian lagi..!"
Ucap Kiran setelah melepaskan pelukan nya.
Tuan Zein menatap lekat wajah cantik putrinya di
penuhi keraguan dan sedikit was-was. Dia harus
segera berkoordinasi dengan semua staf dan
orang-orang kepercayaannya di tempat itu.
Setelah kepergian Kiran dari ruang kerja, dengan
sedikit ragu Tuan Zein mencoba menghubungi
nomor seseorang.
"Hallo Tuan Bara.? apa saya bisa berbicara dengan
Tuan Bimantara, ini sangat mendesak..!"
"Apa anda tahu ini jam berapa Tuan Zein..?"
"Saya tahu Tuan Bara..saya mohon maaf.."
"Ada apa, cepat katakan.?"
Tuan Zein membeku saat tiba-tiba suara yang
dia dengar telah berubah menjadi sebuah suara
bariton yang berkharisma. Dia menelan salivanya
dengan susah payah karena gugup.
"Tuan Presdir.. saya mohon maaf sudah berani
menganggu waktu istirahat anda.!"
"Jangan bertele-tele, cepat katakan intinya.!"
"Be-begini Tuan..putri saya Kiran..!"
"Kiran..."
Tuan Zein kembali membeku saat suara di sebrang
sana memotong ucapan nya dengan cepat. Dia
semakin merasa gugup.
"Lanjutkan.!"
Perintah suara di sebrang sana.
"Baik Tuan, putri saya Kiran.. tiba-tiba saja
meminta untuk pergi ke perkebunan, dia ingin
menangani masa panen sekarang.! tapi saya
belum mengatakan semuanya pada putri saya."
Tuan Zein menjeda ucapannya mencoba untuk
mengambil napas. Tidak ada tanggapan dari
sebrang sana, namun Tuan Zein merasakan
ada aura mencekam yang kini terasa dari
keheningan suara di sebrang sana.
"Jadi Tuan..saya mohon ijinkan putri saya untuk
bekerja pada anda, sampai akhir masa panen."
"Atur saja semuanya seperti biasa.! pastikan
putrimu itu bekerja dengan baik.!"
"Baik Tuan.. terimakasih banyak.!"
"Jangan beritahu dulu putrimu yang sebenarnya.
Biarkan dia bekerja sepenuh hati, aku yakin dia
tidak menginginkan kerugian kembali menimpa
panen kali ini..!"
Tegas suara di sebrang sana membuat Tuan
Zein merenung sejenak.
"Baik Tuan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih
banyak atas segala kemurahan hati anda."
Tidak ada jawaban dari sebrang sana, sambungan
telepon pun sudah terputus.
Tuan Zein menarik napas panjang. Keraguan
dan kecemasan kini menggelayuti hatinya, apakah
dia benar-benar akan membiarkan putrinya pergi
ke tempat itu.! Apakah Kiran akan mampu
menjalani hari-harinya di tempat yang jauh dari
hingar bingar dan keramaian kota besar.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
aduh adeknya senekat i2 dan syukurlah keluarganya semua baik
2023-10-26
0
Siti Farida
lagi2 ya thor sang kakak high clash eh adiknya murahan 😒😒😒
2023-04-01
0
gia gigin
Next
2022-08-03
0