**********
Sudah sekitar satu jam perjalanan tanpa ada
suara yang keluar dari mulut keduanya. Kiran
memalingkan wajah kearah jendela mobil yang
hanya berhias kegelapan dan sesekali tersinari
oleh lampu mobil, sementara pria tadi fokus ke
jalanan yang semakin lama semakin terjal
karena sebagian aspal nya sudah terkelupas.
Hawa dingin semakin lama semakin menusuk
kulit membuat Kiran melipat kedua tangannya
di depan dada. Wajahnya kini sudah mulai terasa membeku. Kiran membuka masker yang di
pakainya karena rasa tidak nyaman kini mulai
menggangu perutnya. Sepertinya dia mengalami
mabuk perjalanan.
Pria tadi tampak menoleh kearah Kiran saat
gadis itu bersin-bersin. Wajahnya terlihat
semakin dingin melihat kondisi Kiran yang
sepertinya cukup tersiksa dengan hawa dingin
di tempat ini dan perlu adaptasi khusus dengan
cuaca di tempat ini.
Kiran merebahkan kepalanya ke sandaran jok
sambil memejamkan matanya. Saat ini kepala
nya terasa semakin pusing dan perutnya juga
mulai di penuhi oleh gejolak yang tidak nyaman.
"Hei.. berhenti.! aku tidak kuat lagi..!"
Seru Kiran tiba-tiba dengan menutup mulutnya.
Pria tadi langsung menghentikan mobilnya
begitu melihat reaksi Kiran. Dengan tergesa-gesa
Kiran segera membuka pintu mobil yang sialnya
sedikit susah untuk di buka.
Dia segera meloncat keluar dari mobil kemudian
berjongkok di pinggir jalan mengeluarkan segala
gejolak yang ada di dalam perutnya. Pria tadi
tampak sedikit panik melihat kondisi Kiran yang
terlihat sangat menderita saat memuntahkan
semua isi perutnya.
Pria itu ikut berjongkok seraya memijat tengkuk
leher Kiran yang meliriknya sekilas namun tidak
berdaya untuk menolak perlakuan laki-laki itu.
Dia segera memberikan botol air mineral pada
Kiran saat gadis itu mulai tenang. Wajahnya
terlihat pucat pasi, tubuhnya kini lemas tak
bertenaga.
"Bagaimana.. keadaan anda Nona..?"
Tanya pria itu seraya menatap kuat wajah cantik
Kiran yang kini terlihat jelas di depan matanya.
Kiran berusaha berdiri dengan gontai di bantu
oleh pria tadi.
"Lumayan..hanya saja lemas rasanya.!"
Lirih Kiran sambil kemudian melangkah pelan
kearah mobil, dia berdiri ragu di depan mobil
saat dirinya akan naik ke dalam nya.
"Maaf Nona..!"
Pria tadi langsung mengangkat tubuh Kiran yang terkejut sesaat. Matanya langsung menatap kesal
kearah pria itu yang terlihat cuek saja menutup
kembali pintu mobil.
Tidak lama mobil kembali melaju menyusuri
jalanan yang kini mulai memasuki kawasan
pemukiman yang terlihat jarang-jarang.
"Berapa lama kita akan sampai di perkebunan.?"
Tanya Kiran yang terlihat semakin gelisah karena
kondisi tubuh nya yang tidak stabil.
"Butuh waktu 4 jam untuk mencapai perkebunan
Nona, sebaiknya kita mencari tempat istirahat
saja. !"
"Apa.? tidak.! kita harus sampai malam ini juga.!"
"Jalanan menuju perkebunan sangat rawan Nona
apalagi di malam hari.!"
"Bukankah kamu ada untuk memastikan bahwa
aku baik-baik saja selama ada di tempat ini.!"
"Kondisi anda tidak memungkinkan untuk
melanjutkan perjalanan Nona.!"
"Aku tidak apa-apa.! kita lanjutkan saja..!"
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengambil resiko
dengan mengabaikan kesehatan anda.!"
"Aku di sini yang berhak memutuskan semuanya,
kenapa jadi kamu yang membuat aturan.?"
Kesal Kiran sambil menegakkan badannya,
melirik tajam kearah pria tadi yang masih saja
terlihat datar, dia membelokan mobilnya ke
jalanan yang lebih padat penduduknya,
sepertinya ini sebuah kota kecamatan.
"Hei.. kenapa kita kesini.? "
Kiran memperhatikan suasana ketika pria tadi
memasukan mobilnya ke halaman sebuah
bangunan yang kelihatan nya seperti sebuah
penginapan sederhana.
"Kita istirahat di sini malam ini, besok pagi
baru melanjutkan perjalanan.!"
"Aku tidak mau, kita lanjutkan saja perjalanan
nya, aku ingin segera sampai di villa.!"
"Pakai kembali masker penutup wajahnya
Nona, anda terlalu mencolok di tempat ini.!"
Tukas pria itu sambil keluar dari mobil dengan
menutup pintu cukup keras membuat Kiran
terlonjak kaget. Isshh.. dasar laki-laki aneh.!
sebenarnya yang jadi bos di sini siapa sih.?
Kenapa jadi dia yang mengatur dirinya.?
------ ------
"Maaf Tuan..hanya tersisa satu kamar lagi
dengan satu bed."
Ucap resepsionis pria itu sambil menatap sedikit curiga pada pasangan yang ada di hadapannya
itu. Kiran nampak terkejut langsung keberatan.
"Yasudah kami tidak jadi menginap..!"
"Tidak apa, kami ambil saja.!"
Potong pria itu memutuskan seenaknya, Kiran
tampak membulatkan matanya tidak percaya.
Maunya apa sih nih pria aneh.? enak banget dia
main mutusin semua sesuka hatinya.!
Kiran menatap tajam wajah datar pria tadi yang
terlihat acuh dan tidak peduli.
"Apa kau gila ? aku tidak mau.! kenapa kamu
memutuskan semua seenaknya saja.?"
Debatnya mulai emosi, namun pria itu tampak
kembali menatap kearah resepsionis tadi.
"Antar kami ke kamarnya. !"
Titah pria itu pada resepsionis tadi, dia benar-
benar tidak peduli dengan semua protes yang
di lontarkan oleh Kiran.
"Baik Tuan, mari ikuti saya."
Sambut resepsionis itu sambil mulai melangkah
kearah lorong di sebelah kiri ruangan.
"Silahkan Nona.."
Pria itu berucap enteng sambil mengulurkan
tangannya untuk mengarahkan Kiran. Kiran
melengos sebal, dengan segudang kekesalan
akhirnya dia menghentakkan kakinya terpaksa melangkah mengikuti resepsionis tadi. Sedang
pria itu hanya tersenyum tipis seraya berjalan
mengawal langkah Kiran.
Kiran terlihat menautkan alisnya melihat kamar
hotel yang jauh dari kata mewah itu. Ukurannya
hanya seluas kamar mandi di kamar tidur milik
nya. Hanya ada sebuah tempat tidur dengan dua bantal dan sebuah selimut tipis. Tidak ada sarana
atau fasilitas penunjang lainnya seperti televisi,
kursi santai atau yang lainnya.
Dia melongok ke dalam kamar mandi yang
membuat Kiran semakin mengurut dadanya
karena ukurannya yang terlalu kecil bahkan
untuk bernapas saja seperti nya kesulitan.
Tuhan..apa ini ? apa dia akan bisa memejamkan
matanya di tempat seperti ini.? Kiran terduduk
lemas di sisi tempat tidur yang terasa sedikit
keras bagi dirinya yang terbiasa tidur di atas
kasur empuk dan nyaman.
"Jangan melihat kondisinya Nona, yang penting
anda bisa istirahat malam ini.!"
Pria itu tampak memasukan kedua tangannya
ke saku celana seraya berdiri di ambang pintu
menatap datar kearah Kiran yang masih saja
mengamati keadaan kamar itu.
"Aku bisa tidur dimanapun, tapi tidak satu
kamar dengan orang asing.!"
Ketus Kiran dengan wajah kesal yang sudah
mencapai batasnya.
"Tenang saja, saya akan tidur di mobil. Ada di
depan kamar ini. !"
Tunjuk pria tadi kearah luar dimana mobil yang
membawa mereka sudah terparkir di sana.
"Selamat malam Nona.!"
Ucapnya kemudian sambil berlalu keluar dari
kamar. Kiran menatap punggung pria itu hingga
dia menghilang di balik pintu. Huhh..baru awal
saja Kiran sudah di hadapkan pada kondisi ini.
Bagaimana ke depannya apalagi dia harus
berinteraksi dengan mahluk aneh seperti
pengawalnya tadi.!
Akhirnya Kiran beranjak masuk ke dalam kamar
mandi yang untung nya airnya ternyata hangat
karena berasal dari kawah gunung yang berada
di sekitar daerah itu.
Setengah jam kemudian Kiran keluar dari kamar
mandi setelah selesai membersihkan dirinya dan sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Rambutnya yang sedikit basah di biarkan terurai.
Namun dia langsung membeku di tempat, saat
melihat pria aneh itu tiba-tiba saja sudah ada di
dalam kamar. Keduanya saling pandang dalam keterkejutan yang sama. Mata pria itu tampak mengerjap saat melihat penampakan Kiran saat
ini dalam kondisi yang membuat jiwa lelakinya
langsung saja meronta.
Bagaimana tidak ! saat ini Kiran hanya memakai
kaos oblong tipis dengan celana jeans pendek
di atas lututnya. Karuan saja keindahan tubuh
nya terlihat jelas di depan mata pria itu. Kulitnya
yang putih mulus bening bak porselen terlihat
begitu berkilau di bawah kilatan lampu kamar
yang sedikit temaram.
"Sedang apa kamu di sini.? kenapa tidak permisi
dulu kalau mau masuk.? kau sungguh tidak
sopan.!"
Seru Kiran setengah emosi. Pria itu memalingkan
wajahnya kearah luar.
" Maaf Nona, tadi tidak ada jawaban. Saya hanya
ingin mengantarkan makan malam.!"
"Aku tidak butuh makan malam.! bawa lagi
sana, dan cepat keluar.!"
Ketus Kiran sambil menunjuk keluar mengusir
pria tadi yang langsung beranjak kearah pintu.
"Makanlah Nona, jangan keras kepala.!"
"Kubilang bawa lagi..!"
"Anda harus memulihkan kondisi.!
"Keluar sekarang juga.!"
Pekik Kiran tidak tahan lagi dengan semua rasa
kesal campur geram terhadap pengawal nya
yang tidak tahu diri itu.!
"Selamat malam Nona..!"
Ucap pria itu sebelum akhirnya melangkah keluar dengan santai. Kiran menutup pintu kamar
dengan keras meluapkan emosinya yang kini
sudah mencapai ubun-ubun nya.
Ayaaah..kenapa kamu mengirim penjaga model
begini sih.! belum apa-apa sudah membuat
tensi darahnya naik. Kiran menjatuhkan dirinya
di atas tempat tidur dengan wajah tertekuk.
Dia melirik kearah makanan di atas tempat tidur.
Perut nya tiba-tiba saja berbunyi memalukan
seakan mengkhianati ucapannya tadi. Kiran
memejamkan matanya mencoba untuk
mengontrol emosinya dan menahan rasa lapar
yang kini semakin menyiksanya. Dari tadi siang
dia memang belum mengisi perutnya. Waktu
di pesawat juga dia tidak selera untuk mencicipi
makanan yang tersedia.
Tidak peduli pada rasa malunya, akhir nya Kiran
melahap makan malam yang di bawakan oleh
pengawalnya itu yang sepertinya sengaja di beli
nya dari luar. Uuhh.. ternyata rasanya cukup lezat
membuat Kiran merasa puas.! Dia tersenyum
sendiri saat mengingat ucapannya tadi yang
terang-terangan menolak makanan itu.
Peduli amat ! yang penting sekarang ini perutnya
kenyang dan dia bisa tidur nyenyak.
Kiran mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidur dengan ukuran yang sangat sempit itu. Dia
mencoba untuk memejamkan matanya. Selimut
yang tersedia tidak di gunakannya karena takut
akan membuat kulit nya alergi.
Sampai tengah malam tidur Kiran terlihat terus
saja gelisah, sepertinya dia tidak bisa untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.
Kiran tersentak, membuka matanya dengan cepat ketika mendengar suara burung hantu yang begitu
nyaring dan menyeramkan. Dia menutup rapat
telinganya dengan bantal untuk menghalau
suara burung itu yang terus saja mengusiknya.
Namun semakin lama suara burung itu semakin
membuat Kiran ketakutan, belum lagi suara
hewan-hewan malam lainnya yang semakin
malam semakin terdengar nyaring.
Tidak tahan lagi Kiran segera turun dari tempat
tidur kemudian dengan tergesa-gesa dia keluar
dari kamar melangkah kearah mobil. Dia berdiri
ketakutan di dekat pintu mobil sambil menatap
ke dalam mobil dimana pria itu tampak tengah
duduk bersandar ke jok mobil dengan kedua
tangan di lipat di dadanya, matanya terpejam
rapat.
Sedikit ragu Kiran membuka pintu mobil, lalu
dia menepuk pelan tangan pria aneh itu.
"Hei..Tuan bangun.!"
Usiknya dengan meringis merasa malu sendiri.
Setelah beberapa kali di tepuk akhirnya pria itu
membuka matanya, melirik bingung kearah
Kiran yang sedang menunduk resah.
"Ada apa Nona.?"
Setelah sadar sepenuhnya dia terlihat terkejut
melihat keberadaan Kiran di dekatnya.
"Aku tidak bisa tidur, aku takut..ada banyak
suara mahluk aneh yang menggangu tidurku."
Lirih Kiran dengan suara pelan nyaris tak
terdengar. Pria itu menautkan alisnya.
"Lalu, apa mau anda Nona..?"
"Bi-bisakah kau menemani di kamar sampai
aku tertidur.?"
Ucap Kiran dengan penuh keraguan. Pria itu
tampak menatap tajam wajah Kiran dengan
sesungging senyum tercipta di sudut bibir nya.
Tidak lama dia keluar dari mobil, lalu menutup pintunya kemudian berjalan mendahului Kiran
yang hanya bisa melongo melihat tindakannya.
**********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
penasaran
2023-10-26
0
Andi Fitri
sepertinya itu bima yg nyamar..
2023-08-28
0
safana valiqa
Tuan Bimantara sengaja nyamar biar bisa selalu dekat dengan Kiran😊😊
2022-12-05
0