\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari ini cuaca sangat cerah, mungkin karena
sudah sejak sore kemarin di guyur hujan deras.
Keindahan alam di sekitar Villa terlihat begitu
memukau memanjakan mata hingga Kiran
seakan tiada bosan berdiri di balkon kamarnya menikmati udara segar pagi ini.
Saat adzan subuh berkumandang Kiran
terbangun dari tidur lelapnya. Dia menyadari
sosok Agra sudah tidak ada di sampingnya,
hanya tersisa aroma wangi tubuhnya saja yang
membuat darah Kiran kembali berdesir halus.
Wajahnya memerah saat dia mengingat apa
yang di lakukan oleh pria itu semalam. Walau
hanya sebuah kecupan lembut tapi itu sangat membekas dalam ingatan nya.
Aneh, ada rasa kehilangan yang kini di rasakan
hati Kiran, dia juga kecewa karena ternyata laki-
laki itu meninggalkan dirinya semalam. Dia yakin
Agra kembali ke perkebunan.Sebenarnya apa
yang terjadi hingga dia harus siang malam
berada di perkebunan.
Kiran menautkan alisnya ketika melihat di jalan
depan halaman Villa tiba-tiba saja berdatangan
ibu-ibu dan para wanita desa. Mereka terlihat memperhatikan dirinya yang berdiri di balkon.
Tatapan ibu-ibu itu terlihat aneh, antara kagum
namun juga ada sorot kekesalan di mata mereka.
Kiran mencoba melambai dan tersenyum ke
arah ibu-ibu itu, namun mereka nampak nya
tidak menggubris, malah melengos tidak suka.
Kiran termenung, ada apa dengan ibu-ibu itu,
sungguh ini sangat membingungkan bagi dirinya.
Tidak lama terlihat Rasmi menemui ibu-ibu itu
dan berbicara sebentar, mereka terlihat memarahi Rasmi yang hanya bisa memohon maaf dan membungkuk pada mereka.
Pagi ini Kiran kembali membuat makanan sendiri
dan berniat membawanya ke perkebunan sebagai bekal makan siang Agra nanti karena di pastikan bahwa pria itu tidak akan pulang dulu ke Villa.
"Ada apa dengan ibu-ibu tadi pagi mbak ? apa
ada masalah.?"
Tanya Kiran saat dia merapihkan makanan ke
dalam kotak makan. Rasmi melirik dan menatap
tidak enak pada Kiran .
"Tidak ada apa-apa Nona, mereka hanya ingin
melihat keberadaan Nona saja."
Jawab Rasmi sedikit ragu, Kiran menatapnya
sekilas, dia tahu Rasmi menyembunyikan
sesuatu dari dirinya.
"Apa mbak mencoba menyembunyikan sesuatu
dari Kiran.? ada apa sebenarnya.?"
Rasmi tampak terkejut sesaat, namun dia
kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak Nona..mbak bicara apa adanya."
Kiran menatap tajam wajah Resmi yang hanya
bisa menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Di halaman depan datang mobil yang di bawa
oleh Badar untuk menjemput dirinya.
"Baiklah..kita akan lanjutkan pembicaraan ini
nanti, Kiran yakin ada sesuatu yang terjadi.!"
Rasmi hanya bisa tersenyum getir sambil meringis
merasa benar-benar bersalah, tapi dia juga tidak
tega untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kiran pergi dulu ya.."
Pamit Kiran sambil meraih kotak makan yang
sudah di siapkan nya kemudian melangkah
keluar ruangan. Rasmi hanya bisa menatap
nya seraya menghembuskan napas berat.
"Jadi orang cantik itu ternyata berat juga ya.."
Gumamnya sambil menepuk keningnya sendiri
mengingat ancaman para ibu-ibu tadi.
Tiba di pondok dia melihat saat ini Agra sedang
mengumpulkan seluruh pekerja perkebunan
yang berjumlah sekitar 20 orang. Mereka semua
bertugas untuk merawat setiap pohon dan semua
hal yang berhubungan dengan perkebunan.
"Karena waktu penebangan hanya tersisa 5
hari lagi, Tuan Agra meminta kalian semua agar
lebih semangat lagi dalam bekerja. Dia akan
memberikan bonus kalau panen kali ini berjalan
lancar dan sukses.!"
Bara memberi penjelasan pada semua buruh.
Mereka terlihat senang, saling lirik dengan
teman nya dan berbisik halus.
Kiran melangkah masuk ke dalam pondok di
ikuti tatapan para buruh yang terlihat begitu
terpesona padanya. Agra menghembuskan
napas kasar melihat pemandangan tidak
mengenakan itu.
"Sekarang kalian kembali bekerja.!"
Titah Agra dengan wajah yang sangat dingin.
"Baik Tuan, kami permisi.!"
Serempak para buruh sambil membungkuk
hormat setelah itu mereka membubarkan diri
kembali ke wilayahnya masing-masing.
Agra masuk ke dalam ruang kerja, matanya
langsung bersirobos tatap dengan mata indah
Kiran yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Dia melangkah kearah sofa kemudian duduk
merebahkan punggung nya .Matanya langsung
saja terpejam rapat. Kiran menatapnya dalam
diam, kelihatannya pria itu sangat kelelahan.
Tidak lama akhirnya dia berjalan menghampiri
Agra, kemudian duduk di samping nya. Di tatap
nya lekat wajah tampan yang terlihat lelah itu.
"Apa semalam kau tidak tidur.?"
Agra membuka matanya, melirik sebentar kearah Kiran, kembali terpejam rapat.
"Hemmm..aku baru kembali satu jam yang
lalu.!"
"Apa sebenarnya yang kau lakukan.? kenapa
harus menyiksa dirimu sendiri.?"
"Kalau tidak begitu, hasil jerih payah para
pekerja hanya akan di nikmati oleh mereka
yang tidak bertanggung jawab. !"
Kiran terdiam, menarik napas berat.
"Baiklah, kau harus istirahat sekarang, tubuhmu
punya hak untuk mendapatkan ketenangan.!"
Agra kembali membuka matanya, keduanya
saling pandang kuat.
"Kau mau menemaniku tidur.?"
"Ahh.. tidak, kau jangan aneh-aneh.!"
Wajah Kiran langsung saja bersemu merah.
Dia memalingkan pandangan nya tidak kuat
menahan tatapan intens Agra yang mengunci
wajahnya. Agra menggeser tubuhnya, tangan
nya bergerak meraih dagu Kiran.
"Apa kau merindukanku saat ini.?"
Kiran menatap terkejut, wajahnya kini semakin
memerah. Dia menggeleng kuat sambil menepis
pegangan tangan Agra di dagunya.
"Kamu semakin tidak masuk akal.!"
Kiran menjauhkan dirinya namun tiba-tiba saja
Agra mengangkat tubuh nya hingga kini dia
duduk di pangkuan Agra. Mata Kiran melotot
kesal campur tegang. Dia berusaha untuk turun
dan melepaskan diri dari rengkuhan Agra tapi
semua itu percuma, tangan Agra yang kokoh
kini sudah mengunci pinggang rampingnya.
"Agra..apa yang kau lakukan..nanti ada yang
melihat kita.!"
"Biarkan saja, itu bukan masalah besar.!"
"Apa katamu.? tentu saja itu akan jadi masalah
bagi kita, sudah lepaskan aku.!"
"Kita tinggal umumkan saja yang sebenarnya.!"
"Kau sudah gila.! itu tidak mungkin.!"
"Semua orang harus tahu bahwa kau adalah
istriku.!"
Kiran terhenyak dalam diam, mata mereka kini
semakin terpaut dalam, tidak bisa saling
melepaskan satu sama lain.
Agra kembali menarik pinggang Kiran hingga
tubuh mereka kini menempel ketat, tangan Kiran
berada di pundak kokoh laki-laki itu, berusaha
untuk menekan dan menjaga jarak. Namun pria
itu semakin merengkuh tubuhnya hingga kini
Wajah mereka begitu dekat, napas keduanya
tiba-tiba saja menjadi berat.
"A-agra..aku mohon.. biarkan aku turun."
Tubuh Kiran menegang saat wajah Agra semakin mendekat, ada hawa panas yang kini merambat
ke dalam aliran darah mereka. Saat ini Agra sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Selama ini
dia selalu menahan diri tiap kali berada di dekat
gadis ini. Namun kali ini, kedekatan ini membuat
dia kehilangan kontrol atas gejolak hasrat dan perasaan nya.
"Maafkan aku Kiran..kali ini aku tidak bisa lagi
menahan diri."
Suara Agra terdengar parau dengan tatapan yang
semakin dalam mengunci bibir ranum Kiran.
"A-apa maksudmu.."
Agra mendekatkan bibirnya membuat Kiran
memejamkan matanya di telan kegugupan,
namun ketukan di pintu membuyarkan segala
hasrat dan keinginan Agra yang tadi sempat
menguasai dirinya. Keduanya saling pandang
kuat, Kiran segera bangkit berdiri dari pangkuan
Agra setelah laki-laki itu melonggarkan rengkuhan
nya, kemudian merapihkan pakaiannya.
Bara masuk kedalam ruangan dengan mimik
wajah yang sangat serius.
"Ada apa ? kau selalu saja menganggu ku.!"
Agra terlihat sangat kesal, Bara terdiam sejenak,
apa dia sudah merusak kesenangan Tuannya.?
"Maaf Tuan..Nona..Edgar datang ingin bertemu.!"
"Edgar..?"
Desis Agra dengan seringai senyum tipis.
Kiran terlihat langsung tidak nyaman.
"Orang itu menunggu di ruang tamu Tuan."
"Baiklah.. kita temui dia sekarang.!"
Agra segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah meja kerja Kiran, meraih jaket gadis itu lalu kembali menghampiri nya, dengan telaten dia memakaikan jaket itu ke tubuh Kiran
yang hanya bisa terdiam seperti seorang anak
kecil tanpa bisa menolak atau membantah.
Bara juga hanya bisa terdiam melongo melihat
apa yang di lakukan oleh Tuan nya itu. Tuan yang
sangat di hormati di dunia bisnis bertaraf dunia
internasional kini seolah menjadi pelayan pribadi seorang gadis. Gadis biasa yang tidak tahu sama
sekali seberapa besar pengorbanan yang telah
di lakukan oleh Tuan nya itu sampai dia rela
menjatuhkan martabatnya demi melindungi
dirinya dari semua kekacauan ini.
Keduanya untuk sesaat saling pandang dalam
diam mencoba untuk menyampaikan rasa yang
saat ini masih saja bergejolak sisa kejadian tadi.
"Ayo kita temui orang itu.!"
Agra akhirnya menggandeng Kiran keluar dari
ruang kerja di ikuti oleh Bara.
------- -------
Pembicaraan tidak berkembang. Kiran keukeuh
dengan pendiriannya tidak akan menjual hasil
perkebunan nya pada pengusaha muda itu.
Karena harga yang di tetapkan oleh pria itu
jauh di bawah standar. Dan tentu saja hal itu
akan membuat perusahaan mengalami kerugian
yang tidak sedikit.
"Jadi anda tetap dengan pendirian semula Nona
Kiran.? semua pemilik perkebunan yang lain
sudah menjual hasil panen nya pada saya !"
"Maaf sekali lagi Tuan Edgar..tapi keputusan
saya sudah bulat, saya tidak akan menjual
hasil panen kami kepada anda.!"
Ucap Kiran dengan suara yang sangat tegas
dan pembawaan yang tenang tidak terpancing
ataupun terprovokasi oleh sikap Edgar yang
dari tadi mengirimkan sinyal ancaman.
"Nona Kiran..anda belum tahu saat ini sedang
menggali kuburan anda sendiri.! saya tidak
pernah main-main dengan ancaman saya.!"
Gertak Edgar dengan raut wajah yang mulai
terlihat kelam. Agra hanya terdiam di samping
Kiran, melihat semua pergerakan laki-laki
bermata jelalatan itu.
"Tuan Edgar semua ini tidak hanya mengenai
kami pribadi sebagai pemilik, tapi yang paling
penting hasil jerih payah para pekerja harus
terbayar lunas dengan kepuasan yang akan
mereka dapatkan.!"
Edgar tampak menggebrak meja kecil yang
ada di hadapan nya membuat Kiran sedikit
terkejut dengan reaksi berlebihan pria itu.
Agra hanya menyunggingkan senyum samar.
"Baiklah kalau keputusan anda sudah tidak
akan bisa di goyang lagi berarti anda harus
bersiap dengan semua konsekuensinya.!"
Edgar berdiri berkacak pinggang, Kiran juga
ikut berdiri di hadapan Edgar.
"Sebagai pengusaha yang cukup terkenal di
daerah ini saya rasa setidaknya anda tahu adat
dan sopan santun dalam berbisnis Tuan, tolong
jangan membuat keributan."
Kiran menekankan kata-katanya melihat gelagat
tidak beres dari raut wajah lelaki itu.
Edgar mendengus seraya tersenyum miring,
dia menatap intens wajah Kiran yang mulai
tidak nyaman dengan sikap tidak sopan nya
laki-laki itu. Agra ikut berdiri di samping Kiran.
"Saya rasa urusan kita sudah selesai Tuan.!
Silahkan anda meninggalkan tempat ini
dengan tenang..!"
Agra akhirnya mengeluarkan suara yang cukup
mengintimidasi membuat Edgar melirik tajam.
Keduanya terlihat saling menatap bertarung di
udara dan hanya dalam sekejap Edgar kembali
mendengus kemudian melangkah keluar dari
ruang tamu.
"Ingat lah..! Kalian sendiri yang sudah menolak
penawaran ku, maka tidak akan ada orang lain
yang akan sanggup membeli hasil panen
kalian, akan aku pastikan itu.!"
Geram pria itu sambil kemudian melangkah
keluar di ikuti oleh seluruh anak buahnya
yang berjumlah puluhan.
Kiran menjatuhkan dirinya di atas kursi. Dia
meremas kertas yang ada di meja. Apakah
ancaman pria itu akan menjadi masalah baru
untuk perkebunan nya, terutama bagi dirinya?
Agra duduk di samping nya, meraih tangan nya
kemudian mengecupnya perlahan membuat
Kiran menatap jengah sikap Agra yang tidak
melihat situasi.
"Semua nya akan baik-baik saja, percayalah.!
kalau kita tidak mendapat kan pembeli lokal
masih banyak pembeli lain yang bisa kita
hubungi.!"
Ucap Agra menenangkan, Kiran menarik napas
berat kemudian mengangguk pelan.
Badar tiba-tiba saja masuk menginterupsi
keintiman Tuan dan Nona nya.
"Maaf Nona.. barusan saya mendapat kabar dari
Tuan Hasim, dia ingin bertemu dengan Nona.!"
Kiran saling pandang dengan Agra, dia terlihat
sedikit bingung.
"Bukankah dia akan datang kesini.?"
"Rencana nya berubah Nona, dia meminta pihak
kita yang datang ke kota. Dia bilang sedang tidak
bisa pergi ke luar.!"
"Aneh ! bukankah orang itu sendiri yang kemarin
bersedia datang ke tempat ini, tapi kenapa
sekarang tiba-tiba merubah rencana.!"
Kiran terlihat sedikit merenung dalam bimbang.
Agra tampak tenang dengan ekspresi datar.
"Kapan kita bisa menemui orang itu.?"
"Malam ini Nona, tempatnya dia sendiri yang
telah tentukan.!"
"Baiklah, kita akan temui orang itu.!"
Agra dan Badar tampak sedikit terkejut dan ragu.
"Biar aku dan Badar saja yang pergi.!"
Agra memutuskan, tapi Kiran memegang tangan
nya dan menatapnya tajam.
"Aku akan ikut pergi, aku ingin tahu apa yang di inginkan oleh orang itu sebenarnya.!"
"Kiran..! kita tidak tahu apa rencana mereka !"
"Apapun itu ini adalah keputusan final, setelah
ini kita akan mengambil pembeli dari luar.!"
"Apa kau yakin dengan keputusan mu untuk
menemui orang tua itu.?"
Keduanya saling pandang kuat, Kiran terlihat
yakin dengan keputusan nya, dia mengangguk
meyakinkan Agra yang hanya bisa menarik napas berat. Kali ini dia akan menuruti apa yang sudah
di putuskan oleh istrinya itu walau dia tahu ini
adalah sesuatu yang cukup riskan dan berbahaya.
"Baiklah, kita akan pergi menemui orang itu.
Tapi setelah ini biarkan aku yang mengurus
semua nya, aku tidak mau lagi melihatmu
berada dalam bahaya.!"
Tegas Agra seraya berdiri dengan wajah yang
mulai terlihat keras. Kiran menatap Agra dengan
sedikit rasa tidak nyaman melihat sikap keras
pria itu, sebenarnya apa yang akan mereka
hadapi kali ini.
"Biarkan aku istirahat sebentar, nanti sore kita
berangkat.!"
Putus Agra sambil kemudian melangkah keluar
dari ruangan. Kiran menghembuskan napas
kasar, Badar dan Bara saling pandang, kali ini
mereka harus mempersiapkan segala sesuatu
nya tanpa ada kesalahan lagi..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
asisten suka sekali bikin tuannya gagal fokus 😂🤭
2023-10-26
1
fiendry🇵🇸
memang...
para Asisten ni suka mengganggu kesenangan Tuannya 🤣🤣🤣
2023-09-15
0
Ernadina 86
Kiran belom bisa melihat situasi...pikirannya masih positif tapi tidak waspada
2023-05-01
0