17. Ancaman

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Hari ini cuaca sangat cerah, mungkin karena

sudah sejak sore kemarin di guyur hujan deras.

Keindahan alam di sekitar Villa terlihat begitu

memukau memanjakan mata hingga Kiran

seakan tiada bosan berdiri di balkon kamarnya menikmati udara segar pagi ini.

Saat adzan subuh berkumandang Kiran

terbangun dari tidur lelapnya. Dia menyadari

sosok Agra sudah tidak ada di sampingnya,

hanya tersisa aroma wangi tubuhnya saja yang

membuat darah Kiran kembali berdesir halus.

Wajahnya memerah saat dia mengingat apa

yang di lakukan oleh pria itu semalam. Walau

hanya sebuah kecupan lembut tapi itu sangat membekas dalam ingatan nya.

Aneh, ada rasa kehilangan yang kini di rasakan

hati Kiran, dia juga kecewa karena ternyata laki-

laki itu meninggalkan dirinya semalam. Dia yakin

Agra kembali ke perkebunan.Sebenarnya apa

yang terjadi hingga dia harus siang malam

berada di perkebunan.

Kiran menautkan alisnya ketika melihat di jalan

depan halaman Villa tiba-tiba saja berdatangan

ibu-ibu dan para wanita desa. Mereka terlihat memperhatikan dirinya yang berdiri di balkon.

Tatapan ibu-ibu itu terlihat aneh, antara kagum

namun juga ada sorot kekesalan di mata mereka.

Kiran mencoba melambai dan tersenyum ke

arah ibu-ibu itu, namun mereka nampak nya

tidak menggubris, malah melengos tidak suka.

Kiran termenung, ada apa dengan ibu-ibu itu,

sungguh ini sangat membingungkan bagi dirinya.

Tidak lama terlihat Rasmi menemui ibu-ibu itu

dan berbicara sebentar, mereka terlihat memarahi Rasmi yang hanya bisa memohon maaf dan membungkuk pada mereka.

Pagi ini Kiran kembali membuat makanan sendiri

dan berniat membawanya ke perkebunan sebagai bekal makan siang Agra nanti karena di pastikan bahwa pria itu tidak akan pulang dulu ke Villa.

"Ada apa dengan ibu-ibu tadi pagi mbak ? apa

ada masalah.?"

Tanya Kiran saat dia merapihkan makanan ke

dalam kotak makan. Rasmi melirik dan menatap

tidak enak pada Kiran .

"Tidak ada apa-apa Nona, mereka hanya ingin

melihat keberadaan Nona saja."

Jawab Rasmi sedikit ragu, Kiran menatapnya

sekilas, dia tahu Rasmi menyembunyikan

sesuatu dari dirinya.

"Apa mbak mencoba menyembunyikan sesuatu

dari Kiran.? ada apa sebenarnya.?"

Rasmi tampak terkejut sesaat, namun dia

kembali menggelengkan kepalanya.

"Tidak Nona..mbak bicara apa adanya."

Kiran menatap tajam wajah Resmi yang hanya

bisa menundukkan kepalanya merasa bersalah.

Di halaman depan datang mobil yang di bawa

oleh Badar untuk menjemput dirinya.

"Baiklah..kita akan lanjutkan pembicaraan ini

nanti, Kiran yakin ada sesuatu yang terjadi.!"

Rasmi hanya bisa tersenyum getir sambil meringis

merasa benar-benar bersalah, tapi dia juga tidak

tega untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Kiran pergi dulu ya.."

Pamit Kiran sambil meraih kotak makan yang

sudah di siapkan nya kemudian melangkah

keluar ruangan. Rasmi hanya bisa menatap

nya seraya menghembuskan napas berat.

"Jadi orang cantik itu ternyata berat juga ya.."

Gumamnya sambil menepuk keningnya sendiri

mengingat ancaman para ibu-ibu tadi.

Tiba di pondok dia melihat saat ini Agra sedang

mengumpulkan seluruh pekerja perkebunan

yang berjumlah sekitar 20 orang. Mereka semua

bertugas untuk merawat setiap pohon dan semua

hal yang berhubungan dengan perkebunan.

"Karena waktu penebangan hanya tersisa 5

hari lagi, Tuan Agra meminta kalian semua agar

lebih semangat lagi dalam bekerja. Dia akan

memberikan bonus kalau panen kali ini berjalan

lancar dan sukses.!"

Bara memberi penjelasan pada semua buruh.

Mereka terlihat senang, saling lirik dengan

teman nya dan berbisik halus.

Kiran melangkah masuk ke dalam pondok di

ikuti tatapan para buruh yang terlihat begitu

terpesona padanya. Agra menghembuskan

napas kasar melihat pemandangan tidak

mengenakan itu.

"Sekarang kalian kembali bekerja.!"

Titah Agra dengan wajah yang sangat dingin.

"Baik Tuan, kami permisi.!"

Serempak para buruh sambil membungkuk

hormat setelah itu mereka membubarkan diri

kembali ke wilayahnya masing-masing.

Agra masuk ke dalam ruang kerja, matanya

langsung bersirobos tatap dengan mata indah

Kiran yang sedang duduk di kursi kerjanya.

Dia melangkah kearah sofa kemudian duduk

merebahkan punggung nya .Matanya langsung

saja terpejam rapat. Kiran menatapnya dalam

diam, kelihatannya pria itu sangat kelelahan.

Tidak lama akhirnya dia berjalan menghampiri

Agra, kemudian duduk di samping nya. Di tatap

nya lekat wajah tampan yang terlihat lelah itu.

"Apa semalam kau tidak tidur.?"

Agra membuka matanya, melirik sebentar kearah Kiran, kembali terpejam rapat.

"Hemmm..aku baru kembali satu jam yang

lalu.!"

"Apa sebenarnya yang kau lakukan.? kenapa

harus menyiksa dirimu sendiri.?"

"Kalau tidak begitu, hasil jerih payah para

pekerja hanya akan di nikmati oleh mereka

yang tidak bertanggung jawab. !"

Kiran terdiam, menarik napas berat.

"Baiklah, kau harus istirahat sekarang, tubuhmu

punya hak untuk mendapatkan ketenangan.!"

Agra kembali membuka matanya, keduanya

saling pandang kuat.

"Kau mau menemaniku tidur.?"

"Ahh.. tidak, kau jangan aneh-aneh.!"

Wajah Kiran langsung saja bersemu merah.

Dia memalingkan pandangan nya tidak kuat

menahan tatapan intens Agra yang mengunci

wajahnya. Agra menggeser tubuhnya, tangan

nya bergerak meraih dagu Kiran.

"Apa kau merindukanku saat ini.?"

Kiran menatap terkejut, wajahnya kini semakin

memerah. Dia menggeleng kuat sambil menepis

pegangan tangan Agra di dagunya.

"Kamu semakin tidak masuk akal.!"

Kiran menjauhkan dirinya namun tiba-tiba saja

Agra mengangkat tubuh nya hingga kini dia

duduk di pangkuan Agra. Mata Kiran melotot

kesal campur tegang. Dia berusaha untuk turun

dan melepaskan diri dari rengkuhan Agra tapi

semua itu percuma, tangan Agra yang kokoh

kini sudah mengunci pinggang rampingnya.

"Agra..apa yang kau lakukan..nanti ada yang

melihat kita.!"

"Biarkan saja, itu bukan masalah besar.!"

"Apa katamu.? tentu saja itu akan jadi masalah

bagi kita, sudah lepaskan aku.!"

"Kita tinggal umumkan saja yang sebenarnya.!"

"Kau sudah gila.! itu tidak mungkin.!"

"Semua orang harus tahu bahwa kau adalah

istriku.!"

Kiran terhenyak dalam diam, mata mereka kini

semakin terpaut dalam, tidak bisa saling

melepaskan satu sama lain.

Agra kembali menarik pinggang Kiran hingga

tubuh mereka kini menempel ketat, tangan Kiran

berada di pundak kokoh laki-laki itu, berusaha

untuk menekan dan menjaga jarak. Namun pria

itu semakin merengkuh tubuhnya hingga kini

Wajah mereka begitu dekat, napas keduanya

tiba-tiba saja menjadi berat.

"A-agra..aku mohon.. biarkan aku turun."

Tubuh Kiran menegang saat wajah Agra semakin mendekat, ada hawa panas yang kini merambat

ke dalam aliran darah mereka. Saat ini Agra sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Selama ini

dia selalu menahan diri tiap kali berada di dekat

gadis ini. Namun kali ini, kedekatan ini membuat

dia kehilangan kontrol atas gejolak hasrat dan perasaan nya.

"Maafkan aku Kiran..kali ini aku tidak bisa lagi

menahan diri."

Suara Agra terdengar parau dengan tatapan yang

semakin dalam mengunci bibir ranum Kiran.

"A-apa maksudmu.."

Agra mendekatkan bibirnya membuat Kiran

memejamkan matanya di telan kegugupan,

namun ketukan di pintu membuyarkan segala

hasrat dan keinginan Agra yang tadi sempat

menguasai dirinya. Keduanya saling pandang

kuat, Kiran segera bangkit berdiri dari pangkuan

Agra setelah laki-laki itu melonggarkan rengkuhan

nya, kemudian merapihkan pakaiannya.

Bara masuk kedalam ruangan dengan mimik

wajah yang sangat serius.

"Ada apa ? kau selalu saja menganggu ku.!"

Agra terlihat sangat kesal, Bara terdiam sejenak,

apa dia sudah merusak kesenangan Tuannya.?

"Maaf Tuan..Nona..Edgar datang ingin bertemu.!"

"Edgar..?"

Desis Agra dengan seringai senyum tipis.

Kiran terlihat langsung tidak nyaman.

"Orang itu menunggu di ruang tamu Tuan."

"Baiklah.. kita temui dia sekarang.!"

Agra segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke arah meja kerja Kiran, meraih jaket gadis itu lalu kembali menghampiri nya, dengan telaten dia memakaikan jaket itu ke tubuh Kiran

yang hanya bisa terdiam seperti seorang anak

kecil tanpa bisa menolak atau membantah.

Bara juga hanya bisa terdiam melongo melihat

apa yang di lakukan oleh Tuan nya itu. Tuan yang

sangat di hormati di dunia bisnis bertaraf dunia

internasional kini seolah menjadi pelayan pribadi seorang gadis. Gadis biasa yang tidak tahu sama

sekali seberapa besar pengorbanan yang telah

di lakukan oleh Tuan nya itu sampai dia rela

menjatuhkan martabatnya demi melindungi

dirinya dari semua kekacauan ini.

Keduanya untuk sesaat saling pandang dalam

diam mencoba untuk menyampaikan rasa yang

saat ini masih saja bergejolak sisa kejadian tadi.

"Ayo kita temui orang itu.!"

Agra akhirnya menggandeng Kiran keluar dari

ruang kerja di ikuti oleh Bara.

------- -------

Pembicaraan tidak berkembang. Kiran keukeuh

dengan pendiriannya tidak akan menjual hasil

perkebunan nya pada pengusaha muda itu.

Karena harga yang di tetapkan oleh pria itu

jauh di bawah standar. Dan tentu saja hal itu

akan membuat perusahaan mengalami kerugian

yang tidak sedikit.

"Jadi anda tetap dengan pendirian semula Nona

Kiran.? semua pemilik perkebunan yang lain

sudah menjual hasil panen nya pada saya !"

"Maaf sekali lagi Tuan Edgar..tapi keputusan

saya sudah bulat, saya tidak akan menjual

hasil panen kami kepada anda.!"

Ucap Kiran dengan suara yang sangat tegas

dan pembawaan yang tenang tidak terpancing

ataupun terprovokasi oleh sikap Edgar yang

dari tadi mengirimkan sinyal ancaman.

"Nona Kiran..anda belum tahu saat ini sedang

menggali kuburan anda sendiri.! saya tidak

pernah main-main dengan ancaman saya.!"

Gertak Edgar dengan raut wajah yang mulai

terlihat kelam. Agra hanya terdiam di samping

Kiran, melihat semua pergerakan laki-laki

bermata jelalatan itu.

"Tuan Edgar semua ini tidak hanya mengenai

kami pribadi sebagai pemilik, tapi yang paling

penting hasil jerih payah para pekerja harus

terbayar lunas dengan kepuasan yang akan

mereka dapatkan.!"

Edgar tampak menggebrak meja kecil yang

ada di hadapan nya membuat Kiran sedikit

terkejut dengan reaksi berlebihan pria itu.

Agra hanya menyunggingkan senyum samar.

"Baiklah kalau keputusan anda sudah tidak

akan bisa di goyang lagi berarti anda harus

bersiap dengan semua konsekuensinya.!"

Edgar berdiri berkacak pinggang, Kiran juga

ikut berdiri di hadapan Edgar.

"Sebagai pengusaha yang cukup terkenal di

daerah ini saya rasa setidaknya anda tahu adat

dan sopan santun dalam berbisnis Tuan, tolong

jangan membuat keributan."

Kiran menekankan kata-katanya melihat gelagat

tidak beres dari raut wajah lelaki itu.

Edgar mendengus seraya tersenyum miring,

dia menatap intens wajah Kiran yang mulai

tidak nyaman dengan sikap tidak sopan nya

laki-laki itu. Agra ikut berdiri di samping Kiran.

"Saya rasa urusan kita sudah selesai Tuan.!

Silahkan anda meninggalkan tempat ini

dengan tenang..!"

Agra akhirnya mengeluarkan suara yang cukup

mengintimidasi membuat Edgar melirik tajam.

Keduanya terlihat saling menatap bertarung di

udara dan hanya dalam sekejap Edgar kembali

mendengus kemudian melangkah keluar dari

ruang tamu.

"Ingat lah..! Kalian sendiri yang sudah menolak

penawaran ku, maka tidak akan ada orang lain

yang akan sanggup membeli hasil panen

kalian, akan aku pastikan itu.!"

Geram pria itu sambil kemudian melangkah

keluar di ikuti oleh seluruh anak buahnya

yang berjumlah puluhan.

Kiran menjatuhkan dirinya di atas kursi. Dia

meremas kertas yang ada di meja. Apakah

ancaman pria itu akan menjadi masalah baru

untuk perkebunan nya, terutama bagi dirinya?

Agra duduk di samping nya, meraih tangan nya

kemudian mengecupnya perlahan membuat

Kiran menatap jengah sikap Agra yang tidak

melihat situasi.

"Semua nya akan baik-baik saja, percayalah.!

kalau kita tidak mendapat kan pembeli lokal

masih banyak pembeli lain yang bisa kita

hubungi.!"

Ucap Agra menenangkan, Kiran menarik napas

berat kemudian mengangguk pelan.

Badar tiba-tiba saja masuk menginterupsi

keintiman Tuan dan Nona nya.

"Maaf Nona.. barusan saya mendapat kabar dari

Tuan Hasim, dia ingin bertemu dengan Nona.!"

Kiran saling pandang dengan Agra, dia terlihat

sedikit bingung.

"Bukankah dia akan datang kesini.?"

"Rencana nya berubah Nona, dia meminta pihak

kita yang datang ke kota. Dia bilang sedang tidak

bisa pergi ke luar.!"

"Aneh ! bukankah orang itu sendiri yang kemarin

bersedia datang ke tempat ini, tapi kenapa

sekarang tiba-tiba merubah rencana.!"

Kiran terlihat sedikit merenung dalam bimbang.

Agra tampak tenang dengan ekspresi datar.

"Kapan kita bisa menemui orang itu.?"

"Malam ini Nona, tempatnya dia sendiri yang

telah tentukan.!"

"Baiklah, kita akan temui orang itu.!"

Agra dan Badar tampak sedikit terkejut dan ragu.

"Biar aku dan Badar saja yang pergi.!"

Agra memutuskan, tapi Kiran memegang tangan

nya dan menatapnya tajam.

"Aku akan ikut pergi, aku ingin tahu apa yang di inginkan oleh orang itu sebenarnya.!"

"Kiran..! kita tidak tahu apa rencana mereka !"

"Apapun itu ini adalah keputusan final, setelah

ini kita akan mengambil pembeli dari luar.!"

"Apa kau yakin dengan keputusan mu untuk

menemui orang tua itu.?"

Keduanya saling pandang kuat, Kiran terlihat

yakin dengan keputusan nya, dia mengangguk

meyakinkan Agra yang hanya bisa menarik napas berat. Kali ini dia akan menuruti apa yang sudah

di putuskan oleh istrinya itu walau dia tahu ini

adalah sesuatu yang cukup riskan dan berbahaya.

"Baiklah, kita akan pergi menemui orang itu.

Tapi setelah ini biarkan aku yang mengurus

semua nya, aku tidak mau lagi melihatmu

berada dalam bahaya.!"

Tegas Agra seraya berdiri dengan wajah yang

mulai terlihat keras. Kiran menatap Agra dengan

sedikit rasa tidak nyaman melihat sikap keras

pria itu, sebenarnya apa yang akan mereka

hadapi kali ini.

"Biarkan aku istirahat sebentar, nanti sore kita

berangkat.!"

Putus Agra sambil kemudian melangkah keluar

dari ruangan. Kiran menghembuskan napas

kasar, Badar dan Bara saling pandang, kali ini

mereka harus mempersiapkan segala sesuatu

nya tanpa ada kesalahan lagi..

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

TBC.....

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

asisten suka sekali bikin tuannya gagal fokus 😂🤭

2023-10-26

1

fiendry🇵🇸

fiendry🇵🇸

memang...
para Asisten ni suka mengganggu kesenangan Tuannya 🤣🤣🤣

2023-09-15

0

Ernadina 86

Ernadina 86

Kiran belom bisa melihat situasi...pikirannya masih positif tapi tidak waspada

2023-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!