\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Menjelang siang Kiran baru bisa berangkat ke perkebunan. Dan bukan Agra yang datang untuk
menjemput nya melainkan Badar.
"Memangnya Agra ada di mana Om.? kenapa
bukan dia yang datang menjemput saya.?"
Kiran tampak sedikit kesal terhadap pengawal
nya itu karena sudah membuatnya menunggu
setengah hari. Sialnya di tempat ini jaringan
telepon memang sangat sulit di temui, harus
mencari ke arah tertentu untuk menemukannya
sehingga dia tidak bisa menghubungi suaminya
itu ataupun memantau keberadaan nya.
"Tuan Agra semalam pergi Nona, dan baru saja
kembali setengah jam yang lalu."
"Apa yang dia lakukan, kenapa selalu saja
pergi tanpa alasan, dasar orang aneh.!"
"Kejadian kemarin menyisakan masalah dengan
pihak yang berwajib Nona. Tadinya saya sendiri
yang akan mengurusnya, tapi Tuan Agra ingin
menanganinya sendiri.!"
"Dia itu memang aneh ya, kenapa Kiran tidak
diberitahu coba, apa sih maunya sebenarnya.!"
"Tuan hanya tidak ingin mempersulit keadaan
anda selama ada di sini Nona."
"Tetap saja, apapun masalah yang menyangkut
perkebunan saya juga harus bertanggung jawab."
Gerutu Kiran kesal bukan main. Badar hanya
meliriknya sekilas dengan tersenyum tipis.
Tiba di pondok Kiran segera masuk ke ruang
kerjanya. Saat membuka pintu tubuhnya tiba-
tiba membeku di tempat saat melihat keberadaan Agra di sana. Pria itu tampak sedang menikmati makan siangnya dengan lahap. Dan yang membuat Kiran terdiam adalah karena Lintang juga ada di
sana, gadis itu sedang duduk menemani Agra
bahkan melayaninya dengan begitu telaten.
"Nona Kiran.. selamat siang."
Sapa Lintang seraya menunduk sedikit.
"Siang juga Lintang.."
Sahut Kiran masih berdiri di depan pintu.
Agra hanya melihatnya sekilas dan kembali
menikmati makan siang nya.
Kiran berjalan menuju meja kerjanya kemudian membuka jaket yang di pakainya lalu duduk di
kursi kerjanya. Matanya melihat sekilas kearah
Agra yang sedang menerima gelas air putih dari tangan Lintang. Gadis manis itu tampak menatap malu-malu kearah wajah tampan Agra.
Ada perasaan tidak nyaman yang kini di rasakan
oleh Kiran melihat perlakuan Lintang pada Agra.
"Apa Tuan..mau saya buatkan makanan penutup?
Salad atau mungkin yang lain.?"
Tawar Lintang dengan wajah yang terlihat begitu semangat. Bagaimana tidak, gadis itu sudah sangat terjerat oleh pesona pria dingin itu, baginya bisa melihat apalagi berdekatan dengan Agra bagaikan berada di dalam mimpi.
"Tidak perlu, aku sudah kenyang. Kau boleh
keluar sekarang."
Tolak Agra setelah mengakhiri makan siangnya. Lintang tampak menatap sedikit kecewa kearah
Agra karena dirinya masih ingin berlama-lama
ada di dekat pria nyentrik itu.
"Baiklah Tuan..kalau begitu saya permisi."
Lintang membereskan semua sisa makanan ke
atas nampan setelah itu dia berlalu keluar. Kiran beranjak dari kursi nya, berdiri di hadapan Agra, menatap nya tajam.
"Apa anda sadar Tuan Agra..sudah melalaikan
tugas anda terhadap saya.?"
Tegur Kiran sambil menatap kesal kearah Agra
yang mendongakkan kepala. Keduanya saling
pandang kuat .
"Bukankah ada Badar yang bisa menggantikan
posisiku.?"
Sahut Agra acuh sambil duduk tumpang kaki.
Tatapan Kiran semakin terlihat kesal.
"Memang nya ada hal yang lebih penting dari
tugas utama anda.?"
"Tidak ada , anda adalah prioritas saya.!"
Kilah Agra masih terlihat acuh dan melempar
pandangan kearah luar jendela. Kiran semakin
kesal dengan sikap cueknya Agra yang sudah
kelewat batas itu.
"Lalu kemana saja kamu, kenapa selalu pergi
tanpa memberitahu ku terlebih dahulu.!"
Ketus Kiran sambil memalingkan wajahnya.
Ada seringai senyum tipis di bibir Agra, dia
bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan
Kiran yang terlihat mundur beberapa langkah.
"Ohh..jadi itu cukup penting bagimu rupanya.!"
Ucap Agra mulai maju mendesak hingga kini
tubuh Kiran mentok membentur meja kerja.
"Tentu saja, bukankah seharusnya kamu
selalu ada kapanpun aku butuhkan, bukan
nya main pergi tanpa kabar yang jelas.!"
Ketus Kiran dengan tatapan mulai tegang
karena kini posisi tubuh Agra sudah merapat
dan memepet dirinya.
"Jadi menurutmu aku perlu mengatakan kemana
saja aku pergi di belakang mu Nona.?"
Desis Agra mulai mengurung tubuh Kiran
dengan meletakkan kedua tangannya di atas
bangku di sisi kanan kiri tubuh Kiran.
Tangan Kiran menahan dada Agra yang kini
mencondongkan badannya menekan tubuh
bagian depan nya. Dia semakin menegang
saat tubuh mereka bersentuhan.
"Bu-bukan begitu..aku hanya tidak suka kalau
harus menunggu.! "
"Aku ada urusan yang tidak bisa di tunda, ini
menyangkut perkebunan.!"
"Bukankah aku berhak tahu semuanya, aku
yang paling berhak tahu di sini..!"
"Anda urus saja soal penjualan dan pembeli,
bukan urusan di luar semua itu.!"
"Tuan Agra.. apapun itu kalau menyangkut
soal perkebunan aku berhak mengetahuinya."
"Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatan
mu Nona Sashikirana..!"
Desis Agra di telinga Kiran yang langsung
memejamkan matanya saat napas hangat
Agra menerpa wajah nya. Kiran terhenyak
dalam diam saat Agra menyebutkan nama
lengkapnya.
Dia membuka matanya, keduanya saling pandang kuat. Tubuh mereka masih di posisi sama, rapat
dan menempel dengan tubuh Agra di atas tubuh
Kiran yang semakin tegang saat wajah tampan
Agra semakin mendekat.
"Se-sebenarnya..siapa kamu.? "
Suara Kiran sedikit bergetar karena rasa tegang,
dia juga mendorong kuat dada Agra agar dirinya
bisa keluar dari kurungannya.
"Apa itu penting bagimu.?"
Tanya Agra dengan suara beratnya, tangannya
yang satu kini meraih wajah Kiran kemudian
mengangkatnya.
"Tentu saja, kau..kau adalah suamiku ! aku
punya hak untuk mengetahui siapa dirimu.!"
Senyum smirk terukir di sudut bibir Agra,
tatapannya kini semakin mengunci wajah
cantik Kiran yang memiliki bentuk sangat
sempurna di semua bagian, mungil dan
sangat menggemaskan.
"Akan ada saatnya untuk itu, sekarang kita
harus segera menyelesaikan urusan di tempat
ini, setelah itu baru kita kembali pada dunia
nyata. !"
Kiran menganga mendengar ucapan Agra yang
penuh dengan teka-teki itu. Dalam sekali gerakan
Agra mendaratkan ciuman lembut di kening
Kiran yang langsung memejamkan matanya.
Bersamaan pintu di buka dari luar.
"Tuan..Nona..maaf..!"
Keduanya menoleh kearah suara masih dengan
posisi yang sama. Bara berdiri di ambang pintu
dengan tatapan canggung. Wajah Kiran langsung
pucat pasi saat melihat keberadaan Bara. Apa
yang akan dipikirkan oleh asisten Agra nanti?
"Ada apa Bara.?"
Suara Agra terdengar berat dia menegakkan
badannya menatap kesal kearah Bara yang
langsung menundukkan kepala dalam. Kiran
segera membenahi dirinya yang masih berada
di awang-awang. Kaget dengan apa yang di
lakukan Agra barusan.
"Ada tamu yang ingin bertemu Tuan dan Nona.."
"Suruh tunggu di ruang tamu, kami akan segera
kesana.!"
"Baik Tuan, permisi."
Bara kembali menutup pintu. Agra dan Kiran
saling pandang sesaat.
"Pakai jaketnya, bersikap biasa, jangan terlalu
ramah pada orang asing. Orang bisa saja salah
faham dengan sikapmu yang terlalu baik.!"
Agra memberikan rentetan perintah dan
peringatan yang membuat Kiran menatap
melongo kearah laki-laki itu yang sedang meraih
jaketnya kemudian keluar dari ruangan tanpa
menoleh lagi kearahnya.
"Huuhh..dasar laki-laki aneh.!"
Keluh Kiran sambil mengurut dadanya mencoba
untuk menstabilkan debaran jantungnya yang
tadi sempat bermarathon. Namun akhirnya dia
pun mengambil jaket langsung memakainya. Kemudian meraih berkas penting lalu keluar
dari ruang kantor nya menuju ruang tamu.
------ ------
Di halaman depan pondok saat ini sudah terparkir
beberapa mobil Jeep mewah yang sudah mandi
lumpur di bagian bawahnya seperti habis offroad.
Agra masuk ke dalam ruang tamu, di sana sudah
menunggu beberapa tamu penting, bahkan bisa
di sebut tamu paling waahh di daerah ini.
Tamu itu adalah kepala daerah ini bersama
dengan tamu penting lainnya, asisten pribadi
dan beberapa orang pengawalnya. Dan yang
menarik perhatian adalah keberadaan seorang
gadis cantik berambut ikal berwarna coklat
gelap dengan mata bulat yang indah.
Agra membagikan pandangan ke arah semua
tamu yang ada di ruangan itu. Mata indah gadis
tadi tampak begitu terpesona saat melihat
kemunculan Agra di ruangan itu.
Kiran datang kemudian, dia juga tampak sedikit
terkejut melihat tamu-tamu itu. Dan para tamu
itupun kini balik terpesona melihat kemunculan
Kiran di ruangan itu. Bagai melihat bidadari dalam
hutan rasanya..kenapa bisa ada mahluk sebening
itu di tempat seperti ini.?
"Tuan Abbas, mereka berdua adalah pengelola
perkebunan ini.!"
Badar memperkenalkan Agra dan Kiran. Tamu
penting itu tersenyum mengerti. Tatapan nya
tampak memperhatikan dengan teliti gestur
tubuh kedua orang di hadapannya itu.
"Selamat siang Tuan Agra Bintang..Nona..."
"Sashikirana.. panggil saja Kiran..!"
Sambut Kiran sambil tersenyum tipis kearah
tamu penting tadi.
Agra berjabat tangan dengan tamu penting itu
dengan tatapan tajam dan sorot mata berbeda.
Sementara Kiran hanya mengatupkan tangannya.
Mereka semua duduk saling berhadapan.
"Perkenalkan..ini adalah putri saya.!"
Sambung tamu itu melirik kearah gadis cantik
tadi yang terlihat langsung memasang senyum
semanis madu kearah Agra seraya mengulurkan
tangannya.
"Moza.. senang bertemu anda Tuan Agra.."
Ucapnya dengan suara dibuat semanja mungkin.
Agra menyambut tangan gadis itu dengan wajah
datar tanpa ekspresi apapun. Gadis itu tampak
nya enggan sekali untuk melepas jabatannya.
Matanya juga terpaut di kedalaman mata elang
Agra yang seakan telah menyihirnya.
"Ehemm..!"
Kiran berdehem untuk menyadarkan kedua
mahluk itu bahwa masih ada manusia lain
di tempat ini. Gadis itu melepaskan jabatan
tangannya dengan wajah sedikit memerah.
Dia menatap sekilas kearah Kiran dengan
sorot mata tidak suka.
"Jadi Tuan Abbas..maksud anda datang kesini
ada keperluan apa kalau boleh saya tahu.?"
Tanya Kiran langsung pada pokok karena dia
sedang tidak ingin basa-basi. Tamu penting
itu atau Tuan Abbas nampak menatap wajah
Kiran dengan ketertarikan yang sangat kentara.
"Jadi Nona ini putrinya Tuan Zein.?"
"Benar Tuan..!"
"Begini Nona, sebenarnya saya hanya sedang
keliling saja sekalian cari hiburan di sebelah.
Kami biasa menjelajah alam setiap minggunya
di daerah ini.!"
Ujar Tuan Abbas membuka pembicaraan.
"Saya juga datang dengan dua rekan saya yang
berminat untuk membeli hasil perkebunan anda
jadi biar sekalian begitu lah..!"
Kembali ucap Tuan Abbas sambil menunjuk
dua rekan yang ada di sebelahnya. Keduanya
tampak menunduk sedikit dan tersenyum
kearah Kiran. Agra duduk santai mengamati
interaksi antara Kiran dan para tamunya.
"Boleh saja Tuan..kami terbuka dan menerima
pihak manapun yang berminat terhadap hasil
perkebunan kami."
Sambut Kiran dengan suara tegas dan tenang.
Agra masih terdiam memperhatikan, raut wajah
nya terlihat puas dengan sikap dan pembawaan
Kiran yang tegas serta profesional. Namun ada
tatapan lain yang kini tersirat dari kedua matanya
melihat semua pergerakan dari para tamunya.
"Kalau begitu kita bisa memulai pembicaraan
nya Nona Kiran ?"
Salah seorang pengusaha tadi terlihat sangat
bersemangat.
"Tentu saja, kita bisa membicarakan nya sambil
melihat ke lapangan, mari silahkan..!"
Para tamu tampak mengangguk antusias sambil
berdiri kemudian mereka semua melangkah keluar dari ruangan menuju ke perkebunan.
Mereka menyusuri sebagian area perkebunan
yang berada di wilayah pusat itu sambil melihat
dan mengamati seluruh pohon yang menjadi
objek pembicaraan.
Gadis tadi atau Moza tampak berjalan bersama
Agra mencoba untuk lebih dekat pada laki-laki
itu dan berbincang kecil. Namun tampaknya
pria itu tidak terlalu menanggapi, dia hanya
berbicara seperlunya saja. Kiran yang melihat
hal itu mencoba untuk tidak peduli walau sebenar
nya ada rasa jengkel yang kini menenuhi dada
nya. Dia terus melayani pertanyaan para tamu.
"Tuan Agra.. saya dengar sudah sering terjadi
pencurian di perkebunan ini.! kalau anda butuh
bantuan, Papah siap mengirimkan bantuan
yang anda inginkan, iya kan Pah.?"
Moza melirik kearah Tuan Abbas yang terlihat
mengangguk antusias.
"Betul, saya siap mengirimkan team untuk
berjaga di sekitar wilayah perkebunan ini.!"
Sahut Tuan Abbas dengan percaya diri. Agra
hanya tersenyum tipis.
"Saya rasa itu tidak di perlukan Tuan, sejauh ini
kami masih bisa menangani nya sendiri.! kemarin
kebetulan kami hanya sedang sial saja.!"
Ujar Agra. Mereka kembali berjalan, tiba-tiba
Moza memekik saat dia terpeleset di dalam
lumpur dan dengan reflek Agra menangkap
pinggang gadis itu hingga kini keduanya
berada pada posisi yang sangat intim. Mata
keduanya saling pandang kuat.
Semua orang melihat kearahnya, wajah Kiran
tampak memerah, menatap keduanya dengan
sorot mata yang sangat kompleks.
"Hati-hati Nona Moza.. jalanan di sini licin.!"
Ucap Agra sambil membantu gadis itu untuk
kembali menegakkan badannya. Matanya
sekilas melihat kearah Kiran yang terlihat
memalingkan wajahnya dengan raut wajah
berubah masam.
"Terimakasih Tuan.."
Lirih Moza dengan wajah yang sedikit memerah
sekaligus berbinar senang.
Dalam keadaan itu tiba-tiba saja terdengar
keributan dari kejauhan, teriakan para penjaga
yang menggema memecah suasana menjadi
sangat mencekam.Semua orang terlihat waspada sedikit tegang saat mendengar sayup-sayup ada
suara lolongan serigala yang semakin lama
suaranya semakin mendekat.
Belum sadar dengan keadaan dari arah hutan
lebat tiba-tiba saja bermunculan beberapa ekor
serigala hutan yang berlari dengan keadaan
yang sepertinya sedang mengamuk.
"Berlindung...ada serigala hutan..!"
Teriak kepala pengawal sambil bersiap dengan
senjata di tangan nya bergerak melindungi Tuan
Abbas dan putrinya. Kiran bengong belum sadar
akan semua bahaya yang datang dan tiba-tiba
saja seekor serigala lapar berlari kencang kearah
nya. Tubuh Kiran mematung di tempat dengan
mata membulat sempurna, syok luar biasa.
Sebelum serigala itu berhasil menjangkau dirinya
dengan gerakan cepat Agra datang menghadang
langsung menendang bagian kepala hewan buas
itu yang tadi hampir saja menerkam Kiran.
Tubuh Kiran terjatuh ke belakang karena lemas.
Dia hanya bisa melongo melihat Agra sedang
berusaha melumpuhkan hewan liar itu dengan
membabatnya habis memakai balok..
"Larii.. selamatkan diri kalian..!"
Teriak kepala pengawal sambil meletuskan
tembakan kearah kejauhan di mana binatang
buas itu semakin banyak yang datang.
Sialnya gerombolan hewan lainnya semakin
banyak saja yang datang. Sedang para tamu tadi
sudah ngacir, berlari menjauhi lokasi. Kini Agra
dan Kiran di kepung oleh sekitar 6 ekor hewan liar
itu yang terlihat sangat kelaparan dan bersiap mencabik apapun yang ada di hadapan mereka.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Naila Azmi
pengen ngibasin tangan kayak raya biar srigalanya pd terbang 😅😅
2024-11-19
0
andi hastutty
heem mau yg ajaib 😂 kaya Devan
2023-10-26
1
Wirda Wati
ngga bosan bcnya thort...
ini udah yg kedua saya bc
2022-12-04
1