********
Mobil mulai menyusuri jalanan masuk ke dalam
kawasan perkebunan Grandnindia. Perkebunan
milik Tuan Zein yang luasnya hampir 20% dari
luas keseluruhan wilayah perkebunan yang ada
di daerah itu dan itu sangatlah luas. Butuh 2 hari
dua malam kalau mau mengelilingi seluruh
wilayah perkebunan ini.
Semua area perkebunan nya terdiri dari 4
wilayah bagian sebagaimana arah mata angin.
Ada Utara, selatan, timur dan barat. Dan yang
menjadi pusat perkebunan ini adalah wilayah
utara, berisi perkebunan kayu Agarwood juga
Eboni. Dan dua jenis kayu ini merupakan aset
yang sangat penting karena yang paling banyak
di buru serta di curi oleh para pembajak liar.
Siang malam anak buah Badar selalu berpatroli
untuk menjaga keamanan kawasan dari bahaya
pencurian yang biasanya semakin rawan di masa
menjelang panen seperti ini yang terjadi dalam
rentang waktu antara 6 sampai 8 tahun.
Kiran meringis melihat jalanan yang dilalui
berupa lumpur tebal. Sepertinya dirinya salah
kostum kali ini, bagaimana dia bisa berjalan
di tanah berlumpur seperti itu.
Agra sengaja membawa Kiran untuk berkeliling
terlebih dahulu ke seluruh wilayah Utara. Mobil
akhirnya berhenti di sebuah tempat di bawah
gegapnya pepohonan tinggi yang sangat subur.
"Kita sudah sampai Nona.."
Ucap Agra sambil membuka pintu untuk Kiran.
Gadis itu terlihat takjub melihat bagaimana
subur nya pepohonan berharga mahal itu.Tapi
memang mendekati masa panen ini daunnya
sudah mulai gugur tidak serindang biasanya.
Tidak sabar menuggu akhirnya Agra mengangkat
tubuh gadis itu untuk turun dari dalam mobil.
"Aku bisa sendiri.! main angkat seenaknya saja.!"
Protes Kiran sambil mendorong dada Agra yang
terlihat acuh melangkah pergi.
"Hei.. tunggu..!"
Kiran berseru mengejar Agra dengan sedikit
berjingjit karena jalanan becek yang harus di
laluinya. Ohh shit.! semakin Kiran berjalan jauh
ternyata tanah semakin becek dan berlumpur.
"Agraa..aku tidak bisa jalan..!"
Seru Kiran kesal karena pengawalnya itu terlihat
mengacuhkan dirinya, ada beberapa penjaga
perkebunan yang berlari menghampiri Agra dan
membungkuk di hadapannya.
Kiran menatap emosi kearah Agra yang terkesan
sengaja membiarkan dirinya kesulitan. Kini dia
terperangkap di dalam lumpur.
"Ohh Tuhan..kenapa bisa begini sih..!"
Gerutu Kiran masih mencoba melangkah tapi
kakinya sudah terkubur, sepatu boots nya entah
sudah tenggelam sedalam apa.
"Agraa.. bantu akuu..!"
Teriak Kiran tidak tahan lagi, dia juga mulai
paranoid terhadap binatang-binatang liar yang
bisa saja tiba-tiba nongol dan menyerangnya.
Agra menoleh kearahnya, menatapnya sedikit
geli melihat gadis itu terjebak di lumpur.
Para penjaga yang ada di sana tampak melongo melihat keberadaan Kiran di tempat itu. Mereka
baru menyadari nya karena posisi Kiran yang
cukup jauh tertinggal dari Agra.
Apakah dia Nona Kiran yang di ceritakan oleh
Badar.? Ataukah bidadari yang kesasar.?
Otak para penjaga berputar cepat menerka-
nerka masih menatap terkesima kearah Kiran.
"Turunkan pandangan Kalian.!"
Ancam Agra sambil membagi tatapan mematikan
pada para penjaga itu yang langsung menunduk
dalam tidak berani mengangkat muka lagi.
"Sekarang kembali ke posisi kalian.! laporkan
kalau ada sesuatu yang mencurigakan.!"
Titah Agra dengan suara tegasnya.
"Baik Tuan, kami permisi.!"
Serempak para penjaga sambil kemudian pergi
dari hadapan Agra sambil mencuri pandang
kearah keberadaan Kiran.
"Agraa..cepat tolong aku..aku takut ada ular
atau binatang buas lainnya.!"
Teriak Kiran mulai kehabisan kesabaran karena
rasa takut sudah menguasai dirinya. Pria itu
berjalan kearahnya. Setelah berdiri di hadapan
Kiran dia malah menatap diam kearah kaki
Kiran yang terbenam lalu menghembuskan
napasnya perlahan.
"Anda lihat sekarang kan Nona, apakah cara
berpakaian mu sudah benar atau belum !"
Decak Agra sedikit kesal, karuan saja emosi
Kiran semakin berkobar. Dia menatap tajam
wajah Agra yang terlihat benar-benar tidak
peduli pada kesulitan nya itu.!
"Apa kau hanya akan mengomeli aku terus.?
Mana aku tahu keadaanya akan se ekstrim ini.!"
Keluh Kiran sambil mengulurkan tangannya
meraih tangan Agra, peduli amat harga diri
yang penting dia bisa keluar dari lumpur
sialan ini ! omel Kiran dalam hati.
"Kenapa tidak di lepaskan saja sepatunya ?"
Saran Agra dengan wajah datarnya. Kiran
mendelik kesal kearah Agra dia semakin
kuat memegang tangan Agra yang terlihat
menahan diri dengan berpaling muka.
"Kakiku bisa kotor nanti..!"
"Itu sudah resiko Nona, kalau anda berani
datang ke tempat ini, maka harus berani
mengambil semua konsekuensinya.!"
Tegas Agra acuh. Kekesalan Kiran kini sudah
memuncak. Dia melepaskan kakinya dari dalam
sepatu boots nya yang tenggelam.
"Owhh.. bagaimana ini..!"
Kiran meringis ragu-ragu saat kakinya akan
mulai menapak di lumpur, Agra menatap nya
geli dengan menahan tawa yang seakan ingin meledak.
Sebelum kaki Kiran menginjak lumpur Agra
menyambar tubuh gadis itu mengangkatnya
ke dalam pangkuannya.Kiran memekik kaget
sesaat, dia melingkarkan tangannya di leher
pria itu.Tangan kanan Agra segera mencopot
sepatu dari kaki Kiran dan melemparnya asal.
"Hei.. kenapa di buang.?"
Pekik Kiran dipenuhi rasa tidak terima.
"Bukankah itu sudah tidak berguna lagi.!"
Sahut Agra sambil berjalan acuh kearah mobil.
Kiran menatap kesal wajah Agra yang kini ada di
hadapannya.
"Lalu aku pakai apa nanti, kenapa kamu selalu
seenaknya saja !"
"Anda bisa belajar bertelanjang kaki mulai
sekarang Nona, di sini semua lingkungan nya
berupa tanah, maka biasakan lah.!"
Debat Agra dengan entengnya. Kiran mendengus
kesal saat dia sudah mulai duduk di dalam mobil.
Agra bergerak mengambil botol air mineral besar
yang ada di jok belakang. Kemudian dia meraih
kedua kaki Kiran yang langsung terkejut dan
menjauhkan kakinya dari jangkauan Agra.
"Kamu mau apa, hei.. lepas.! apa yang akan
kamu lakukan.!"
Seru Kiran saat Agra kembali menarik kakinya
kearah luar mobil. Mata Kiran membulat tak
percaya saat melihat laki-laki itu membasuh
pergelangan kakinya yang kotor terkena lumpur.
Darah Kiran berdesir hebat, dia menatap tidak
percaya pada pria yang sedang menunduk
mencuci kedua kakinya itu dengan telaten.
Pria urakan yang sangat berantakan itu kini
menjatuhkan harga dirinya dengan membasuh
kakinya, kenapa dia mau melakukannya?
Apa ini ya Tuhan..siapa sebenarnya pria ini.?
Apakah Engkau sengaja mengirimnya untuk
mendampingi dirinya.? ataukah ini semua
hanya sekedar intermezo sesaat saja.!
Agra mengangkat wajahnya, ada butiran keringat
di pelipis nya, mereka berdua saling pandang
kuat. Jantung Kiran berdetak kencang seolah
sedang bertalu hebat. Tidak salah lagi pria yang
menjadi suaminya ini memang memiliki rupa
yang sangat sempurna.Tapi sepertinya dengan
sengaja dia menyembunyikan nya dari dunia.
Setelah selesai mencuci kaki Kiran Agra meraih sesuatu di jok belakang membuat tubuh Kiran bergeser menjauh. Tidak lama kemudian pria
itu kembali meraih kedua kaki Kiran yang kali
ini terdiam seperti tersihir oleh semua perlakuan
Agra yang sangat tidak terduga itu.
Perlahan pria itu mengusap lembut kaki Kiran
yang masih sedikit basah, tubuh Kiran semakin
panas dingin saat kulit nya bersentuhan dengan
tangan pria itu, darahnya seakan bergejolak.
Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Agra memakaikan sepasang sepatu boots yang
berukuran tinggi hingga bisa menutup setengah betisnya.
"Terimakasih.. seharusnya kamu tidak perlu
repot seperti ini, aku bisa melakukan nya
sendiri.!"
Lirih Kiran sambil menundukkan kepalanya.
Agra hanya menatap datar wajah Kiran sambil
kemudian menarik napas pelan lalu memutar badannya berjalan masuk ke balik kemudi.
Kiran benar-benar dibuat tidak percaya dengan
apa yang di lihatnya saat ini. Darimana pria ini
mendapatkan sepatu ini, bahkan dengan ukuran
yang sangat pas di kakinya. Atau jangan-jangan
itu milik kekasihnya, bisa saja kan.?
Mobil mulai melaju kembali meninggalkan area
perkebunan menuju ke kantor pusat.
----- -----
Akhirnya mobil menyusuri jalanan yang cukup
bagus dengan pemandangan yang berbeda.
Ada beberapa pos penjaga yang di lewati dan
ketika melihat kedatangan Agra orang-orang
yang ada di pos itu tampak membungkuk
hormat ke arahnya. Namun ada reaksi aneh
dari Agra ketika dia mencoba berbicara
dengan para penjaga itu.
Mobil berhenti di halaman depan sebuah
bangunan rumah seperti villla hanya saja
ukurannya lebih memanjang. Ada tulisan
Pondok Sewon di gerbang depan. Dan inilah
kantor pusat perkebunan Grandnindia.
"Masuklah bersama Badar.. Aku masih ada
urusan yang harus di selesaikan.!"
Titah Agra tanpa menoleh kearah Kiran, dan
gadis itu hanya melirik sekilas kearah nya.
Kiran turun dari mobil dengan wajah berbinar.
Waktu kecil dia juga pernah datang ke tempat
ini bersama ayahnya.
"Mari Nona..selamat datang di pondok."
Sambut Badar sambil membungkuk saat Kiran
tiba di dalam pondok. Lintang juga terlihat ikut
menyambutnya dengan menunduk sedikit.
Ada 3 orang pegawai wanita lainnya yang
memilki tugas untuk mengurusi pondok ini
juga menyiapkan makanan bagi seluruh
pegawai perkebunan.
Badar segera membimbing Kiran untuk masuk
ke dalam ruangan kantornya di bagian depan.
"Ini ruangan kerja anda Nona bersama dengan
Tuan Agra.."
Jelas Badar, Kiran tampak memperhatikan
seluruh isi ruangan yang sederhana itu. Hanya
ada dua meja kerja serta satu set sofa untuk
duduk dan beristirahat.
"Baiklah..ini cukup kok Om."
Ucap Kiran sambil melihat kearah luar jendela
yang bisa dengan jelas mengamati keadaan
di sekitar pondok.
"Mari saya antar ke kamar tempat istirahat."
Ucap Badar kemudian, keduanya kembali berjalan
menyusuri ruangan lain sampai tiba di area bagian
belakang pondok. Di sana ada tiga kamar pribadi
yang salah satunya di persiapkan untuk tempat
Kiran beristirahat ataupun menginap kalau mau.
Dan di mulai lah hari pertama Kiran di tempat
ini. Dia memulainya dengan memeriksa semua
pemberkasan selama 7 tahun terakhir ini.
Sampai Dzuhur menjelang Kiran masih tampak
sibuk dengan semua urusannya. Sementara
Agra, entah kemana perginya laki-laki itu.
Yang jelas setelah tadi Kiran turun dari mobil
pria itu langsung pergi bersama dengan Bara
dan beberapa orang staf perkebunan.
Kiran baru saja selesai sholat Dzuhur saat dia
mendengar suara ribut-ribut dari arah dapur.
Hati Kiran tiba-tiba saja tidak nyaman, ada
kegelisahan yang kini di rasakannya.
Dimana Agra?
"Ada apa ini ribut-ribut mbak.?"
Tiga orang wanita setengah baya itu tampak
terkejut saat melihat kemunculan Kiran di
ambang pintu. Mereka langsung mendekat
dan menunduk di hadapan Kiran.
"Ti-tidak..ada apa-apa kok Non.."
"Jangan bohong..coba katakan yang sebenarnya
pada saya, apa ada masalah serius.?"
Kiran menatap tajam wajah ibu-ibu itu.
"Nona.. ikut saya ke ruangan.!"
Ada suara Badar di belakang membuat Kiran
memutar badannya, wajah Badar tampak sedikit
tidak nyaman, tidak berani menatap Kiran.
Kiran menatap Badar sebentar kemudian
melangkah menuju ke ruang kerjanya di
ikuti pria bertubuh tinggi besar itu.
"Ada apa Om Badar ? apa ada masalah serius.?"
Badar masih terdiam sedikit ragu untuk berbicara.
Kiran semakin tidak sabar sekaligus penasaran.
"Apa Om tidak akan berbicara.?"
"Begini Nona..semalam terjadi pembalakan liar
di wilayah timur, wilayah Cendana..!"
"Apa.? kenapa bisa ? bukankah kalian sudah
menempatkan penjaga di setiap wilayah.?"
"Benar Nona, tapi sepertinya kali ini para
pembajak sudah mempersenjatai diri dengan
lebih siap dan lengkap.!"
"Lalu apa yang terjadi.?"
"Semua penjaga di wilayah timur terluka Nona.
Dan beberapa pohon kita berhasil mereka ambil."
"Apa ? mereka semua terluka.? lalu bagaimana
sekarang kondisi mereka.?"
Kiran tampak terkejut bukan main.
"Mereka sudah di tangani, sekarang sudah ada
di puskesmas.!"
"Apa kalian telat menanganinya.?"
"Kami baru menemukan mereka saat patroli
tadi pagi. Maafkan kami Nona.."
Ucap Badar sambil menunduk dalam dengan
wajah penuh rasa bersalah. Tubuh Kiran lemas,
dia menjatuhkan dirinya diatas sofa. Ada apa
ini, baru di hari pertama kerja dirinya sudah di
hadapkan pada masalah serius yang selama
ini menjadi kendala terberat di perkebunan ini.
"Agra ada dimana sekarang.?"
Tiba-tiba Kiran resah saat teringat pada pria
itu yang belum di lihatnya lagi dari tadi.
"Dia sedang menyisir lokasi kejadian Nona.".
Perasaan Kiran semakin gelisah, ada rasa
cemas yang kini di rasakannya mengingat
entah bagaimana kondisi wilayah tersebut
dan sekarang Agra sedang ada di tempat itu.
***********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
mulai menghawatirkan sang suami ,👍😘
2023-10-26
0
Yucaw
cie..cie..ada yg mulai tak lepas memikirkan suami tamvan nya rupanya..😍😍
2022-04-03
1
Mom F
keren bgd ceritanya thor, bed adri yg lain... bakalan marathon nh bacanya...
2022-02-12
0