\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Klub khusus di pusat kota kecil..
Di sebuah ruangan yang mungkin bisa di sebut
sebagai ruang VVIP walau jauh dari kata layak,
terlihat beberapa pria berpakaian rapi sedang melakukan pembicaraan yang cukup serius.
Ada Tuan Abbas, Edgar dan juga beberapa orang
pengusaha lokal lainnya. Mereka tampaknya
sedang serius menyusun sebuah rencana.
"Kelihatannya orang suruhan Zein kali ini cukup
handal juga, apalagi sekarang putrinya ikut terjun
langsung ke lapangan.!"
Tuan Abbas tampak menyeringai penuh rasa
penasaran terhadap dua sosok menarik yang
beberapa hari ke belakang telah di temuinya.
Edgar terlihat sangat antusias, melirik tajam
kearah Tuan Abbas dengan tatapan antipati.
"Semua rencana yang telah anda susun gagal
Tuan, tidak ada satupun yang dapat mengusir
keberadaan kedua orang itu.!"
Desis Edgar sambil tersenyum mengejek. Tuan
Abbas merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Pengawal itu lumayan juga kemampuan nya,
tapi kalau soal putri Zein, tampaknya dia sudah lumayan trauma."
"Perlu aku ingatkan sekali lagi Tuan penguasa..
jangan sampai gadis itu mengalami luka lecet
sedikitpun.!"
"Tenang saja..aku pun sangat tertarik pada
wanita itu, dia gadis yang sangat menggiurkan.!"
"Ingat, gadis itu adalah jatahku.!"
"Hahaa..kau yang pertama, tidak masalah kalau
aku dapat jatah kedua. Kelihatan nya gadis itu
masih sangat murni..!"
"Gadis itu benar-benar luar biasa, hanya dengan
membayangkan keindahan tubuh nya saja, hasrat
ku bisa langsung menanjak.!"
Dengus Edgar dengan tidak tahu malu nya. Dua
orang pria lainnya tampak begitu tertarik.
"Benar-benar membuatku penasaran.!"
Desis seorang pria paruh baya yang kelihatannya
sudah siap dengan setelan resminya.
Tuan Abbas dan Edgar menatap pria paruh baya
tadi kemudian mereka menyeringai penuh arti.
"Kita jalankan rencana selanjutnya saat ini juga.
Kalau ini gagal, masih ada rencana lain nya untuk
melenyapkan pria itu dari muka bumi ini.!"
Geram Edgar dengan seringai iblis nya. Mereka
semua tertawa seolah kemenangan sudah ada
di depan mata.
------- -------
Agra memarkir mobilnya di area khusus yang
sudah di arahkan oleh seorang petugas parkir.
Kiran tampak mengernyitkan alisnya melihat
tempat pertemuan yang sudah di tentukan oleh
Tuan Hasim tersebut.
"Apa ini.? kenapa tempatnya seperti ini.?"
Gumam Kiran mulai merasakan tidak nyaman.
Dia melirik kearah Agra yang sedang mengamati
keadaan, tidak lama pria itu melakukan panggilan
telepon.
"Tetap di posisi.. kalau aku tidak keluar dalam
waktu setengah jam kalian boleh masuk.!"
"Baik Tuan..kami siaga sekarang.!"
Sahut suara di sebrang sana. Agra mengakhiri
panggilannya, dia melirik kearah Kiran, keduanya
saling pandang dalam diam.
"Kita lihat dulu, apa yang sedang di rencanakan
oleh orang tua itu.!"
Desis Agra mencoba meyakinkan Kiran yang
tampak menggeleng ragu, kembali melihat dan mengamati keadaan sekitar gedung yang sangat
di jaga ketat itu. Sekilas tempat ini seperti gedung yang tidak berpenghuni, sedikit menyeramkan
dengan suasana di sekitar nya yang minim penerangan.
"Tapi..tempat ini menyeramkan Agra..kalau
tahu akan seperti ini tempatnya, lebih baik
bagiku untuk membatalkan kesepakatan saja.!"
Keluh Kiran menyesali keputusannya untuk
datang ke tempat ini menemui kliennya yang
tiba-tiba saja memintanya bertemu di tempat
ini, tempat yang sudah di tentukan oleh nya.
"Kau memang keras kepala, dari awal aku sudah
memperingatkan padamu.!"
Desis Agra, dia keluar dari dalam mobil kemudian memutar badannya membuka pintu penumpang.
Kiran masih tampak ragu untuk turun. Agra
membuka dashboard mobil nya mengeluarkan
masker dari dalam sana.
Tanpa kata pria itu memakaikan masker tadi
ke wajah Kiran yang hanya bisa terdiam tidak bergerak. Dia hanya bisa menatap diam wajah
datar suaminya itu.
"Jangan membukanya sampai kita keluar dari
tempat ini, ayo kita masuk.!"
"Tapi Agra..aku takut, bagaimana kalau mereka
merencanakan sesuatu.!"
Kiran memegang tangan Agra penuh rasa ragu
sekaligus kekhawatiran yang kini tiba-tiba saja
menganggu perasaannya.
"Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik
saja, kita lihat apa yang sebenarnya mereka
inginkan.!"
Suara Agra terdengar tenang namun tegas.
Akhirnya Kiran mengangguk pelan.
"Tetaplah di dekatku, bersamaku.!"
Titah Agra sambil kemudian mengetatkan jaket
yang di pakai Kiran. Keduanya saling pandang
kuat, hingga akhirnya Agra membantu Kiran
turun dari mobil setelah itu mereka mulai
berjalan kearah pintu masuk.
Ada beberapa penjaga berbadan besar di pintu
masuk yang langsung menghadang kedatangan
mereka dengan menghalanginya menggunakan
sebuah benda detektor.
"Kami ada janji bertemu dengan Tuan Hasim.!"
Tegas Agra dengan suara beratnya. Petugas itu
tampak terdiam sebentar, menatap intens wajah
Kiran yang tertutup masker.
"Tolong buka penutup wajahnya.! "
Tunjuk nya pada wajah Kiran yang langsung saja
terkejut dan tegang.
"Jangan macam-macam..! kami hanya akan
sebentar saja berada di dalam.!"
Geram Agra sambil menepis tangan petugas itu
yang terulur kearah Kiran. Gadis itu mundur ke
belakang tubuh Agra, tangan mereka saling
menggenggam kuat.
Petugas tadi saling mengadu tatap dengan Agra
dan hanya dalam beberapa detik saja orang itu
langsung menundukkan kepalanya.
"Silahkan masuk.!"
Ucapnya kemudian. Agra dan Kiran masuk ke
dalam ruangan yang terlihat remang-remang
itu. Setelah melewati satu ruangan paling depan
mereka sampai di ruangan utama yang sontak
saja membuat Kiran membelalakan matanya
melihat pemandangan yang tersaji di dalamnya.
Puluhan orang sedang duduk melingkar di meja-
meja bundar. Mereka sedang melakukan praktek
perjudian. Ada juga yang sedang minum-minum,
bermain perempuan dengan melakukan hal-hal
di luar batas di tempat terbuka. Sebagian lagi ada
yang sedang berjoget ria dengan suasana yang langsung membuat bulu kuduk Kiran merinding.
Sungguh sebuah pemandangan yang sangat
mengerikan.Tempat tertutup ini ternyata markas
segala kebusukan yang terjadi di balik kehidupan
sederhana warga masyarakat di kota kecil ini.
Tidak terbayangkan sebelumnya oleh Kiran
kalau dia akan melihat dan menyaksikan sendiri
tempat yang sangat menjijikkan ini.
"Agra.. sebaiknya kita keluar saja, tampaknya ini
bukan tempat yang layak untuk kita datangi..!"
Bisik Kiran sambil merapatkan dirinya ke dekat
Agra yang terlihat santai saja melihat semua ini.
"Tenanglah..jangan membuat pergerakan yang
bisa membuat mereka curiga.!"
"Tapi aku tidak nyaman ada di tempat ini Agra..
Kau lihat bagaimana manusia-manusia itu.!"
"Aku tahu, tetaplah tenang..Kau bersamaku.!"
Bisik Agra berusaha menenangkan. Akhirnya
Kiran mencoba memberanikan diri, dia berjalan
tenang di samping Agra yang melangkah naik
ke lantai kedua melewati orang-orang yang
mulai melirik kearah kedatangan mereka.
Postur tubuh mereka yang berbeda dari orang
lain tampak nya cukup menarik perhatian orang-
orang itu, apalagi bentuk tubuh Kiran yang tinggi ramping dengan lekuk yang menggiurkan
membuat semua mata lelaki di tempat itu
menatapnya penuh minat.
Agra mempercepat langkah nya hingga kini
mereka ada di depan sebuah ruangan VVIP
yang hanya ada satu-satunya di tempat itu.
"Silahkan.. kalian sudah di tunggu oleh Tuan
Hasim.!"
Seorang laki-laki bertubuh besar berkumis tebal
membukakan pintu ruangan. Agra dan Kiran
masuk ke dalam ruangan itu di sambut oleh
seorang pria paruh baya dan beberapa orang
pria yang ada di tempat itu.
Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya mereka
duduk saling berhadapan langsung melakukan
pembicaraan. Namun seperti dugaan awal Agra, laki-laki itu tampak nya memang tidak serius
dengan komitmen nya. Pria paruh baya itu
menjatuhkan harga yang sama dengan yang
sudah di tawarkan oleh perusahaan Edgar.
Kiran habis kesabaran, dia merasa sia-sia saja
datang ke tempat yang sangat tidak layak ini.
Orang tua ini ternyata hanya mempermainkan
dirinya saja, dia mulai merasakan gelagat tidak
beres dari gesture tubuh pria setengah baya itu.
"Baiklah Tuan, saya rasa pembicaraan ini cukup
sampai di sini saja, tidak ada kesepakatan apa
pun yang bisa kita lakukan sekarang.!"
Kiran mengakhiri pembicaraan nya sambil
membereskan kembali semua berkas dari
atas meja.Tuan Hasim nampak tersenyum
miring melihat reaksi keras Kiran.
"Haha..Nona Kiran.. tenanglah, jangan emosi
dulu. Saya kira kita masih bisa membicarakan
ini baik-baik, bagaimana kalau saya menaikkan
harga sesuai dengan keinginan anda.!"
Kiran menatap tajam wajah pria bertubuh subur
itu dengan sorot mata tidak percaya.
"Apa maksud anda Tuan.?"
"Kita bisa membuat kesepakatan baru yang
tentunya sama-sama menguntungkan.!"
"Tuan Hasim.. sebagai seorang pengusaha, saya
rasa anda tahu benar arti sebuah komitmen.!apa
yang anda inginkan sebenarnya.?"
Seringai senyum licik tergambar di raut wajah
pria setengah baya itu. Dia melirik sekilas ke
arah Agra yang dari tadi hanya diam melihat
dan mengamati keadaan. Wajah pria dengan
tampang urakan itu terlihat sangat dingin.
"Kami akan memberikan harga melebihi apa
yang anda tawarkan asalkan Nona bersedia
menemani kami makan malam.!"
Brakk !!
Dalam sekali gerakan Agra melempar meja besar
yang ada di depan mereka semua hingga jatuh
membentur dinding ruangan, hancur berantakan.
Semua mata orang-orang yang ada di tempat itu
tampak melongo kaget dengan gerakan cepat
Agra.
Kiran mundur ke belakang Agra setelah pria itu
menarik tangannya. Kini Agra berdiri tegak di
hadapan 5 pria tadi yang langsung mundur
dengan wajah tegang.
"Kau..hanyalah pengusaha kecil, tapi mulut dan
nyalimu cukup besar juga rupanya.!"
Agra menggeram seraya maju mengepalkan
kedua tinjunya dengan menggerakkan kepala
nya, tatapannya tampak menyala bagai seekor
harimau buas yang siap menerkam mangsa.
"Hei..kau hanyalah seorang penjaga kebun, kau
tidak punya urusan disini, sebaiknya kamu enyah
dari tempat ini kalau tidak ingin nyawamu lenyap malam ini juga.!"
Gertak Tuan Hasim sambil menatap waspada
melihat pergerakan Agra yang semakin maju.
"Kau sudah berani menghina ku.! kau berani
menghina milikku, aku pastikan hidupmu ke
depan tidak akan sama lagi.!"
Geram Agra dengan intonasi suara yang berbeda
penuh dengan intimidasi. Tuan Hasim tampak tersenyum remeh saat mendengar ucapan Agra barusan.
"Hahaa..kau hanyalah kacung rendahan, justru
hidupmu lah yang akan berakhir malam ini !"
Ucap Tuan Hasim sambil kemudian bertepuk
tangan 2 kali, dan tiba-tiba ke dalam ruangan
muncul beberapa pria berbadan besar yang
masing-masing membawa senjata di tangan.
Kiran langsung memucat melihat orang-orang
itu, dia mundur merapatkan dirinya di dinding
ruangan di belakang tubuh Agra.
Sementara Agra hanya tersenyum sinis melihat
kearah kedatangan orang-orang itu.
"Ayo maju kalian semua..!"
Tantang Agra tanpa takut sedikitpun, orang-
orang itu saling lirik sebentar, geram melihat
Agra yang terlihat tidak ada takut-takut nya.
"Serang...!!"
Seru Tuan Hasim, serentak orang-orang berbadan
besar itu maju menyerang Agra dari arah depan
dengan gerakan yang sangat brutal.
Akhirnya perkelahian pun tidak bisa di hindari.
Dengan gerakan cepat dan lincah Agra meladeni
serangan orang-orang itu tanpa kesulitan.
Beberapa saat kemudian mereka semua sudah
terdesak dan mulai berjatuhan satu per satu.
Namun dari arah pintu masuk kembali datang
beberapa orang dengan senjata yang lebih
lengkap, tampaknya semua ini memang sudah
di siapkan dengan sangat baik.
Wajah Kiran semakin terlihat pucat saat Agra
di kurung dan di serang oleh sekitar 10 orang
dengan senjata lengkap di tangan.
"Agra awass...!"
Kiran menjerit histeris saat salah satu lawan
nya berhasil memasukkan tendangan ke tubuh
bagian belakang Agra hingga dia terhuyung ke
depan dan lawan dari depan kembali mencoba
memukulnya. Namun Agra berhasil menghindar
dan kembali pada posisi siap.
"Awww.. lepasin.! Agraa...!"
Kiran mencoba berontak ketika tiba-tiba Tuan
Hasim dan dua temannya menyeret tangan Kiran
di bawa keluar ruangan. Mata Agra tampak
makin menyala dia mempercepat gerakan nya
membagikan pukulan dan tendangan kearah
lawan-lawan nya yang langsung berjatuhan.
Kiran kini di paksa turun ke lantai bawah, Tuan
Hasim berhasil merenggut masker dari wajah
Kiran hingga kini semua mata tertuju padanya.
"Lepasin..! apa yang kalian inginkan.!"
Teriak Kiran mencoba melepaskan diri dari
cengkraman tangan Tuan Hasim yang masih
menganga menatap terpesona padanya.
Semua orang yang tadi sedang melakukan
aktifitas masing-masing kini bergerak bangkit
seperti robot, maju mendekat kearah Kiran
yang masih mencoba melepaskan diri.
"Wah wahh.. darimana datangnya bidadari ini,
kenapa wanita secantik ini bisa kesasar ke
tempat ini.!"
Ucap seorang pria dengan tatapan tiada henti
melahap sekujur tubuh Kiran yang kini terdiam
gemetar melihat manusia-manusia aneh itu
maju secara bersamaan kearah nya.
"Sepertinya dia memang sengaja di kirim untuk
menghangatkan malam ini..!"
Sahut yang lain dengan tatapan liarnya. Kiran
semakin syok melihat semua pemandangan
mengerikan itu.
"Agraa.... tolong akuu...!"
Kiran menjerit histeris saat orang-orang itu kini
merangsek maju seakan ingin menerkamnya.
Namun sebelum manusia-manusia itu bisa
menyentuh Kiran Agra datang meloncat dari
lantai atas langsung menyerang membabat
habis orang-orang yang ada di barisan paling
depan termasuk Tuan Hasim.
Tanpa jeda Agra kembali menghajar Tuan Hasim
habis-habisan hingga pria paruh baya itu kini
tergeletak tak berdaya dalam keadaan babak
belur mengenaskan.
Kiran melompat kedalam pelukan Agra saat
pria itu mendekat padanya. Agra balik memeluk
erat tubuh Kiran dengan satu tangan tapi dia
tetap waspada karena orang-orang yang lain
kini maju merangsek kearahnya.
"Agraa..aku takuut..tolong bawa aku dari sini..!"
Isak Kiran makin mempererat pelukannya.
Masih memeluk Kiran, Agra mundur perlahan
ke sisi ruangan, dia mengeluarkan senjata dan
meletuskan nya ke udara memberi peringatan.
"Berhenti..! atau kalian akan terluka..!"
Bentakkan Agra menggema di dalam ruangan
membuat semua orang terdiam di tempat.
Namun dari arah lain kembali berdatangan
pasukan baru yang siap menyerang nya dan
menghabisinya..
**********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Mar Wiyah
kalau sy lebih suka cerita putra mahkota..soalnya emosi turun naik di buatnya🤣🤣🙏🙏
2024-09-20
0
andi hastutty
kisah Devan paling top wanitanya tangguh
2023-10-27
1
pa_inah
gemessss ikkk, tokoh utama yg merepotkan😅😅
2023-03-17
1