***********
Tamat sudah karir para perampok itu di tangan
seorang pria dengan tampang urakan itu.
Seringai senyum sinis tersungging dari bibir
tipis Agra yang kini maju mendekat ke hadapan
para perampok yang sudah tidak berdaya itu.
Agra berjongkok, bertumpu di satu kaki sambil
menggeleng mengejek kepala perampok yang
terlihat menunduk ketakutan.
"Bagaimana.. apakah kalian masih penasaran
padaku.? kalau masih punya nyali ayo berdiri.!"
Tantang Agra sambil menepuk pundak kepala
perampok yang langsung meringis.
"Ti-tidak Tuan, kami tidak berani.! kami kapok.!
Ampuni kami Tuan, kami mohon.."
Desis kepala perampok sambil menunduk
memuntahkan darah dari mulutnya.
Agra bangkit, berdiri menjulang di hadapan para perampok itu yang terlihat semakin ketakutan
saat melihat pria itu meraih pentungan kemudian
di letakkan di bahu nya dengan posisi siap
menghajar mereka habis-habisan.
"Apa aku perlu menggunakan alat ini untuk
menutup riwayat kalian.?"
"Ampuni kami Tuan.! kami mohon ampuni nyawa
kami.! Kami tidak akan menggangu anda lagi.
Bahkan kami siap mengabdi pada anda.!"
Ucap pemimpin perampok dengan gemetaran
seraya duduk bersimpuh di hadapan Agra dengan
posisi kedua tangan menyembah memohon
pengampunan untuk nyawa mereka. Agra tampak
berdiri santai masih menatap orang-orang tak
berguna itu satu persatu. Pentungan tadi di
mainkan di tangan kanannya.
Kemudian ujung pentungan itu di gunakan
untuk menekan bahu kepala perampok yang
semakin kalangkabut ketakutan.
"Baiklah, kali ini aku ampuni nyawa kalian.! tapi
sekali lagi kalian mencari masalah, maka riwayat
kalian akan tamat.!"
Desis Agra dengan suara bariton nya yang sangat
mengintimidasi membuat tubuh para perampok
itu semakin gemetar hebat menahan rasa takut
sekaligus rasa sakit di seluruh badan.
"Ba-baik Tuan..kami akan berhenti mulai saat
ini juga.! kami taubat Tuan..!"
"Bagus..! carilah pekerjaan yang layak tanpa
harus menaruhkan nyawa orang juga nyawa
kalian sendiri.!"
"Baik Tuan..Terimakasih atas kemurahan hati
anda. Kapanpun anda butuh tenaga kami, maka
kami siap melayani anda sepenuh hati.!"
"Siapa namamu.?"
"Godam Tuan..!"
"Baiklah..aku ada di perkebunan Grandnindia.!"
"Baik Tuan, kami tahu tempat nya.!"
"Sekarang kalian boleh pergi.!"
"Terimakasih Tuan, kami permisi.!"
Akhirnya dengan susah payah para perampok
itu pergi dari hadapan Agra yang masih berdiri
sambil tersenyum miring seraya memainkan
pentungan di tangannya dengan gaya bad boy
yang sangat kental.
Dia membalikkan badannya, tatapannya kini
bertabrakan dengan mata Kiran yang terlihat
masih sedikit syok. Agra berjalan santai menuju
kearah mobil, tidak terlihat sama sekali kalau
dia habis melakukan pertarungan seru barusan.
Dari tadi Kiran terus memperhatikan interaksi
antara Agra dan para perampok itu. Sebenarnya
dia masih sedikit syok saat melihat bagaimana
cepatnya Agra membereskan sampah jalanan
itu. Dia itu benar-benar manusia kan.? bukan
hantu atau mahluk asing.? kok bisa secepat itu
gerakannya dalam mengatasi para perampok
tadi.?
Mata Kiran masih menatap tidak percaya saat
sosok Agra sudah kembali duduk di balik kemudi. Keduanya tampak saling pandang sesaat sampai
akhirnya tanpa basa basi lagi pria itu kembali
melajukan mobilnya dengan tenang.
"Ka-kamu..tidak apa-apa ? tidak terluka kan ?"
Tanya Kiran ragu-ragu setelah dia menguasai
kembali dirinya. Agra meliriknya sekilas.
"Anda lihat sendiri kan kalau saya baik-baik saja
Nona, kenapa masih bertanya.?"
Hahh..? dasar laki-laki aneh.! di tanya baik-baik
kok malah terkesan tidak suka.! Kiran merutuki
Agra di dalam hatinya.
"Aku kan hanya bertanya Tuan Agra..kalau tidak
suka ya tidak usah di jawab.!"
Ketus Kiran berubah kesal bukan main, padahal
tadi dia sempat mencemaskan nya. Ada segaris
senyum tipis di sudut bibir Agra.
"Mereka hanyalah cacing-cacing kelaparan.!
mencari makan dengan menaruhkan nyawa
nya sendiri, sangat menyedihkan.!"
Desis Agra yang membuat Kiran langsung saja
melirik kearahnya. Kiran berusaha mencerna
perkataan Agra yang terdengar berkesan itu.
"Masih banyak pekerjaan yang bisa mereka
lakukan selain merampas hak orang lain.!"
Sahut Kiran menanggapi perkataan Agra.
"Otak mereka hanya sebatas bisa menyambung
nyawa dengan cara pintas.!"
"Apa di daerah ini masih banyak orang-orang
seperti mereka tadi.?"
Tanya Kiran dengan nada yang mulai tidak
nyaman. Agra kembali melirik kearahnya.
Keduanya saling pandang sesaat.
"Hampir di setiap sudut tempat ada.!"
"Apa ?? yang benar saja.??"
Kiran terlihat membulatkan matanya terkejut
sekaligus syok. Agra tersenyum tipis melihat
reaksi Kiran yang berlebihan.
"Tentu saja tidak Nona, hanya ada di beberapa
titik saja.!"
Kilah Agra berusaha menenangkan dengan
menahan tawanya. Kiran menatap tajam wajah
Agra yang di anggapnya sudah menakut-nakuti
dirinya, dia melengos sebal. Namun tidak lama
kemudian dia kembali melirik kearah Agra yang
kembali fokus ke jalanan sebab kini sudah
mulai memasuki kawasan pemukiman.
Diam-diam Kiran memperhatikan laki-laki yang
sudah sah menjadi suaminya itu. Ada tetesan
keringat di dahinya, rambut nya juga berantakan
basah oleh keringat, terlihat seksi dan menarik.
Ingin rasanya Kiran mengusap keringat itu.
Loh..apa-apaan ini, kenapa dia jadi mengagumi
laki-laki aneh itu sih.! Kiran menggelengkan
kepala nya membuang semua keliaran isi pikiran
nya yang tidak bisa lepas dari sosok nyentrik
di sebelahnya itu.
Agra bergerak melepaskan jaket yang di pakai
nya karena dia mulai merasa kegerahan akibat
perkelahian tadi.
"Hei..kamu mau apa.?"
Kiran menatap curiga sambil meringis menjauh.
"Memangnya Nona pikir saya mau apa.?"
Sahut Agra melirik gerah kearah Kiran. Dia meneruskan gerakannya membuka jaket dengan
satu tangan. Kiran mengamati gerakan lelaki itu
yang tampaknya sedikit kesulitan.
"Biar aku bantu.!"
Ucapnya ragu sambil mengulurkan tangannya
mencoba menarik jaket itu dari tangan Agra yang
hanya melihatnya sekilas. Akhirnya jaket itu kini
terlepas, menyisakan tubuh gagah Agra yang
hanya terbungkus kaos hitam pas body. Agra
melempar jaketnya ke jok belakang.
Wajah Kiran sempat memerah saat melihat
bagaimana tegapnya tubuh pengawal sekaligus
suaminya itu. Aroma maskulin yang sangat
menenangkan kini menguar dari tubuh laki-laki
itu. Kiran sempat menautkan alisnya heran,
saat mencium aroma maskulin mewah bisa
menguar dari tubuh suaminya itu.
Bagaimana bisa pria sekelas penjaga kebun
milik keluarganya mampu memiliki parfum
semahal ini. Karena Kiran tahu pasti jenis
parfum apa yang kini memenuhi indra
penciuman nya itu.
"Kita sudah memasuki kawasan desa Girilaya
Nona sebentar lagi sampai."
Terang Agra tanpa menoleh kearah Kiran
membuat Kiran tersentak dari lamunannya.
"Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga."
Lirih Kiran seraya memperhatikan keadaan
sekitar yang di lalui nya.
Desa Girilaya tempat villa keluarga Tuan Zein
berada adalah sebuah desa yang sangat indah
dan masih sangat asri serta alami. Di desa ini
juga terdapat sebuah air terjun yang sangat
eksotis dengan keindahan panorama alam di
sekitarnya yang memanjakan mata.
Dan letak Villla keluarga nya tidak jauh dari air
terjun itu, bahkan dari atas lantai 2 rumahnya keberadaan air terjun itu bisa terlihat dengan
jelas dan nyata. Kiran benar-benar tidak sabar
ingin segera tiba di villla kemudian menikmati
semua keindahan alam di sekitar tempat itu.
Penduduk asli desa ini sangat ramah dan terbuka
kepada para pendatang karena sebagian besar
perkebunan milik pihak swasta ada di wilayah
desa ini termasuk juga perkebunan milik Tuan
Zein yang kini sudah berpindah tangan tanpa
di ketahui oleh Kiran.
Mata pencaharian penduduk nya sebagian
besar adalah sebagai buruh perkebunan yang
mengais rejeki dari mengurusi ladang ataupun memetik hasil perkebunan yang terdiri sawit,
karet dan banyak lagi jenis perkebunan lainnya.
Perkebunan Tuan Zein terdiri dari kayu Cendana,
kayu jati dan berbagai jenis kayu berkualitas
lainnya yang selama ini ada di bawah pimpinan
Badar sebagai orang kepercayaan Tuan Zein.
Akhirnya setelah perjalanan panjang yang sangat
melelahkan mereka tiba juga di halaman Villa
yang terlihat masih sangat terawat dengan baik.
Selama ini Villa itu di huni oleh Badar laki-laki
berumur 45 tahunan bersama Rasmi istrinya.
Mereka juga memiliki seorang anak laki-laki
berumur 15 tahunan bernama Bani.
Kedatangan mereka di sambut oleh barisan
orang-orang kepercayaan Tuan Zein.
Ada Badar, Rasmi, Bani , dua orang bawahan
Badar, serta seorang pria muda seumuran
Agra yang terlihat berpenampilan sedikit rapi
dan berbeda dari yang lainnya.
Mereka semua terlihat terdiam di tempat, tidak
mampu bergerak, begitu terkesima saat melihat
kemunculan Kiran dari dalam mobil.
"Ya Allah..Nona Kiran cantik banget.."
Gumam Bani dengan polosnya. Semua orang
langsung tersadar begitu mendengar gumaman
Bani dan spontan memukul kepala anak muda
itu supaya dia segera tersadar.
"Selamat datang Nona Kiran..Maaf saya tidak
bisa langsung menjemput anda kemarin."
Sambut Badar sambil membungkuk hormat di
hadapan Kiran dan Agra yang terlihat berdiri
tenang di dekat pintu mobil.
"Tidak apa Om Badar..yang penting sekarang
kan Kiran sudah sampai di sini dengan selamat."
Sahut Kiran seraya tersenyum lembut membuat
semua mata kembali terkesima. Mbak Rasmi
segera mendekat lalu menunduk di hadapan
Kiran di ikuti oleh Bani dan dua orang lainnya.
"Selamat datang di desa kami Nona Kiran.."
Sambut mereka kompak masih menundukkan
kepala tidak berani menatap wajah yang sangat
menyilaukan mata itu.
"Terimakasih atas sambutan kalian semua. Saya senang banget bisa berada di sini."
Ucap Kiran dengan suara lembut nya yang
mampu menentramkan jiwa.Pria yang berbeda
tadi ikut mendekat kearah Kiran lalu menunduk
sedikit di hadapannya.
"Selamat datang Nona Kiran..perkenalkan saya
Bara, asisten pribadi Tuan Agra..!"
Ucap pria itu mengenalkan dirinya sebagai Bara
sang asisten pribadi Agra. Kiran membalas nya
dengan menunduk sedikit seraya menautkan alis
nya karena bingung. Asisten pribadi.? sebenarnya siapa Agra di sini.?
"Mari Nona.. silahkan masuk.! anda harus segera
istirahat, mbak sengaja sudah masak banyak,
spesial loh untuk menyambut kedatangan Nona."
Mbak Rasmi segera membimbing Kiran untuk
masuk ke dalam Villa, Kiran mengangguk seraya kembali tersenyum lembut. Namun sebelum melangkah masuk Kiran melirik kearah Agra
yang masih terlihat betah dengan posisi nya
semula, bersandar di badan mobil dengan
tatapan datar ke arah dirinya.
Akhirnya Kiran masuk bersama dengan Rasmi
dan Bani meninggalkan para pria dewasa yang
kini terlihat mulai di selimuti ketegangan saat
melihat raut muka Agra berubah dingin.
"Kenapa Tuan tidak menghubungi kami kalau
mengalami kesulitan di jalan."
Ucap Badar pelan sambil menundukkan kepala
dalam di hadapan Agra yang masih dalam mode
beku. Sebagai bawahan Badar merasa sangat
tidak berguna karena tidak bisa melindungi majikannya itu dari kesulitan yang di alaminya.
Namun dia juga tidak bisa apa-apa karena semua sudah di atur sendiri oleh Agra.
"Semuanya masih bisa aku tangani sendiri.!
Yang penting mulai sekarang jangan biarkan
dia mengalami kesulitan apapun selama tinggal
di tempat ini.!"
"Baik Tuan, kami mengerti.!"
"Kembalilah ke perkebunan.! pastikan semua
nya aman dan terkendali.! jangan lengah.!"
Titah Agra dengan suara yang sangat tegas.
"Baik Tuan, kalau begitu kami permisi."
Sahut Badar, dia menunduk sebentar di ikuti
oleh dua orang bawahannya kemudian masuk
ke dalam mobil Jeep nya setelah itu pergi menuju
ke perkebunan karena sudah waktunya keliling.
"Jadi Tuan sudah menikahi Nona Kiran.?"
Bara berdiri tenang di samping Agra yang
terlihat menatap lurus ke depan.
"Hemm.. semuanya di luar dugaan. "
"Sepertinya Tuhan sudah mengatur semuanya
dengan baik.!"
"Gadis itu tidak akan bisa menerima semua
ini dengan mudah.!"
"Tapi pernikahan kalian sudah sah secara hukum
agama maupun negara Tuan."
Agra menarik napas panjang, kemudian mulai
melangkah masuk ke dalam villa di ikuti oleh
Bara yang hanya bisa mengangkat bahunya.
**********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
orang kaya pura2 miskin jadi pengawal
2023-10-26
0
Siti hawa
Adeh2…hehehehe
2022-11-12
0
Neni Bunda Alif
nikah nya gampang banget ya thor....cuma dua jam langsung beres surat" nya....klw d sini daftar dl lm proses nya
2022-05-04
1