8. Barbie Hidup

 

***********

 

Suara adzan ashar membangunkan Kiran dari

tidur nyenyak nya. Rupanya karena kelelahan,

setelah melaksanakan sholat Dzuhur dia malah tertidur lelap saat mencoba merebahkan

tubuhnya, padahal niat awalnya hanya ingin beristirahat saja sebentar.

Untuk sesaat dia tampak terkejut mendapati

dirinya terbangun di tempat asing. Dia terbaring

di atas tempat tidur yang cukup besar dengan

kasur yang nyaman di tambah semilir angin sejuk

yang berasal dari puncak gunung yang berada

di belakang Villa.

Kiran bangkit dari tidurnya, menegakkan badan,

kemudian meregangkan otot-otot lehernya yang

sedikit kaku. Tidak lama dia turun dari atas kasur

berjalan kearah jendela kamar yang terbuka lebar

hanya terhalang oleh teralis besi saja.

Kiran kembali merentangkan kedua tangannya

mencoba untuk menghirup udara segar yang

datang menerpa wajah cantik jelita nya. Kiran

memejamkan matanya, namun beberapa saat

kemudian dia tersentak, membuka matanya

dengan alis yang bertaut dalam. Kenapa wajah

pengawalnya itu tiba-tiba saja melintas dalam

ingatannya.

Astagfirullah.. bukankah laki-laki itu sekarang

sudah jadi suaminya.? harus bagaimana kah

kini dia bersikap.? walau bagaimanapun dia

adalah suaminya, dirinya punya kewajiban

untuk melayani dan mengurus semua keperluan

nya, tapi bukankah dia sudah memutuskan

bahwa mereka akan mengabaikan semua itu.

Kiran kembali ke atas tempat tidur. Dia terdiam

dalam kebingungan. Bagaimana ini ya Allah.?

Dia menutup wajahnya di tengah kebingungan.

Tidak ingin terus larut dalam kebimbangan,

akhirnya dia beranjak masuk ke kamar mandi

untuk segera melaksanakan kewajibannya.

Pintu kamar Kiran yang ada di lantai 2 itu di ketuk

dari luar, terdengar suara Rasmi memangilnya.

Kiran membuka pintu, dia melihat wanita 40

tahun itu tengah berdiri di depan pintu dengan

mulut menganga melihat penampilan dirinya.

Saat ini Kiran mengenakkan gaun terusan cantik

warna kuning koral di bawah lutut tanpa lengan, rambutnya tergerai indah , hal itu membuat dia

tampak bagaikan boneka barbie cantik yang

menjelma menjadi manusia.

"Mbak Rasmi..hei..Kiran di sini.!"

Kiran melambaikan tangan di depan wajah Rasmi

yang langsung tersipu malu menundukkan wajah.

"Maaf Nona Kiran kalau mbak kurang sopan.."

Ucap Rasmi merasa bersalah, Kiran hanya bisa

menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Tidak apa-apa mbak, ayo kita turun..Kiran udah

lapar banget nih, Kiran pengen makan makanan

khas di sini, mbak udah bikin kan.?"

"Hee iya sudah Non..mari.."

Keduanya kemudian turun dari lantai atas

langsung menuju ke ruang makan.

Tiba di ruang makan wajah Kiran tampak

berbinar senang saat melihat di meja makan

telah tersedia berbagai macam hidangan khas

daerah itu. Dengan penuh semangat juga rasa

lapar yang sudah menyerang nya Kiran duduk di

kursi yang sudah di siapkan oleh Rasmi.

"Pada kemana orang-orang mbak.?"

Tanya Kiran seraya memperhatikan keadaan

di sekita Villa yang dapat di lihatnya dari jendela

ruangan yang berukuran lebar dan terbuka. Hanya

ada Bani saja yang terlihat sedang menyiram

bunga di halaman.

"Masih di perkebunan Non."

Sahut Rasmi sambil menuang makanan ke

piring Kiran dengan cekatan dan telaten.

"Makasih ya mbak, besok-besok tidak perlu

repot begini, biar Kiran ambil sendiri."

"Tidak apa-apa Nona, saya senang melakukan

nya, sudah lama sekali saya ingin melayani

Nona seperti ini."

Ucap Rasmi dengan tersenyum hangat, sangat

jelas terlihat kalau dia memang senang sekali

dengan apa yang di lakukannya.

"Baiklah kalau begitu terserah mbak saja."

Sahut Kiran memulai makan sore nya di temani

semilir angin yang mulai terasa semakin dingin.

Kiran tampak sangat menikmati makanan yang

di buat Rasmi tersebut. Memang terasa sedikit

berbeda di lidahnya, namun cukup lezat.

Rasmi duduk di sebrang nya menemani Nona

nya itu sambil berbincang kecil.

Selang beberapa lama terdengar suara-suara

mobil di halaman.

"Apa mereka sudah kembali.?"

Tanya Kiran dengan perasaan yang tiba-tiba

saja tidak menentu saat bayangan wajah Agra

kembali melintas. Rasmi beranjak dari duduknya berjalan kearah jendela untuk melihat keadaan

di halaman depan.

"Iya Non, mereka baru saja kembali. Tapi kok

sepertinya ada Pak Nurdin dan staf nya juga

ya , mau apa mereka kesini.!"

Jawab Rasmi masih memperhatikan keadaan

di luar karena terlihat kedatangan beberapa

orang yang kini sedang berbicara dengan Agra

dan Badar juga yang lainnya.

"Siapa itu Pak Nurdin mbak.?"

"Kepala desa Non.."

Mendengar itu Kiran cepat-cepat mengakhiri makannya bersamaan dengan kemunculan Bani

ke ruangan itu. Sejenak pemuda itu malah berdiri mematung di depan pintu, menatap terpesona

kearah Kiran.

"Bani..! jaga kesopanan mu di depan Nona Kiran.!"

Tegur Rasmi menatap tajam wajah anak lelakinya

itu yang langsung menunduk dengan wajah malu-malu.

"Ada apa Bani.?"

Kiran berdiri dari duduknya, menatap Bani penuh

rasa penasaran.

"Maaf Nona..Tuan Agra memanggil Nona ke

depan, Pak Nurdin mau bertemu."

"Ohh.. baiklah..ayoo..!"

Kiran menepuk bahu pemuda itu sambil berjalan

melewatinya dengan menebarkan aroma wangi

yang sangat menenangkan hingga membuat

mata pemuda tanggung itu terpejam kuat.

"Jaga sikap kamu di hadapan Nona Kiran.!

Rasmi memberi peringatan pada putranya itu

yang hanya nyengir kuda .

"Habisnya baru kali ini Bani melihat wanita

secantik Nona Kiran Bu.."

"Bukankah mbak Lintang mu itu adalah gadis

tercantik di dunia ini."

Ejek Rasmi sambil membereskan makanan.

Bani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hee..iya sih bu, tapi itu kemarin sebelum saya

melihat Nona Kiran.."

Kilah Bani yang langsung mendapat sentilan

pelan di keningnya.

"Dasar bocah gemblung, makanya sekolah saja

yang benar, tidak usah memikirkan cewek dulu,

kamu itu masih bau kencur.!"

"Bani sudah remaja Bu, Bani juga tahu wanita

yang menarik itu seperti apa.!"

"Huss.! sudah-sudah.! semakin lama kamu ini

semakin ngaco, kayak bapak mu dulu.!"

Debat Rasmi gerah dengan sikap puteranya itu

yang sangat mirip sekali dengan Badar dulu.

Akhirnya dia berlalu kearah dapur, Bani hanya

bisa tersenyum sendiri seraya mengikuti ibunya

itu ke dapur.

------ ------

Kiran muncul ke ruang tamu membuat semua

orang yang ada di tempat itu tampak melongo

menatap kearahnya. Ada kepala desa, pak Rt,

pak Rw, serta dua orang staf desa. Agra dan

yang lain juga ada di tempat itu. Mereka semua

duduk di kursi yang ada di ruangan itu.

Mata Kiran dan Agra langsung bersirobos tatap, terlihat jelas sorot mata tidak suka terpancar

dari tatapan Agra melihat penampilan Kiran

saat ini.

"Selamat sore bapak-bapak."

Kiran mencoba mengabaikan tatapan tajam

Agra dengan berpaling dan menyapa orang-

orang yang ada di tempat itu.

"Ohh.. selamat sore Nona Kiran.."

Pak Nurdin tampak gelagapan menjawab, yang

lain juga sama malunya, mereka semua kini

menundukkan kepala dengan tersenyum malu.

Terpaksa Kiran duduk di samping Agra karena

hanya ada bangku kosong di dekat nya saja.

Agra segera melepas jaket kulitnya, dan tanpa

basa basi menutupkan nya ke tubuh bagian

atas Kiran yang langsung menatap tajam wajah

pria di sampingnya itu, tidak suka dengan apa

yang di lakukan nya, dia berniat melepas kembali

jaket itu tapi tangan Agra menahannya.

"Udara sore hari di sini sangat dingin Nona,

anda bisa masuk angin dengan berpakaian

terbuka seperti ini.!"

Desis Agra dengan tatapan yang lebih tajam

dari Kiran membuat gadis itu melengos kalah.

Bara dan Badar tampak saling lirik, kemudian

menundukkan kepala tidak ingin terlibat masalah.

Orang-orang yang ada di tempat itu juga hanya

bisa melihat dalam diam.

"Anda terlalu berlebihan Tuan Agra.."

Kiran berdecak kesal seraya merapatkan jaket

kulit itu dengan gerakan kasar dan terpaksa.

"Tugas saya adalah melindungi anda dari

apapun itu.!"

Kiran kembali melirik kesal kearah Agra yang

terlihat acuh, menatap lurus ke depan.

"Silahkan pak kepala desa, ada keperluan apa

kalian sampai repot-repot datang ke sini.!"

Agra mempersilahkan pak kades untuk berbicara

dengan tatapan intimidasi nya membuat para

aparat desa itu bergetar lututnya.

"Ja-jadi begini Tuan, Nona..kami kesini hanya

ingin memastikan keberadaan anda di tempat

ini. Sebenarnya hanya sebuah prosedur yang

berlaku saja."

Ucap Pak Nurdin menjelaskan dengan suara

sedikit terbata-bata karena gugup. Kiran tampak

tersenyum, mengganguk faham.

"Saya mengerti kok Pak.. tadinya saya juga akan

datang langsung ke rumah pak RT untuk laporan,

tapi kalau bapak sendiri yang datang kesini saya sangat berterimakasih."

"Iya sama-sama Nona, jadi rencananya mungkin

anda akan tinggal di sini sampai akhir masa

panen, bukan begitu.?"

"Iya benar sekali.. semoga kalian semua tidak

keberatan dengan keberadaan saya di sini."

"Ohh tentu saja tidak..!"

Kompak bapak-bapak itu bersamaan membuat

mereka saling lirik. Badar hanya bisa tersenyum

miring melihat antusiasme para pejabat lokal

itu. Sedang wajah Agra terlihat semakin dingin.

"Baiklah.! sepertinya semua sudah sangat jelas.

Jadi saya rasa urusannya sudah beres.!"

Tegas Agra setengah mengusir orang-orang itu

yang terlihat saling lirik dengan wajah memerah.

Kiran melirik tajam kearah Agra yang tampak

menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa seraya

tumpang kaki, kedua tangan di rentangkan di

belakang hingga kini tubuh Kiran seakan berada

dalam rengkuhan nya.

Kiran mengetatkan rahangnya, kesal bukan

main dengan sikap serampangan pengawal

nya ini. Dasar tidak punya sopan santun.!

"Tuan Agra, bisakah anda berlaku lebih sopan

sedikit terhadap tamu.?"

Ketus nya dengan nada jelas tidak suka.

"Mereka bukan tamu, yang tamu di sini adalah

anda Nona.!"

Kilah Agra enteng membuat Kiran semakin kesal.

Dia kembali menatap bapak-bapak itu dengan

wajah tidak enak.

"Maafkan kami bapak-bapak..!"

"Tidak apa-apa Nona, lagipula ini sudah sore

kami juga harus segera kembali. Kalau begitu

kami mohon pamit."

Ujar Pak Nurdin seraya berdiri di ikuti oleh

yang lainnnya.

"Bapak urus saja semuanya dengan baik."

Sambung Kiran ikut berdiri.

"Tentu Nona, kami permisi, Assalamualaikum.."

"Waalaikumsalam.."

Sahut Kiran, rombongan itu kemudian berlalu

keluar dari ruang tamu. Kini Kiran berpaling

pada Badar yang terlihat duduk menunduk.

"Sekarang..Om Badar jelaskan pada saya

semuanya. ! sebenarnya siapa mereka berdua

ini.? darimana asal mereka..?"

Badar mendongak kearah Kiran, lalu menatap

ragu kearah Agra yang duduk tenang dengan

pandangan acuhnya terlempar ke luar.

"Begini Nona..Tuan Agra adalah orang yang

di kirim oleh Tuan Besar untuk menjaga dan

melindungi selama Nona ada di sini."

Kiran terdiam, melirik kearah Agra yang tampak

santai saja, menggoyangkan kaki nya dengan

tampang datarnya sedikit menyebalkan.

"Tuan Besar juga sudah memberi kuasa penuh

pada Tuan Agra untuk membantu Nona dalam

mengurus perkebunan. Jadi sekarang semua

urusan saya serahkan kepada Nona serta Tuan

Agra, saya siaga di belakang kalian.!"

Kiran terhenyak dalam diam, jadi begitu rupa

nya, orang ini adalah pengganti Badar.!

"Baiklah kalau memang begitu, tapi saya ingatkan

sekali lagi Tuan Agra, jangan melewati batas.!"

Ketus Kiran sambil melepas jaket kemudian di serahkan ke tangan Agra dengan menekannya

kuat, setelah itu dia berlalu pergi ke ruangan dalam.

Agra hanya tersenyum tipis melihat kekesalan

istri nya itu. Bara dan Badar lagi-lagi hanya bisa

saling pandang dan mengangkat bahu melihat

bagaimana rona wajah Tuan nya itu saat ini

yang terlihat di penuhi kesenangan.

Sementara itu Kiran bukannya naik ke kamar

nya, dia malah menuju ke taman belakang,

duduk sendiri di atas ayunan memandang

jauh ke arah perbukitan. Villa ini berada di

tempat yang sangat strategis, bisa melihat

ke sekitar pemukiman warga yang ada di

samping nya. Kemudian dari arah depan bisa

melihat indahnya air terjun, sedangkan di area

belakang adalah pegunungan dan perbukitan.

Kiran memejamkan mata, kembali mencoba

menikmati kesejukan angin sore yang sangat

menenangkan di iringi suara-suara binatang

khas pegunungan yang biasa keluar saat hari

sudah menjelang malam.

Tuhan.. bisakah dia bertahan di tempat ini.??

Besok adalah hari pertama dia akan memulai

semua perannya di tempat ini..

 

*********

 

TBC.....

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

penasaran kelanjutannya

2023-10-26

0

Sofia Pontoh

Sofia Pontoh

kereeeenn abiiiss karyamu thoor👍👍🙏🙏

2022-08-14

0

Ius Wonga

Ius Wonga

kiran lo kmu tahu siapa pmilik prkbunanmu skrg mtilah kmu...moga2 kiran trbyang trus ma agra....trus ada rsa cembkur....pas nathan dtg biar diskak ma agra

2021-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!