***********
Suara adzan ashar membangunkan Kiran dari
tidur nyenyak nya. Rupanya karena kelelahan,
setelah melaksanakan sholat Dzuhur dia malah tertidur lelap saat mencoba merebahkan
tubuhnya, padahal niat awalnya hanya ingin beristirahat saja sebentar.
Untuk sesaat dia tampak terkejut mendapati
dirinya terbangun di tempat asing. Dia terbaring
di atas tempat tidur yang cukup besar dengan
kasur yang nyaman di tambah semilir angin sejuk
yang berasal dari puncak gunung yang berada
di belakang Villa.
Kiran bangkit dari tidurnya, menegakkan badan,
kemudian meregangkan otot-otot lehernya yang
sedikit kaku. Tidak lama dia turun dari atas kasur
berjalan kearah jendela kamar yang terbuka lebar
hanya terhalang oleh teralis besi saja.
Kiran kembali merentangkan kedua tangannya
mencoba untuk menghirup udara segar yang
datang menerpa wajah cantik jelita nya. Kiran
memejamkan matanya, namun beberapa saat
kemudian dia tersentak, membuka matanya
dengan alis yang bertaut dalam. Kenapa wajah
pengawalnya itu tiba-tiba saja melintas dalam
ingatannya.
Astagfirullah.. bukankah laki-laki itu sekarang
sudah jadi suaminya.? harus bagaimana kah
kini dia bersikap.? walau bagaimanapun dia
adalah suaminya, dirinya punya kewajiban
untuk melayani dan mengurus semua keperluan
nya, tapi bukankah dia sudah memutuskan
bahwa mereka akan mengabaikan semua itu.
Kiran kembali ke atas tempat tidur. Dia terdiam
dalam kebingungan. Bagaimana ini ya Allah.?
Dia menutup wajahnya di tengah kebingungan.
Tidak ingin terus larut dalam kebimbangan,
akhirnya dia beranjak masuk ke kamar mandi
untuk segera melaksanakan kewajibannya.
Pintu kamar Kiran yang ada di lantai 2 itu di ketuk
dari luar, terdengar suara Rasmi memangilnya.
Kiran membuka pintu, dia melihat wanita 40
tahun itu tengah berdiri di depan pintu dengan
mulut menganga melihat penampilan dirinya.
Saat ini Kiran mengenakkan gaun terusan cantik
warna kuning koral di bawah lutut tanpa lengan, rambutnya tergerai indah , hal itu membuat dia
tampak bagaikan boneka barbie cantik yang
menjelma menjadi manusia.
"Mbak Rasmi..hei..Kiran di sini.!"
Kiran melambaikan tangan di depan wajah Rasmi
yang langsung tersipu malu menundukkan wajah.
"Maaf Nona Kiran kalau mbak kurang sopan.."
Ucap Rasmi merasa bersalah, Kiran hanya bisa
menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa mbak, ayo kita turun..Kiran udah
lapar banget nih, Kiran pengen makan makanan
khas di sini, mbak udah bikin kan.?"
"Hee iya sudah Non..mari.."
Keduanya kemudian turun dari lantai atas
langsung menuju ke ruang makan.
Tiba di ruang makan wajah Kiran tampak
berbinar senang saat melihat di meja makan
telah tersedia berbagai macam hidangan khas
daerah itu. Dengan penuh semangat juga rasa
lapar yang sudah menyerang nya Kiran duduk di
kursi yang sudah di siapkan oleh Rasmi.
"Pada kemana orang-orang mbak.?"
Tanya Kiran seraya memperhatikan keadaan
di sekita Villa yang dapat di lihatnya dari jendela
ruangan yang berukuran lebar dan terbuka. Hanya
ada Bani saja yang terlihat sedang menyiram
bunga di halaman.
"Masih di perkebunan Non."
Sahut Rasmi sambil menuang makanan ke
piring Kiran dengan cekatan dan telaten.
"Makasih ya mbak, besok-besok tidak perlu
repot begini, biar Kiran ambil sendiri."
"Tidak apa-apa Nona, saya senang melakukan
nya, sudah lama sekali saya ingin melayani
Nona seperti ini."
Ucap Rasmi dengan tersenyum hangat, sangat
jelas terlihat kalau dia memang senang sekali
dengan apa yang di lakukannya.
"Baiklah kalau begitu terserah mbak saja."
Sahut Kiran memulai makan sore nya di temani
semilir angin yang mulai terasa semakin dingin.
Kiran tampak sangat menikmati makanan yang
di buat Rasmi tersebut. Memang terasa sedikit
berbeda di lidahnya, namun cukup lezat.
Rasmi duduk di sebrang nya menemani Nona
nya itu sambil berbincang kecil.
Selang beberapa lama terdengar suara-suara
mobil di halaman.
"Apa mereka sudah kembali.?"
Tanya Kiran dengan perasaan yang tiba-tiba
saja tidak menentu saat bayangan wajah Agra
kembali melintas. Rasmi beranjak dari duduknya berjalan kearah jendela untuk melihat keadaan
di halaman depan.
"Iya Non, mereka baru saja kembali. Tapi kok
sepertinya ada Pak Nurdin dan staf nya juga
ya , mau apa mereka kesini.!"
Jawab Rasmi masih memperhatikan keadaan
di luar karena terlihat kedatangan beberapa
orang yang kini sedang berbicara dengan Agra
dan Badar juga yang lainnya.
"Siapa itu Pak Nurdin mbak.?"
"Kepala desa Non.."
Mendengar itu Kiran cepat-cepat mengakhiri makannya bersamaan dengan kemunculan Bani
ke ruangan itu. Sejenak pemuda itu malah berdiri mematung di depan pintu, menatap terpesona
kearah Kiran.
"Bani..! jaga kesopanan mu di depan Nona Kiran.!"
Tegur Rasmi menatap tajam wajah anak lelakinya
itu yang langsung menunduk dengan wajah malu-malu.
"Ada apa Bani.?"
Kiran berdiri dari duduknya, menatap Bani penuh
rasa penasaran.
"Maaf Nona..Tuan Agra memanggil Nona ke
depan, Pak Nurdin mau bertemu."
"Ohh.. baiklah..ayoo..!"
Kiran menepuk bahu pemuda itu sambil berjalan
melewatinya dengan menebarkan aroma wangi
yang sangat menenangkan hingga membuat
mata pemuda tanggung itu terpejam kuat.
"Jaga sikap kamu di hadapan Nona Kiran.!
Rasmi memberi peringatan pada putranya itu
yang hanya nyengir kuda .
"Habisnya baru kali ini Bani melihat wanita
secantik Nona Kiran Bu.."
"Bukankah mbak Lintang mu itu adalah gadis
tercantik di dunia ini."
Ejek Rasmi sambil membereskan makanan.
Bani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hee..iya sih bu, tapi itu kemarin sebelum saya
melihat Nona Kiran.."
Kilah Bani yang langsung mendapat sentilan
pelan di keningnya.
"Dasar bocah gemblung, makanya sekolah saja
yang benar, tidak usah memikirkan cewek dulu,
kamu itu masih bau kencur.!"
"Bani sudah remaja Bu, Bani juga tahu wanita
yang menarik itu seperti apa.!"
"Huss.! sudah-sudah.! semakin lama kamu ini
semakin ngaco, kayak bapak mu dulu.!"
Debat Rasmi gerah dengan sikap puteranya itu
yang sangat mirip sekali dengan Badar dulu.
Akhirnya dia berlalu kearah dapur, Bani hanya
bisa tersenyum sendiri seraya mengikuti ibunya
itu ke dapur.
------ ------
Kiran muncul ke ruang tamu membuat semua
orang yang ada di tempat itu tampak melongo
menatap kearahnya. Ada kepala desa, pak Rt,
pak Rw, serta dua orang staf desa. Agra dan
yang lain juga ada di tempat itu. Mereka semua
duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
Mata Kiran dan Agra langsung bersirobos tatap, terlihat jelas sorot mata tidak suka terpancar
dari tatapan Agra melihat penampilan Kiran
saat ini.
"Selamat sore bapak-bapak."
Kiran mencoba mengabaikan tatapan tajam
Agra dengan berpaling dan menyapa orang-
orang yang ada di tempat itu.
"Ohh.. selamat sore Nona Kiran.."
Pak Nurdin tampak gelagapan menjawab, yang
lain juga sama malunya, mereka semua kini
menundukkan kepala dengan tersenyum malu.
Terpaksa Kiran duduk di samping Agra karena
hanya ada bangku kosong di dekat nya saja.
Agra segera melepas jaket kulitnya, dan tanpa
basa basi menutupkan nya ke tubuh bagian
atas Kiran yang langsung menatap tajam wajah
pria di sampingnya itu, tidak suka dengan apa
yang di lakukan nya, dia berniat melepas kembali
jaket itu tapi tangan Agra menahannya.
"Udara sore hari di sini sangat dingin Nona,
anda bisa masuk angin dengan berpakaian
terbuka seperti ini.!"
Desis Agra dengan tatapan yang lebih tajam
dari Kiran membuat gadis itu melengos kalah.
Bara dan Badar tampak saling lirik, kemudian
menundukkan kepala tidak ingin terlibat masalah.
Orang-orang yang ada di tempat itu juga hanya
bisa melihat dalam diam.
"Anda terlalu berlebihan Tuan Agra.."
Kiran berdecak kesal seraya merapatkan jaket
kulit itu dengan gerakan kasar dan terpaksa.
"Tugas saya adalah melindungi anda dari
apapun itu.!"
Kiran kembali melirik kesal kearah Agra yang
terlihat acuh, menatap lurus ke depan.
"Silahkan pak kepala desa, ada keperluan apa
kalian sampai repot-repot datang ke sini.!"
Agra mempersilahkan pak kades untuk berbicara
dengan tatapan intimidasi nya membuat para
aparat desa itu bergetar lututnya.
"Ja-jadi begini Tuan, Nona..kami kesini hanya
ingin memastikan keberadaan anda di tempat
ini. Sebenarnya hanya sebuah prosedur yang
berlaku saja."
Ucap Pak Nurdin menjelaskan dengan suara
sedikit terbata-bata karena gugup. Kiran tampak
tersenyum, mengganguk faham.
"Saya mengerti kok Pak.. tadinya saya juga akan
datang langsung ke rumah pak RT untuk laporan,
tapi kalau bapak sendiri yang datang kesini saya sangat berterimakasih."
"Iya sama-sama Nona, jadi rencananya mungkin
anda akan tinggal di sini sampai akhir masa
panen, bukan begitu.?"
"Iya benar sekali.. semoga kalian semua tidak
keberatan dengan keberadaan saya di sini."
"Ohh tentu saja tidak..!"
Kompak bapak-bapak itu bersamaan membuat
mereka saling lirik. Badar hanya bisa tersenyum
miring melihat antusiasme para pejabat lokal
itu. Sedang wajah Agra terlihat semakin dingin.
"Baiklah.! sepertinya semua sudah sangat jelas.
Jadi saya rasa urusannya sudah beres.!"
Tegas Agra setengah mengusir orang-orang itu
yang terlihat saling lirik dengan wajah memerah.
Kiran melirik tajam kearah Agra yang tampak
menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa seraya
tumpang kaki, kedua tangan di rentangkan di
belakang hingga kini tubuh Kiran seakan berada
dalam rengkuhan nya.
Kiran mengetatkan rahangnya, kesal bukan
main dengan sikap serampangan pengawal
nya ini. Dasar tidak punya sopan santun.!
"Tuan Agra, bisakah anda berlaku lebih sopan
sedikit terhadap tamu.?"
Ketus nya dengan nada jelas tidak suka.
"Mereka bukan tamu, yang tamu di sini adalah
anda Nona.!"
Kilah Agra enteng membuat Kiran semakin kesal.
Dia kembali menatap bapak-bapak itu dengan
wajah tidak enak.
"Maafkan kami bapak-bapak..!"
"Tidak apa-apa Nona, lagipula ini sudah sore
kami juga harus segera kembali. Kalau begitu
kami mohon pamit."
Ujar Pak Nurdin seraya berdiri di ikuti oleh
yang lainnnya.
"Bapak urus saja semuanya dengan baik."
Sambung Kiran ikut berdiri.
"Tentu Nona, kami permisi, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Sahut Kiran, rombongan itu kemudian berlalu
keluar dari ruang tamu. Kini Kiran berpaling
pada Badar yang terlihat duduk menunduk.
"Sekarang..Om Badar jelaskan pada saya
semuanya. ! sebenarnya siapa mereka berdua
ini.? darimana asal mereka..?"
Badar mendongak kearah Kiran, lalu menatap
ragu kearah Agra yang duduk tenang dengan
pandangan acuhnya terlempar ke luar.
"Begini Nona..Tuan Agra adalah orang yang
di kirim oleh Tuan Besar untuk menjaga dan
melindungi selama Nona ada di sini."
Kiran terdiam, melirik kearah Agra yang tampak
santai saja, menggoyangkan kaki nya dengan
tampang datarnya sedikit menyebalkan.
"Tuan Besar juga sudah memberi kuasa penuh
pada Tuan Agra untuk membantu Nona dalam
mengurus perkebunan. Jadi sekarang semua
urusan saya serahkan kepada Nona serta Tuan
Agra, saya siaga di belakang kalian.!"
Kiran terhenyak dalam diam, jadi begitu rupa
nya, orang ini adalah pengganti Badar.!
"Baiklah kalau memang begitu, tapi saya ingatkan
sekali lagi Tuan Agra, jangan melewati batas.!"
Ketus Kiran sambil melepas jaket kemudian di serahkan ke tangan Agra dengan menekannya
kuat, setelah itu dia berlalu pergi ke ruangan dalam.
Agra hanya tersenyum tipis melihat kekesalan
istri nya itu. Bara dan Badar lagi-lagi hanya bisa
saling pandang dan mengangkat bahu melihat
bagaimana rona wajah Tuan nya itu saat ini
yang terlihat di penuhi kesenangan.
Sementara itu Kiran bukannya naik ke kamar
nya, dia malah menuju ke taman belakang,
duduk sendiri di atas ayunan memandang
jauh ke arah perbukitan. Villa ini berada di
tempat yang sangat strategis, bisa melihat
ke sekitar pemukiman warga yang ada di
samping nya. Kemudian dari arah depan bisa
melihat indahnya air terjun, sedangkan di area
belakang adalah pegunungan dan perbukitan.
Kiran memejamkan mata, kembali mencoba
menikmati kesejukan angin sore yang sangat
menenangkan di iringi suara-suara binatang
khas pegunungan yang biasa keluar saat hari
sudah menjelang malam.
Tuhan.. bisakah dia bertahan di tempat ini.??
Besok adalah hari pertama dia akan memulai
semua perannya di tempat ini..
*********
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
penasaran kelanjutannya
2023-10-26
0
Sofia Pontoh
kereeeenn abiiiss karyamu thoor👍👍🙏🙏
2022-08-14
0
Ius Wonga
kiran lo kmu tahu siapa pmilik prkbunanmu skrg mtilah kmu...moga2 kiran trbyang trus ma agra....trus ada rsa cembkur....pas nathan dtg biar diskak ma agra
2021-07-21
0