\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kiran semakin menyembunyikan wajahnya di
dalam rengkuhan Agra, harapannya sangat tipis
saat ini melihat situasi yang sangat kacau ini.
Mungkin ini adalah saat-saat terakhir bagi dia
dan Agra, dan Kiran hanya ingin berada di dekat
suaminya ini.
Agra menghembuskan napas kasar, dia tetap
waspada, membagi pandangan ke seluruh
ruangan. Orang-orang yang baru datang kini
sudah mulai maju dengan tatapan seakan siap
menghabisi Agra saat ini juga.
"Serang..!"
Teriak salah seorang sambil maju menyerang
kearah Agra yang bersiaga penuh.
Namun di saat bersamaan dari arah pintu masuk
berkelebatan bayangan hitam, dengan gerakan
cepat dan terlatih bayangan-bayangan hitam itu
langsung menyerang pasukan yang terakhir tadi.
Pertarungan seru pun terjadi, baku hantam kini
mewarnai seluruh ruangan. Orang-orang yang
ada di tempat itu tampak mundur mepet ke
tempat yang sekiranya aman.
Mereka semua hanya bisa menyaksikan para
bayangan hitam tadi melakukan gerakan yang
sangat lihai dan teratur. Dalam waktu sebentar
orang-orang Tuan Hasim sudah terkapar di lantai dalam keadaan tidak berdaya. Mereka semua
babak belur dengan luka yang cukup serius
karena terdapat di titik-titik vital.
Agra tampak berdiri tenang dengan sesungging
senyum tipis melihat apa yang di lakukan oleh
pasukan bayangan hitam tadi. Kiran masih tetap
di posisi sama, memeluk erat tubuh Agra dengan
wajah yang tersembunyi.
"Tenanglah, semuanya sudah aman..!"
Bisik Agra seraya mempererat pelukannya.
Perlahan Kiran mendongakkan kepalanya
mencoba meyakinkan ucapan Agra. Keduanya
saling pandang kuat, Agra meyakinkan Kiran
dengan mencium lembut kening gadis itu yang langsung memejamkan matanya.
"Apa kita selamat kali ini.?"
Lirih Kiran dengan suara yang masih terdengar
bergetar karena rasa takut masih menguasai
dirinya saat ini. Agra mengangguk yakin.Dengan
ragu Kiran melirik kearah ruangan, benar saja orang-orang yang tadi datang menyerangnya
kini sudah di ringkus oleh para pasukan
bayangan hitam.
"Siapa mereka semua..?"
"Pasukan yang aku siapkan.!"
Kiran kembali menatap Agra setengah tidak
percaya. Agra hanya tersenyum miring seraya
membimbing Kiran untuk duduk di kursi yang
ada di dekat mereka. Tubuh Kiran saat ini sudah
tidak bertenaga sama sekali, dia terlihat masih
syok dengan semua yang terjadi barusan.
Pemimpin pasukan bayangan hitam mendekat
kearah Agra lalu membungkuk hormat di hadapan
nya membuat Kiran semakin tidak percaya.
"Tuan muda..maaf saya sedikit terlambat..!"
"Hemm..tidak apa-apa.! bereskan mereka semua.
Urus orang tua itu dengan seharusnya. Bersihkan
juga tempat ini jangan sampai tersisa.!"
Titah Agra dengan suara yang sangat tegas.
"Baik Tuan Muda..!"
Sambut pria tinggi kekar itu, dia sekilas melirik
kearah Kiran lalu membungkuk hormat, setelah
itu pria tadi kembali ke tengah ruangan.
Orang-orang yang ada di ruangan itu kini terlihat ketakutan melihat apa yang terjadi. Lutut mereka gemetar saat pasukan hitam tadi kini berada di
tengah ruangan dengan menodongkan senjata
kearah mereka semua. Dengan gemetar menahan rasa takut orang-orang itu langsung saja serempak berlutut seraya mengangkat kedua tangan mereka
di kepalanya.
Tidak lama Badar dan Bara muncul ke dalam
ruangan langsung menghampiri Agra dan Kiran.
Wajah mereka terlihat sangat khawatir.
"Tuan..Nona kalian tidak apa-apa..?"
Badar bertanya sambil memperhatikan keadaan
Kiran yang terlihat sangat pucat.
"Tidak apa-apa Om, Kiran hanya lemas saja."
Jawab Kiran pelan. Agra memperhatikan keadaan.
Para pasukan tadi kini sudah membereskan semua
yang ada di dalam ruangan, mereka di giring ke
luar entah akan di apakan.
"Bara..kau atur pengalihan tempat ini, buatlah
menjadi tempat yang lebih layak.!"
"Baik Tuan, besok akan saya urus semuanya."
Sambut Bara. Kiran hanya bisa terdiam masih
mencoba mencerna apa yang di dengarnya.
"Agra..aku ingin pulang sekarang."
Lirih Kiran saat merasakan tubuhnya saat ini
sudah sangat butuh istirahat. Agra mendekat
lalu dia mengangkat tubuh Kiran ke dalam
pangkuannya. Kiran langsung melingkarkan
tangannya di leher kokoh suaminya itu. Saat
ini yang dia inginkan hanyalah berada di dekat
pria ini, dalam perlindungan nya. Agra mulai
berjalan keluar dari tempat yang membuat
Kiran mengalami trauma berat.
Tiba di parkiran telah terparkir sebuah mobil
Range Rover mewah keluaran terbaru yang di
bawa oleh pemimpin pasukan tadi, dia berada
di balik kemudi. Bara membuka pintu belakang
untuk Agra dan Kiran. Setelah itu dia masuk di
jok depan. Mobil pun mulai meluncur keluar
dari tempat mengerikan itu.
Kiran duduk lemas dalam pelukan hangat Agra,
dia menyandarkan kepalanya di dada bidang
pria itu, matanya langsung saja terpejam. Dia
masih berharap bahwa apa yang di alaminya
barusan hanyalah sebuah mimpi buruk. Dia
lelah, sungguh lelah dengan semua rentetan
kejadian mengerikan yang sudah di alaminya
selama berada di tempat ini.
****** ******
Suara kicau burung bersahutan di atas pohon.
Sinar mentari pagi sudah masuk melalui celah
jendela kamar hingga mampu menghangatkan
suasana. Di atas tempat tidur bernuansa putih
terlihat tubuh molek seorang gadis masih saja
meringkuk manja bergelung dengan selimut
menikmati ketenangan suasana pagi ini.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Kiran
kembali merebahkan tubuhnya. Dia masih
butuh istirahat saat ini karena semalam dia
tiba di Villa hampir lewat tengah malam.
Agra sempat menemani dirinya sampai terlelap,
dan seperti biasa laki-laki itu menghilang saat
dia membuka matanya. Hati Kiran semakin
merasakan kehilangan saat ini. Sebenarnya
yang dia inginkan adalah berada di dekat pria
itu, merasakan kehangatan tubuhnya yang
mampu membuat dirinya tenang dan tentram.
Entah kenapa semakin hari dia semakin merasa
terikat dengan suaminya itu.
Kiran membuka matanya perlahan, saat ini dia
enggan sekali untuk bangun dari atas tempat
tidur. Tubuhnya masih terasa sakit di semua
bagian.Kiran merenung sendiri, sepertinya dia memang tidak cocok berada di tempat ini.Tidak
ada jalan lain dia harus segera menuntaskan misi
nya. Menjual hasil perkebunan pada orang yang
sudah di siapkan oleh Agra. Dia ingin segera
kembali ke habitat aslinya walau mungkin saja
hidupnya tidak akan setenang kemarin lagi.
Kiran terdiam saat sayup-sayup dia mendengar
suara gemuruh helikopter dari kejauhan. Di desa
ini memang ada sebuah landasan kecil yang
tidak begitu jauh dari Villa nya.
Kiran tersentak ketika tiba-tiba terdengar suara
teriakan dan kegaduhan di luar Villa. Dengan
perasaan yang tidak enak Kiran segera bangkit
dari tidurnya. Saat ini dia hanya mengenakkan
gaun tidur terusan diatas lutut berbalut outer
hingga membuat dirinya terlihat begitu seksi
dan menggiurkan.
Baru saja dia turun ke lantai bawah untuk melihat
apa yang terjadi tiba-tiba saja ke dalam ruangan
berdatangan ibu-ibu desa yang tanpa basa-basi
lagi langsung menyeret Kiran keluar dari Villa.
"Ada apa ini ibu-ibu.? saya mau di bawa kemana?"
Kiran mencoba untuk melepaskan tangannya
dari cengkraman ibu-ibu itu yang semakin
mengunci kedua tangannya. Tiba di halaman
Villa dia melihat Lintang berdiri di kejauhan,
menatapnya tajam, tidak bereaksi apapun.
"Kamu harus di sucikan Nona, kedatangan mu
ke desa kami telah membawa malapetaka bagi
kami para wanita.!"
"Apa maksud kalian, apa salah saya.?"
Kiran terkejut bukan main, dia terus meronta
mencoba melepaskan diri saat tubuhnya di
seret ke jalanan.
Dua penjaga yang di tempatkan di villa saat ini
tampak tidak berdaya, ternyata ibu-ibu yang
sedang terbakar amarah itu sudah terlebih dulu
melumpuhkan nya dan mengikat tubuh mereka
di pohon.
Tubuh Kiran kembali di seret rame-rame ke
jalan tanpa alas kaki hingga dia meringis saat
kaki mulusnya menginjak kerikil tajam.
"Ibu-ibu..tolong lepaskan Nona saya, dia tidak
tahu apa-apa..! semuanya bukan salah dia.!"
Teriak Rasmi saat Kiran sudah ada di jalanan.
Saat ini Rasmi sedang di cekal oleh beberapa
ibu-ibu, kedua tangannya terikat tali tambang sehingga dia tidak bisa bergerak bebas hanya
bisa meronta dan menjerit di sertai air mata
saat melihat tubuh Kiran di dorong keras hingga
terjatuh di jalanan yang berbatu.
"Ibu-ibu.. tolong jelaskan pada saya..apa salah
saya, apa yang membuat kalian begitu murka
pada saya hiks hiks..!"
Isak Kiran masih terduduk di jalanan. Kakinya
yang putih berkilau kini terlihat merah karena
luka lecet di beberapa bagian. Air matanya luruh
berjatuhan tidak tertahan. Apalagi ini Tuhan.?
"Ini adalah hukum adat Nona.. sebenarnya kami
tidak ingin melakukan semua ini. Tapi karena
Nona, suami-suami kami jadi kehilangan akal,
setiap hari yang mereka bahas hanyalah tentang
Nona Kiran..!"
Kiran terhenyak dalam tangisnya. Jadi ini
semua berhubungan dengan sikap aneh para
warga selama ini.
"Mohon maaf ibu-ibu sebelumya, tapi sungguh
tidak ada sedikitpun di hati saya untuk mengacau
ataupun menggangu kalian.!"
"Itu semua tidak penting lagi bagi kami Nona.
Yang jelas sekarang Nona harus di bersihkan
agar semua pengaruh buruk yang ada dalam
diri Nona sirna, ayo kita bawa dia..!"
Teriak seorang ibu yang merupakan pimpinan
dari para wanita tadi. Tubuh Kiran kembali di
tarik dan di seret paksa tidak peduli jerit tangis
gadis itu saat dirinya kesakitan karena kakinya
berdarah terkena goresan batu-batu tajam yang
ada di jalanan.
"Ibu-ibu.. tolong kasihanilah Nona saya..dia
sungguh tidak mengerti apa-apa. Bapak-bapak
saja yang tidak tahu malu, Nona saya tidak
pernah berlaku yang di luar kewajaran..!"
Jerit Rasmi saat mereka sudah menuruni jalan
setapak menuju ke air terjun. Di tengah tangis
nya Kiran terkesiap saat mendapati kenyataan
bahwa dirinya kini di bawa ke air terjun. Apa
yang akan di lakukan oleh ibu-ibu ini sebenar
nya? apakah mereka akan menenggelamkan
dirinya di sana ?
"Tuhan..aku serahkan semuanya padaMu..
apapun yang terjadi aku yakin semua atas
kehendak Mu..Agraa..dimana kamu.."
Bathin Kiran menjerit seraya memejamkan
mata, bayangan wajah tampan Agra kini
memenuhi pikirannya. Hatinya perih saat ini.
"Ayo cepat sebelum waktu baik lewat.!"
Teriak ibu-ibu sambil menarik paksa outer yang
di kenakkan oleh Kiran hingga gadis itu berteriak histeris. Karuan saja kemolekan tubuhnya kini
terpampang nyata di depan mata para ibu itu.
Mereka hanya bisa menggeleng resah, pantas
saja hampir semua lelaki di desanya seperti
orang gila.
Tubuh Kiran yang hanya berbalut gaun pendek
tanpa lengan di seret turun ke dalam kolam di
bawah air terjun. Kolam itu menenggelamkan
tubuh Kiran hingga sebatas dadanya.
Rasmi tiada henti menjerit memohon pada ibu-
ibu untuk menghentikan semua hukuman ini.
Dia terus berontak ingin melepaskan diri dari
cekalan ibu-ibu tapi tenaganya kalah jauh
karena dia harus melawan 4 orang wanita.
"Nona... maafkan mbak..mbak memang tidak
berguna..apa yang akan terjadi nanti kalau
Tuan Agra tahu..huu huu..!"
Rasmi merutuki dirinya sendiri di tengah isak
tangis dan penyesalannya karena tidak bisa
mencegah semua ini.
Kiran di suruh berdiri di bawah guyuran air terjun
yang sangat deras hingga membuat kulitnya
terasa sakit. Tangan Kiran di pegang kuat oleh
dua orang sementara yang satu orang saat ini
berdiri di hadapan Kiran melakukan ritual khusus.
Yang lain berdiri melingkar di sekitar kolam
menatap dan memperhatikan semua ritual ini.
Beberapa saat kemudian tubuh Kiran di baluri
oleh minyak khusus juga kembang 7 rupa.Setelah
itu di guyur kembali menggunakan air kelapa
muda. Kiran hanya bisa menangis pedih.Matanya terpejam kuat, dia menguatkan diri, mencoba
bertahan dan melewati semua ini.
Tidak ada yang berbicara saat ini. Semua orang
nampak terdiam melihat Kiran yang kini berdiri
lemah di bawah guyuran air terjun yang sangat
dingin. Kulitnya perlahan mulai terlihat beku.
"Sekarang.. semua pengaruh buruk yang ada
dalam tubuh gadis ini mulai hilang..!"
Teriak sang pemimpin ritual di sambut sorak
sorai penuh kegembiraan dari ibu-ibu. Tidak
mereka sadari saat ini ke lokasi itu sudah
berdatangan para warga lainnya terutama
para pria yang hanya bisa bengong melihat
sosok molek Kiran di bawah guyuran air terjun.
Saat ini sosok Kiran malah tampak seperti
seorang bidadari yang sedang mandi, begitu
cantik, indah dan mempesona.
Beberapa saat kemudian tubuh Kiran mulai
limbung, kehilangan keseimbangan.
"Nona...nona dengar mbak..yang kuat Nona..
Ibu-ibu sudah.. tolong keluarkan Nona Kiran
dari air sebelum terjadi apa-apa. Saya tidak
bisa membayangkan apa yang akan terjadi
pada kalian kalau suaminya tahu semua ini..!"
Teriak Rasmi tidak tahan lagi.
"Suami...??"
Ibu-ibu itu terlihat terkejut setengah mati,
suami.? jadi gadis yang sudah mereka hukum
ini telah menikah.?? kenapa bisa begini.??
Mereka semua mulai terlihat kalangkabut.
Kegaduhan semakin terjadi ketika dari arah
jalan setapak berloncatan bayangan hitam
juga satu sosok yang langsung melompat
ke dalam kolam.
"Kiran sayang...apa yang terjadi padamu..!"
Sosok tadi langsung merengkuh tubuh Kiran
dan mengangkat nya ke dalam pangkuan.
Kiran membuka matanya sesaat, tangannya
meraih rahang kokoh sosok itu yang saat ini
sudah tidak terbayang sekelam apa wajahnya.
"Agraa..kamu datang..."
Kepala Kiran terkulai lemas, dia tidak sadarkan
diri dalam pangkuan sosok itu yang tiada lain
adalah Agra.
Agra keluar dari kolam, tatapannya saat ini
bagai singa yang sedang terluka. Dia membagi
tatapan pada semua wanita yang ada di tempat
itu yang saat ini sudah ada dalam kekuasaan
para pasukan bayangan hitam. Mereka semua
terlihat menunduk di penuhi ketakutan.
"Kumpulkan mereka semua di balai desa..!"
Titah Agra dengan suara bariton nya yang
mampu menggetarkan lutut semua orang.
"Baik Tuan Muda..!"
Sambut mereka. Agra melangkah lebar setengah
berlari menuju ke Villa di ikuti oleh Badar, Bara
juga Rasmi.
"Cari Dokter terbaik di daerah ini, cepat.!!"
Teriaknya mulai panik saat merasakan tubuh
Kiran semakin membeku. Badar dan Bara
bergerak cepat..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
vit
Pasti Lintang ikut ngompori 😞😞
2024-02-09
1
andi hastutty
Agra 🥰❤️😍😘
2023-10-27
0
Wirda Wati
aku suka semua karyamu thort
mana karya terbarumu thort...
❤️❤️❤️
2022-12-04
0