**********
Hari sudah menjelang petang tapi Agra belum
juga kembali dari lokasi kejadian pembalakan.
Kiran semakin merasakan tidak nyaman.
"Nona..kita harus kembali ke desa sekarang.
Semakin malam jalanan akan semakin rawan."
Lintang berdiri di hadapan Kiran yang masih
duduk di kursi kerjanya. Kiran melihat ke arah
luar jendela, keadaan sudah mulai gelap, kabut
pekat tampaknya mulai menutupi seluruh
wilayah perkebunan.
"Nona..kita harus pulang sekarang.. cuaca
bisa berubah kapanpun."
Badar muncul di ambang pintu dengan wajah
yang sedikit resah. Kiran menghembuskan
napas kasar. Dia meraih tas selempang nya .
" Baiklah..ayo kita pulang sekarang."
Putusnya sambil kemudian melangkah di ikuti
oleh Lintang. Hatinya saat ini semakin gelisah
saat mengingat Agra tidak ada bersamanya.
Mereka bertiga naik ke dalam mobil Jeep .
Lintang duduk di jok belakang, sedang Kiran di samping Badar yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan area perkebunan. Ada satu mobil
anak buah Badar yang mengiringi di belakang.
Baru beberapa menit perjalanan hari sudah
terlihat semakin gelap di selimuti oleh kabut
pekat yang menyurutkan jarak pandang.
Badar melajukan mobilnya dengan perlahan
menembus kegelapan.
"Kenapa Agra belum kembali sampai sekarang,
sebenarnya apa yang dia lakukan seharian.?"
Kiran mengeluarkan suara memecah keheningan.
Badar melirik ragu kearah Kiran.
"Tuan Agra.. pergi ke kota Nona.."
"Apa.? mau apa dia ke kota.? kenapa tidak
memberitahu saya.?"
Kiran tampak terkejut dengan wajah tidak suka
saat mendengar ucapan Badar.
"Melakukan pembicaraan soal penjualan
wilayah timur Nona."
"Kenapa dia melangkahi ku, aku juga berhak
tahu soal ini.!"
"Anda baru sampai di sini Nona, Tuan Agra
tidak ingin anda kelelahan.. lagipula wacana
ini sudah dari jauh-jauh hari di bicarakan.!"
"Aku tetap tidak bisa menerima nya.! dia benar-
benar sudah tidak menganggap keberadaan ku."
Ketus Kiran sambil memalingkan wajahnya ke
arah jendela mobil. Lintang dan Badar hanya
bisa menarik napas bingung.
Mobil berhenti secara mendadak ketika tiba-tiba
ke tengah jalan ada 3 ekor hewan hutan melintas.
Binatang liar itu terdiam di tengah jalan karena
tampaknya terganggu oleh sinar lampu mobil.
"Apa itu Om..? kenapa ada binatang liar di
tengah jalan seperti ini..!"
Seru Kiran sambil mencengkram sabuk pengaman
dengan kuat, wajahnya langsung saja memucat
karena ketakutan.
"Itu moncong hutan Nona, di sini memang wilayah
nya, setiap malam selalu keluar mencari makan."
"Apa ? ohh ya Tuhan.. kenapa binatang itu bisa
bebas berkeliaran begitu.!"
Kiran menutup mukanya ketika melihat ada
beberapa ekor lagi yang datang mendekat kearah mobil. Dengan cepat Badar mematikan mesin mobilnya hingga suasana menjadi gelap pekat.
Kiran merengek ketakutan dengan suasana yang sangat menyeramkan itu.
"Nona tunggu di sini, saya akan mengusir hewan
hewan liar itu."
Ucap Badar sambil membuka pintu mobil.
"Tapi Kiran takut Om, ini gelap banget.!"
Keluh Kiran yang terlihat semakin gemetar
ketakutan.
"Tidak akan terjadi apa-apa Nona, ada Lintang
yang menemani Nona di sini.!"
Ucap Badar menenangkan kemudian dia keluar
bersama dengan anak buahnya yang ada di mobil
belakang.
Lintang berusaha untuk menenangkan dengan
mengelus bahu Kiran.
Badar bergerak waspada dengan membawa
balok panjang untuk menghalau binatang liar
itu yang semakin lama semakin berdatangan.
Mereka bertiga mendesak binatang-binatang
itu dengan membabatkan balok kayu namun
beberapa dari hewan buas itu tampak mulai
mengamuk dan menyeruduk Badar serta
anak buahnya.
Kiran semakin ketakutan saat melihat Badar
dan anak buahnya harus berjuang untuk
melumpuhkan binatang liar itu yang semakin
brutal melakukan penyerangan membabi buta
kearah tiga orang itu.
Dan tiba-tiba saja kearah kap mobil berloncatan
beberapa ekor monyet liar yang langsung naik
merayap keatas mobil.
"Aaww..apa itu Lintang..?"
Kiran menjerit histeris saat monyet-monyet itu
mulai bergelantungan di pintu mobil bergerak
liar hingga mengguncang badan mobil.
"Itu kera liar Nona, merunduk Nona..!"
Teriak Lintang yang juga sama paniknya.
"Ohh ya Tuhan.. kenapa bisa begini..!"
Kiran menggulung tubuhnya di atas Jok mobil
dengan meringkuk di sudut pintu. Melihat hal
itu Badar Tampak resah, masih ada beberapa
moncong liar yang harus di lumpuhkan nya,
sekarang keselamatan Nona nya sedang kembali
terancam dengan adanya serangan liar dari kera-
kera kelaparan itu yang semakin bergerak brutal seolah ingin menggulingkan mobil itu.
Untung lah dalam keadaan itu datang mobil lain
dari arah berlawanan. Seseorang dengan cepat
keluar dari mobil kemudian meletuskan tembakan beberapa kali ke udara. Dia juga berjalan gagah menghadang para monyet liar yang kini berbalik menyerang kearahnya.
Mendengar suara tembakan dan keributan akibat
kera-kera yang kalangkabut, Kiran mendongakan
kepala melihat kearah luar. Dia tidak bisa jelas
melihat siapa yang datang. Hanya saja samar-
samar dia melihat beberapa orang sedang
menghalau binatang-binatang itu dengan cara
membabat dan memukul binatang itu memakai
pemukul dan balok kayu .
Setelah beberapa saat akhirnya para satwa
kelaparan itu kabur dalam keadaan babak belur
kena pukulan balok kayu yang di gunakan oleh
Badar dan anak buahnya.
"Agraa.."
Desis Kiran saat samar-samar dia melihat sosok
tinggi gagah sedang berjalan kearah mobil yang
di naiki nya. Sosok itu yang memang adalah Agra
membuka pintu mobil.
"Nona..anda baik-baik saja.?"
"Agraa.. kemana saja kamu, aku takuutt..!"
Pekik Kiran sambil kemudian tanpa sadar dia
memeluk erat tubuh pria itu yang terkejut sesaat
melihat reaksi Kiran. Lintang yang melihat hal itu tampak menatap tidak suka kearah keduanya.
Walau samar-samar tapi dia bisa melihat kalau
Agra balas memeluk tubuh Nona nya itu.
"Tidak apa-apa, keadaan sudah aman..!"
Ucap Agra saat Kiran masih belum melepaskan
pelukan nya. Gadis itu malah menggeleng kuat.
"Aku masih takut..ayo kita pulang sekarang..!"
"Kau pulanglah bersama Badar, ada yang masih
harus aku pastikan di perkebunan.!"
"Tidak mau..! kau tidak boleh kembali lagi ke
perkebunan, di sana tidak aman.!"
"Nona.. semuanya baik-baik saja.!"
"Tidak.! aku maunya pulang sama kamu.!"
Tegas Kiran sambil melepaskan pelukannya.
Keduanya saling pandang kuat dalam gelap.
"Jangan keras kepala, pulanglah bersama
dengan Badar Nona..!"
"Kalau kamu tidak ikut pulang, aku akan ikut
kembali ke perkebunan."
Tegas Kiran keras kepala. Agra tampak sedikit
kesal pada sikap keras kepala Kiran, dia menatap
geram wajah gadis itu. Tanpa basa basi lagi Agra
mengangkat tubuh Kiran ke dalam pangkuannya
di bawa berjalan kearah mobilnya.
"Kita pulang ke Villa.. kalian berdua lanjutkan
patroli di sekitar wilayah timur..!"
Titah Agra pada dua orang bawahan Badar.
"Baik Tuan.."
Serempak mereka, Bara dan Badar hanya bisa
melihat kearah Agra yang saat ini melangkah
dengan menggendong Kiran .
Kiran menatap kearah Agra yang baru saja duduk
di balik kemudi. Hatinya kini merasa tenang
karena pria itu ada di dekatnya. Aneh memang,
kenapa dia bisa merasakan ketentraman saat
berada di dekat laki-laki ini.
Mobil mulai melaju tanpa ada lagi pembicaraan
di antara mereka. Kiran merebahkan kepalanya
ke sandaran jok berusaha untuk menenangkan
dirinya. Sementara Agra sesekali melihat dan mengamati reaksi istrinya itu.
******* ******
Pagi hari nya Kiran merasa seluruh tubuhnya
terasa sakit dan linu di semua bagian. Semalam
setelah sampai di Villa, dia tidak keluar lagi dari
kamarnya, bahkan pada saat Rasmi menawari
nya makan malam Kiran menolaknya.
Dia masih sangat trauma dengan semua
kejadian semalam dimana hewan-hewan liar itu datang menyerang dengan brutal. Tuhan..seliar
inikah kehidupan di tempat ini.? Apakah dia akan mampu bertahan dengan semua ini.?
Kiran juga tidak tahu apakah Agra tetap tinggal
di Villa ataukah pria itu pergi kembali menuju
ke perkebunan. Kamar yang di tempati Agra ada
di lantai bawah sedang dia menempati kamar
atas sendirian hingga tidak bisa memantau
keberadaan pengawalnya itu.
Pagi ini Kiran memutuskan untuk pergi ke air
terjun. Dia ingin membuang semua rasa trauma
nya dengan menikmati keindahan air terjun
yang sangat eksotis itu. Bani menemani Nona
nya itu karena Rasmi sedang pergi ke pasar.
"Waahh..indah sekali Bani.."
Seru Kiran dengan wajah di penuhi oleh binar
bahagia. Dia berdiri di atas batu besar yang ada
di depan air terjun dengan merentangkan Kedua
tangannya seraya memejamkan mata mencoba
menikmati percikan air dingin di wajahnya.
Bani menatap tidak berkedip kearah majikan nya
itu yang terlihat bagai peri cantik di tengah hutan, sangat indah dan mempesona. Saat ini Kiran mengenakkan gaun terusan cantik di bawah lutut
berwarna soft pink yang berkibar tertiup angin.
Sangat kontras dengan keadaan sekitar yang di
penuhi oleh rerimbunan pohon dan rumput hijau.
"Hati-hati Nona Kiran..nanti terpeleset..!"
Teriak Bani khawatir saat melihat Kiran masih
saja memejamkan matanya.
"Tenang saja Bani..aku tahu kok ini sedikit licin.."
Balas Kiran masih memejamkan matanya. Bani
melihat ke sekitar air terjun, matanya tampak
bingung karena tiba-tiba saja sudah banyak
orang di sana yang semuanya adalah laki-laki.
Mata mereka terlihat terpana kearah Kiran yang
belum menyadari keadaan sekitar nya.
"No-nona.. bisakah anda turun sekarang.."
Bani berucap dengan suara sedikit bergetar
saat melihat para pria itu mulai mendekat ke
arah keberadaan Kiran.
"Memang kenapa Bani.? di sini adalah posisi
yang paling bagus. Aku juga mau turun dan
bermain air dulu sepuasnya."
"Tapi Nona.. airnya sangat dingin, saya takut
nanti anda bisa sakit.!"
"Tidak apa Bani, aku kuat kok, lagipula air terjun
ini sangat murni, sayang sekali kalau aku tidak
menikmati kesegaran nya..!"
Kilah Kiran sambil kemudian membuka matanya.
Namun dia jadi terkejut saat melihat keadaan
sekitarnya. Ada sekitar 10 orang pria di tempat
itu yang sedang menatap lapar ke arah nya.
Wajah Kiran sontak saja memucat dengan nyali
yang menciut.
Dia segera turun dari atas batu di bantu oleh
Bani yang mengulurkan tangannya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau ada orang di
sekitar sini Bani..!"
Bani menunduk bingung, dari tadi sebenarnya
dia ingin memperingatkan tapi bingung saat
melihat melihat keberadaan seseorang yang
ada di ujung jalan.
"Kalau begitu kita pulang sekarang Bani."
Ajak Kiran sambil beranjak dan mulai melangkah.
Tapi terhenti ketika tiba-tiba ke hadapan nya
datang seorang pria bertubuh tinggi besar
dengan rahang yang sangat tegas. Matanya
tampak menatap liar ke seluruh diri Kiran
seakan ingin menerkamnya sekarang juga.
"Selamat pagi Nona cantik."
Sapa laki-laki yang berambut sedikit plontos itu
dengan seringai senyum anehnya. Kiran menatap
laki-laki itu dengan pandangan bingung campur
tidak nyaman.
"Selamat pagi Tuan.."
Sahut Kiran, kembali mundur dan berdiri di jarak
yang cukup aman.
"Perkenalkan.. nama saya Edgar.!"
Ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya
ke hadapan Kiran yang hanya tersenyum tipis
dan mengatupkan tangannya. Raut wajah pria
itu berubah kecut.
"Sebenarnya saya sudah datang ke Villa anda
Nona, tapi menurut pekerja di sana anda sedang
berada di sini, jadi saya putuskan untuk datang
ke tempat ini.!"
Kembali ucap pria itu menjelaskan. Kiran
tampak menautkan alisnya bingung dengan
maksud pria itu .
"Maaf Tuan.. saya tidak mengerti maksud anda,
ada apa sebenarnya.?"
"Ohh..ya tentu saja, anda belum mengenal saya
sama sekali. Saya adalah pembeli terbesar di
wilayah ini , semua orang tahu siapa saya. Dan
kami berminat untuk membeli semua hasil
perkebunan milik keluarga anda.!"
Kiran terdiam, dia baru faham sekarang siapa
orang ini. Jadi inikah orang nya yang sering di
ceritakan oleh Badar, bandar besar yang selalu
memaksakan kehendak pada para petani ?
"Sebelumnya saya mohon maaf Tuan, tapi
sepertinya..tahun ini kami sudah menemukan
pembeli lain yang lebih kompeten dan memberi
harga yang lebih normal.!"
Wajah pria itu tampak langsung berubah, dia
menatap tajam wajah Kiran berusaha untuk
memberi tekanan.
"Nona Kiran.. sepertinya anda belum mengenal
siapa saya.! semua pengusaha menjual hasil
perkebunan nya kepada perusahaan saya.!"
"Tentu saja saya sangat mengenal siapa anda
Tuan Edgar..tapi maaf sekali kali ini saya tidak
berminat menjual hasil panen kami pada anda.!"
Tegas Kiran sambil kemudian melangkah pergi
dengan menarik tangan Bani yang terlihat
sedikit ketakutan saat melihat reaksi wajah
pria itu yang berubah kelam.
"Ohh..Kiran..kau wanita yang sangat menarik.
Aku pastikan bahwa kamu akan segera naik
ke atas ranjang ku..!"
Desis pria itu dengan seringai senyum licik nya..
**********
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
Kiran juga ngga liat situasi slalu mencolok pakean kaos longgar kek klo ada didesa
2023-10-26
1
Siti Masitah
iyaya..napa..kiran jengkelin banget..
2023-01-13
0
Hana Hana
Sherinda the best lh pokoknya
2022-12-01
0