11. Serangan Malam

 

**********

 

Hari sudah menjelang petang tapi Agra belum

juga kembali dari lokasi kejadian pembalakan.

Kiran semakin merasakan tidak nyaman.

"Nona..kita harus kembali ke desa sekarang.

Semakin malam jalanan akan semakin rawan."

Lintang berdiri di hadapan Kiran yang masih

duduk di kursi kerjanya. Kiran melihat ke arah

luar jendela, keadaan sudah mulai gelap, kabut

pekat tampaknya mulai menutupi seluruh

wilayah perkebunan.

"Nona..kita harus pulang sekarang.. cuaca

bisa berubah kapanpun."

Badar muncul di ambang pintu dengan wajah

yang sedikit resah. Kiran menghembuskan

napas kasar. Dia meraih tas selempang nya .

" Baiklah..ayo kita pulang sekarang."

Putusnya sambil kemudian melangkah di ikuti

oleh Lintang. Hatinya saat ini semakin gelisah

saat mengingat Agra tidak ada bersamanya.

Mereka bertiga naik ke dalam mobil Jeep .

Lintang duduk di jok belakang, sedang Kiran di samping Badar yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan area perkebunan. Ada satu mobil

anak buah Badar yang mengiringi di belakang.

Baru beberapa menit perjalanan hari sudah

terlihat semakin gelap di selimuti oleh kabut

pekat yang menyurutkan jarak pandang.

Badar melajukan mobilnya dengan perlahan

menembus kegelapan.

"Kenapa Agra belum kembali sampai sekarang,

sebenarnya apa yang dia lakukan seharian.?"

Kiran mengeluarkan suara memecah keheningan.

Badar melirik ragu kearah Kiran.

"Tuan Agra.. pergi ke kota Nona.."

"Apa.? mau apa dia ke kota.? kenapa tidak

memberitahu saya.?"

Kiran tampak terkejut dengan wajah tidak suka

saat mendengar ucapan Badar.

"Melakukan pembicaraan soal penjualan

wilayah timur Nona."

"Kenapa dia melangkahi ku, aku juga berhak

tahu soal ini.!"

"Anda baru sampai di sini Nona, Tuan Agra

tidak ingin anda kelelahan.. lagipula wacana

ini sudah dari jauh-jauh hari di bicarakan.!"

"Aku tetap tidak bisa menerima nya.! dia benar-

benar sudah tidak menganggap keberadaan ku."

Ketus Kiran sambil memalingkan wajahnya ke

arah jendela mobil. Lintang dan Badar hanya

bisa menarik napas bingung.

Mobil berhenti secara mendadak ketika tiba-tiba

ke tengah jalan ada 3 ekor hewan hutan melintas.

Binatang liar itu terdiam di tengah jalan karena

tampaknya terganggu oleh sinar lampu mobil.

"Apa itu Om..? kenapa ada binatang liar di

tengah jalan seperti ini..!"

Seru Kiran sambil mencengkram sabuk pengaman

dengan kuat, wajahnya langsung saja memucat

karena ketakutan.

"Itu moncong hutan Nona, di sini memang wilayah

nya, setiap malam selalu keluar mencari makan."

"Apa ? ohh ya Tuhan.. kenapa binatang itu bisa

bebas berkeliaran begitu.!"

Kiran menutup mukanya ketika melihat ada

beberapa ekor lagi yang datang mendekat kearah mobil. Dengan cepat Badar mematikan mesin mobilnya hingga suasana menjadi gelap pekat.

Kiran merengek ketakutan dengan suasana yang sangat menyeramkan itu.

"Nona tunggu di sini, saya akan mengusir hewan

hewan liar itu."

Ucap Badar sambil membuka pintu mobil.

"Tapi Kiran takut Om, ini gelap banget.!"

Keluh Kiran yang terlihat semakin gemetar

ketakutan.

"Tidak akan terjadi apa-apa Nona, ada Lintang

yang menemani Nona di sini.!"

Ucap Badar menenangkan kemudian dia keluar

bersama dengan anak buahnya yang ada di mobil

belakang.

Lintang berusaha untuk menenangkan dengan

mengelus bahu Kiran.

Badar bergerak waspada dengan membawa

balok panjang untuk menghalau binatang liar

itu yang semakin lama semakin berdatangan.

Mereka bertiga mendesak binatang-binatang

itu dengan membabatkan balok kayu namun

beberapa dari hewan buas itu tampak mulai

mengamuk dan menyeruduk Badar serta

anak buahnya.

Kiran semakin ketakutan saat melihat Badar

dan anak buahnya harus berjuang untuk

melumpuhkan binatang liar itu yang semakin

brutal melakukan penyerangan membabi buta

kearah tiga orang itu.

Dan tiba-tiba saja kearah kap mobil berloncatan

beberapa ekor monyet liar yang langsung naik

merayap keatas mobil.

"Aaww..apa itu Lintang..?"

Kiran menjerit histeris saat monyet-monyet itu

mulai bergelantungan di pintu mobil bergerak

liar hingga mengguncang badan mobil.

"Itu kera liar Nona, merunduk Nona..!"

Teriak Lintang yang juga sama paniknya.

"Ohh ya Tuhan.. kenapa bisa begini..!"

Kiran menggulung tubuhnya di atas Jok mobil

dengan meringkuk di sudut pintu. Melihat hal

itu Badar Tampak resah, masih ada beberapa

moncong liar yang harus di lumpuhkan nya,

sekarang keselamatan Nona nya sedang kembali

terancam dengan adanya serangan liar dari kera-

kera kelaparan itu yang semakin bergerak brutal seolah ingin menggulingkan mobil itu.

Untung lah dalam keadaan itu datang mobil lain

dari arah berlawanan. Seseorang dengan cepat

keluar dari mobil kemudian meletuskan tembakan beberapa kali ke udara. Dia juga berjalan gagah menghadang para monyet liar yang kini berbalik menyerang kearahnya.

Mendengar suara tembakan dan keributan akibat

kera-kera yang kalangkabut, Kiran mendongakan

kepala melihat kearah luar. Dia tidak bisa jelas

melihat siapa yang datang. Hanya saja samar-

samar dia melihat beberapa orang sedang

menghalau binatang-binatang itu dengan cara

membabat dan memukul binatang itu memakai

pemukul dan balok kayu .

Setelah beberapa saat akhirnya para satwa

kelaparan itu kabur dalam keadaan babak belur

kena pukulan balok kayu yang di gunakan oleh

Badar dan anak buahnya.

"Agraa.."

Desis Kiran saat samar-samar dia melihat sosok

tinggi gagah sedang berjalan kearah mobil yang

di naiki nya. Sosok itu yang memang adalah Agra

membuka pintu mobil.

"Nona..anda baik-baik saja.?"

"Agraa.. kemana saja kamu, aku takuutt..!"

Pekik Kiran sambil kemudian tanpa sadar dia

memeluk erat tubuh pria itu yang terkejut sesaat

melihat reaksi Kiran. Lintang yang melihat hal itu tampak menatap tidak suka kearah keduanya.

Walau samar-samar tapi dia bisa melihat kalau

Agra balas memeluk tubuh Nona nya itu.

"Tidak apa-apa, keadaan sudah aman..!"

Ucap Agra saat Kiran masih belum melepaskan

pelukan nya. Gadis itu malah menggeleng kuat.

"Aku masih takut..ayo kita pulang sekarang..!"

"Kau pulanglah bersama Badar, ada yang masih

harus aku pastikan di perkebunan.!"

"Tidak mau..! kau tidak boleh kembali lagi ke

perkebunan, di sana tidak aman.!"

"Nona.. semuanya baik-baik saja.!"

"Tidak.! aku maunya pulang sama kamu.!"

Tegas Kiran sambil melepaskan pelukannya.

Keduanya saling pandang kuat dalam gelap.

"Jangan keras kepala, pulanglah bersama

dengan Badar Nona..!"

"Kalau kamu tidak ikut pulang, aku akan ikut

kembali ke perkebunan."

Tegas Kiran keras kepala. Agra tampak sedikit

kesal pada sikap keras kepala Kiran, dia menatap

geram wajah gadis itu. Tanpa basa basi lagi Agra

mengangkat tubuh Kiran ke dalam pangkuannya

di bawa berjalan kearah mobilnya.

"Kita pulang ke Villa.. kalian berdua lanjutkan

patroli di sekitar wilayah timur..!"

Titah Agra pada dua orang bawahan Badar.

"Baik Tuan.."

Serempak mereka, Bara dan Badar hanya bisa

melihat kearah Agra yang saat ini melangkah

dengan menggendong Kiran .

Kiran menatap kearah Agra yang baru saja duduk

di balik kemudi. Hatinya kini merasa tenang

karena pria itu ada di dekatnya. Aneh memang,

kenapa dia bisa merasakan ketentraman saat

berada di dekat laki-laki ini.

Mobil mulai melaju tanpa ada lagi pembicaraan

di antara mereka. Kiran merebahkan kepalanya

ke sandaran jok berusaha untuk menenangkan

dirinya. Sementara Agra sesekali melihat dan mengamati reaksi istrinya itu.

******* ******

Pagi hari nya Kiran merasa seluruh tubuhnya

terasa sakit dan linu di semua bagian. Semalam

setelah sampai di Villa, dia tidak keluar lagi dari

kamarnya, bahkan pada saat Rasmi menawari

nya makan malam Kiran menolaknya.

Dia masih sangat trauma dengan semua

kejadian semalam dimana hewan-hewan liar itu datang menyerang dengan brutal. Tuhan..seliar

inikah kehidupan di tempat ini.? Apakah dia akan mampu bertahan dengan semua ini.?

Kiran juga tidak tahu apakah Agra tetap tinggal

di Villa ataukah pria itu pergi kembali menuju

ke perkebunan. Kamar yang di tempati Agra ada

di lantai bawah sedang dia menempati kamar

atas sendirian hingga tidak bisa memantau

keberadaan pengawalnya itu.

Pagi ini Kiran memutuskan untuk pergi ke air

terjun. Dia ingin membuang semua rasa trauma

nya dengan menikmati keindahan air terjun

yang sangat eksotis itu. Bani menemani Nona

nya itu karena Rasmi sedang pergi ke pasar.

"Waahh..indah sekali Bani.."

Seru Kiran dengan wajah di penuhi oleh binar

bahagia. Dia berdiri di atas batu besar yang ada

di depan air terjun dengan merentangkan Kedua

tangannya seraya memejamkan mata mencoba

menikmati percikan air dingin di wajahnya.

Bani menatap tidak berkedip kearah majikan nya

itu yang terlihat bagai peri cantik di tengah hutan, sangat indah dan mempesona. Saat ini Kiran mengenakkan gaun terusan cantik di bawah lutut

berwarna soft pink yang berkibar tertiup angin.

Sangat kontras dengan keadaan sekitar yang di

penuhi oleh rerimbunan pohon dan rumput hijau.

"Hati-hati Nona Kiran..nanti terpeleset..!"

Teriak Bani khawatir saat melihat Kiran masih

saja memejamkan matanya.

"Tenang saja Bani..aku tahu kok ini sedikit licin.."

Balas Kiran masih memejamkan matanya. Bani

melihat ke sekitar air terjun, matanya tampak

bingung karena tiba-tiba saja sudah banyak

orang di sana yang semuanya adalah laki-laki.

Mata mereka terlihat terpana kearah Kiran yang

belum menyadari keadaan sekitar nya.

"No-nona.. bisakah anda turun sekarang.."

Bani berucap dengan suara sedikit bergetar

saat melihat para pria itu mulai mendekat ke

arah keberadaan Kiran.

"Memang kenapa Bani.? di sini adalah posisi

yang paling bagus. Aku juga mau turun dan

bermain air dulu sepuasnya."

"Tapi Nona.. airnya sangat dingin, saya takut

nanti anda bisa sakit.!"

"Tidak apa Bani, aku kuat kok, lagipula air terjun

ini sangat murni, sayang sekali kalau aku tidak

menikmati kesegaran nya..!"

Kilah Kiran sambil kemudian membuka matanya.

Namun dia jadi terkejut saat melihat keadaan

sekitarnya. Ada sekitar 10 orang pria di tempat

itu yang sedang menatap lapar ke arah nya.

Wajah Kiran sontak saja memucat dengan nyali

yang menciut.

Dia segera turun dari atas batu di bantu oleh

Bani yang mengulurkan tangannya.

"Kenapa kamu tidak bilang kalau ada orang di

sekitar sini Bani..!"

Bani menunduk bingung, dari tadi sebenarnya

dia ingin memperingatkan tapi bingung saat

melihat melihat keberadaan seseorang yang

ada di ujung jalan.

"Kalau begitu kita pulang sekarang Bani."

Ajak Kiran sambil beranjak dan mulai melangkah.

Tapi terhenti ketika tiba-tiba ke hadapan nya

datang seorang pria bertubuh tinggi besar

dengan rahang yang sangat tegas. Matanya

tampak menatap liar ke seluruh diri Kiran

seakan ingin menerkamnya sekarang juga.

"Selamat pagi Nona cantik."

Sapa laki-laki yang berambut sedikit plontos itu

dengan seringai senyum anehnya. Kiran menatap

laki-laki itu dengan pandangan bingung campur

tidak nyaman.

"Selamat pagi Tuan.."

Sahut Kiran, kembali mundur dan berdiri di jarak

yang cukup aman.

"Perkenalkan.. nama saya Edgar.!"

Ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya

ke hadapan Kiran yang hanya tersenyum tipis

dan mengatupkan tangannya. Raut wajah pria

itu berubah kecut.

"Sebenarnya saya sudah datang ke Villa anda

Nona, tapi menurut pekerja di sana anda sedang

berada di sini, jadi saya putuskan untuk datang

ke tempat ini.!"

Kembali ucap pria itu menjelaskan. Kiran

tampak menautkan alisnya bingung dengan

maksud pria itu .

"Maaf Tuan.. saya tidak mengerti maksud anda,

ada apa sebenarnya.?"

"Ohh..ya tentu saja, anda belum mengenal saya

sama sekali. Saya adalah pembeli terbesar di

wilayah ini , semua orang tahu siapa saya. Dan

kami berminat untuk membeli semua hasil

perkebunan milik keluarga anda.!"

Kiran terdiam, dia baru faham sekarang siapa

orang ini. Jadi inikah orang nya yang sering di

ceritakan oleh Badar, bandar besar yang selalu

memaksakan kehendak pada para petani ?

"Sebelumnya saya mohon maaf Tuan, tapi

sepertinya..tahun ini kami sudah menemukan

pembeli lain yang lebih kompeten dan memberi

harga yang lebih normal.!"

Wajah pria itu tampak langsung berubah, dia

menatap tajam wajah Kiran berusaha untuk

memberi tekanan.

"Nona Kiran.. sepertinya anda belum mengenal

siapa saya.! semua pengusaha menjual hasil

perkebunan nya kepada perusahaan saya.!"

"Tentu saja saya sangat mengenal siapa anda

Tuan Edgar..tapi maaf sekali kali ini saya tidak

berminat menjual hasil panen kami pada anda.!"

Tegas Kiran sambil kemudian melangkah pergi

dengan menarik tangan Bani yang terlihat

sedikit ketakutan saat melihat reaksi wajah

pria itu yang berubah kelam.

"Ohh..Kiran..kau wanita yang sangat menarik.

Aku pastikan bahwa kamu akan segera naik

ke atas ranjang ku..!"

Desis pria itu dengan seringai senyum licik nya..

 

**********

 

TBC....

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

Kiran juga ngga liat situasi slalu mencolok pakean kaos longgar kek klo ada didesa

2023-10-26

1

Siti Masitah

Siti Masitah

iyaya..napa..kiran jengkelin banget..

2023-01-13

0

Hana Hana

Hana Hana

Sherinda the best lh pokoknya

2022-12-01

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!