15. Sentuhan Pertama

 

**********

 

Mata Kiran membulat sempurna saat melihat

sosok laki-laki yang kini tengah menghajar para

preman itu dengan sadis tanpa ampun. Bahkan

para preman itu tidak punya kesempatan sama

sekali untuk berdiri ataupun mengambil napas.

"Tuan Agra.. untung anda datang."

Desis Bani sambil berdiri meregangkan badan

nya yang kini sudah terbebas dari kurungan

dua preman tadi. Gerakan pria yang baru datang

itu sangat cepat, membabat habis para preman

dalam waktu kurang dari dua menit membuat

Bani melongo di tengah kekagumannya.

"Agraa.."

Gumam Kiran lega, dia menatap kearah sosok

tinggi gagah di hadapan nya, masih belum percaya

apa yang di lihatnya.Ternyata Agra datang tepat

pada waktunya. Agra menoleh sebentar kearah

Kiran, keduanya saling pandang kuat seakan

mencoba meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kini dia berdiri tegak di hadapan kepala preman

tadi sambil meregangkan otot-otot tangannya.

Wajahnya terlihat sangat dingin cenderung kelam.

Dia tampak menggerakkan kepala nya dengan

tatapan menyala kearah kepala preman.

"Ayo maju..! cari bantuan yang lain kalau perlu.

Kebetulan hari ini aku belum pemanasan.!"

Geram Agra dengan senyum mengejeknya.

Kepala preman melirik seluruh anak buahnya

yang sudah tidak berdaya, saat ini semua anak buahnya sudah terkapar dalam keadaan yang

sangat mengenaskan.

Kepala preman itu tampak mundur dengan

wajah yang mulai di liputi oleh ketegangan.

Dia menatap tajam kearah Agra.

"Si-siapa kamu..! apa urusannya dengan gadis

itu, kenapa ikut campur urusanku.?"

"Ohh..ikut campur katamu? tentu saja.! karena

wanita yang sudah kamu ganggu itu adalah

milikku. Dan kau sudah berani mengusiknya.!"

Kepala preman tampak terkejut sesaat, namun

tidak lama kemudian dia maju menyerang Agra

dengan serangan brutal tanpa arah karena sudah

kalap duluan. Dengan gerakan mudah dan santai

dalam waktu singkat Agra sudah bisa membuat

kepala preman itu jatuh bersimpuh di hadapan

nya sambil menyembah memohon ampun.

Agra berjongkok di hadapan preman itu dengan

tatapan tajam bagai ujung pedang.

"Bilang pada atasanmu, jangan main belakang

lagi, kalau berani datangi aku di perkebunan.!"

Tegas nya sambil menepuk pundak preman itu

yang menunduk di tengah ketakutan. Setelah

itu Agra berdiri kemudian berjalan kearah Kiran.

"Kau lihat sekarang akibat sikap keras kepala

mu itu Nona Kiran.?"

Geram Agra sambil menatap tajam wajah Kiran

yang menunduk merasa bersalah.

"Maaf..aku tidak mendengarkan mu tadi."

Lirih Kiran seraya menatap sebentar wajah Agra

yang masih dalam mode beku. Tangan pria itu

meraih dagu Kiran dan mengangkat nya. Kedua

nya saling pandang kuat.

"Lain kali jangan membantahku lagi Kiran.."

Deg. !

Jantung Kiran seakan terguncang mendengar

ucapan Agra barusan, laki-laki itu memanggil

namanya tanpa embel-embel Nona. Sebenarnya

itu hal biasa saja tapi terdengar begitu istimewa

di telinga Kiran. Dia seakan menemukan rasa

nyaman dan bahagia saat mendengar nya.

Mata mereka terpaut dalam, semakin lama

semakin dalam hingga tidak menyadari kalau

saat ini mereka ada di tempat umum, ada

puluhan pasang mata yang saat ini sedang

memperhatikan interaksi keduanya.

Tanpa kata lagi Agra menarik tangan Kiran di

bawa kearah mobilnya. Kiran dan Rasmi naik

mobil Agra sementara Bani pulang dengan

mengendarai sepeda motor nya.

------ ------

Sampai malam menjelang Kiran tidak pernah

lagi keluar Villa setelah di beri peringatan oleh

Agra. Mungkin terdengar sedikit berlebihan kalau

laki-laki itu melarang nya keluar Villa. Namum

saat mengingat rentetan kejadian kemarin

sampai dengan tadi pagi, itu cukup membuat

Kiran sedikit ketakutan.

Apalagi hampir setiap hari sekarang ini ada saja

orang yang lewat di depan Villa. Dan itu adalah

para pria penduduk desa ini. Cukup aneh sih,

karena biasanya juga jarang ada orang lewat

ke depan Villa. Para pria itu sepertinya sengaja

lewat kesana hanya ingin melihat keberadaan

Kiran di tempat ini.

Setelah mengantar Kiran ke Villa Agra langsung

pergi ke perkebunan. Dia menempatkan 2 orang

penjaga untuk mengawasi sekitar villa.

Sudah sejak sore tiba-tiba saja turun hujan yang

sangat lebat hingga membuat suasana di sekitar

Villa tampak sedikit menyeramkan karena di

selimuti kabut tebal yang membuat bangunan

rumah bercat putih ini seakan menghilang.

Selesai sholat isya Kiran memberanikan diri

untuk berdiri di balkon kamar, saat ini hujan

sudah reda hanya tinggal rintik kecil saja. Dan

perlahan kabut pun mulai menghilang hingga

dia masih bisa melihat keseluruh kawasan villa.

Kiran melipat kedua tangan di dadanya karena

hawa dingin mulai mengigit kulitnya yang hanya

berbalut gaun tidur tipis. Pikirannya saat ini

sedang melayang pada sosok yang selama

beberapa hari ini selalu ada di saat dirinya

mengalami kesulitan.

Pria yang tanpa sengaja telah menikahinya

karena sesuatu yang tidak terduga. Ya..dia

adalah suaminya kini.. Entah siapa sebenarnya

laki-laki itu, tapi yang jelas saat ini pikirannya

tidak bisa lepas dari sosok suaminya itu.

Di halaman depan terlihat kedatangan mobil

Agra membuat mata Kiran tampak berbinar.

Hatinya tiba-tiba terasa tenang saat melihat kemunculan laki-laki itu.

Kiran tersentak saat pria itu tiba-tiba saja

mendongakkan kepalanya ke arah balkon.

Kedua mata mereka bertemu di kejauhan.

Ada debaran hebat yang kini meresahkan

hati Kiran saat melihat tatapan tajam pria

pengawalnya itu.

Kiran segera berpaling, dia membalikkan

badannya, kemudian beranjak masuk ke dalam

kamar, menutup pintu kearah balkon dengan

menguncinya langsung.

Perlahan dia merebahkan tubuhnya diatas

tempat tidur. Tapi pikirannya tidak bisa lepas

dari sosok pengawalnya itu yang notabene

nya adalah suaminya. Kiran terperanjat ketika

pintu kamar di ketuk dari luar. Dengan ragu dia

beranjak kearah pintu lalu membukanya.

Tubuh Kiran membeku di tempat saat dia melihat sosok yang sedang menganggu pikirannya itu

kini sedang berdiri di hadapannya. Menatapnya

tajam dengan sorot mata tak terbaca.

Mata Kiran tiba-tiba membulat ketika pria itu

nyelonong masuk sembari membuka mantel

nya kemudian melempar nya keatas kursi.

"A-apa.. yang mau kau lakukan di kamar ini.?

Bukankah kamarmu ada di bawah ?"

Kiran bertanya dengan suara yang sedikit

terbata karena kaget sekaligus gugup melihat

pria itu tanpa basa basi membuka kemejanya.

"Hei..apa yang kau lakukan.? kenapa kamu

membuka baju di sini.? "

Kiran semakin panik saja, pria itu melirik ke

arahnya, lalu menatap nya tajam.

"Bukankah aku punya hak yang sama untuk

tinggal di kamar ini Nona..?"

Mata Kiran semakin membulat tak percaya.

"Tuan Agra..aku peringatkan padamu.. jangan

membuat masalah.!"

"Siapa yang buat masalah Nona, aku hanya

ingin menumpang mandi saja.! di kamar

bawah pemanas nya rusak.! "

Kilah Agra sambil kemudian masuk ke dalam

kamar mandi. Kiran hanya bisa bengong melihat

apa yang di lakukan oleh suaminya itu.

Ya.. benar walau bagaimanapun pria itu adalah

suaminya.! Tapi tidak, dia tidak bisa seenaknya

begini, bukankah dia tahu pasti bahwa pernikahan

itu terjadi tanpa kesepakatan bersama dulu.!

Kiran terduduk lemas di atas tempat tidur dengan

pikiran yang berkecamuk dan debaran jantung

yang tidak beraturan. Namun setelah beberapa

saat kemelut dalam pikirannya tiba-tiba saja

buyar ketika dia kembali di kejutkan oleh

ketukan di pintu kamar.

Dengan ragu dia melangkah kearah pintu dan membukanya. Kiran menatap sosok Bara yang

kini sedang berdiri di depan pintu dengan

menundukkan kepala tidak berani mengangkat

muka di hadapan Nona nya itu.

"Maaf Nona.. saya membawakan baju ganti

buat Tuan Agra."

Ucap Bara seraya menyodorkan satu stel pakaian

ke hadapan Kiran yang menerimanya dengan

sedikit bingung dan pikiran yang kosong.

"Permisi Nona.. makan malam akan kami

antarkan langsung ke sini."

Bara berlalu pergi dari hadapan Kiran yang

masih terdiam sambil mendekap pakaian yang

tadi di berikan oleh Bara.

Tunggu dulu, apakah asisten Agra itu sudah tahu semuanya.? Haah..ya tentu saja, namanya juga

asisten.!.tidak ada yang tidak dia ketahui kalau

menyangkut segala sesuatu tentang Tuan nya.

Kiran menutup rapat pintu kamar masih dengan

pikiran yang tidak sinkron. Dia kembali ke tepi

tempat tidur, duduk lemas di sana. pakaian

Agra di letakkan di atas pangkuannya.

Tidak lama kemudian Agra keluar dari kamar

mandi dengan keadaan yang membuat wajah

Kiran sontak saja memerah seluruhnya.

Bagaimana tidak, saat ini Agra hanya memakai

handuk putih tipis saja yang menutupi bagian

sensitif nya. Karuan saja hampir seluruh tubuh gagahnya terekspos dan terpampang nyata di

depan mata Kiran yang langsung berdiri dan

memalingkan wajahnya.

Rambut Agra yang masih setengah basah

tampak jatuh berantakan menutupi sebagian keningnya, tampak begitu seksi dan menggoda.

"Kenapa harus keluar dengan keadaan seperti

itu, kamu kan bisa memakai pakaian di dalam.!"

Ketus Kiran sambil menyodorkan pakaian Agra

tanpa menoleh kearahnya. Namun tubuh nya

tiba-tiba saja menegang ketika laki-laki itu

malah mendekat ke arahnya.

"Jangan maju, berhenti di situ.! ini bajumu,

ambil sendiri.!"

Cegah Kiran seraya memejamkan matanya.

Pria itu bergeming dia tetap maju dan kini

sudah ada di hadapan Kiran yang masih

memejamkan matanya.

"Kenapa Nona Kiran..bukankah aku punya hak

untuk lebih dekat dengan mu."

Bisik Agra di telinga Kiran membuat tubuh gadis

itu berjingkat seperti tersengat aliran listrik.

Wajahnya kini sudah semerah tomat dan semua

itu tidak luput dari pengamatan mata tajam Agra

yang sedang menatapnya lekat dengan seringai senyum samar di bibirnya.

"Kau sudah melanggar batas yang aku tetapkan.

Kamu bahkan sudah memberitahu hubungan

kita pada asisten mu itu.!"

"Bukan hanya dia, Badar juga sudah tahu itu !"

"Apa.? kenapa kamu tidak mendengarkan aku,

kenapa kamu memberitahu mereka tanpa

bertanya dulu padaku aakhh..!"

Kiran memekik kaget saat tiba-tiba tangan kuat

Agra melingkari pinggang kecilnya dan menarik

tubuhnya hingga kini tubuh mereka merapat.

Wajah mereka begitu dekat hampir bersentuhan.

Mata mereka kini saling bertaut dalam dengan

deru napas yang mulai tidak beraturan.

Jantung Kiran kembali seakan mau meloncat

keluar dari tempatnya ketika aroma segar yang

keluar dari tubuh tegap pria itu kini memenuhi

indra penciuman nya.

"Apa kau mau mereka berpikiran macam-macam

pada kita berdua.? kau mau mereka berasumsi

yang tidak-tidak terhadap hubungan kita.?"

"A-apa maksudmu.? bukankah kita bisa menjaga

jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.!"

Elak Kiran dengan suara bergetar hebat karena

Agraa semakin mendekatkan wajahnya. Kedua

telapak tangan Kiran kini berada di dada bidang

pria itu, berusaha untuk menjaga jarak, tapi kini

tubuhnya malah terasa semakin lemas.

"Apa kau pikir kita bisa menjaga jarak.? kau bisa melakukan hal itu Nona.?"

Suara Agra terdengar berat dan serak, belitan

tangan nya di pinggang Kiran semakin kuat

hingga membuat tubuh mungil gadis itu seakan terangkat. Dengan ukuran tubuh Agra yang

sangat tinggi dan kekar keberadaan tubuh Kiran

yang tinggi ramping kini seolah berada di dalam kurungannya.

"A-aku..tentu saja aku bisa.! kita hanya menikah

di atas kertas saja, tidak ada kesepakatan

apapun di antara kita.. ja-jadi ini tidak berarti

apa-apa bagi kita berdua."

"Ohh..jadi menurutmu begitu.! tapi tidak dalam

pandanganku Nona Kiran.. pernikahan bukan

lah sesuatu yang bisa di permainkan begitu saja,

ini semua adalah benar, dan harus terjadi.!"

Desis Agra, Kiran terhenyak mendengar ucapan

Agra dia menatap dalam wajah tampan Agra

yang kini terlihat jelas aslinya. Perlahan tangan

Agra mengangkat dagu indah Kiran hingga kini

wajah mereka bersentuhan.

"Agra..kau tahu pasti..kita tidak saling mengenal

sebelumnya. Jadi ini semua tidak benar..!"

Lirih Kiran sambil berusaha menjauhkan wajah

nya dari jangkauan Agra karena kini bibir pria itu semakin mendekat ke area bibir nya membuat

darah Kiran serasa mendidih.

"Tapi aku sudah sangat mengenalmu Kiran..."

Bisik Agra parau sambil kemudian mengecup

lembut bibir ranum Kiran yang sontak memejamkan matanya rapat. Agra menempelkan bibirnya di bibir Kiran yang bergetar hebat, karena ini merupakan sentuhan laki-laki pertama bagi Kiran. Seumur hidupnya gadis itu belum pernah melakukan kontak fisik ataupun bersentuhan secara intim dengan laki-laki.

Agra mengernyitkan alisnya melihat reaksi

tegang yang berlebihan dari Kiran. Dia menarik

kembali wajahnya. Di pandangnya lekat wajah

cantik istrinya itu. Ternyata gadis ini masih

sangat murni dan polos. Sesaat kemudian dia

kembali mengecup lembut bibir mungil itu.

"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Kiran.

Kau adalah istriku.. milikku selamanya.."

Bisik Agra di telinga Kiran yang masih terpejam

kuat di tengah ketegangan yang menggila.

Agra melepaskan tubuh Kiran kemudian dia

meraih pakaiannya lalu masuk kembali ke

dalam kamar mandi.

Kiran menjatuhkan dirinya di pinggir tempat

tidur, perlahan dan gemetar dia memegang

bibirnya, masih terasa hangat nya bibir Agra

yang tadi sudah memberinya sentuhan lembut

yang pertama bagi dirinya. Jantung Kiran saat

ini seakan sulit untuk di kendalikan..

 

**********

 

TBC....

Jangan lupa jempolnya ya gaiiss..di tunggu

juga koment and vote nya..Tq so much..😘🙏

Terpopuler

Comments

Serevina Simanjuntak

Serevina Simanjuntak

mantap thor

2024-05-01

1

andi hastutty

andi hastutty

Kiran uh 😘 kecupan pertama nanti lumayan pertama dan selanjutnya 😂😂😂😂🤭

2023-10-26

0

Siti hawa

Siti hawa

Adeh2….kiran…lepas kucupan n ciuman itu akan dtg y selain nya deh…

2022-11-13

0

lihat semua
Episodes
1 1. Pendahuluan..
2 2. Permohonan
3 3. Kota Kecil
4 4. Pengawal Aneh
5 5. Di Paksa Menikah
6 6. Suami Istri
7 7. Tiba Di Villa
8 8. Barbie Hidup
9 9. Hari Pertama
10 10. Pondok Sewon
11 11. Serangan Malam
12 12. Tamu Penting
13 13. Tuan Agra Bintang
14 14. Pergi Ke Pasar
15 15. Sentuhan Pertama
16 16. Gugup
17 17. Ancaman
18 18. Pertemuan
19 19. Hukum Adat
20 20. Hipotermia
21 21. Balapan
22 22. Persiapan
23 23. Serangan Fajar
24 24. Akhirnya
25 25. Di Culik Mantan
26 26. Terpuruk
27 27. Terkejut
28 28. Perjumpaan
29 29. Calon Tunangan
30 30. Tertabrak
31 31. Istana Hadiningrat
32 32. Terpaksa Menginap
33 33. Bertemu Nyobes
34 34. Teh Hijau
35 35. Syok
36 36. Datang Malam-Malam
37 37. Godaan Pagi
38 38. Menginginkan Lebih
39 39. Eyang Putri
40 40. Ritual Aneh
41 41. Bermandikan Cahaya Bulan
42 42. Tersirap
43 43. Big Party
44 44. Kecewa
45 45. Masih Butuh Waktu
46 46. Pengumuman
47 47. Prosesi Penjemputan
48 48. Di Boyong Suami
49 49. Setengah Malam
50 50. Nona Muda Hadiningrat
51 51. Hoshi & Sachi
52 52. Hancur
53 53. Kacau
54 54. Bukan Tandingan
55 55. Sebenarnya Sayang
56 56. Sambutan Mengejutkan
57 57. Istana Hiroki
58 58. Makan Malam Mencekam
59 59. Terkena Racun
60 60. Di Restui
61 61. Jamuan Khusus
62 62. Nostalgia
63 63. Sekretaris Baru
64 64. Di Buru Wartawan
65 65. Makan Siang Spesial
66 66. Kehilangan
67 67. Kejutan Di Pagi Hari
68 68. Berkunjung
69 69. Mati Kutu
70 70. Pingsan
71 71. Kabar Gembira
72 72. Malam Istimewa
73 73. Bidadari Sang Bintang
74 74. Masuk Perangkap
75 75. Sapu Bersih
76 76. Candle Light Dinner
77 77. Di Pingit
78 78. Malam Kebahagiaan
79 79. Pergi Ke Pantai
80 80. Happy Ending
Episodes

Updated 80 Episodes

1
1. Pendahuluan..
2
2. Permohonan
3
3. Kota Kecil
4
4. Pengawal Aneh
5
5. Di Paksa Menikah
6
6. Suami Istri
7
7. Tiba Di Villa
8
8. Barbie Hidup
9
9. Hari Pertama
10
10. Pondok Sewon
11
11. Serangan Malam
12
12. Tamu Penting
13
13. Tuan Agra Bintang
14
14. Pergi Ke Pasar
15
15. Sentuhan Pertama
16
16. Gugup
17
17. Ancaman
18
18. Pertemuan
19
19. Hukum Adat
20
20. Hipotermia
21
21. Balapan
22
22. Persiapan
23
23. Serangan Fajar
24
24. Akhirnya
25
25. Di Culik Mantan
26
26. Terpuruk
27
27. Terkejut
28
28. Perjumpaan
29
29. Calon Tunangan
30
30. Tertabrak
31
31. Istana Hadiningrat
32
32. Terpaksa Menginap
33
33. Bertemu Nyobes
34
34. Teh Hijau
35
35. Syok
36
36. Datang Malam-Malam
37
37. Godaan Pagi
38
38. Menginginkan Lebih
39
39. Eyang Putri
40
40. Ritual Aneh
41
41. Bermandikan Cahaya Bulan
42
42. Tersirap
43
43. Big Party
44
44. Kecewa
45
45. Masih Butuh Waktu
46
46. Pengumuman
47
47. Prosesi Penjemputan
48
48. Di Boyong Suami
49
49. Setengah Malam
50
50. Nona Muda Hadiningrat
51
51. Hoshi & Sachi
52
52. Hancur
53
53. Kacau
54
54. Bukan Tandingan
55
55. Sebenarnya Sayang
56
56. Sambutan Mengejutkan
57
57. Istana Hiroki
58
58. Makan Malam Mencekam
59
59. Terkena Racun
60
60. Di Restui
61
61. Jamuan Khusus
62
62. Nostalgia
63
63. Sekretaris Baru
64
64. Di Buru Wartawan
65
65. Makan Siang Spesial
66
66. Kehilangan
67
67. Kejutan Di Pagi Hari
68
68. Berkunjung
69
69. Mati Kutu
70
70. Pingsan
71
71. Kabar Gembira
72
72. Malam Istimewa
73
73. Bidadari Sang Bintang
74
74. Masuk Perangkap
75
75. Sapu Bersih
76
76. Candle Light Dinner
77
77. Di Pingit
78
78. Malam Kebahagiaan
79
79. Pergi Ke Pantai
80
80. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!