**********
Mata Kiran membulat sempurna saat melihat
sosok laki-laki yang kini tengah menghajar para
preman itu dengan sadis tanpa ampun. Bahkan
para preman itu tidak punya kesempatan sama
sekali untuk berdiri ataupun mengambil napas.
"Tuan Agra.. untung anda datang."
Desis Bani sambil berdiri meregangkan badan
nya yang kini sudah terbebas dari kurungan
dua preman tadi. Gerakan pria yang baru datang
itu sangat cepat, membabat habis para preman
dalam waktu kurang dari dua menit membuat
Bani melongo di tengah kekagumannya.
"Agraa.."
Gumam Kiran lega, dia menatap kearah sosok
tinggi gagah di hadapan nya, masih belum percaya
apa yang di lihatnya.Ternyata Agra datang tepat
pada waktunya. Agra menoleh sebentar kearah
Kiran, keduanya saling pandang kuat seakan
mencoba meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kini dia berdiri tegak di hadapan kepala preman
tadi sambil meregangkan otot-otot tangannya.
Wajahnya terlihat sangat dingin cenderung kelam.
Dia tampak menggerakkan kepala nya dengan
tatapan menyala kearah kepala preman.
"Ayo maju..! cari bantuan yang lain kalau perlu.
Kebetulan hari ini aku belum pemanasan.!"
Geram Agra dengan senyum mengejeknya.
Kepala preman melirik seluruh anak buahnya
yang sudah tidak berdaya, saat ini semua anak buahnya sudah terkapar dalam keadaan yang
sangat mengenaskan.
Kepala preman itu tampak mundur dengan
wajah yang mulai di liputi oleh ketegangan.
Dia menatap tajam kearah Agra.
"Si-siapa kamu..! apa urusannya dengan gadis
itu, kenapa ikut campur urusanku.?"
"Ohh..ikut campur katamu? tentu saja.! karena
wanita yang sudah kamu ganggu itu adalah
milikku. Dan kau sudah berani mengusiknya.!"
Kepala preman tampak terkejut sesaat, namun
tidak lama kemudian dia maju menyerang Agra
dengan serangan brutal tanpa arah karena sudah
kalap duluan. Dengan gerakan mudah dan santai
dalam waktu singkat Agra sudah bisa membuat
kepala preman itu jatuh bersimpuh di hadapan
nya sambil menyembah memohon ampun.
Agra berjongkok di hadapan preman itu dengan
tatapan tajam bagai ujung pedang.
"Bilang pada atasanmu, jangan main belakang
lagi, kalau berani datangi aku di perkebunan.!"
Tegas nya sambil menepuk pundak preman itu
yang menunduk di tengah ketakutan. Setelah
itu Agra berdiri kemudian berjalan kearah Kiran.
"Kau lihat sekarang akibat sikap keras kepala
mu itu Nona Kiran.?"
Geram Agra sambil menatap tajam wajah Kiran
yang menunduk merasa bersalah.
"Maaf..aku tidak mendengarkan mu tadi."
Lirih Kiran seraya menatap sebentar wajah Agra
yang masih dalam mode beku. Tangan pria itu
meraih dagu Kiran dan mengangkat nya. Kedua
nya saling pandang kuat.
"Lain kali jangan membantahku lagi Kiran.."
Deg. !
Jantung Kiran seakan terguncang mendengar
ucapan Agra barusan, laki-laki itu memanggil
namanya tanpa embel-embel Nona. Sebenarnya
itu hal biasa saja tapi terdengar begitu istimewa
di telinga Kiran. Dia seakan menemukan rasa
nyaman dan bahagia saat mendengar nya.
Mata mereka terpaut dalam, semakin lama
semakin dalam hingga tidak menyadari kalau
saat ini mereka ada di tempat umum, ada
puluhan pasang mata yang saat ini sedang
memperhatikan interaksi keduanya.
Tanpa kata lagi Agra menarik tangan Kiran di
bawa kearah mobilnya. Kiran dan Rasmi naik
mobil Agra sementara Bani pulang dengan
mengendarai sepeda motor nya.
------ ------
Sampai malam menjelang Kiran tidak pernah
lagi keluar Villa setelah di beri peringatan oleh
Agra. Mungkin terdengar sedikit berlebihan kalau
laki-laki itu melarang nya keluar Villa. Namum
saat mengingat rentetan kejadian kemarin
sampai dengan tadi pagi, itu cukup membuat
Kiran sedikit ketakutan.
Apalagi hampir setiap hari sekarang ini ada saja
orang yang lewat di depan Villa. Dan itu adalah
para pria penduduk desa ini. Cukup aneh sih,
karena biasanya juga jarang ada orang lewat
ke depan Villa. Para pria itu sepertinya sengaja
lewat kesana hanya ingin melihat keberadaan
Kiran di tempat ini.
Setelah mengantar Kiran ke Villa Agra langsung
pergi ke perkebunan. Dia menempatkan 2 orang
penjaga untuk mengawasi sekitar villa.
Sudah sejak sore tiba-tiba saja turun hujan yang
sangat lebat hingga membuat suasana di sekitar
Villa tampak sedikit menyeramkan karena di
selimuti kabut tebal yang membuat bangunan
rumah bercat putih ini seakan menghilang.
Selesai sholat isya Kiran memberanikan diri
untuk berdiri di balkon kamar, saat ini hujan
sudah reda hanya tinggal rintik kecil saja. Dan
perlahan kabut pun mulai menghilang hingga
dia masih bisa melihat keseluruh kawasan villa.
Kiran melipat kedua tangan di dadanya karena
hawa dingin mulai mengigit kulitnya yang hanya
berbalut gaun tidur tipis. Pikirannya saat ini
sedang melayang pada sosok yang selama
beberapa hari ini selalu ada di saat dirinya
mengalami kesulitan.
Pria yang tanpa sengaja telah menikahinya
karena sesuatu yang tidak terduga. Ya..dia
adalah suaminya kini.. Entah siapa sebenarnya
laki-laki itu, tapi yang jelas saat ini pikirannya
tidak bisa lepas dari sosok suaminya itu.
Di halaman depan terlihat kedatangan mobil
Agra membuat mata Kiran tampak berbinar.
Hatinya tiba-tiba terasa tenang saat melihat kemunculan laki-laki itu.
Kiran tersentak saat pria itu tiba-tiba saja
mendongakkan kepalanya ke arah balkon.
Kedua mata mereka bertemu di kejauhan.
Ada debaran hebat yang kini meresahkan
hati Kiran saat melihat tatapan tajam pria
pengawalnya itu.
Kiran segera berpaling, dia membalikkan
badannya, kemudian beranjak masuk ke dalam
kamar, menutup pintu kearah balkon dengan
menguncinya langsung.
Perlahan dia merebahkan tubuhnya diatas
tempat tidur. Tapi pikirannya tidak bisa lepas
dari sosok pengawalnya itu yang notabene
nya adalah suaminya. Kiran terperanjat ketika
pintu kamar di ketuk dari luar. Dengan ragu dia
beranjak kearah pintu lalu membukanya.
Tubuh Kiran membeku di tempat saat dia melihat sosok yang sedang menganggu pikirannya itu
kini sedang berdiri di hadapannya. Menatapnya
tajam dengan sorot mata tak terbaca.
Mata Kiran tiba-tiba membulat ketika pria itu
nyelonong masuk sembari membuka mantel
nya kemudian melempar nya keatas kursi.
"A-apa.. yang mau kau lakukan di kamar ini.?
Bukankah kamarmu ada di bawah ?"
Kiran bertanya dengan suara yang sedikit
terbata karena kaget sekaligus gugup melihat
pria itu tanpa basa basi membuka kemejanya.
"Hei..apa yang kau lakukan.? kenapa kamu
membuka baju di sini.? "
Kiran semakin panik saja, pria itu melirik ke
arahnya, lalu menatap nya tajam.
"Bukankah aku punya hak yang sama untuk
tinggal di kamar ini Nona..?"
Mata Kiran semakin membulat tak percaya.
"Tuan Agra..aku peringatkan padamu.. jangan
membuat masalah.!"
"Siapa yang buat masalah Nona, aku hanya
ingin menumpang mandi saja.! di kamar
bawah pemanas nya rusak.! "
Kilah Agra sambil kemudian masuk ke dalam
kamar mandi. Kiran hanya bisa bengong melihat
apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
Ya.. benar walau bagaimanapun pria itu adalah
suaminya.! Tapi tidak, dia tidak bisa seenaknya
begini, bukankah dia tahu pasti bahwa pernikahan
itu terjadi tanpa kesepakatan bersama dulu.!
Kiran terduduk lemas di atas tempat tidur dengan
pikiran yang berkecamuk dan debaran jantung
yang tidak beraturan. Namun setelah beberapa
saat kemelut dalam pikirannya tiba-tiba saja
buyar ketika dia kembali di kejutkan oleh
ketukan di pintu kamar.
Dengan ragu dia melangkah kearah pintu dan membukanya. Kiran menatap sosok Bara yang
kini sedang berdiri di depan pintu dengan
menundukkan kepala tidak berani mengangkat
muka di hadapan Nona nya itu.
"Maaf Nona.. saya membawakan baju ganti
buat Tuan Agra."
Ucap Bara seraya menyodorkan satu stel pakaian
ke hadapan Kiran yang menerimanya dengan
sedikit bingung dan pikiran yang kosong.
"Permisi Nona.. makan malam akan kami
antarkan langsung ke sini."
Bara berlalu pergi dari hadapan Kiran yang
masih terdiam sambil mendekap pakaian yang
tadi di berikan oleh Bara.
Tunggu dulu, apakah asisten Agra itu sudah tahu semuanya.? Haah..ya tentu saja, namanya juga
asisten.!.tidak ada yang tidak dia ketahui kalau
menyangkut segala sesuatu tentang Tuan nya.
Kiran menutup rapat pintu kamar masih dengan
pikiran yang tidak sinkron. Dia kembali ke tepi
tempat tidur, duduk lemas di sana. pakaian
Agra di letakkan di atas pangkuannya.
Tidak lama kemudian Agra keluar dari kamar
mandi dengan keadaan yang membuat wajah
Kiran sontak saja memerah seluruhnya.
Bagaimana tidak, saat ini Agra hanya memakai
handuk putih tipis saja yang menutupi bagian
sensitif nya. Karuan saja hampir seluruh tubuh gagahnya terekspos dan terpampang nyata di
depan mata Kiran yang langsung berdiri dan
memalingkan wajahnya.
Rambut Agra yang masih setengah basah
tampak jatuh berantakan menutupi sebagian keningnya, tampak begitu seksi dan menggoda.
"Kenapa harus keluar dengan keadaan seperti
itu, kamu kan bisa memakai pakaian di dalam.!"
Ketus Kiran sambil menyodorkan pakaian Agra
tanpa menoleh kearahnya. Namun tubuh nya
tiba-tiba saja menegang ketika laki-laki itu
malah mendekat ke arahnya.
"Jangan maju, berhenti di situ.! ini bajumu,
ambil sendiri.!"
Cegah Kiran seraya memejamkan matanya.
Pria itu bergeming dia tetap maju dan kini
sudah ada di hadapan Kiran yang masih
memejamkan matanya.
"Kenapa Nona Kiran..bukankah aku punya hak
untuk lebih dekat dengan mu."
Bisik Agra di telinga Kiran membuat tubuh gadis
itu berjingkat seperti tersengat aliran listrik.
Wajahnya kini sudah semerah tomat dan semua
itu tidak luput dari pengamatan mata tajam Agra
yang sedang menatapnya lekat dengan seringai senyum samar di bibirnya.
"Kau sudah melanggar batas yang aku tetapkan.
Kamu bahkan sudah memberitahu hubungan
kita pada asisten mu itu.!"
"Bukan hanya dia, Badar juga sudah tahu itu !"
"Apa.? kenapa kamu tidak mendengarkan aku,
kenapa kamu memberitahu mereka tanpa
bertanya dulu padaku aakhh..!"
Kiran memekik kaget saat tiba-tiba tangan kuat
Agra melingkari pinggang kecilnya dan menarik
tubuhnya hingga kini tubuh mereka merapat.
Wajah mereka begitu dekat hampir bersentuhan.
Mata mereka kini saling bertaut dalam dengan
deru napas yang mulai tidak beraturan.
Jantung Kiran kembali seakan mau meloncat
keluar dari tempatnya ketika aroma segar yang
keluar dari tubuh tegap pria itu kini memenuhi
indra penciuman nya.
"Apa kau mau mereka berpikiran macam-macam
pada kita berdua.? kau mau mereka berasumsi
yang tidak-tidak terhadap hubungan kita.?"
"A-apa maksudmu.? bukankah kita bisa menjaga
jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.!"
Elak Kiran dengan suara bergetar hebat karena
Agraa semakin mendekatkan wajahnya. Kedua
telapak tangan Kiran kini berada di dada bidang
pria itu, berusaha untuk menjaga jarak, tapi kini
tubuhnya malah terasa semakin lemas.
"Apa kau pikir kita bisa menjaga jarak.? kau bisa melakukan hal itu Nona.?"
Suara Agra terdengar berat dan serak, belitan
tangan nya di pinggang Kiran semakin kuat
hingga membuat tubuh mungil gadis itu seakan terangkat. Dengan ukuran tubuh Agra yang
sangat tinggi dan kekar keberadaan tubuh Kiran
yang tinggi ramping kini seolah berada di dalam kurungannya.
"A-aku..tentu saja aku bisa.! kita hanya menikah
di atas kertas saja, tidak ada kesepakatan
apapun di antara kita.. ja-jadi ini tidak berarti
apa-apa bagi kita berdua."
"Ohh..jadi menurutmu begitu.! tapi tidak dalam
pandanganku Nona Kiran.. pernikahan bukan
lah sesuatu yang bisa di permainkan begitu saja,
ini semua adalah benar, dan harus terjadi.!"
Desis Agra, Kiran terhenyak mendengar ucapan
Agra dia menatap dalam wajah tampan Agra
yang kini terlihat jelas aslinya. Perlahan tangan
Agra mengangkat dagu indah Kiran hingga kini
wajah mereka bersentuhan.
"Agra..kau tahu pasti..kita tidak saling mengenal
sebelumnya. Jadi ini semua tidak benar..!"
Lirih Kiran sambil berusaha menjauhkan wajah
nya dari jangkauan Agra karena kini bibir pria itu semakin mendekat ke area bibir nya membuat
darah Kiran serasa mendidih.
"Tapi aku sudah sangat mengenalmu Kiran..."
Bisik Agra parau sambil kemudian mengecup
lembut bibir ranum Kiran yang sontak memejamkan matanya rapat. Agra menempelkan bibirnya di bibir Kiran yang bergetar hebat, karena ini merupakan sentuhan laki-laki pertama bagi Kiran. Seumur hidupnya gadis itu belum pernah melakukan kontak fisik ataupun bersentuhan secara intim dengan laki-laki.
Agra mengernyitkan alisnya melihat reaksi
tegang yang berlebihan dari Kiran. Dia menarik
kembali wajahnya. Di pandangnya lekat wajah
cantik istrinya itu. Ternyata gadis ini masih
sangat murni dan polos. Sesaat kemudian dia
kembali mengecup lembut bibir mungil itu.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Kiran.
Kau adalah istriku.. milikku selamanya.."
Bisik Agra di telinga Kiran yang masih terpejam
kuat di tengah ketegangan yang menggila.
Agra melepaskan tubuh Kiran kemudian dia
meraih pakaiannya lalu masuk kembali ke
dalam kamar mandi.
Kiran menjatuhkan dirinya di pinggir tempat
tidur, perlahan dan gemetar dia memegang
bibirnya, masih terasa hangat nya bibir Agra
yang tadi sudah memberinya sentuhan lembut
yang pertama bagi dirinya. Jantung Kiran saat
ini seakan sulit untuk di kendalikan..
**********
TBC....
Jangan lupa jempolnya ya gaiiss..di tunggu
juga koment and vote nya..Tq so much..😘🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Serevina Simanjuntak
mantap thor
2024-05-01
1
andi hastutty
Kiran uh 😘 kecupan pertama nanti lumayan pertama dan selanjutnya 😂😂😂😂🤭
2023-10-26
0
Siti hawa
Adeh2….kiran…lepas kucupan n ciuman itu akan dtg y selain nya deh…
2022-11-13
0