\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tiga hari yang sangat berat bagi seorang Kiran.
Tinggal di tempat asing yang tidak di kenalnya
sama sekali. Semula dia hanya membayangkan
bagaimana indah dan alaminya tempat ini.
Namun yang dia dapatkan bukan hanya melulu
soal keindahan tetapi juga hal lain yang tidak
pernah di duga nya sama sekali.
Pagi ini Kiran memutuskan untuk tidak pergi ke perkebunan. Dia ingin memulihkan kondisi psikis
nya dulu akibat trauma atas kejadian mengerikan kemarin. Hari ini dia akan pergi ke pasar saja
untuk mencari sedikit hiburan dan cuci mata. Dia
juga penasaran dengan kondisi perekonomian di daerah ini, ingin melihatnya secara langsung ke lapangan.
Kiran turun ke lantai bawah dengan wajah yang
terlihat berseri apalagi dengan pakaian yang di
kenakannya. Kali ini dia memakai setelan manis.
Celana model hareem pants di padukan dengan atasan blouse lengan pendek pas body di balut cardigan warna pastel di lengkapi sneaker putih.
Terlihat sangat cocok dan serasi melekat di tubuh
indahnya yang sangat menggoda, walau berbalut pakaian tertutup sekalipun keindahan itu tetap
saja nampak dengan jelas.
Rambut nya di biarkan tergerai indah hingga dia kembali terlihat bak seorang barbie hidup. Mata
lebar nya yang indah terlihat berbinar dengan
penuh semangat.
Namun senyum di bibir ranum nya tiba-tiba
saja menghilang saat dia sampai di ruang
makan.
Matanya tampak menatap tajam kearah Agra
yang sedang sarapan di temani dan di layani
oleh si gadis manis..Lintang..kenapa gadis itu
pagi-pagi begini sudah ada di villa ! apa dia
memang sengaja untuk menemui Agra?
Kiran berusaha untuk menguasai hatinya
yang tiba-tiba saja terasa jengkel dan kesal.
"Selamat pagi Nona Kiran..apa anda mau
sarapan juga ? saya sengaja membawakan
makanan yang banyak untuk Tuan Agra."
Tawar Lintang dengan senyum manisnya.Agra
dan Bara langsung menoleh kearah Kiran yang
sedang melangkah perlahan. Mata Agra tampak menatap tajam melihat penampilan Kiran.
"Tidak, terimakasih Lintang..! apakah kamu
sengaja membawakan sarapan kesini untuk
Tuan Agra ?"
Tidak tahan rasanya akhirnya kata-kata itu
keluar juga dari mulut Kiran. Wajah Lintang
tampak bersemu merah dia melirik kearah
Agra yang terlihat datar dan acuh, pria itu
tetap fokus pada sarapannya.
"Iya Nona..Mbak Rasmi kurang begitu faham
makanan orang kota, jadi saya menawarkan
diri untuk membantu membuatkan nya."
"Ohh.. sepertinya kamu pintar masak juga ya.?"
Tanya Kiran sambil melihat sekilas kearah Agra
yang terlihat sangat menikmati sarapan nya.
Perasannya tiba-tiba saja tidak nyaman. Dia
bahkan menyadari sesuatu, sebagai wanita
yang berstatus istri Agra, apa yang sudah coba
dia lakukan untuk laki-laki itu, tidak ada !
"Tidak juga Nona.. hanya mencoba-coba saja
semampu saya. Tapi saya cukup tahu berbagai
jenis makanan yang bisa dicicipi oleh Tuan Agra."
Jawab Lintang dengan raut wajah yang terlihat
sangat berbinar, kembali mencuri pandang kearah Agra. Hati Kiran semakin merasa tidak nyaman
saat melihat tatapan penuh damba gadis itu.
"Tapi sepertinya Tuan Agra sangat menikmati
makanan buatanmu tuh.!"
Ujar Kiran sambil duduk di sebrang dengan
tatapan yang semakin tajam sekaligus kesal
pada Agra karena tampaknya pria itu tidak
memperdulikan keberadaan nya.
"Nona Kiran..kalau anda penasaran kenapa
tidak ikut sarapan saja sekalian, makanannya
masih banyak yang tersisa.!"
Bara ikut berbicara seolah mengompori. Agra
melirik tajam kearah Bara yang langsung
melengos berusaha berpaling.
"Tidak, saya ada janji sama Bani mau jalan-
jalan ke pasar.! kalau begitu saya permisi.!
silahkan lanjutkan sarapannya.!"
Kiran langsung berdiri dan melangkah seraya
menyampirkan tas nya di bahu, tapi langkahnya terhenti ketika melewati Agra karena tangan
nya di pegang kuat oleh pria itu.
"Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa
pengawalan.!"
Ujar Agra tanpa melihat kearah Kiran membuat
gadis itu semakin kesal.
"Lepaskan tanganku ! aku hanya pergi ke pasar
saja Tuan, bukan masuk ke dalam hutan belantara.!"
Desis Kiran sambil berusaha menarik tangan
nya dari genggaman Agra. Lintang tampak
memperhatikan keduanya dengan tatapan
tidak nyaman.
"Tunggu aku selesai sarapan, kau tidak akan
pergi kemana pun tanpa aku.!"
"Tidak.! aku akan pergi bersama Bani.! kau
pergi saja ke perkebunan bersama Lintang.!"
Sergah Kiran sambil menarik kencang tangan
nya hingga akhirnya terlepas, namun karena
terlalu kencang tubuh nya terhuyung ke arah
samping, dengan gerakan cepat Agra menarik
kembali tangannya hingga tubuh Kiran kini
jatuh di pangkuan Agra.
Kedua tangan Kiran berada di pundak Agra,
mata mereka saling menatap kuat. Lintang dan
Bara tampak melongo melihat keduanya.
Namun setelah beberapa saat Kiran cepat-cepat
berdiri dan menegakkan badannya dengan
wajah yang sudah memerah seluruhnya.
"Aku hanya akan pergi sebentar saja, mbak
Rasmi juga ikut pergi bersamaku.!"
Ucap Kiran kemudian sambil melangkah pergi
dari ruangan itu. Agra hanya bisa mengetatkan
rahang nya tanpa bisa mencegah kepergian
gadis itu.
Akhirnya tidak bisa di cegah Kiran memaksa
pergi ke pasar dengan menaiki motor matic
yang di bawa oleh Bani walaupun remaja
tanggung itu sebenarnya takut terhadap
kemarahan Agra nantinya. Namun dia juga
tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan
Nona nya itu.
Selama di perjalanan banyak sekali warga yang
berpapasan dengan mereka dan terlihat sangat
terpesona padanya. Bani tampak senang dan
bangga saat semua orang menatap iri padanya
karena bisa boncengan dengan bidadari secantik Kiran. Sementara Rasmi menyusul mereka di
belakang dengan naik ojek.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah
jam akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Hati-hati Nona.. tempatnya agak becek.!"
Rasmi mengingatkan seraya membimbing Kiran
turun dari parkiran. Sontak saja kehadiran nya
menimbulkan keriuhan bagi pengunjung lain.
Kiran lupa bahwa keadaan fisiknya yang sangat
menonjol di tempat terpencil seperti ini akan
selalu menyita perhatian semua orang.
Sebenarnya bukan tidak ada wanita secantik
Kiran di daerah ini, bahkan yang lebih eksotis
pun banyak, tapi Kiran memiliki daya tarik lebih
dengan kulitnya yang bercahaya dan sangat
berbeda dari orang kebanyakan. Juga matanya
yang indah seakan menjadi magnet tersendiri
bagi semua orang untuk memusatkan perhatian
pada dirinya. Dia itu sangat menarik di lihat dari
sudut manapun.
Kiran mengikuti kemana Rasmi melangkah,
tangannya tidak lepas dari genggaman wanita
40 tahun itu karena ada kekhawatiran di hati
Rasmi saat ini. Sedang Bani mengikuti mereka
di belakang.
Kiran berniat membeli bahan makanan yang
cukup agar dirinya bisa membuatkan makanan
untuk Agra. Dia juga tidak ingin kalah dari
Lintang.
Haahh..ini kedengarannya seperti lelucon.!
Kiran meringis sendiri saat mengingat semua
ini dia lakukan untuk laki-laki yang sudah sah
menjadi suaminya itu. Ya..dia pikir tidak ada
salahnya dengan itu, toh ini juga sudah jadi
kewajiban nya sekarang.
"Nona..di pasar ini barang nya terbatas, tidak
sekomplit di kota atau di supermarket.."
Rasmi menatap ragu kearah Kiran yang terlihat
merenung saat barang yang di inginkan nya
tidak ada di pasar itu.
"Ya sudah seadanya saja mbak.."
Rasmi mengangguk, mereka kembali berjalan
lebih masuk ke dalam pasar.
Kehebohan semakin lama semakin terjadi.
Semua orang baik itu pedagang maupun
pengunjung tampak bengong di tempat saat
melihat kemunculan Kiran. Tidak ada yang tidak terkesima melihatnya, terlebih lagi bagi para
pedagang yang di datangi Kiran, mereka tampak gugup maksimal saat melayaninya.
Setelah cukup lama Rasmi mengajak Kiran
untuk keluar dari dalam pasar yang keadaan
nya cukup kotor dan tidak tertata rapi itu.
Kiran harus berjingjit beberapa kali saat dia
melewati area yang berlobang dan di genangi
air yang menimbulkan bau tidak sedap. Namun tampaknya aktifitas perekonomian di tempat ini berjalan cukup lancar sebagaimana mestinya.
"Nona..kalau sudah tidak ada lagi yang ingin
di beli sebaiknya kita segera pulang sekarang.
Saya takut Tuan Agra marah."
Kiran melirik cepat kearah Rasmi yang terlihat
sangat resah dan melihat keadaan sekitar.
"Ada apa sih mbak, kok kelihatannya khawatir
banget, apa ada sesuatu yang salah.?"
Rasmi menggeleng pelan terlihat semakin resah
saat melihat semua mata terutama laki-laki kini
tertuju pada Nona Muda nya. Bani juga terlihat
sama cemasnya.
"Tidak apa-apa Nona, hanya saja keamanan di
pasar ini sedikit kurang terjamin, masih banyak
preman pasar di tempat ini. Dan mereka semua
adalah bawahannya Tuan Edgar.."
Ujar Rasmi dengan wajah semakin gelisah.
Kiran mengernyitkan alisnya.
"Edgar.. laki-laki yang tempo hari datang.?"
"Benar Nona, saya khawatir mereka akan
datang menganggu kita.."
Belum Rasmi selesai berbicara tiba-tiba kearah
keberadaan mereka datang beberapa laki-laki
berpenampilan berantakan dengan mata yang
merah serta pemukul di tangan.
"Gawat..mereka datang Bu..ini terlalu banyak,
Bani tidak akan bisa menghadapinya."
Bani tampak sedikit meringis, dia segera maju
ke hadapan Kiran yang menatap kedatangan
para preman pasar itu dengan sorot mata mulai
tegang. Ada penyesalan dalam hatinya karena
tidak mendengarkan ucapan Agra tadi.
Rasmi dan Bani berdiri di hadapan Kiran, sekuat
tenaga mereka menekan rasa takut demi untuk
melindungi Nona nya. Bani memang memiliki
kemampuan bela diri karena dia adalah putra
Badar, seseorang yang cukup di takuti di daerah
ini, tapi kalau lawannya sebanyak ini.?
"Mau apa kalian.? tolong jangan coba-coba
ganggu kami ya !"
Gertak Bani sambil memasang kuda-kuda saat
para preman itu sudah ada di hadapan mereka.
Mata mereka langsung saja melahap seluruh
diri Kiran dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Hahaa..hei bocah.. minggir kamu kalau masih
ingin hidup, cepat minggir.!"
Kepala preman mengibaskan tangannya
seraya menatap tajam wajah Bani memberi
peringatan.
"Tidak.! kalian yang pergi dari sini.!"
"Ohh..punya nyali juga rupanya nih bocah.!"
Kepala preman tadi maju mendesak sambil
mengeluarkan pisau belati dari saku jaket
kemudian memainkannya.
Kiran mundur dengan wajah mulai memucat.
Dalam keadaan ini otaknya hanya di penuhi
satu nama yang di harapkan bisa datang saat
ini juga untuk mengeluarkan nya dari situasi
yang sangat rawan ini.
"Serahkan gadis itu pada kami..baru kalian
bisa pergi dengan aman.!"
"Tidak akan, kalian pergi dari sini, atau kami
akan berteriak agar semua warga datang ke
sini dan mengeroyok kalian semua.!"
Bantah Rasmi sambil mundur memegang
tangan Kiran tapi para preman lain kini sudah
mengurung mereka.
"Tidak akan ada yang berani menolong kalian.
Siapa yang berani melawan Tuan Edgar..kami
hanya ingin membawa nona cantik itu untuk
kami persembahkan pada Tuan Edgar..dia pasti
akan memberi hadiah yang sangat besar..!"
Ucap kepala preman sambil tertawa menggema
di ikuti oleh anak buahnya. Salah seorang preman
tadi maju merangsek, tapi Bani menyerangnya
dan terjadi perkelahian beberapa saat hingga
akhirnya Bani jatuh tersungkur, hidungnya
berdarah.
"Bani..!"
Kiran dan Rasmi serempak menjerit histeris
melihat Bani babak belur. Rasmi kalap dia
menyerang preman tadi dengan menendang
dan memukul namun preman lain langsung
saja menarik tangannya ke belakang dan
mengunci gerakan nya. Kedua ibu dan anak
itu kini sudah tidak bisa lagi bergerak.
Mata mereka menatap cemas kearah Kiran
yang kini mundur ketakutan saat kepala preman
merangsek maju dengan tatapan mata liarnya
seolah menelanjangi diri Kiran .
"Berhenti.!Jangan macam-macam kalian, kita
tidak punya urusan.! stop..jangan maju..!"
Sentak Kiran dengan suara bergetar dan wajah
di penuhi oleh ketegangan. Kepala preman itu
menyeringai sadis dengan menjilatkan lidahnya.
"Ckk..ck.ck..benar-benar cantik luar biasa.
Dari mana datang nya mahluk cantik ini..!"
Gumamnya sambil kemudian semakin maju.
"Tolooong..tolong kami.."
Rasmi berteriak minta tolong pada orang-orang
yang ada di sana. Sebenarnya mereka dari tadi
melihat semua kejadian itu tapi tidak ada yang
berani maju karena takut akan akibatnya nanti.
Kiran berdecak ironi melihat orang-orang hanya
bisa terdiam bingung melihat semua kejadian
ini, sangat menyedihkan.!
"Ayo ikut kami Nona..maka semuanya akan
baik-baik saja.!"
"Tidak.! tolong jangan menggangguku..!"
"Menurut lah Nona cantik agar kami tidak perlu
melukaimu karena itu tidak akan di sukai oleh
Tuan Edgar.!"
Kiran semakin mundur dan kini punggungnya
membentur badan motor. Seringai senyum
licik terlihat dari si kepala preman.
"Bawa dia..!"
Perintahnya pada anak buahnya yang langsung
mengangguk semangat, dua orang kemudian
maju merangsek ingin mencekal Kiran, namun
sebelum itu terjadi beberapa preman yang lain
tiba-tiba saja berteriak kencang bersamaan
dengan tubuh mereka yang melayang ke udara satu-satu terlempar dan jatuh tersungkur..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
andi hastutty
Kiran keras kepala sih sok baru di kampung orang
2023-10-26
1
Samsung A01
skarang aq sgt2 brsyukur di berikan rupa yg biasa2 sja, jdi kmana mna gk perlu khawatir. gk da yg gangguin malahan aqx di cuekin...hahahaa
2023-02-03
0
anonymous
Kiran nyusahin
2022-06-27
0