Terdengar lolongan serigala dari kejauhan. Chyntia merapat ke sisi Dean sambil memegang erat lengannya.
"Aih! Jangan nempel-nempel dong!" Dean melepaskan pegangan tangan Chyntia. Gadis itu bukannya menjauh tapi malah semakin erat memeluk Dean. Tubuhnya bergetar karena takut. Sesekali Chyntia menoleh ke belakang dengan hati cemas. Ia tahu suara apa itu. Serigala! Raja Serigala salah satu penguasa di Mazi. Berarti keberadaan Dean dan Chyntia telah ketahuan oleh Raja Serigala.
"Dean," bisik Chyntia masih awas. Ia memandangi sekeliling pohon memastikan kalau di sana belum muncul makhluk buas itu.
"Apa?" ketus Dean tak senang dipegang-pegang.
"Kau gak takut, itu tadi suara si Raja?"
"Memang iya, tapi buat apa kau takut. Kau kan punya kekuatan sihir?" Dean terkekeh.
"Kau jangan terus bercanda, sekarang ini bahaya, tau!" cerocos Chyntia.
"Jangan terlalu nempel lah aku gak bisa fokus kalau kau menempel begini," keluh laki-laki itu lagi. Ia mengeluarkan senjatanya.
"Dean, kenapa senjatamu tingkat rendah semua, kau tidak upgrade senjatanya, ya?"
"Ini sih sudah tingkat dua!"
Chyntia tertawa keras.
"Ssshh kau mau ketahuan, heh jangan berisik!" Dean menutup mulut Chyntia. Gadis itu tertegun. Ia merasa Dean perhatian padanya. Ada rasa aneh di dadanya bergemuruh dengan hebat. Masa aku sudah ... Chyntia menggeleng kepalanya yang diperhatikan Dean.
"Hei kenapa kau?" Dean berpura-pura tidak tahu kalau Chyntia melamun. Gadis itu terus memandangi Dean.
"Katanya jangan dekat-dekat, tapi sekarang kau malah mengkhawatirkan aku. Apa jangan-jangan kau ...?"
Dean terbelalak. "Aku kenapa?"
Dean mundur dan menjaga jaraknya. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan perempuan itu. Bisa-bisa perempuan itu menggunakan kesempatan untuk menggodanya.
"Jangan-jangan kau suka padaku, ya?" tebak Chyntia membuat Dean refleks menoleh. "Hah? Aku menyukaimu?"
Dean tertawa lagi. "Kau menggelikan, ya. Fokus saja jalan lihat sinar pelangi tadi. Awas aja kupu-kupu mu itu malah membawa kita ke sarang penjahat!"
Huh. Dasar pria. Ia hanya bergantung terus pada wanita, bukannya terbalik. Aku kan yang lebih lemah masa dia harus bergantung pada wanita lemah sepertiku? Chyntia menggerutu. Sesekali melempar kepala Dean dengan ranting.
"Aduh. Kau ini kayak anak kecil, deh!" marah Dean. Pria itu menarik lengan Chyntia dan mencekal erat. Tiba-tiba...!
Wus! Sebatang pohon rubuh di belakang mereka, kemudian dua pohon lagi ikut rubuh. Pohon-pohon itu seperti hidup, bergerak mengepung mereka dari segala arah. Dean dan Chyntia terjebak di tengah-tengahnya. Entah dari mana jaring hitam keluar, tahu-tahu mereka sudah terperangkap!
"Kya! Sialan!"
"Benda apa ini, Dean cepat hancurkan jaring sialan ini!" perintah perempuan itu.
Dean mengeluarkan pedangnya lalu memotong jaring-jaring hitam. Belum ia bergerak, seekor laba-laba raksasa dari atas menyulut benang-benangnya di atas kepala mereka, benang-benang halus bergerak cepat menggulung mereka sampai menjadi kepompong. Tubuh Dean dan temannya tidak bisa bergerak lagi—benang-benang itu sangat kuat. Tubuh mereka terbalut erat.
"Uuuh, sial!"
...----------------...
Di asrama pria...
"Hei, kenapa Mark belum kembali, sih?" tanya Athoz.
"Coba kau panggil dia lewat telepati," kata seorang temannya.
"Hanya Dean yang bisa melakukan telepati. Aku sudah berusaha memanggil Mark tapi tidak bisa tembus ke dunianya."
"Kita ini mau sampai kapan melihat Fanus seperti itu, kalau dia dibiarkan terus nyawanya bisa melayang, dia sekarat sekarang!"
Athoz mengganti perban Stefanus dengan hati-hati melilitkan kain kasa setelah disterilkan. Kemudian menyuntikkan antibiotik padanya. Sean mencoba menghubungi Mark. Sementara seorang temannya lagi sibuk menumbuk obat untuk Gelael.
"Gelael nggak bangun-bangun, bro. Ramuan yang kau buat itu ampuh, kawan?" tanya Athoz pada Zedrix.
"Aku kan dokter pintar. Aku bisa menciptakan obat apa saja yang ku inginkan, jadi tak usah ragu dengan kekuatan sihir penyembuhku," katanya bangga.
"Coba buktikan, kalau begitu. Bangunkan dia lebih cepat!"
Gelael sebenarnya bukan tidur biasa. Jiwanya terjebak di ruang paralel —ruang waktu yang diciptakan oleh sihir ilusi milik Elen.
(baca bab sebelumnya). Sihir kuat tingkat tinggi yang bisa membuat orang seperti mati, tetapi tidak mati. Tertidur pulas. Jiwanya di bawa ke masa lalu. Masa kanak-kanak Gelael. Bisa dibilang, Gelael juga menginginkan masa lalunya. Kalau terus dibiarkan seperti itu, Gelael selamanya tidak bisa bangun lagi. Ia terlena dengan kebahagiaan di masa lalu dan tidak ingin sadar lagi, atau dengan kata lain ia mati tertidur.
"Sihir milik kak Elen itu sungguh mengerikan, ya. Lihat saja kak Fanus sampai hancur begitu," usik Zedrix melirik tubuh malang Stefanus yang dibaringkan di kasur. Ia tak berdaya, semua energinya sudah habis. Seluruh sendinya rusak, kaki dan tangan tak mampu digerakkan lagi.
"Ssh, berisik!"
"Kak Fanus sudah sadar!?"
Mereka merasa lega, karena tiba-tiba Stefanus membentak. Ia melihat sekelilingnya. Sean, Athoz, Zedrix dan Thomas mengelilingi dirinya. Pandangan mereka begitu khawatir.
"Kami kira kau tidak bangun lagi."
"Bagaimana dengan dirinya?" Fanus melirik Gelael di sisi tempat tidurnya.
"Dia parah, Kak. Kak Gelael seperti itu terus sejak kami bawa kayak tidur..."
"Tolong papah aku ke sampingnya. Kita harus bisa menyadarkan Gelael sebelum terlambat, racun itu sampai di otaknya. Maka Gelael tidak bangun lagi."
"Apa, kenapa jadi seperti ini. Kak Elen itu sungguh wanita yang jahat!" Sean mengepal tinjunya. "Kalau saja aku ada di sana, akan kubunuh dia!"
"Kau kira bisa membunuh kak Elen? Aku saja jadi begini..." Stefanus menunjuk tubuhnya sendiri.
Benar kata Stefanus. Mereka berenam pun tak sanggup membunuh wanita itu. Dia memang sangat kuat. Jika dibandingkan dengan Jennifer dan Dean Ellen jauh lebih kuat. Dean saja baru tingkat dua, tentu akan kalah telak. Tunggu. Dean memiliki kelemahan Elen. Ia sudah menghapusnya. Stefanus mengingat kejadian waktu itu.
Dean menulis sesuatu di dahi Elen lalu tubuhnya bercahaya dan kemudian lenyap tanpa bekas.
"Ada apa kak Fanus?" tanya Athoz
"Kalian, ada yang tahu siapa Dean itu?"
"Dean si anak baru itu ya kak?" Zedrix menyela.
"Ya," gumamnya. Stefanus merasa Dean bukan manusia bumi biasa. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Mengapa dia bisa melenyapkan tubuh Elen dengan mudah? Stefanus berpikir keras. Ia tidak sadar kalau Athoz menepuk pundaknya.
"Kak, sebaiknya istirahat saja. Tubuhmu belum cukup pulih," usulnya. Stefanus pun kembali ke ranjang dan tidur.
"Kalian bangunkan aku satu jam lag, ya," katanya.
"Baiklah," jawab Athoz. "Hei, kawan obatmu sudah siap belu?" tanya ia menoleh ke Zedrix.
"Aku sedang berusaha, tinggal sedikit lagi, nih," jawabnya. Zedrix memiliki kemampuan menyembuhkan dengan kekuatan sihir obat. Ramuan yang cukup diandalkan, ia menggabungkan dengan obat di sekolah mereka yang sudah menyediakan berbagai macam ramuan ajaib.
"Sihir penyembuh tingkat berapa itu, kenapa lama sekali, sih?" Sean Paul mengambil obat di tangan Zedrix dengan sebal. Obat itu diberikan kepada Athoz.
"Eh jangan sembarangan begitu!" hardik Zedrix. Ia menatap tajam. "Kau kira langsung diminumkan, bagaimana bisa dia minum mulut kak Gelael terkatup rapat begitu!" kesalnya.
Mereka saling berebut obat.
"Cepat kembalikan obatku!" Zedrix menarik di sisi kiri, dan Sean merebut di kanannya.
"Hoi! Obatnya bisa jatuh, lepaskan tanganmu!" sentak Zedrix. Ia tak mau obat berharga miliknya terbuang dengan percuma.
"Susah payah aku membuatnya," keluhnya melihat obat itu malah jatuh berantakan di lantai. Semuanya menghela nafas.
"Kalian kenapa kekanakan sekali, huh?"
Stefanus yang sudah tidur, tidak jadi karena keributan yang dibuat teman-temannya. Ia bangun dan menghentikan mereka.
"Kalian keluar sekarang!" usirnya.
"Maafkan kami, Kak Fanus!"
Semuanya keluar terburu-buru karena takut dimarahi oleh Stefanus. Mereka menganggap Stefanus lebih tua bukan karena umur, melainkan kekuatan sihir pria itu jauh lebih tinggi dari mereka yang masih berada tiga tingkat di bawahnya. Obat yang jatuh dibersihkan Stefanus sendirian. Ia merenung sejenak. Apa bisa obat itu masuk ke mulut orang yang tidur itu? Bagaimana pun caranya Gelael harus dibangunkan secara paksa. Kemudian ia melihat semuanya sudah tidak ada, Stefanus menutup pintu kamar. Ia melihat ada belati milik Gelael yang terselip di pinggang sebelah kanan bajunya. Pria itu perlahan menarik pisau kecil milik Gelael. Menatap lurus ke mata pisau. Pisau yang dipegangnya digores ke telapak tangan Gelael.
Set! Suara goresan pisau ke telapak Gelael.
"Maaf, bro. Ini cukup menyakitkan, tapi setidaknya aku harus mencobanya. Kau harus bangun melawan penderitaanmu!"
Sat! Set!
Tangan Gelael dipenuhi luka baru. Anehnya darah yang keluar di setiap goresan pisau itu tampak hitam. Stefanus terbelalak melihat darah Gelael.
"Mengapa bisa begini?"
Darah Gelael berubah menjadi lebih hitam.
"Apakah sudah terlambat?" Stefanus berhenti melukai tangan kawannya. Ia memandangi wajah Gelael dengan sedih. Air matanya keluar... Stefanus mengusap kasar. Ia benci menangis.
"Tidak! Kau tidak semudah itu mati, kawan!"
...----------------...
Dean dan Chyntia yang masih terperangkap berusaha membebaskan diri.
DUAR!
Ledakan yang dibuat Dean berhasil membebaskan mereka dari jeratan mau monster laba-laba. Raksasa itu tidak tinggal diam. Ia terus melilitkan benang-benangnya.
DUAR! Sekali lagi benangnya meledak hebat.
"Sialaaan... !" teriak Dean murka.
Ia menyeret kasar Chyntia dan melempar tubuh gadis itu ke sisi lain.
"Cepat berlindung. Buat efek kupu-kupu!" perintahnya.
Chyntia pun mengikuti petunjuk Dean. Ia membuat efek sihir pelangi kupu-kupu.
"Butterfly effect mode on!" lantang Chyntia.
Butterfly effect miliknya semakin ditingkatkan. Dari seluruh tubuh Chyntia keluar cahaya terang berwarna pelangi. Di punggungnya nampak sepasang sayap kupu-kupu cantik warna pelangi. Dean tertegun melihat perubahan energi yang dihasilkan dari butterfly effect milik temannya itu. Benar-benar luar biasa sihir milik wanita ini, gumamnya.
Chyntia membuat jari jemari yang dia silangkan keluar sinar-sinar imut kupu-kupu beragam warna dan variasi berbentuk kecil-kecil, makhluk yang cantik. Ribuan kupu-kupu bahkan ratusan ribu miliknya menari-nari di sekeliling tubuh Chyntia.
"Serang monster itu!" teriak Chyntia. Kupu-kupu kecil menyerbu cepat, gerakkan tidak dapat dibaca secara kasar mata. Makhluk mungil itu mengelilingi mangsanya dan menyerbu monster laba-laba.
"Ayo, lawan aku monster menjijikan!" teriaknya melihat monster laba-laba mulai kesulitan mengatasi kupu-kupu yang melekat di setiap tubuhnya.
Ledakan dahsyat terjadi berkali-kali. Kupu-kupu menjadi bom waktu baginya. beberapa kali laba-laba telah hancur.
Laba-laba raksasa itu menggeram murka. Sisa kaki-kakinya yang lain bergerak cepat membawa tubuhnya ke arah Chyntia, dari dubur laba-laba keluarlah benang-benang merah melilit yang bergerak cepat melilit Chyntia. Sebelum ia terlilit dengan senar-senarnya, Dean melesat ke atas tubuh laba-laba.
Dean yang beraksi, terbang dan menukik dari atas. Ia mengeluarkan jurus baru yang diberikan sistemnya. "Akan kehancuran kau laba-laba!"
"Sword Fire mode on!"
Sword Fire tingkat 3 upgrade level 4
kekuatan: membelah lawan, menusuk dan menghancurkan.
"Hiyaaaah!"
Dean menerjang dari atas laba-laba. Menusuk pedang apinya ke punggung monster.
Crash! Crash!
"Gra!" Laba-laba menggeram keras. Monster itu tidak dapat melawan mereka berdua, sihir efek kupu-kupu yang kuat membuat pandangan matanya berkunang-kunang—dan tebasan Dean dari segala arah. Laba-laba raksasa hancur!
"Kita berhasil, Dean! Yeah!" seru Chyntia merasa senang. Ia melakukan high five dengan Dean.
"Jangan senang dulu, lihat itu!" seru Dean.
Dia mengangkat dagunya sedikit sembari melipat tangannya di dada. Sepasukan monster bermacam-macam telah sampai di sana. Mereka menghancurkan pohon-pohon di sekitarnya dan menghadang kedua murid langit.
"Aih, sial!" Chyntia tak suka dengan keadaan ini. "Mazi ini punya berapa banyak monster, sih?" keluh Chyntia melihat ke depan.
Pasukan monster laba-laba biru dengan tubuh yang kecil menyerang mereka dari utara. Dari kanan Chyntia, sepasukan capung raksasa yang aneh—Dragon fly ikut membuat formasi siap menyerang juga. Di sayap kiri Dean—tentara semut merah besar yang ganas siap menghancurkan mereka. Suara-suara yang riuh dari hewan itu memenuhi kabut tebal datang tiba-tiba.
"Kabut apaan sih ini?" gerutu Chyntia. Dia kesal karena pandangan matanya terhalang oleh kabut itu.
"Tubuh mereka mengeluarkan mana yang bau, mana mereka itu menghasilkan asap tebal yang kau bilang kabut. Kita harus waspada, Chyntia," bisik Dean. Dia merasa situasi saat ini seperti berada di dalam hunger games.
"Butterfly effect double!"
Chyntia melakukan upgrade ke tingkat selanjutnya. Sihir pelanginya bertambah dua kali lipat.
Dean menghela nafas panjang. "Mereka tak ada habisnya?"
Ini belum berakhir.
To be continue _
Kuis
Apakah Pasukan monster berhasil dikalahkan oleh mereka?
A. Mereka berhasil
B. 50:50
C. Mereka kalah dan mati
D. Isi sendiri (komentar dari pembaca)
{Karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Lullaby
ping
2024-01-04
0
Lullaby
uwu
2024-01-04
0
Honeybee🐝🥀
A. pastinya!!!!😍😀
2023-12-29
0