Cerita ini mengandung kekerasan, pertumpahan darah, kata-kata kasar, pakaian minim, dan adegan dewasa bagi sebagian pembaca yang merasa terganggu, mohon kebijakan dalam membacanya.
Pertarungan antara manusia burung dengan Dean.
Dean : Level 0
kriteria : manusia biasa
kekuatan: tinju
HP : 100%
Lion (human bird hybrid): Level 8
kriteria : mengibaskan sayap/ tangannya, terbang menukik dan mencakar lawan, kekuatan angin yang bisa merobek dan mencabik.
HP : 100%
Monster burung ini mengajak aku berduel. Sungguh tidak adil, seandainya saja aku memiliki pedang. Akan kutebas lehernya yang angkuh itu. Kupotong sayapnya kecil-kecil!
Dean sedikit bingung. Bagaimana bisa ia mengalahkan makhluk di depannya.
"Sistem, kau sedang apa tolong bantu aku menyelidiki kelemahan laki-laki bersayap ini," kata Dean dengan telepati.
Sistemnya itu ialah Jennifer. Gadis yang menjadi sistemnya dan membentuk diri menjadi humanoid mendengar suara Dean. Ia tersenyum kecil.
"Baiklah, tetapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Tuan Dean harus setuju dulu syaratku."
Dean menghela napas. Kenapa sistemnya itu sudah besar kepala, apa pun syaratnya Dean harus menyetujuinya. Ini menyangkut nyawa, Dean mengangguk, seolah Jennifer berada di depannya. Lion tertawa merendahkan. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Sedang apa bocah itu? Apa dia tak waras ngomong sendiri.
Lion bersiap menyerang Dean.
"Ayolah, apa syaratnya. Lion akan menyerangku. Cepat katakan apa kelemahannya?" Dean merasa khawatir. Apa mungkin ia hanya manusia biasa mampu mengalahkan Lion yang adalah Birdman?
Dean mendesak sistemnya itu. Terdengar gelak tawa di dalam pikirannya. Kekuatan telepati memang baru pertama kali dipakainya. Ia merasa sedikit lega, karena masih bisa berkomunikasi dengan Jennie tanpa bertemu pandang.
"Baiklah. Syaratnya, kau harus mentraktirku!"
"Itu saja, kukira apa?"
Jennifer mengernyit.
"Tuan Dean memikirkan apa, jangan-jangan ... tuan ingin aku jadi pacarmu !?"
Tak ada waktu untuk bercanda. Ini darurat, mengapa Jennifer seperti mengulur-ulur waktu? Apakah aku hadapi saja mahkluk itu dengan caraku, semoga saja ada cara. Coba berkonsentrasi. Selama kemarin aku bisa meng-copy gerakan sistem. Coba saja kalau pedang prototipe Jennie ada di tanganku.
Tiba-tiba saja sekelebat bayangan benda panjang muncul di tangan Dean. Laki-laki berambut cokelat itu terkejut. Matanya membelalak melihat apa yang dipegangnya.
"Hemh, aku pinjamkan pedang prototipe milikku pada anda, Tuan Dean Alexandre. Pakailah dengan baik dan kalahkan birdman di depan anda. Kelemahannya adalah pada sepasang sayapnya. Jika Tuan berhasil mematahkan satu sayapnya saja, maka burung itu akan kalah!"
Suara sistemnya. Dean tersenyum simpul.
Baiklah, mari kita coba mengalahkan manusia burung!
"HYAAAAAAAAHHH!"
Dean menyerang Lion tanpa jeda, ia terus mengarahkan prototipe ke sayap kirinya berkali-kali. Lion tersudut ke belakang, melompat menghindari kibasan prototipe yang membelah tanah. Pedang legendaris itu sungguh luar biasa. Ia berhasil menghancurkan tanah di sekitarnya, tebasan pedang itu cukup akurat bila mengenai lawan, entah apa yang akan terjadi. Lawannya akan hancur seketika. Lion menghindar terus dan mengimbangi gerakan yang gesit dari lawannya. Sesekali ia membuang napas kasar, ia mulai kesulitan.
Satu kesempatan Dean berhasil menebas sayap kirinya.
BRRAK!!
AARRGHH!
"Kurang ajar!"
Dean berhenti menyerang, ia mengawasi Lion. Ia masih belum puas menebas sayap kiri Lion yang telah patah. Darah kehitaman merembes di balik ketiaknya. Lion terluka. Ia berhenti menyerang karena sudah menjadi lemah.
Lion : Level 8
HP : 56%
Kriteria baru: dapat menumbuhkan sayap 45%
Sial! Energi hp milikku berkurang. Apa yang akan kulakukan, sekarang. Apa ini akan berakhir, bocah jelek itu akan menang dan aku kalah? Tidak mungkin! Aku Birdmen tidak akan kalah! Aku harus menang!
Lion berusaha menumbuhkan sayapnya.
Aish, gila! Kok sayapnya muncul lagi, bukannya sudah kutebas berkali-kali tadi?
Dean melihat sesuatu yang aneh. Sayap kiri birdman itu bisa tumbuh lagi. Sia-saja tebasan prototipe milik Jennifer kalau begitu, ia harus lebih kuat lagi menebas. Kali ini ia mengincar kaki Lion.
"Ayo maju, Burung!" Dean bersiap melayangkan lagi prototipe Jennie. Serangan kali ini ke arah kaki kanan Lion.
CRASH!!
Argh! Bocah berengsek, kubunuh kau sekarang!
Lion terbang menukik dari atas dengan tatapan garang. Sayapnya yang sudah muncul durasi enam puluh lima detik itu cepat tumbuh, menghajar Dean ketika ia lengah. Gerakannya yang cepat dan tidak terbaca itu membuat Dean kewalahan dan hilang keseimbangan.
"MATI KAU BOCAH BAU KENTUT!"
Dean tidak diam saja, ia mundur mengambil posisi menghindari kibasan sayap Lion ke kanan, lalu menghantamkan tinjunya yang menganggur selama pertarungan. Dean meninju berkali-kali ke perut lawan tidak terlindungi. Berkali-kali melakukan pukulan JAB lalu melakukan kombinasi dengan pukulan pendek untuk membuat Lion KO. Lion tidak bisa menghindari pukulannya.
**AAAH**!
Dada dan perut Lion mendapatkan serangan pukulan paling kuat berkali-kali dari Dean. Ia merasakan sesuatu yang meningkat di dalam tubuhnya. Kekuatan tinjunya sudah hampir sempurna.
Dean : Level 1
kriteria : Pukulan tinju mematikan.
hp : 60%
Lion terjengkang ia jatuh lemas. Sayapnya sedikit bengkok karena terjatuh menabrak bongkahan batu besar yang ada di belakang arena tanding.
"Tempat ini cukup sempit, sialan!" Lion mengusap darah di sekujur tubuhnya. Dean cuma meninjuku, tetapi kenapa aku berdarah begini, ya....
Anak ini tidak boleh dianggap sepele. Kekuatan tubuhnya meningkat ke level satu. Cih, aku yang level 8 ini tidak akan bisa dikalahkannya! Akan ku–
Lion masih termenung, tanpa tahu akibatnya. Dean yang tahu-tahu muncul di depannya, sekali lagi menebas sayap kanannya berkali-kali. Pedangnya dihilangkan begitu saja. Kali ini ia memukul lawan dengan pukulan setengah memutar dan menyerang bagian kiri wajah Lion, lalu kepalanya, membuat Lion tidak dapat berkelit menghindari serangan Dean.
"Eksekusi!"
Dean melakukan Crossing, pukulan silang ke wajah Lion, lalu ke perutnya. Lion merasakan sakit luar biasa, cairan kental kembali keluar bak lahar di bibirnya. Ia terkekeh, wajahnya yang berubah menjadi buah busuk. Ia tetap berusaha bangkit. Namun, terjatuh berkali-kali. Ia tidak mampu lagi menggerakkan kedua lengannya yang patah. Sayapnya kini tak bisa dipakai lagi. Lion sekarat.
"BUNUH AKU!"
"BUNUH SAJA AKU!"
"Bukannya tadi kau mengatakan tidak akan semudah itu dikalahkan?" Dean melengos.
"Bu-bunuh saja aku banyak omong kau!" teriak Lion putus asa.
"Kau minta mati rupanya, baiklah akan kupenuhi permintaanmu. Jangan menyesal, ya."
Dean sekali lagi melancarkan serangannya dengan meninju berkali-kali tanpa berpikir kalau dia berada di lingkungan sekolah. Dulu, ia sering ditindas oleh beberapa anak kelas lain. Kakak seniornya itu merebut bekal dan memukuli dirinya jika dia tidak memberi mereka uang dan makanan. Dean masih merasa sakit, bagai layar film semua kejadian di masa lalu terus berputar dalam benaknya. Dean terus memukuli Lion tanpa ampun sampai ia merasakan ia masuk ke level 2.
Lion : level 8
hp : 23%
Dean : level 3
hp : 60%
"Mati! Mati, kau burung berengsek!"
Dean terus memukuli Lion, kepalanya sudah berlumuran darah, ia tidak peduli. Birdman cukup pasrah dan menahan serangan dengan menyilangkan tangan di dada, atau di wajahnya. Ia tidak mampu lagi bangkit melakukan perlawanan. Mark yang melihat itu di balik bilik ruang guru merasa cemas. Anak itu bisa mati kalau terus dibiarkan. Bocah bumi sialan ini sudah melewati batas. Aku harus memisahkan mereka. Sekolah bukan tempat pertumpahan darah, dasar sialan!
Mark segera melesat ke arena pertarungan. Menarik Dean lalu memukulnya.
"Hehehe kau anak baru jangan keterlaluan, ya. Cukup sampai di sini!"
Dean pun berhenti dengan napas tersengal-sengal. Ia tersenyum kecil. "Dia menginginkan kematian, jadi aku harus mengabulkannya."
"CUKUP KUBILANG!"
"Anda adalah guru yang baik, nanti salah satu dari kami akan mati baru anda muncul di sini."
Dean pergi meninggalkan arena tanding itu dengan wajah bersimbah keringat. Di bilik asrama putri, Jennifer duduk menghadap ke jendela, membuka tirai sedikit lalu tersenyum puas.
"Tuan sudah menyelesaikannya. Ini cukup menyenangkan, ya."
"Jennie, ada apa denganmu, aku lihat sedari tadi kau senyum-senyum sendiri, kau sangat senang apa aku melewati sesuatu?" tanya Rossie teman sekamarnya. Rossie menghampiri Jennifer
"Ah, nggak. Tadi aku melihat sepasang burung malam sedang bercinta di atas dahan oak," sahutnya beralasan
Rossie ikut menyibak korden lalu memandang ke luar tidak ada sepasang burung yang dikatakan Jennifer. Rossie merasa Jennie cuma mengerjainya
"Kalau begitu ayo tidur. Memangnya kau tidak mengantuk?"
"Baiklah, tapi aku harus keluar sebentar..."
"Kamu mau ke mana lagi, ini sudah tengah malam kalau pak Mark melihatmu di luar, kau pasti akan dihukum," tegur Rossie khawatir.
Jennifer tidak menghiraukannya, ia tetap berjalan keluar menyusuri lorong asrama yang sudah sepi. Tuan, kamu sudah janji akan melakukan apapun syaratnya...
Bibirnya membuat garis lengkung. Membuat senyuman simpul. Di asrama Langit, mereka tidak diperbolehkan menggunakan ponsel, kecuali telepati. Tak ada yang tahu kalau kekuatan telepati hanya dilakukan antara sistem dan tuan mereka. Ponsel tidak terlalu berguna bagi Jennifer. Ia terus berjalan cepat ke asrama pria.
Jennifer berhenti di sisi pintu utama asrama dan menguping dua orang laki-laki yang sedang berbicara.
Itu bukannya suara wali kelas mereka dan ketua asrama? Mark dan Thomas.
"Kau tahu, si anak baru yang namanya Dean Alexandre itu?"
"Ya, ada apa, Pak?"
"Bocah itu sudah keterlaluan. Thomas, bantulah saya. Kumpulkan semua temanmu, kita usir anak baru itu, saya tidak menyukai dia," tukas Mark dengan cepat. Ia membuang puntung rokoknya di asbak.
Guru seharusnya tidak memberikan contoh buruk. Ia merokok di depan murid...
"Memang sih, Dean terus berbuat seenaknya dalam beberapa hari ini dia membuat banyak kekacauan. Saya menyukai Dean, kenapa dia harus pergi bukannya dia cukup kuat?" Thomas mengelak. Mark yang tersulut emosi mencekal erat baju Thomas. Tatapannya tajam.
"Hei tenanglah, kawan. Jangan main tarik nanti dikira orang kita ini sedang mesum!"
"Aku pria normal, Thom!"
"Lah, lepasin dong!" Thomas mendorong sedikit tangan Mark.
"Jadi apa yang mau kau katakan?"
"Thomas, bantulah aku. Kita kerahkan kemampuan dan kumpulkan anak yang membencinya, bocah itu pasti bisa kita singkirkan!"
"Kenapa kamu begitu membenci bocah bau itu, hem?"
Tatapan Thomas penuh selidik. "Saya memang dari awal tidak menyukai kedatangan bocah itu. Saya benci kepadanya!"
"Oh, aku tahu. Dean lebih unggul darimu, dan kamu menjadi cemburu?"
Mark terkekeh sambil memegangi tengkuk.
"Cemburu?"
"Wah, Bapak pasti cemburu karena dia jauh lebih kuat dari anda." Thomas menepuk-nepuk pundak Mark.
"Jangan bercanda, ya. Saya bisa menghabisimu!" dengus pria berewok itu. Rahangnya mengeras. Ia tak suka dibanding-bandingkan dengan Dean Alexandre.
Jennifer yang mendengar obrolan kedua lelaki itu mundur. Ia tidak jadi mengajak Dean untuk makan-makan.
Tuan harus tahu kalau ada ancaman di sekitarnya.
Jennifer duduk di sebuah bongkahan batu besar berbentuk buat. Ia berdiri dengan satu kaki dan menjaga keseimbangan badannya.
"Tuan Dean, anda sudah tidur?"
"Hemh, besok saja syaratnya. Saya mengantuk!"
"Tuan, dengarkan dulu aku. Ada hal yang perlu kita bicarakan."
"Sistem, kau tidak tahu aturan, ya. Ini sudah malam, saya lelah dan mau istirahat!"
"Tuan, ada kelompok yang merencanakan kejahatan. Tuan harus waspada, ya. Pokoknya pedangnya, gunakan itu untuk melindungi diri anda."
Dean yang ingin memejamkan matanya, tidak bisa lagi. Ia pun bangun berdiri di depan jendela, menyibak kainnya pelan-pelan. "apa yang kau katakan?"
"Seseorang yang anda kenal merencanakan suatu kejahatan. Ia membenci anda, jadi waspadalah!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
dasar jaad/Scowl/
2024-01-06
0
Rara
gua kira manusia singa
2024-01-06
0
Lullaby
putus asa cieee
2023-12-22
0