Aku ... Dean. Kalian pasti mengenal siapa aku. Aku adalah siswa bodoh yang sering dimarahi oleh guru. Kebodohan yang selalu ditindas di sekolah lamaku.
Cita-citaku ingin menjadi komikus. Sudah dua buku yang aku buat dengan gambar aneh tak berguna—itu menurut ayah dan ibu. Mereka bilang buktikan. Tunjukkan kepada orang kalau aku juga bisa berguna, menghasilkan uang yang banyak.
Namun, tidak semudah itu karena buku gambarku tidak pernah ku terbitkan. Tentunya ada sebuah alasan, ya ... aku takut ditolak.
Satu hari, aku menemukan diriku tertidur di atas buku gambarku.
Ketika itu hari sudah senja, dan aku masih berada di kelas.
Tiba-tiba saja sesuatu terjadi pada diriku, aku mendapati tubuh ini telah masuk di ruangan aneh. Ruangan itu bersinar-sinar. Ruangan yang tadi hanya kamar mandi kecil yang sederhana—mengeluarkan cahaya putih kebiruan. Aku di dalam ruang sistem.
Lantai yang ku pijak menjadi miring. Tentu saja aku terpeleset berkali-kali, karena bentuk ruang berubah seperti layang-layang.
Tubuhku terpental ke sana-kemari sampai akhirnya aku berusaha berpegang pada satu sisi dinding dan berhasil. Aku bisa keluar dari kamar mandi . Awalnya kupikir karena aku yang sudah jadi superior. Ternyata ada sesuatu di sini. Sesuatu yang berwujud wanita—dia perempuan yang cantik dan mengaku adalah sistem.
Sistem yang berada dalam rupa manusia.
Aku bertanya padanya dari mana dia masuk dan siapa dirinya, tidak ada jawaban yang bagus. Semua penuh dengan teka-teki misterius. Perempuan itu rambutnya ungu lilak, mata yang ungu kemerahan bak lembayung senja yang romantis. Dia tidak romantis, dia agak kasar. Saat aku mengajak dia makan, dan membujuknya untuk keluar— perempuan itu bertindak kejam .
Dialah yang membuat lantai menjadi miring dan membanting aku berkali-kali. Sistem keparat!
Entah apa yang dia lakukan dengan rumahku. Berteriak minta tolong pun percuma saja. Dia sudah membungkam mulutku dengan semua alasan. Ayah dan ibu sedang berlibur dan aku hanya sendirian saja.
Aku harus mengusir si rambut ungu! Akan tetapi, bukannya dia pergi, eh dia malah memaksa aku harus masuk di sekolah—yang katanya berada di atas langit.
Apa maksudnya? Sekolah yang berdiri di atas langit? Hahaha ... sangat lucu. Ia mencoba bercanda dengan ku.
Mana ada sekolah yang berdiri megah di langit dan kokoh. Memiliki siswa monster dan segala kehebatan modern yang tidak kuketahui. Satu lagi alasan yang tidak masuk akal. Kata perempuan ungu itu, akulah yang telah menciptakan semuanya. Sekolah Langit, para monster, Guru aneh, serta sistem, yaitu dirinya. Kalau begitu bukannya aku harus bertanggungjawab? Lantas, tanggung jawab yang seperti apa, ada syaratnya agar aku bisa tahu apa yang terjadi di sana, yaitu dengan menjadi siswa langit.
Aku harus masuk dan bersekolah di langit. Maksudnya aku jadi murid pindahan di sana dan mengikuti program studinya—secara langsung. Sistem yang akan menjadikan aku murid SMA langit. Aku sih ... setuju aja.
Sudah pagi rupanya, terdengar si Koko berkokok tiga kali.
Suara kokok ayamku itu pasti membangunkan tetangga.
...----------------...
Dean mengucek kedua matanya, kedua tangannya direntangkan. Sudah pagi lagi....
Semua hanya mimpi.
"Untung saja itu cuma mimpi, kesannya seperti nyata dan menggemaskan. Apalagi membayangkan kembali si Rambut ungu itu. Oh! Bodinya benar-benar memabukkan!"
Dean tertawa geli, tanpa sadar ia memalingkan wajahnya ke kanan.
Aaaa!!
"Sedang apa kau?!" Dean memekik tertahan.
Dean melompat dari ranjangnya kaget melihat siapa yang sedang pulas di sisinya.
Perempuan cantik itu.
Perempuan yang tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ia tidur dengan santai. Dean memalingkan wajah karena malu sembari tangan kirinya melempar selimut di tubuh Jennifer.
"Tutupi tubuhmu dasar memalukan!"
"Hai morning, tuan Dean!" sapa wanita. Tangannya merentang ke atas.
Hai! Mengapa dia begitu santai?
"Sedang apa kau perempuan?" tanya Dean tidak senang.
Dean segera turun dan lari keluar karena dirinya malu melihat tubuh perempuan itu yang belum juga memakai baju.
Benar. Pasti hanya mimpi. Kalau ini mimpi ayo bangunlah, Dean.
PLAK!
Aduh. Sakit sekali. Ini bukan mimpi?
Semua sudah terlanjur terekam di benaknya, apa yang dia lihat. Dean laki-laki kan normal. Tentu saja ada tiang yang tegak berdiri tapi bukan tiang bendera. Dean melihat ke bawah sambil memegang ujung bajunya.
"Sialan!" Ia kaget sekali, karena perempuan itu sudah ada di bawah kakinya memelototi jamur miliknya.
"Apa-apaan kau, pergi!" usir Dean mundur sedikit. Perempuan itu cuma terkikik geli.
"Tuan, kenapa lari?" tanyanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Perempuan itu mengikutinya, menggamit lengan Dean dengan manja.
"Kau sistem mesum. Kenapa tidak pakai baju, pakai bajumu dulu!" desaknya.
"Bukannya tidur tanpa busana itu sungguh enak, tuan," kata Jennifer lugu
"Kau pikirkan saja sendiri." Wajah Dean begitu merah seperti tomat.
Tunggu dulu! Bukannya semua itu hanya mimpi? Mengapa perempuan itu masih ada di sini?
Di mana bukuku?
Dean mencari bukunya di bawah kolong, di meja, di manapun tetapi ia tidak menemukannya. "Tuan, apa yang kau cari?"
"Saya mencari buku sketsaku, apa kau melihatnya?"
Perempuan itu menunjuk sebuah buku tergeletak di sisi nakas.
"Apakah buku ini, tuan?"
Dean cepat-cepat merebut buku di tangan Jennifer. Kosong melompong? Tidak mungkin. Buku itu kosong tidak ada coretan di dalamnya. Apakah coretannya terhapus atau bagaimana, semuanya membuat Dean sakit kepala. Ia merobek semua kertas di bukunya sampai pada sampul buku. Dean mengernyit. Di sana tampak sebuah peta.
"Peta apa ini, sistem?"
"Itu adalah letak Sekolah Langit. Artinya Tuan harus ke sana. Sky High sudah di depan mata, bukankah tuan harus bergegas ke sana dan menjadi siswa baru Langit?"
Dean merasa dirinya pusing. Ia terhuyung kemudian tidak sadarkan diri.
*********
Tampak seseorang berdiri di sana, di depan sebuah gerbang besar. Gerbang utama yang panjang, bangunan itu berdiri kokoh dijaga oleh dua petinggi. Mahkluk yang tinggi dengan leher panjang, memakai topeng kitsune. Topeng adalah simbol yang menutupi wajahnya yang aneh. Sebelah robotika dan sebelahnya lagi monster. Penjaga gerbang dengan dua tombak Lone Lancer di tangan mereka. Salah satu mahkluk itu segera mengetahui ada musuh yang mendekat ke gerbang sekolah.
"Salam!"
"Huh, tikus sedang apa di sini?"
"Mengapa dia mengatai tikus, Jennie?" bisik Dean pada gadis sistem.
Gadis itu melipat tangannya di dada dan dagu terangkat sedikit,
"Karena tuan Dean kecil, makanya ia mengatakan anda tikus. Tenang saja, tuan. Mereka tidak mampu mengalahkan dirimu," tukas Jennie.
Jennifer atau Jennie memberikan sebuah bola kecil ke tangan Dean.
Apalagi ini??
"Gunakan ini, tuan. Cukup dengan menekan tombol merah kecil di sisi kiri," kata Jennifer.
Dean yang melihat benda bulat mirip bola hamster itu. Ia tidak yakin bisa masuk begitu saja di istana Langit. Benda itu cukup sederhana, hanya ada dua tombol merah dan hijau di sisi kiri-kanannya.
"Apa ini berguna, Jennie?"
Dean ragu-ragu, tetapi Jennie segera menekan tombol red power di sisi kanannya. Benda itu berubah bentuk seperti seekor hewan. Harimau besarnya tiga kaki di atas kepala Dean. Laki-laki itu melongo gugup.
"Hewan itu bisa mati, kenapa kau bawa harimau, Jennie?" Dean tidak habis pikir, bagaimana mungkin harimau bisa mengalahkan dua raksasa itu.
"Hahaha! Tikus itu membawa temannya, Mut. Tikus kuning yang imut. Apa dia enak dimakan?" tanya monster satunya pada monster yang sedikit lebih tinggi.
Ia mengayunkan Lone Lancer miliknya ke harimau tadi, tetapi apa yang terjadi. Harimau mengaum keras—tapi tidak menghindari serangan si monster. Tombak Lancer mengenai tubuh harimau dan meledak.
DUAR! Ledakan cukup hebat merobohkan sebagian tembok dan tanah berlubang.
Monster bernama Mar tersurut. Lane Mar menggeram murka. "Kurang ajar!"
"Jangan main-main denganku!" bentaknya gusar. Mar menusuk Dean dengan kecepatan tidak terkira. Jennifer menarik kedua lengan Dean dan mengangkatnya ke depan. Mereka melompat gerbang itu. Dean merasa dirinya terbang dan tidak lagi berada di tanah.
"AAAA!"
Dean merasa ujung tombak tajam milik Lane Mar mengenai batok kepalanya.
"Meleset, sial!" maki Mar. Ia meraih dengan tangannya yang sebesar meja makan, berusaha menangkap Dean. Jennifer menendang ujung jari Lane Mar.
"ARGH. BIADAB, TIKUS SIALAN!"
Jennifer yang memiliki pedang tingkat tinggi Prototipe Archaser menghalangi tombak Lone Lancer. Sisi kiri-kanan dari pedang itu berkilauan memancarkan muatan listrik keunguan.
"HIYAAAAAAHHHH!"
DUAR! DUAR!
bunyi keras membahana, menghancurkan gerbang utama Langit. Dean ternganga. Apakah ia menggambarkan bagian ini juga, ah sepertinya tidak pernah. Jennifer berhasil menggagalkan setiap serangan yang dilancarkan Lane Mar.
"BERHENTI KALIAN!"
Suara itu begitu keras. Jennifer menoleh arah suara yang berteriak tadi. Seorang dengan jubah putih, berdasi biru tua datang mendekat. Keduanya tangannya berada di belakang badannya. Orang tua itu memandangi gerbangnya yang rusak. Ia geleng-geleng kepala.
"Ulah siapa ini?" tanya orang itu.
Tak ada yang bicara. Monster maupun Dean dan Jennifer hanya diam saja.
"Saya tanya, ulah siapa yang membuat rusak gerbang sekolahku, hah?"
Semuanya menunduk.
Orang tua itu menatap satu-satu semua yang ada di sana.
"Kau ... siapa?"
"Saya–,
"Dia adalah siswa baru kelas satu yang akan mendaftar di Sky high, Tuan. Namanya Dean Alexandre." Belum Dean memperkenalkan dirinya, Jennifer sudah lebih dulu bicara.
"Oh, ya. Kalian sudah keterlaluan. Masuk sekolah saya dengan paksa lalu merusak fasilitas sekolah, kalian akan mendapat sangsi," tukasnya tak ramah. Matanya menatap Dean. Tatapannya penuh selidik. Kemudian mata elang itu beralih ke Jennifer.
"Dan kau wanita cantik, siapa kau?"
"Saya sistem yang menjaganya. Saya adalah Jennifer Lucas."
"Hem..."
Sorot mata orang tua itu sungguh kurang ajar. Ia menelisik baju yang dikenakan Jennifer. Melihat hal itu, Dean mau membuka mulutnya untuk protes, tetapi Jennie mencubitnya. Matanya Jennifer seolah bicara, "diamlah..."
"Anak baru, kau harus ganti rugi! Kau, wanita, ikut saya!"
Jennifer melirik Dean. Ia menggunakan empati. "tolong jangan bikin onar, tahan diri. kalau soal ganti rugi, biar saya yang tangani, tuan Dean tidak perlu repot-repot!"
Apa sesusah ini, ya bersekolah di Langit? Sekolah ini namanya Sekolah Tinggi Langit, tentu saja semua yang ada di sini adalah para monster dan orang-orang hebat. Sekolah yang mirip dengan SMU biasa, tetapi tidak biasa karena semua yang ada di sini bukan manusia. Mereka monster, robot dan orang yang menggunakan kekuatan sihir. Mengapa aku harus ada di sini, satu-satunya manusia biasa? Ini tak masuk akal! Aku tidak mau sekolah di tempat aneh ini, apa sebaiknya aku pulang saja, ya...
Dean yang duduk termangu menatap dua makhluk tadi yang dikalahkannya. Monster itu sedang berbicara dengan temannya. Kira-kira begini percakapan yang sempat didengarnya,
"hei, Lane Mut kau tahu anak muda cebol tadi?"
"tidak, untuk apa mencari tahu yang tidak penting!"
"rupanya dia boleh juga, dia jago berkelahi."
"Cih, dia curang! Ada sistemnya!"
"Wanita itu, ya? Bukannya dia pernah kemari beberapa tahun silam?"
"Huh, benar, kita harus waspada, siapa tahu dia orang yang dicari Profesor Stevenson!"
"Namanya kalau tidak salah Jennifer Lucas?"
"Lucas yang itu, ya?"
"Awasi dia!"
Dean sengaja mencuri dengar setiap detail yang mereka bicarakan. Memangnya mereka mengenal Jennie? Jennie dicari-cari oleh siapa dan apa hubungannya dengan aku yang masuk ke sini? Ah, bodoh amat. Seharusnya aku tidak usah mencampuri urusan orang lain.
Yah begitulah.
Akhirnya aku diterima di sini dan dinyatakan tidak lulus ujian pertama.
Ujian pertama adalah "masuk tanpa ada yang rusak." Aku malah menghancurkan gerbang sekolah. Anehnya aku malah diterima di sini karena tidak lulus ujian ramah-tamah.
Continue _
{Karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
ELVANN
ini adalah POV MC, ya.
2024-02-02
0
ELVANN
kebodohan yang sama dengan saya takut ditolak.
2024-02-02
0
Rara
skrg mc ny dikatai cebol/Angry/
2024-02-01
0