Sosok makhluk cantik dan seksi duduk berpangku kaki di depan Dean. Perempuan itu mengawasinya. Gerakan Dean tak luput dari dua maniknya yang menarik. Warna ungu.
"Hei, siapa kau dan dari mana kau masuk?" Dean terbelalak menatap tubuh perempuan itu yang hampir tidak memakai baju layak. Tubuhnya langsing bak gitar tanpa dawai, warna ungu itu juga sungguh memesona. Tanpa sadar liur Dean terus membasahi dagunya.
"Oooh ... Jijik banget!"
Tangan si Cantik mengulur ke depan, mungkin ia bermaksud bersalaman.
"Kamu ... Alexandre Dean lahir 2009 di desa terpencil tanpa nama, memiliki kemampuan menggambar dan membuat coretan tanpa makna, anak dari nyonya Beatrice Alex dan tuan John Alexandre. Perkenalkan, saya–,
"Hei, dari mana Anda tahu nama orang tuaku?" Dean berteriak penuh emosi, dadanya turun naik. Ia tidak mengenal siapa perempuan itu, tetapi satu hal yang ia curigai. Penyusup! Ada penyusup cantik yang masuk ke rumahnya.
"Perkenalkan saya Sistem Jennifer Lucas."
"Sistem, Jennifer Lucas?"
Dean tergelak.
"Hahahaha ... Anda Jennifer? Bukannya itu nama gadis yang ku gambar di buku ceritaku?"
Eits! Tunggu dulu, apa ini suatu kebetulan? Bukannya cewek yang ada di buku itu rambut dan matanya sama persis. Pakaiannya yang aneh kekurangan bahan, dan kulit putih mulus? HAH, APA-APAAN INI!?!
Semuanya nyata!
Gadis bersurai ungu dan manik keunguan, bajunya mirip ksatria wanita yang menjadi favoritku. Bedanya dia bicara padaku. mengaku sistem dan namanya Jennifer? Apa ini di dunia imajinasi?
Ribuan pertanyaan Dean di kepalanya. Namun, tidak satupun bisa dia jawab. Ia seperti orang bodoh hanya bisa duduk melongo.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?"
Dean bagai tersambar petir segera berdiri dan lari sekuat tenaga. Ia mendorong perempuan itu dan berusaha membuka semua jendela di rumahnya, tetapi ia malah limbung dan terseret ke bawah.
"Aaaaaaaaaah!"
Rumah itu seolah bergerak miring ke kanan. Dean kehilangan keseimbangan dan jatuh lagi. Ia berpegang di ujung sofa.
"To-tolong a-aku!"
Si rambut ungu bergerak cepat menarik lengan Dean dan menariknya ke dalam pelukannya. Dean merasakan jantungnya terasa lari dan meninggalkan rongga di dadanya. Berdebar kencang. Matanya membelalak. Ini baru pertama kalinya ia berpelukan dengan seorang perempuan.
Perempuan asing lagi.
Dean cepat-cepat melepaskan pelukannya dan mundur secara refleks.
"Eeh, makasih," tukasnya dengan gugup.
"Tidak apa-apa." Seperti robot perempuan itu tersenyum kikuk.
"Kau ini humanoid atau berpura-pura saja?"
"Saya sistem, Tuan. Kalau Tuan Dean memanggil saya Humanoid, terserah saja, sih yang penting anda tidak terluka. Apakah tuan penasaran dengan saya?"
Dean mengangguk bego.
"Saya ini sistem. Sistem yang ada di dimensi dunia lain. Apakah tuan tidak ingat, tuan sendirilah yang menciptakannya. Sebuah dungeon di dimensi lain. Dungeon dan kerajaan, monster dan para petinggi penjaga gerbang. Semua itu diciptakan oleh Anda sendiri, Tuan Dean Alexandre." Perempuan ungu menjelaskan panjang lebar. Dean hanya manggut-manggut tetapi masih tidak percaya. Ia ada kuasa apa menciptakan dungeon dan tetek bengek lainnya. Memangnya dia seorang player atau semacamnya? Memangnya dia profesor Gary atau orang penting pertama yang membuat game dungeon? Aneh. Ini sangat aneh. Tidak semudah itu dia percaya dengan perempuan di hadapannya ini. Bisa saja kan kedoknya bukan itu, dia mengarang semuanya dan bilang dia adalah sistem dan dia diciptakan oleh Dean sendiri. Bisa saja perempuan ini salah seorang antek kejahatan atau dia seorang penjahat kelas dunia.
Dean tidak akan mudah memercayai si Rambut ungu itu.
"Ehem, kamu sudah makan, ayo makan bersama?" Dean malah mengajaknya makan. Apa otak Dean sudah tidak waras?
Si rambut ungu mengangguk. Tersenyum manis. Mereka duduk dengan canggung di meja makan, saling berhadapan.
"Apakah sistem bisa makan?"
"Tentu saja tidak bisa, tetapi dalam wujud manusia mungkin bisa menghirup aroma makanan saja," jawabnya lugas.
Perempuan itu menunjuk bagian bawah Dean.
"Sebelumnya, Tuan harus memakai pakaian, burungnya kelihatan, tuh."
Spontan saja Dean melihat apa yang ditunjuk gadis itu. Rasa gugup dan mau menguburkan diri sendiri, Dean seperti orang kerasukan lari masuk ke kamarnya. Tak lupa mengunci pintunya. "Apa aku begitu bodoh?"
Dean sudah memakai baju tentunya lengkap dengan celana boxer. Ia duduk santai di meja makan bersama perempuan yang mengaku sebagai sistem. Perempuan itu kalau diperhatikan cukup cantik, manis dan sopan. Bajunya saja yang tidak sopan, terlalu terbuka di bagian leher dan dadanya. Dress tanpa lengan di atas pusar. Rok atau entahlah seperti hanya kain kecil yang menutupi pahanya dan area sensitifnya. Mirip player wanita di sebuah game yang pernah ia mainkan dulu. warna baju putih bergaris kuning senada dengan kain di bawahnya. Sepasang sepatu boot putih bergaris kuning. Rambutnya dikepang dua. Agak kuno. Warna ungu lilac yang sama persis dengan manik matanya, lembayung pucat terkesan feminim. Tangannya saling bertumpu, ia terus menatap Dean.
"Bisakah kau tidak memandangi orang makan?" Dean bertanya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia tidak suka kalau sedang makan diperhatikan dengan dalam.
"Kalau begitu, saya tunggu di situ saja, ya, Tuan?" Perempuan itu berdiri, berjalan ke sana lalu duduk di sofa dengan posisi berpangku kaki.
Terserah! Dean ingin mengucapkan kata itu, tetapi ia hanya mengangguk diam. Rasa makanan di depannya tak enak, seolah ia makan beling, tenggorokannya menjadi sakit dan berdarah.
"Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Dean setelah selesai makan.
"Sekolah, Tuan."
"Ya, ada apa dengan sekolahku?" Dean merasa sia-sia bicara dengan orang asing.
"Sekolah itu bernama Sekolah Langit. Setara dengan sekolah menengah atas atau SMA. Tuan harus masuk di sekolah Langit, daftarkan diri Anda."
"Apa?"
Dean terkekeh. Apalagi ini. Sekolah Langit apaan, hehehehe, dia ini ada-ada saja. Dia sedang membual.
"Jangan tertawa!" hardik gadis itu.
Matanya tiba-tiba berkilau putih, warna ungu bercampur dengan putih mengerikan. Ia menatap lekat sepasang manik milik Dean. Laki-laki atletis itu bergidik melihat apa yang terjadi. Sistem bisa marah juga, ya, pikirnya. Dean mengira sistem hanyalah robotika biasa, nyatanya dia seperti manusia yang memiliki emosional.
Lantai di meja makan miring kembali, Dean terseret ke kiri. Lagi-lagi ia mengalami hal serupa di kamar mandi. Apakah ini ulah sistem yang sedang marah. Dean tidak ingin tahu. Tangannya sibuk memegang ujung meja yang miring.
"Rupanya ini ulahmu, ya Sistem cantik! Kau mau membunuhku, ya."
"Makanya dengarkan baik-baik!"
Perempuan yang mengaku sistem itu berdiri tegak di depan lantai miring. Ia berjalan perlahan-lahan dan membungkuk di depan Dean. Jennifer mengangkat dagu Dean.
"Ayo sekolah bersamaku di Langit!" ajak gadis ungu.
Continue _
{Karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
ELVANN
berikan komentar kalian. apa pun itu saya terima kritikan dan saran dari kesalahan kecil dan besar di plot baca novel ini.
2024-02-02
0
ELVANN
tubuhnya terlempar di dunia Langit. Kerajaan ciptaan penyihir yang jahat itu
2024-01-10
1
ELVANN
ada sistem semacam itu di sebuah apk komik yang pernah saya baca
2024-01-10
0