Para siswa kini harus menghadapi tahap kedua yang lebih menantang. Kelas A tingkat awal mengikuti ujian tahap pertama " berlatih pedang" (baca bab 6)
Mereka ditempatkan di sebuah ruangan besar yang dipenuhi dengan ular berbisa. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kecil yang berisi segelas cairan merah gelap.
"Sekarang, kalian akan menghadapi ujian berbahaya tahap dua. Kalian harus meminum cairan ini yang terbuat dari darah ular berbisa untuk melanjutkan ke tahap berikutnya," ujar guru Mark dengan tegas. Guru wali kelas awal itu melirik ke arah Dean lalu tersenyum licik.
Kali ini aku pasti berhasil membunuhnya! Mark tersenyum licik.
Para siswa saling pandang, takut dan bingung. Namun, mereka tahu bahwa mereka harus melanjutkan ujian ini untuk mencapai tujuan mereka. Tanpa ragu, Dean berjalan ke meja yang terdapat cairan merah kehijauan. Ia meraih gelas kristal dan menatap tajam gelas tersebut. Dean meneguk cairan tersebut dan langsung jatuh pingsan.
Jennifer yang melihatnya berlari menghampiri Dean yang tergeletak pingsan. Jennie menaruh kepala Dean di pahanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jennifer terisak sambil memeluk Dean. Ia meletakkan kepala Dean di pangkuannya. Dua tangan Jennie menangkap pipi Dean.
Aku seorang android biasa, sejak kapan aku bisa merasakan emosional manusia dan menetes air mata. Mungkinkah sejak bertemu dia, gumamnya.
"Jennie, apa yang bisa ku bantu?" Charlie mendekat. Ia tahu Jennifer adalah sistem. Namun, Charlie merasa harus membantu Jennie dan Dean. Ia berkata, sedikit berhutang budi pada Dean.
"Hei kalian, cepat bantu aku memapahnya!" perintah Charlie Lee kepada anggota krunya. Tak ada yang mau maju. Dua anggota kru Dean, kru NEMESIS; Gelael dan Sean Paul yang beranjak dan penasaran dengan Dean yang pingsan. Timbul kelegaan di hati Sean melihat Dean tidak bergerak, karena kasihan melihat Jennie yang terus menangis. Memang sebelumnya ia agak kesal dengan sikap pria sok kuat itu, tapi karena Dean maju lebih dulu minum darah ular, akhirnya ia sadar juga. Semua temannya tidak ada yang berani melakukan itu. Si jagoan Charlie saja ikut membantu, mengapa aku tidak begitu batinnya.
Sean dan Gelael pun membantu Charlie memegang kaki dan tangan Dean. Merekalah yang membawa Dean keluar dari sana. Murid lainnya cuma bengong dan masih ketakutan.
Sementara itu, semua orang menjadi kawatir karena kru Nemesis yang kehilangan ketua Stefanus dan Sandi Liem hanya bisa berdiri dengan canggung. Mereka tidak ingin minum darah ular. Rasa mual di perut Sandi membuat ia muntah-muntah. Ia lari keluar karena tidak tahan dengan bau amis dari darah ular yang keluar menguap di gelas.
Mark memberi ultimatum pada murid-murid yang masih bengong. Ia masih mengawasi mereka semua.
"Antonio, anak-anak itu masih kanak-kanak, ya mengapa mereka bengong dan tidak berbuat apa-apa?"
"Aku tak tahan lagi dengan kelakuan mereka," tuturnya sedikit emosi. Mark mendekati mikrofon dan mulai bersuara.
"Kalian harus melanjutkan ujian meski tanpa ketua kalian, jangan khawatir. Ujian tahap ke tiga bukan meminum darah atau makan daging mentah. Kalian tenang saja, anak-anak!" Lantang suara Mark.
"Apa kalian ingin menyerah?" tanya ia sambil terus menatap mereka satu persatu.
Hening. Tak ada siswa yang menjawab. Masing-masing dengan pikiran sendiri.
"JAWAB, BODOH! APA KALIAN MENYERAH ANAK-ANAK?" bentak Mark lagi, ia menggeram. Dasar bodoh kalian!
Mereka terkejut dengan bentakan wali kelas itu. Dalam keadaan bingung mereka mencari sesuatu untuk minum, karena beberapa murid-murid sudah kehausan.
"Kami mau minum air pak guru!" teriak salah satu murid. Mark menatap anak itu. Keningnya berkerut.
"Tahan saja. Kau bisa minum di gentong air sampai puas!" kata Mark dengan suara lima oktaf.
"Tapi kami sudah haus, pak!" keluh anak-anak perempuan.
"Aduh, dasar kalian ini. Ku suruh tahan ya tahan jangan rewel kalian!" bentak si Mark.
Guru yang paling sering memaki atau membentak murid-murid itu ialah Mark. Entah otaknya sedikit eror atau apa, ia memang sering melakukannya. Sampai Bezos sering menegurnya kalau ia sudah kelewatan mengajar dengan kasar. Murid-murid bisa mati, kata Bezos suatu waktu, ketika Mark disuruh menghadap kepala sekolah.
"Kami tak ingin menyerah, pak, kami hanya haus saja," kata Merry merasa sebal. "Mungkin belum menyerah, Pak!" Sambungnya lagi. Merry ketua The Fallen Angel. Suara Merry sedikit pelan karena ia merasa cemas. Ia kurang yakin dengan jawabannya. Mark tertawa. Ia senang melihat salah satu muridnya berkata tidak akan menyerah karena ini masih permulaan dari semua siksaan untuk kalian, gumam hatinya.
"Bagus. Lanjutkan ujian kalian, waktu ujian di tahap kedua ini sisa tiga puluh menit, sekarang pukul 12.30. Jam satu tepat kalian harus berkumpul di luar. fighting!"
Semua kru baik ketua dan anggotanya mengikuti Jennie, Charlie, Sandi Liem, Sean Paul dan Gelael membantu Dean yang pingsan dan membawanya ke luar, kecuali kru Merry. Kru The Fallen Angels masih di dalam ruangan itu. Mereka ditugaskan untuk mencari tahu akar apa yang ditemukan Jennie. Anggota Merry harus mencari daun bayam sebagai penawar racun ular.
Mark tersenyum di balik layar Led besar.
Hahahaha, mampus kau, Dean Alexandre. Sekolah ini tidak bertanggungjawab apa-apa kalau kau mati, batin Mark.
Mark merasa sangat puas karena berhasil mencelakai Dean.
Setelah beberapa saat, salah satu siswa menemukan petunjuk di bawah meja kecil. Petunjuk itu mengatakan bahwa ada cara untuk menghindari bahaya dari cairan tersebut. Mereka harus mengambil sejumlah tanaman tertentu dan mencampurnya dengan cairan tersebut untuk mengurangi efek berbahaya dari darah ular.
Dengan bantuan petunjuk tersebut, para siswa berhasil membuat ramuan yang tepat dan meminumnya dengan hati-hati.
Sebenarnya petunjuk itu berasal dari buku yang dipegang oleh Jennifer. Di situ tertulis penawar racun King kobra adalah akar daun bayam putih. Charlie menumbuk dan memasukkan akar bayam ke air dan memberikannya pada Jennifer.
"Untuk sementara, kamu minum ini dulu...."
Dengan hati-hati, Jennifer memindahkan obat cair dari mulutnya ke mulut Dean untuk menelan obat. Rossie melihatnya. Tangannya terkepal, ia sakit hati karena masih menyukai Dean. Sejak hari itu, ia memang tak punya muka lagi bertemu dengan Dean, tetapi sekarang ketika melihatnya sendiri bagaimana Jennie memperlakukan Dean, timbul niatnya untuk merebut Dean kembali.
Mereka berhasil melewati ujian kedua dengan baik. Murid-murid di kelas Awal merasa bangga karena hanya Dean yang celaka. Mereka tidak sempat merasakan seperti apa darah ular itu. Di sana hanya satu cangkir kristal yang terdapat darahnya. Mereka tidak mengira kalau Mark sudah menyingkirkan semua gelas dan bermaksud untuk mencelakai satu orang saja, yaitu Dean Alexandre. Melihat Mark berhasil di selamatkan dari kru Bomb Blaster yang bekerja sama dengan kru Hercules.
Langit mengandung, perutnya membengkak, ia berteriak kesakitan, hendak melahirkan. Tak berlangsung lama, bayi-bayi itu berubah bentuk menjadi titik-titik kecil ribuan jarum, ujung yang tajam serupa tapi sejuk menusuk, laksana anak bayi baru dilahirkan ibu di rumah sakit, tetapi ia tidak bisa begitu bebas. Inilah takdir alam, titik-titik kecil yang bebas turun lepas di udara melintasi semesta alam kemudian jatuh berbarengan ke bumi. Tujuan mereka adalah bumi.
Bayi!? Bukan, itu bukan bayi, itu adalah anak-anak dewa langit. Anak dewa langit yang ribuan banyaknya bahkan milyaran atau tidak terhitung jumlahnya, telah jatuh tanpa kemauan mereka sendiri. Kehendak alam yang menentukan di mana mereka harus jatuh.
Titik-titik kecil, dingin bergerak lepas turun ke bawah bagai ribuan jarum dari atas langit itu ialah air hujan. Hujan deras mengguyur permukaan bumi dan sampai ke sebuah tempat, tujuannya adalah atap-atap rumah penduduk di bumi. Jalanan yang lengang karena tak ada lagi lalu lalang manusia. Mereka semua sibuk memilih tempat untuk berteduh masing-masing. Seseorang berlari di ujung sana menuju halte bus. Ia menepuk-nepuk bahunya, menggosok kedua tangannya, bibirnya bergetar sesaat menahan rasa dingin yang menusuk-nusuk di kulit. Ia memantapkan sweater hoodie yang sedang dikenakannya. Sweater merah terang. Wanita itu sesekali memperbaiki riasan wajahnya yang mulai luntur akibat cipratan air. Ia merogoh cermin kecil di dalam tas tangannya. Memoles bibirnya dengan lip tint pink. Matanya masih antusias di depan cermin kecil miliknya.
"AWAS!"
Seseorang meraih bahunya dengan memutar tubuh merengkuh wanita itu, bermaksud melindungi dari mobil yang melintas dengan mencipratkan genangan kotor di tubuh wanita itu, ia terhenyak melihat seseorang memeluknya. Spontan ia mendorong orang itu dengan kasar.
"What are you doing?"
"Sorry..."
Wanita itu tidak terima, ia menampar wajah orang yang sudah menolongnya dengan telak hingga orang itu terlempar menabrak seseorang yang ada di situ. Tamparan dari wanita itu mengundang orang-orang yang sedang berteduh di sana. Mereka memandang dengan pandangan menyalahkan si wanita.
"Dia menolong anda dan itu balasannya?" sinis seseorang yang berdiri di dekat pria tadi. Wanita itu mengernyit memasang wajah bodoh, ia tidak mengerti bahasa orang pribumi kepadanya.
"Who are you? Don't interfere, OK?" Wanita itu bertanya siapa dan jangan ikut campur.
"Stupid!" Ia mengumpat lagi.
Orang yang tadi menolongnya terdiam, mukanya serius memandangi mobil yang sudah berlalu di sana. Perlahan ia menghampiri si wanita. Kini dia menjadi sadar, orang yang dia tolong adalah seorang turis. Beruntung ia bisa berbahasa Inggris meskipun tidak lancar.
"Madam, are you okay?"
"do I look very old?"
"Apologize Ma'am, I thought you were older than me."
"Stupid, don't apologize anymore. Shouldn't I be the one apologizing to you, thank you for helping me," kata wanita bule itu.
Rambutnya ungu bergaris putih, hampir mendekati lembayung. Mata berwarna senada. Mengenakan lip tint pink pucat, sedikit polesan bedak. Warna natural. Alisnya sedikit tebal melengkung di atas kelopak mata yang indah.
"Saya bisa berbahasa Indonesia. Mau berkenalan?" ucapnya terbata-bata
"Siapa namamu?"
"Dean. Dean Alexandre, Ma'am."
"Saya Jennifer. Jennifer Lucas. Thank you."
Mereka saling bertatapan terdiam begitu lama. Itu adalah awal pertemuan Dean dan Jennie ketika mereka berada di bumi. Sebelum berpindah ke dimensi lain, ada sesuatu yang telah terjadi terhadap Dean dan keluarganya. Dean melupakan sebagian ingatannya.
Dua tahun bersama, banyak yang terjadi dengan kedua orang itu yang saling menggenggam tangan dan tidak ada yang mau melepaskan. Sampai suatu hari, di tahun ke tiga Jennie tidak pernah menemui Dean lagi, ia seperti menghilang dari bumi. Dean kehilangan komunikasi dengan gadisnya dan terus menunggu. Menunggu Jennie tanpa kepastian, mencari tahu di mana gadis itu tinggal yang kata para tetangganya, keluarga itu sudah lama pindah kembali ke California. Jennie dan ibunya, sedangkan ayahnya entah berada di mana. Dean putus asa.
Dean menemukan cinta yang baru. Rossie. Wanita mungil yang selalu mengejarnya sampai ia lulus sekolah. Wanita gigih. Rossie mencintai Dean, sampai bersumpah akan melindungi Dean dari segala macam bahaya. Berlatih berkulitivasi sampai menjadi gila ingin menjadi Dewi di langit. Ingin terus menjadi kuat dan melindungi prianya. Rossie memakai segala cara untuk bisa masuk ke negeri langit, bersekolah di sana. Meskipun bagi semua orang itu hal yang mustahil, Rossie tidak peduli. Ia nekad pergi. Meninggalkan papa dan mamanya di bumi dan melakukan pencarian. Dean hilang. Rossie terus mencarinya sampai ia tiba di perbatasan bumi dan kerajaan Langit. Ia nekad masuk, mengacau, menghancurkan apa saja makhluk jahat yang menantang, mengalahkan dua petinggi penjaga gerbang Langit dan berselisih dengan Mark. Antonio sebagai guru pembimbingnya menasehati kalau ia kembali saja ke bumi. Dean tidak ada di sana. Pemuda tampan yang dia cari tidak ada. Rossie tidak kenal putus asa, ia terus mencari dan mencari. Sampai suatu hari, ketika melihatnya di pintu kepala sekolah. Seorang pria tampan masuk di kelas A Awal, kelas Rossie sebelumnya. Matanya terbelalak. Pemuda itu sangat mirip dengan Dean. Apa dia benar-benar adalah Dean? Dean-nya. Dean yang dia cari di bumi sampai nekat masuk ke nirwana dan mencarinya lagi. Dean yang dia cintai ternyata menjadi murid baru di kelas A.
Rossie memohon kepada Antonio untuk menukar kelasnya, agar bisa masuk di kelas yang sama dengan Dean. Rossie berpikir jika dia bisa membuat Dean kenal dan mencintai dirinya lagi. Rossie berharap itu terjadi, tetapi siapa wanita cantik rambut ungu di sisinya?
Menyebalkan!
Rossie mengira itu cuma kebetulan. Setelah mencari data-data penting mengenai si rambut ungu, ternyata dia adalah rivalnya yang dulu. Jennifer. Tapi kenapa Jennie juga berada di Langit? Apakah Jennie juga mendaftar menjadi prajurit perempuan dan mau sekolah bersama Dean, atau dia juga sedang mengejar pria itu? Kalau begitu, Rossie harus gencar menggoda Dean dan lebih berusaha lagi agar Dean melihat ke arahnya saja.
...----------------...
"Dean..."
Mata dengan bulu lentiknya mengedip perlahan, terus berulang lalu membuka dengan sempurna. Dean sudah sadar, ia merasa mual, tangannya memijat kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang perempuan. Tangannya mengusap lembut dahi Dean.
"Ini di mana, ya?" Dean bangun dan melihat sekelilingnya. Ruangan dengan bau khas rumah sakit itu nampak asing di matanya.
"Di lab ayahku. Kamu pingsan tadi ketika minum darah ular. Semuanya takut dan tidak minum, tapi kamu yang maju lalu meneguk darah ular sampai habis," terang Jennie.
"Jennie, benarkah aku minum darah ular?" Dean bergidik.
Ia merasa seperti bermimpi. Mimpi yang sangat nyata dan membuat dia bersemangat. Mata Dean mengitari sekitarnya. Ia memandang ke seluruh ruangan itu. Ada beberapa rak besi dengan banyak stoples kaca yang tertutup. Ia tak ingin tahu apa isi stoples kaca itu. Lupakan saja isinya, yang menarik perhatiannya adalah Jennie. Rasanya begitu rindu. Jennifer seolah telah lama menghilang dari pandangannya dan baru sekarang bertemu.
"Aku bermimpi."
"Mimpi?" Jennifer sibuk mencari pil sakit kepala, kemudian meraciknya dengan obat mual. Tangannya sibuk mengulek obat di ulekan khusus.
"Kamu mimpi apa, Dean?"
"Aku mimpi, kamu memanggil aku tuan Dean. Kau menjadi sistem, kamu berubah menjadi manusia droid. Banyak hal yang terjadi, pertarungan bersama teman-temanku, pertikaian dengan guru wali dan Rossie."
Tangan Jennifer berhenti mengulek. Ia mengangkat mukanya.
"Kau bermimpi sebanyak itu?"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Dean ingin turun dari pembaringannya, tetapi dihalangi oleh Jennie.
"Nanti dulu, kamu harus banting lagi, Dean. Racun itu masih berdiam di perutmu. Kau harus makan pil ini dan muntahkan racunnya."
"Bagaimana kalau aku tidak makan obatmu?"
"Kau akan pingsan kembali dan koma selamanya."
Dean segera meraih obat di tangan Jennie dan memakannya. Tak lupa ia mengambil gelas di meja dan minum air di gelas itu.
"Air apa ini kok pahit?"
"Air mineral buat ayahku, namanya air pahit."
"Air pahit?"
Dean mencecap air di gelas itu sekali lagi, ya memang sangat pahit.
Jennie kemudian meraih gelas dan menaruhnya di mesin cuci piring.
"Kau harus istirahat kembali, jangan memikirkan apapun, kalau bermimpi lagi, anggap saja itu bunga tidur," tukas wanita itu dengan tersenyum manis.
Dean mengangguk. Ia terus memandangi wajah gadis itu sampai ia merasa mengantuk lalu tidur kembali.
Maafkan aku tuan Dean. Sebenarnya aku memang sistemmu. Sistem yang hilang dan pernah memiliki kenangan bersamamu. Aku pernah hidup sebagai manusia bumi dan pernah menaruh kasih kepadamu. Namun, aku tidak tega membunuhmu dan mengambil bagian yang penting itu. Aku tidak sanggup membuatmu menderita lagi karena keegoisan ayahku. Maafkan aku, Dean! Aku ... aku banyak berbuat jahat. Jangan khawatir aku akan menebus semua kejahatan yang kulakukan.
ujian tahap 2 ~Minum darah ular selesai
continue _
{Karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Honeybee🐝🥀
uwoooh puitis 😍😀
2023-12-24
0
Lullaby
pareee
2023-12-22
0
Honeybee🐝🥀
banting /Sneer/
2023-12-20
0