"Elene!" teriak Dean.
Suara Dean mengalahkan bunyi jangkrik di pohon besar yang mengerikan. Tak ada dedaunan yang melekat di ranting maupun dahan pohon, semuanya nampak gersang. Entah sudah gugur atau karena hal lain. Dean tidak memusingkannya. Ia melangkah tanpa lampu ke dalam hutan. Satu-satunya yang menjadi cahaya adalah Cynthia. Gadis itu ikut mencari Elen.ilustrasi hutan Mazi
"Kenapa kau mau ikut bersamaku, Cynthia?"
"Karena Elen itu teman baikku. Elen sudah ku anggap seperti saudariku," jawabnya.
"Hanya itu saja?" selidik Dean. Matanya menyipit, menatap muka Cynthia, mencari-cari kalau ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan apa yang dia cari. Cynthia tidak berbohong.
"Dean, ke mana sistem itu?"
"Maksud kamu Jennie?"
"Iya."
"Jennie sedang berada di suatu tempat," sahutnya. Dean melompat ke pohon seperti ninja yang hebat, membuat Cynthia kesulitan. Ia ikut naik dengan memanjat.
"Buat apa kau ikut naik?"
"Dean, angkat aku!" perintah Cynthia seenaknya.
"Jangan naik!"
"Kau ini! Bersyukurlah karena perjalananmu ada seorang teman," teriaknya kesal karena Dean tidak mau mengangkat tubuhnya. Cynthia tidak bisa panjat pohon bukan berarti dia lemah. Dia memang sedang malas saja. Pohonnya juga angker, kurus dan lurus ke atas tanpa pijakan. Ia ngeri membayangkan kalau dia jatuh dari sana.
"Memangnya aku yang menyuruh mu ikut?"
"Kau ini pria menyebalkan. Pantas saja hanya hidup sendirian!" ledeknya pada Dean.
"Kau sendiri sendirian juga," tawa Dean.
"Sudahlah. Ayo angkat aku, Dean," pinta Cynthia mulai marah. Ia merasa Dean hanya mengulur-ulur waktu bercanda. Di situ tak ada siapapun. Sepi...
Dean mengulurkan kayu ke wajah Cynthia.
"Nih!"
Gadis itu mengamuk. Ia makin kesal karena Dean tidak juga mengangkatnya. Dean tertawa melihat Cynthia yang menggerutu.
"Dasar tidak tahu diuntung masih syukur ada cewek cantik yang mau menemani dirinya!" omel Cynthia.
"Lucu sekali, ya. Aku tidak pernah dekat denganmu, Cynthia."
"Huh!" dengkus Chyntia
Dean mengusap dagunya merenung sejenak,
"Kalau tidak salah di buku itu aku menggambar dirimu dengan pensil. Sihir mu Butterfly, ya?"
"Udah tahu nanya!" ketus Chyntia. Ia tercengang. "Dari mana kau tahu aku memiliki sihir kupu-kupu?"
"Entahlah, aku hanya mengingat sedikit. Mungkin cuma selintas di benakku," pungkas Dean.
Ia tidak ingin Chyntia menggali lebih dalam soal dirinya datang dari dimensi manusia dan masuk ke novel. Lebih tepatnya bertransformasi ke buku cerita anak-anak.
Dean mendapat sebuah ide bagus. Mungkin Chyntia bisa membantunya selama dirinya berada di hutan. Tubuh gadis itu bercahaya seperti senter kecil. Walau cahayanya remang-remang saja seperti seekor kunang-kunang, tapi gadis itu sedikit berguna untuk Dean. Setidaknya suasana di malam hari di hutan tidak terlalu gelap.
"Boleh aku melihat energi butterfly milikmu?" tanya Dean.
Chyntia menoleh dengan sebal.
"Kau mengujiku, ya. Jangan remehkan aku!" Chyntia menatap Dean dengan tatapan menantang.
"Aku kan cuma bertanya, memang siapa yang meremehkan dirimu, Tya?" Dean melempar pertanyaan sembari bersandar di dahan pohon.
"Baiklah, ayo duel!" tantang Chyntia. Ia bersiap, tetapi ia tidak jadi melakukannya. Energi yang memancar di tubuh wanita itu menjadi padam kembali. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Elene. Apa yang dilakukan Dean kepada sahabatnya itu. Elen menghilang karena Dean menghapus tubuhnya. Ia melihat dua tangannya secara bergantian. "Apa kau akan menghapus semua teman-temanmu Dean?"
"Tak semuanya."
Chyntia perlahan mengangkat dua tangan di kepala dan membuat gerakan melingkar, menari-nari. Butterfly effect!
Hewan kecil yang imut dan cantik berwarna-warni muncul di atas kepalanya dan berterbangan di depan Dean. Melintasi pohon-pohon besar lalu menunjukkan jalan bagi mereka melalui sinar pelangi yang keluar dari sayap-sayapnya. Sinar pelangi berubah menjadi cahaya kuning.
"Dia akan tunjukkan di mana Elen," kata Chyntia. Ia merasa yakin.
"Kau yakin, kupu-kupu itu mengantar kita ke sana?"
Chyntia mengangguk.
"Baiklah. Kau naik di punggung!"
Chyntia merona. Mana mungkin ia mau. Dean mengada-ngada.
"Maksudmu aku menaiki badanmu itu, heh?" Chyntia merasa malu.
"Iya, kenapa? Kamu malu?"
"Dasar tak tahu diri!" makinya. Chyntia mengerahkan kekuatan butterfly effect kemudian menghantam Dean sama laki-laki itu terjerembab ke tanah.
"Mampus! Moga rayap memakan tubuh hina mu itu, Dean cabul!"" sarkas Chyntia.
Sementara itu di dimensi sejarah, Jennifer sang sistem yang mendengar obrolan Dean dan Chyntia dari jauh wajahnya berubah menjadi murka. Ia begitu cemburu. "Dean apa yang kau lakukan, kenapa sekarang kau malah senang menggoda wanita?"
...----------------...
Hutan Mazi yang mereka tahu hanya hutan angker biasa. Mereka salah. Hutan itu penuh dengan raksasa, goblin yang jelek dan para peri jahat yang tinggal di pohon-pohon yang berlubang. Ada dua siswa yang pernah ke sana dan tidak pernah kembali lagi. Cuma tinggal nama saja.
Satu bulan mereka hilang dan kemudian kepala sekolah menyuruh Mar dan Mut mencarinya karena sudah lama tidak kembali. Mar bersaudara menemukan siswa-siswi itu sudah menjadi tengkorak. Tidak ada tanda-tanda dimakan hewan atau dibunuh monster di Mazi.
Dean yang mendengar cerita itu hanya menganggap semuanya omong kosong. Sekolah langit membuat cerita palsu. Ia lebih tahu tempat apa hutan yang dia buat di bukunya. Hutan yang penuh kenangan bersama seseorang.
Tunggu dulu! Tiba-tiba saja Dean berhenti terbang. Chyntia yang tidak bisa terbang, tetapi memakai kekuatan kupu-kupu efek juga ikut berhenti. "Hei, kenapa kau berhenti?"
"Aku teringat sesuatu."
Dean menggunakan telepati memanggil Jennifer.
[Jennie, kau dengar aku?]
[Ya, ada apa tuan Dean?]
[ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.]
Jennie terhenyak. Tuan, jangan-jangan kau sudah ingat sekarang?
[Katakan dengan jujur, aku pernah bertemu dengan kau di hutan ini dulu sekali? Apa aku benar?]
[Saat aku masih manusia di bumi. Dulu ini bukan hutan sihir, melainkan hanya hutan biasa. Hutan angker biasa dengan pohon-pohonnya yang botak. Saat itu diadakan perkemahan di hutan oleh anak-anak SMU Bhakti. Aku hadir di perkemahan sekolah itu. Waktu itu aku pernah melihat seorang perempuan yang jatuh sakit dan tersesat. Pak guru kami membawa wanita itu di camping dan memberinya air, makanan dan pakaian. Wanita itu, kamu!]
Jennifer menghela nafas panjang. Ternyata yang dia ingat bukan aku tapi ibuku. Ibu yang pingsan di tengah kejaran para raksasa lalu masuk ke area perkemahan anak-anak manusia. Ibu lupa kalau dia sudah berada di perbatasan langit dan bumi. Ia malah ditemukan oleh orang pribumi. Lalu....
Bersambung _
{Karya ini merupakan karya jalur kreatif}
I
Ilustrasi Chyntia by WLOP
continue _
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Honeybee🐝🥀
woah gadis bersinar
2024-01-05
0
Lullaby
kerenn wlop
2024-01-04
0
Honeybee🐝🥀
Mar muttttt 😂🤣
2023-12-29
1