Sekolah menengah atas (SMA) di bumi memiliki gedung tersendiri yang biasanya disebut aula. Tempat ujian biasanya dilaksanakan di tempat itu atau di kelas masing-masing. Begitu pula di langit. SKY HIGH menyediakan tempat terbaik untuk menambah pengetahuan sihir dan berkulitivasi. Salah satu ruangan yang berbahaya adalah ruang ujian Tahap Satu. Ruangan itu terdiri dari dua sekat tipis. Setiap sekat dikelilingi oleh api. Sangat berbahaya, bila ada siswa atau siswi yang tidak patuh atau mereka melanggar aturan sekolah, ruangan tahap satu ini adalah ujian bagi mereka dengan berlatih pedang. Hukuman bagi murid yang melanggar peraturan sekolah Langit adalah berlatih pedang di ruangan penuh api.
Dean dan Jennifer berada di sini. Jennifer membuka semuanya, termasuk melucuti pakaiannya sendiri. Dean menutupi matanya.
Omong kosong apalagi yang dilakukan gadis itu, kenapa dia telanjang bulat, sih? Apa dia tak punya malu sekarang. Dean enggan melihat Jennifer. Ia bermaksud meninggalkan tempat itu.
KLANG!
Aih, sial.
Pintu tertutup begitu mereka masuk. Tertutup rapat bahkan terkunci dengan baik. Siapa yang sudah mengerjainya, Jennifer kah? Tidak. Gadis itu sibuk melepaskan semua senjatanya. Sepertinya dia diperiksa setelah masuk ke tempat ini, semua siswa baru harus siap melewati ujian sampai akhir.
Apakah Dean sanggup berlatih pedang? Dean yang tidak memiliki pengalaman menggunakan senjata.
Sanggup atau tidak, mari kita lihat apa yang akan dilakukan Dean di ruang ujian tahap satu ini.
Api mengelilingi sudut ruangan. Mengapa api itu tidak bisa padam, apakah ini api neraka? Katanya api neraka panas tujuh kali lipat panasnya daripada api biasa di bumi. Aneh, memangnya di Langit ini ada api neraka?
Apakah aku tidak salah masuk sekolah, ya....
Api neraka bukannya api yang begitu menakutkan karena bisa menghanguskan apapun dalam sekejap. Ini diluar nalar ku.
"Tuan, lepaskan semua pakaian anda, kita mengadakan pemurnian sebelum latihan!" perintah Jennifer.
"Jennie, aku tidak bisa melakukannya!"
"Harus bisa, tuan! Bagaimana bisa latihan pedang, pemurnian saja tidak mau, anda akan gagal kalau tidak mengikuti petunjuk latihan," tukas Jennie. Ia datang mendekat.
"Jangan lakukan ini, please," lirih Dean memohon. Ia mundur beberapa langkah sampai tersudut ke tembok.
"Tuan, mengapa Anda menjadi lemah. Di sini hanya kita berdua, jangan malu melucuti pakaiannya," bujuk Jennifer.
Kenapa juga aku harus mendengar kamu, perempuan gila?
"Ini tidak logis, Jennie aku tidak mau!" bentak Dean. Ia mulai marah. Apalagi sikap Jennifer yang membuatnya panik. Jennifer menarik-narik celana Dean.
"Cukup, tuan. Jangan berlagak bodoh. Tuan ingin jadi kuat dan bisa memiliki sihir hebat, bukan?" Jennie tersenyum. "Tuan harus mengikuti peraturan di sini." Sambungnya. Jennifer terus menarik-narik celana Dean sampai melorot ke bawah.
"Aish gadis sialan kau, ngapain kau, heh!"
Dean menjadi sangat malu, ia bahkan mencekal erat lengan Jennie dan menarik kembali celananya. Dean juga memejamkan matanya takut melihat keadaan Jennifer yang sudah bugil.
Dasar tidak tahu malu!
Ditambah lagi debaran dada Dean tidak bisa diajak kompromi. Jantungnya seolah mau lari dari tempatnya seperti berpacu dalam melodi. Dean juga manusia normal yang memiliki nafsu seks pria. Bagaimana tidak, Jennifer masih memeluk tubuh Dean. Tangannya ke sana-kemari di tubuhnya.
"Argh mau gila rasanya! Cepat selesaikan ini dan ayo kita pergi makan saja!" bentaknya.
Jennifer tersenyum penuh kemenangan. "Nah, gitu dong."
Dean terpaksa, sangat terpaksa membuka kancing bajunya, perlahan dengan tangan gemetar ia melucuti celana jean miliknya sambil menghadap tembok.
Jennie sialan kau!
Kedua mahkluk berlainan jenis itu saling berhadapan dengan mata tertutup secarik kain hitam. Jennifer kemudian mengambil pedang prototipe miliknya. Memamerkan gaya bertarungnya. Dean tidak bisa melihat, tetapi anehnya semua inderanya tiba-tiba saja sangat peka. Ia bisa memahami dan mengikuti semua gerakan sistemnya. Mulai dari gaya bertarungnya yang hebat. Gerakan memukul, memutar dan beberapa tendangan hebat beruntun. Jennifer menari bersama pedangnya, meliukkan tubuhnya, bergerak cepat seolah terbang, berkali-kali menghunus dan menghujam ke ulu hati, bahkan jantung Dean. Anehnya Dean mampu menghindari serangan Jennifer. Dean juga ikut melancarkan serangan mematikan dengan meninju. Dean tidak memiliki senjata, sedangkan gadis sistemnya itu mendapatkan kembali senjata pada saat pemeriksaan pakaian.
Dean sesekali berteriak kesal.
Jennie, kau sengaja atau bagaimana, huh. Buah dadanya selalu menghalangi serangan dariku!
Dean mundur beberapa langkah. Ia menyerang lagi dengan meninju beberapa kali. Setiap kali ia meninju Jennifer, api di sekeliling mereka menjadi dua kali lipat lebih tinggi, suhu di ruangan itu meningkat menjadi makin panas. Jennie sudah mandi keringat, begitu pula Dean.
Ini terlalu panas. Apinya bisa membakar kulitku, apa aku sudahi saja latihan sialan ini?
"Kita istirahat dulu."
"Tunggu dulu! Jangan buka kain penutup matamu!" teriak Dean mengingatkan.
"Ah, tapi kenapa tuan?"
"Pokoknya jangan. Kubilang jangan, ya jangan!" seru Dean sangat panik. Ia cepat-cepat memakai semua pakaiannya.
"Nah, kamu sudah boleh,–
Aih, aku lupa!
Jennie kan, belum memakai bajunya.
Dean berjalan merangkak ke arah pakaian milik gadis berambut ungu itu lalu melemparkan semua kain itu ke mukanya. Sebelum dia meninggalkan tempat itu, Dean berseru,
"Selesai latihan kau harus mandi tubuhmu, bau!"
Ujian berbahaya tahap satu telah selesai. Pintu itu terbuka lebar Dean berhasil menyelesaikan latihan dengan baik.
Semua itu masih belum cukup. Masih ada ujian-ujian selanjutnya yang lebih sulit dan berbahaya juga. Ketika ia berjalan, wajahnya nampak cerah. Langkah Dean yang ringan ke kelasnya, di perjalanan Dean dihadang Mark. Guru yang pernah bertarung dengan gadis sistem. Mark tampak menaruh dendam, ia tidak senang.
"Hai kau, murid baru. Ayo kita duel!"
Mendengar ditantang, Dean menjadi berani. Ia tersenyum. "Ayo, pak, saya ingin menguji Anda. Kita lihat siapa yang unggul."
"Dasar sombong!"
Mark murka, ia tidak suka melihat Dean yang meladeni dirinya seolah dirinya tidak ada apa-apa. Keduanya pergi ke tempat lain. Mark membuka dimensi dungeon.
Dimensi Dungeon adalah area unik yang harus dilalui para player dalam sebuah game. Bisa disebut penjara bawah tanah. Dungeon ini menurut Dean masih asing. Ia belum pernah melihat ruangan itu.
Dulu, saat masih SMP, Dean pernah bermain game Legend of Dungeon. Ia mungkin masih ingat bagaimana ia bertarung melawan monster.
"Di mana monster Dungeon?"
"Monster apa, memangnya ada semacam itu di sini. Hei, kau. Ayo lawan aku. Akulah monster di sini!" tantang Mark.
Mark mulai bersikap kuda-kuda dengan posisi salah satu kaki harus ada di depan dan kaki lainnya berada di belakang sambil diluruskan. Ia menyampingkan kaki belakang dengan arah keluar dan tumpukan berat badannya ke arah depan.
Posisi kuda-kuda dalam silat.
Dean bergumam di hati. Mungkin bapak itu pernah di bumi dan mengikuti latihan silat manusia pribumi. Setiap gerakan tubuh Mark yang cukup baik menurut Dean, Mark pandai berkelahi. Ia tidak bisa menganggap remeh. Mark mulai menyerang dengan tendangan lurus ke depan dagunya. Dean terhuyung ke belakang. Ia masih mengingat dengan baik latihan tadi bersama gadis sistemnya. Mark meniru semua tendangan dan gerakan cepat milik Jennifer.
KRAK!
Mark terlempar ke kanan, sementara satu kakinya menahan berat tubuh agar tetap seimbang. Bunyi keras itu dari otot-otot betis kaki Mark.
Padahal aku sudah menendang dia dengan keras, tetapi kenapa guru Mark masih bisa berdiri walaupun dengan satu kaki saja? Apakah aku coba sekali lagi, ya...
Dean berlari ke arah Mark, melakukan tendangan sabit– tendangan setengah lingkaran yang sasarannya ke samping bagian tubuh dengan menggunakan punggung kaki.
BRAK! Suara pria terjatuh dengan keras.
Mark pun roboh. Ia kalah dalam sekali tendang. Dean terperangah tidak pernah melihat Mark yang roboh.
Mengapa sekali tendang dia langsung jatuh, ah tidak mungkin. Bukannya dia banyak berlatih?
"Cukup, kau berhasil mengalahkan aku. Sepertinya kau banyak kemajuan, ya Denny."
"Nama saya Dean, Pak."
"Ya, Dean. Kau berapa kali berlatih?" tanya Mark penasaran.
Dean tidak segera menjawab. Ia memegang dagunya sambil berpikir. "Barusan tadi, Pak."
"Apa!?"
Dia masih di bawah umur. Bocah itu sudah jago bertarung, apa dia sekuat itu...
Murid-murid sudah menyelesaikannya ujian di semester tahun lalu. Sekolah ini hanya membuat satu kali ujian setiap tahunnya dan memilih seorang kandidat baru. Petarung dan menjadi prajurit langit. Ada yang aneh.
Mengapa sekolah ini sekarang memiliki empat tahap ujian?
Tahap satu tidak lagi dilakukan karena cukup mudah. Tahap ujian pertama hanya berlatih pedang di kelilingi oleh api, tetapi dikhususkan bagi mereka yang menjadi siswa baru langit. Tahap kedua dan seterusnya semuanya harus ikut. Dari kelas A (awal). Jika semuanya lulus dan masuk ke ujian ke tiga, mereka harus mengalahkan murid di tahun kedua. Kelas A ( tingkat awal) dan murid B ( tingkat akhir). Jadi, ada dua kelas tingkatan di sekolah Dean.
*Aha. Aku mendapat ide. Dean. Anak itu ku jadikan kandidat sebagai prajurit di sekolah langit. Dia yang termuda dan harus menang di kelas A Awal. Hem, tetapi jika dia kala*h...
Mark tersenyum misterius.
Continue _
Kuis :
Apa tujuan Mark?
A. Menghancurkan Dean Alexandre
B. Balas dendam
C. Menghancurkan sistem
D. Jawaban lain dari pembaca (isi sendiri,ya)
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
dungeon????😍
2024-01-06
0
Rara
wah sekolahnya kok lgs ujian mengerikan!!🙀
2024-01-06
0
Honeybee🐝🥀
dasar songong/Panic/
2023-12-20
1