Pertarungan di atas lumpur.
"Pagi sayang," sapa Fandy Ang pada pacarnya Hyerin yang lewat di depannya.
"Masih terlalu dini berucap kata "sayang", Fan," jawab Hyerin dengan wajah polos. Ia menunduk malu-malu.
"Siang, sayang." Fandy terus menggoda sang gadis.
"Oh ya, sudah siang rupanya," sela Merry yang barengan dengan Hyerin satu lengannya melingkar di bahu Hyerin.
"Siang, sayang," teriak Fandy lagi karena cewek itu tidak menggubris sapaannya. Mereka jalan melewati Fandy seolah Fandy itu hanya angin.
"Hoi, sayang!"
Keduanya tersenyum. Mereka memutar badan seraya menahan tawa.
"Wahai para cewek, kalau disapa, kalian harus membalas juga orang yang menyapa dengan sopan, bukan malah pergi tanpa menoleh," omel Fandy yang seperti emak-emak pasar.
Mereka berbalik tidak jadi ke kantin. Perut belum terisi dengan camilan, sudah kenyang dengan candaan Fandy yang aneh. Hyerin teringat akan Jennifer yang baru-baru ini menjadi rumor.
"Fandy, kamu tahu kan kak Jennie. Kita ingin bertemu dengannya," ujar Merry. Ia memandangi wajah Fandy dengan sikap memohon.
"Iya, cepat kasih tau di mana kak Jennie berada," desak Hyerin tak kalah gigih, lengannya menggamit manja di tangan cowok ikal itu.
"Aku di mana, aku siapa?" Stefanus yang sedari tadi di tengah mereka hanya bisa membeo dan ikut nimbrung obrolan teman-temannya.
"Hihi... Fandy, temanmu ini lucu, ya, imut juga," bisik Merry di telinga Stefanus. Sontak kuping cowok yang hobi memakai banyak kalung itu menjadi merah. Ia sangat malu. Tangan Merry yang kecentilan memegang kupingnya dan menarik-narik.
"Iiiih, gemes, deh!"
Fandy menarik Stefanus mencekal lehernya. "Hei, bocah seharusnya kau tak di sini." Fandy mengusir cowok berkalung itu mendorongnya jauh-jauh.
"Ada yang lagi senang, nih," goda Gelael.
"Hai kak Gelael!"
Cewek-cewek menyerbu Gelael dan melihatnya dengan mata tak berkedip. Rupanya cowok satu ini jauh lebih tampan dari Fandy. Gelael lebih tua dari mereka, karena tidak lulus di tahap pertama ia tinggal di kelas B Awal lalu masuk bergabung dengan anak-anak baru di kelas A.
"Kak, kupingnya aneh. Kakak siluman rubah, ya?"
"Rubah? Dia siluman serigala!" sinis Fandy. "Hati-hati kalian, dia suka makan jantung wanita cantik. Terutama kau Hyerin." Fandy menarik Hyerin lebih dekat ke sampingnya.
"Ehem. Aku masih di sini." Gelael melirik Fandy dengan tatapan serigala.
"Haish, aku kalah ganteng dibanding dengan serigala putih, yaelah." Fandy mengangkat kedua tangannya.
Cewek-cewek terus memandangi Gelael. Mereka penasaran apakah Gelael itu raja serigala atau siluman rubah.
"Kak, kita sedang membicarakan kak Jennie. Kak Jennifer Lucas."
"Oh, ya?"
"Ada apa dengannya?"
Kemudian Hyerin bercerita, kalau ia mendengar kabar burung Jennie adalah anak dari Mark edan. Gelael terbahak-bahak mendengar gosip murahan itu. Njirr, siapa yang bilang, sih? Rupanya rumor soal Jennifer memang benar, ya. Biar saja mereka tahu seperti itu. Anggap lelucon hehehehe...
"Masa sih, aku baru dengar. Kalian salah, kali. Kalau guru Muchen mendengar kalian bergosip soal anaknya, bisa-bisa kalian digorok," kata Gelael. Ia yakin Sean dan Charlie tanpa sengaja telah menyebar rumor aneh itu.
Hyerin teringat ada yang ingin ia katakan lagi, tetapi ia melihat sosok Dean yang berjalan ke arah mereka.
"Kak Dean."
Anak-anak yang kurang suka Dean segera pergi dari situ. Fandy, Stefanus dan Gelael terpaksa berjalan terburu-buru ke kantin. Mereka tidak ingin berurusan dengan Dean.
"Kak," panggil Hyerin ketika Dean hanya lewat dan bersikap biasa di depan cewek-cewek.
"Hm?"
"Kak. Bisa bicara sebentar, nggak?"
Merry melotot. Ucapan Hyerin yang blak-blakan dan tidak menjaga kesopanan dihadapan senior, ia segera mencubit lengan temannya.
"Yerin, meskipun dia anak baru di kelas kita tapi dia lebih tua, kamu nggak boleh sok akrab dengan kak Dean," bisiknya.
Hyerin tidak peduli. Ia mungkin lupa menjadi sikapnya. Ia malah menggamit lengan Dean. Sikapnya telah menyinggung seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka. Fandy geram dan sakit hati, tatapannya tajam. Tangan Fandy terkepal. Ada api di matanya. Api yang siap membakar siapa pun di sana.
"Ya, kenapa?" Dean berhenti. Ia melihat dengan risih sikap Hyerin tiba-tiba menjadi akrab. Dean melepaskan lengan gadis itu.
"Hyerin, jaga sikapmu," bisik Merry mulai merasa takut. Apalagi melihat sorot mata Dean dan rahangnya yang mengeras. Begitu mengerikan.
"Kak, aku pengen ngobrol berdua, bisa nggak sebentar temui aku di–,
"Ehem, sayang kamu lupa dengan janji kita, ya?" Fandy segera menyeret Hyerin dan mengajak pergi.
"Fan, ini bukan waktunya bercanda."
"Kamu tahu dia orang seperti apa, dia akan menghancurkan dirimu!" Mata Fandy semakin berapi-api. Tatapannya tertuju ke Dean. Ia sengaja menyindir secara langsung.
"Apalagi sebentar ada ujian di area lumpur, dia akan menenggelamkan dirimu ke sana!"
"Haiyah, aku lupa!" Hyerin tiba-tiba teringat akan ada ujian tahap tiga. Masuk ke lumpur di Mazi.
Dean mendengar kata-kata Fandy yang menyindirnya. Ia memandangi wajah Fandy dengan ekspresi misterius. "Apa aku seperti orang itu?" Dean mendekatinya, sampai Fandy tersudut.
"Terserah apa aja anggapanmu yang pasti aku tidak pernah membunuh orang jika dia tidak mengganggu," tekan Dean. Ia pergi setelah bicara.
"Kau sudah dengar, kau masih mau dekat-dekat dengannya?" Fandy menatap lurus ke mata Hyerin. Ia memegang kedua tangan gadisnya.
"Jangan sampai kau terbunuh karena niatmu tadi. Aku tidak bisa melindungimu kalau kau tidak dalam jangkauanku, teruslah berada di dekatku, ok?" Fandy meyakinkan Hyerin.
Gadis itu tersenyum haru.
"Asal yang betul, nih Fan." Stefanus datang dan melingkar tangannya di leher Fandy. "Bagaimana denganku, apa kau juga akan menjagaku?"
BRAK!
"Mati aja sana!"
...----------------...
Saat itu udara di luar semakin panas. Dean tersadar ia berada di langit. Entah langit atau Langit. Banyak hal yang ia lupa, ingatannya seperti layang-layang putus. Udara panas di langit itu berasal dari "mereka". Para mata yang selalu mengekori ke mana Dean melangkah. Semua orang hendak menerkamnya, tak menyukai keberadaannya. Ia harus mengurus sesuatu tapi entah apa. Setelah ia pingsan di ruangan yang asing, mengikuti ujian dari guru pembimbingnya dan minum darah ular. Sebagian ingatannya seperti hilang. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa letih ketika dirinya bangun. Baru saja dia bermimpi dan melihat di mimpi ada orang yang terus memanggil dirinya, juga wanita lain yang mengejarnya. Ia melihat wajah Rossie di sana. Aneh... mengapa dia tidak bisa mengingat Jennifer?
"PERHATIAN SEMUA. KUMPUL DI LAPANGAN 30 DETIK SEKARANG!"
Tiba-tiba suara yang dikenalnya. Mark si wali kelas mengumumkan bahwa mereka harus bersiap untuk masuk ujian lagi. Semua anak-anak bergerak cepat. Ada yang menabrak jendela, kalau sedang berada di kamar nekad melompat dari lantai tiga. Bahkan yang sedang "prot" di water closet pun tanpa menyiram dengan baik langsung membanting pintu dan lari dengan celana yang melorot. Siswa itu benar-benar menjadi beo karena takut kena sangsi dari si Mark edan. Harus 30 detik sudah sampai di lapangan. Satu orang lagi yang jalannya sesantai orang yang akan pergi ke kondangan. Dean Alexandre. Ia tidak ingin terburu-buru. Dean masih sempat makan siang dengan santai. Siswa melongo melihat sikap Dean yang datang perlahan-lahan. Santai sekali.
"DASAR SOMBONG!"
Lebih mengherankan lagi, Mark sekarang takut padanya. Dean tak bisa dihukum Mark. Meski Mark sudah menunjuk-nunjuknya, Dean bergeming, masuk ke barisan dengan jalan yang sangat lambat.
Mark berdehem, kemudian lantang di pengeras suara,
"Kru yang akan berangkat, kru NEMESIS yang gugur hanya ketua. Ada perubahan, ketua kru tiga Dean Alexandre masuk kembali ke kru lain karena sudah sembuh, tetapi masih dalam rawat jalan Dean tetap ikut ujian tahap tiga. Para anggotanya yang sudah bergabung ke kru lain, kalau ada yang mau mundur silakan!"
"kru satu Hercules, ketua Charlie, anggota Rossie, Elene, Chyntia, Hyerin, Zedrix, Andrew dan Dean Alexandre."
"Kru dua BOMB BLASTER, ketua Fandy Ang, anggota Michelle, Freddy Chu, Marlon dan Marlin, Caesar Lie, Zefanya Chia dan Stefanus."
"kru tiga dihapus!"
Anak-anak terperanjat. Mark seenak jidat menghapus kru tiga.
"Pak, apa yang terjadi dengan Nemesis?" sergah mereka.
"Nemesis tidak ada lagi. Kru yang harus bertanding di lumpur adalah Kru satu dan Kru dua dengan kata lain, Hercules melawan ****Bomb**** Blaster, kru Fallen Angels menyusul ujian sendiri di tahap keempat!"
Anak-anak di kru keempat memaki-maki Mark. Mark edan mati saja sana!
"Saya pikir semua sudah makan dan bab, ya. Semua sudah siap. Saya tidak mau tahu kalau ada alasan yang bilang belum makan siang dan buang air, kalau kedapatan kalian "prot" di lumpur, skor nilai kalian adalah nol!"
Antonio yang mendengar suara Mark berkata Apa hubungannya prot atau tidak di lumpur toh, mereka semua akan mati! Mark bego!
"Tapi kami belum makan, Pak!"
"Ya, aku tadi sedang "crot", gimana nih?"
"CUKUP. SEKARANG DENGARKAN SAYA. PEJAMKAN MATA KALIAN SEMUA, JANGAN ADA YANG BERANI NGINTIP!" bentak Mark lagi. Ia sudah bosan dengan sikap anak-anak di kelas A yang ia rasa lemah semua.
Anak-anak ber'hu' terpaksa menuruti perintah gurunya memejamkan mata mereka. Tak selang berapa lama kemudian, Mark menyuruh mereka membuka mata. Anak-anak terperangah karena sudah berada di dalam hutan Mazi.
"Waaah, Mama ... aku mau pulang!" Mereka histeris. Para gadis saling berpelukan erat.
"Diam goblok, kalian mau membangunkan goblin yang sedang tidur, kalau merengek-rengek lagi saya lempar kalian ke sarangnya!" sarkas Mark.
Mereka terdiam dengan muka pucat.
"Lumpur hitam berjarak dua ratus meter dari tempat kalian berdiri sekarang. Dulu itu perbatasan sarang goblin. Guru tertua Stevenson memberikan batas agar goblin tidak datang dan menyerbu sekolah. Itu memang berhasil setelah bertahun-tahun lamanya, tetapi sekarang saya tidak bisa prediksi apakah goblin masih di luar lumpur itu atau mencari sarang baru, atau malah semakin dekat dengan sekolah Langit. Jika kalian melihat makhluk itu langsung habisi, tidak usah melapor pada saya. Kalian dilatih bertindak cepat, kalau memang harus membunuh musuh, maka harus kalian lakukan demi keselamatan jiwa!" Mark mengultimatum lewat GPS mini yang tertancap di baju pesertanya. Mark juga sengaja memberikan empat drone agar bisa memantau para siswa. Keselamatan siswa memang bukan tanggungjawab sekolah, tetapi Mark masih memiliki peradilan.
"Kru satu dan Kru dua maju pelan-pelan!" aba-aba Antonio. Ia juga ikut memantau dari layar monitor drone.
"Rossie, apa kriteria kekuatanmu?" bisik Charlie. Ia berjalan sambil memelototi tanah, khawatir itu tanah berlumpur.
"Bisa terbang, melompat, dan memukul," tuturnya.
"Level berapa?"
"Enam, kenapa kak?"
"Huh, hanya aku yang level delapan, ya," ujarnya bangga.
"Kak Dean memangnya level berapa?" Rossie melirik Dean. Seharusnya aku tak memanggil dia kakak, aku kan lebih tua ...
"Level sembilan, maybe," ucap Dean yang sudah berada di tengah mereka.
"Mana mungkin kau melebihi level kekuatanku," kata Charlie terkejut.
"Nggak percaya, ayo kita buktikan, sebentar lagi aku bakal level sepuluh!" Setelah berbicara begitu, ia mengeluarkan senjatanya. Pedang legendaris itu. Dean mengayunkan pedangnya ke depan. Cahaya biru keluar dari sisi prototipe membelah pohon-pohon di sana. Beberapa pohon hancur. Anak-anak kru melongo. Dean sekuat itu?
"Itu lumpurnya." Charlie sudah berada di depan lumpur yang warnanya merah. Ia perlahan masuk ke dalam lumpur itu. Bukannya lumpur ini seharusnya warna hitam, ya kenapa merah?
"Berhenti, bodoh!" perintah Dean. Charlie yang mendengar dia dibilang bodoh merasa tersinggung. "Kau cari mati, ya!"
"Kau masuk terlalu ke tengah lumpur!" ujar salah satu siswa di situ.
"Kak Dean selamat kak Charlie dia bisa dihisap," pinta Rossie khawatir.
"Kau kira aku bakal mati terhisap, nih lihat!" Charlie yang masih bangga malah memaksa masuk ke dalam lumpur tanpa melakukan apa-apa. Lumpur itu seolah hidup, ia mulai menarik kaki Charlie ke dalamnya. Daya hisapnya sangat cepat. Setengah tubuh Charlie sudah di dalam lumpur. Ia berusaha mengeluarkan sihirnya. Sayangnya, sihirnya tidak bekerja di lumpur. Sial! sial! kenapa kekuatanku hilang?
Lumpur merah level 8
Charlie : Hercules
Level 8
Energi : 45%
kekuatan : ?
Lumpur kuning level 7
Fandy Ang : Bomb Blaster
tingkat 7
Energi : 56%
kekuatan : ?
"Argh!"
"Lumpur ini memakan ku!" teriak Fandy berusaha keras untuk keluar dari lumpur. Kakinya terus diserap ke dalam. Semakin dalam. Tubuhnya terbenam sebatas pinggang.
"Tolong! Tolong kami!"
Semua anak-anak itu berteriak ketakutan. Tiba-tiba saja daerah yang kering di sekitar kaki mereka, semuanya tergenang oleh lumpur. Warna lumpur berubah-ubah. Merah menjadi hitam pekat, kemudian hitam menjadi kuning, abu-abu kecoklatan, lalu putih susu menjadi merah muda. Dean mengamati lumpur itu lebih dekat.
Lumpur hitam tingkat 6
Rossie anggota Hercules
Level 6
Energi 78%
kekuatan: ?
Lumpur abu-abu tingkat 5
"Kak Dean, hati-hati jangan lepaskan tanganku!" Rossie menarik tangan Dean.
"Nggak perlu begitu, aku bisa menjaga diri. Lindungi teman-teman yang lain," ucap Dean dengan nada dingin, dengan lembut Dean melepaskan tangan perempuan itu. Tatapannya masih ke arah lumpur. Dean mengernyit.
Lumpur warna level 9. Apakah ada yang menulis lumpur warna ini? Setahu aku tidak ada lumpur warna di buku itu. Ternyata lumpur ini menyerang mereka sesuai tingkatan levelnya.
Dean memejamkan mata. Ia menyimpan prototipe milik Jennifer. Ia teringat ada satu senjata yang ia rebut dari monster penjaga gerbang sekolah. Lone Lancer. Tombak yang bisa memanjang dan bahannya sangat cocok dengan lumpur warna. Lumpur tidak dapat menghisap energi dari Lone Lancer, karena ia bukan energi sihir. Tombak yang memang dari besi asli. Dean mengeluarkan Lone Lancer. Tombak itu menjadi panjang beberapa meter.
Lone Lancer menarik tubuh teman-temannya satu persatu. Sudah beberapa siswa yang selamat. Sekarang tinggal satu siswa yang angkuh dan tak mau diangkatnya.
"Jangan bergerak!" perintah Dean kepada Charlie.
"Tak usah sok peduli, biarkan saja aku mampus," sinis nya.
"Oke, kalau kau tidak mau kuangkat!" Dean yang bermaksud menarik Charlie, berubah pikiran. Ia tidak jadi menariknya. Charlie terkekeh. Tawanya yang sumbang. Ia membiarkan dirinya terus tenggelam sampai hanya jarinya saja yang muncul di permukaan lumpur.
"Tidak, kak Charlie!" Rossie menangis ketakutan. Ia tak melihat Charlie di permukaan lagi. Charlie sudah tenggelam. Lumpur memakannya.
"kak Charlie!"
"Kak Charlie!"
Anak-anak dari kru Bomb Blaster yang masih kesulitan untuk keluar dari lumpur. Mereka tidak bisa menolong Charlie karena sibuk dengan diri sendiri.
"Kau membunuhnya!" Rossie memukul dada Dean sambil terisak-isak. Dean yang tidak tega, ia melompat ke dalam lumpur. Mencari Charlie di dasar lumpur.
Menyaksikan itu Mark manggut-manggut mengerti. Dean, kau petarung sejati. Demi satu teman yang berengsek, kau rela memberikan nyawamu. Terima kasih, Dean. Rencanaku berjalan dengan baik.
Baru saja Mark ingin mengumumkan siswa yang lolos di ujian tahap tiga, kepala Dean muncul bersama Charlie. Ia melempar Charlie yang pingsan ke tanah. Dean merangkak ke atas berbaring sebentar lalu menatap teman-temannya. Rossie memeluk Dean masih ada sisa tangisan di sudut matanya.
Dean asu! Kenapa tak mati berengsek!
Gelas yang dipegang Mark hancur. Ia menendang semua barang di ruang siaran. Antonio yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng.
"Berhentilah, bro. Apa yang kau harapkan dari murid bernama Dean itu biar dia lemah, dia tidak bisa mati dengan mudah," kata Antonio.
"Aku tidak suka murid itu!" teriak Mark mengamuk. Ia melempar Antonio dengan gelas dengan sigap pria berotot langsung menangkapnya dan melayangkan pukulan telak.
Bug!
"Heh, tenang sedikit kau ini. Kau memukulku untuk apa, huh?" Antonio mencekal baju Mark.
"Lagian ini kan hanya ujian!"
Continue _
Kuis
Mengapa Mark sangat marah dengan Dean?
A. Karena Dean berhasil hidup
B. Karena Mark gagal membunuhnya
C. Mark ingin semua murid mati
D. Isi sendiri (komentar dari pembaca)
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Honeybee🐝🥀
/Facepalm/
2023-12-21
1
Honeybee🐝🥀
huuuweee sad
2023-12-21
0
Honeybee🐝🥀
,
2023-12-21
0