Dia. Gadis berambut panjang dengan warna ungu Lilac, gaya feminim sangat kontras dengan pakaiannya yang kekurangan bahan— dia adalah sistemku. Sepatu boot putih, rambut dikepang dua, kalau berjalan melenggak-lenggok membuat siapa saja selalu melemparkan pandangan mesum. Jennifer Lucas. Cantik dan seksi. Kancing baju bagian atas selalu dibuka, membuat ia kelihatan nakal. Kutek berwarna ungu lembayung sama dengan manik matanya. Ia membawa buku dan diletakkan di dada. Entah buku apa itu.ilustrasi Jennifer Lucas sang Sistem Cantik
Aku ... Dean Alexandre sudah seminggu masuk sekolah asing yang ada di awan abu-abu. Nama sekolah ini Sekolah langit—sekolah menengah khusus anak yang memiliki bakat dan jenius. Sebenarnya aku tidak jenius. Entah mengapa aku bisa masuk dalam buku sketsa. Di sinilah aku sekarang.
SMU ini, sesuai dengan penjelasan si cantik, terletak di atas langit. Langit ke enam. Berarti aku bersekolah di langit ke enam.
Entahlah. Aku menjadi bingung. Apa yang telah terjadi dengan diriku yang bisa diterima di langit ini semua itu masih menjadi teka-teki. Cukup tentang diriku, sekarang aku harus mengenalkan kepada kalian semua, siapa sistem itu.
Kalau ditanya, "Jennie, kau lahir di mana? Siapa orang tuamu dan apa yang kau lakukan di bumi?"
Dia akan menjawab, "aku dilahirkan oleh tuanku, Dean. Aku di gambarnya menyerupai manusia perempuan cantik dan dinamai Jennifer. Kelebihanku ialah memukul orang yang mengganggu Dean. Siapapun yang berani mengganggu tuanku, ia harus mati!
Aku tidak pernah menggambar perempuan itu, sumpah! Dia begitu mengerikan sangat obsesi padaku. Katanya kalau ada yang macam-macam dia harus melenyapkan orang itu.
...----------------...
"Jennie, kau tampak hebat kemarin, kau mengalahkan guru kami," sergah seorang siswi. Ia senang dan bergaul dengan Jennie.
"Jennie ajarin aku ya, memukul laki-laki dengan keras!" tambah murid lainnya.
"Aku ingin meninju ayahku, tolong ajari aku guru Jennie!"
Dean yang mendengar Jennifer dipanggil guru menjadi terheran-heran. Baru dua hari sistemnya itu sudah sangat terkenal. Jennifer juga memiliki banyak uang dan membayar semua hutang Dean. Dari mana dia mendapatkan uang banyak? Pasti sistemnya itu mencuri. Ia menjadi pencuri dan melunasi hutang Dean. Demi Dean dia mau melakukan apapun.
"Jangan konyol, aku tidak mencuri!"
Jennifer datang dan menepuk bahu Dean sembari mengibaskan rambutnya. Pedang yang hebat warnanya juga sama dengan dirinya tidak lepas dari tubuhnya. Aku pernah lihat saat masih di rumah di bumi. Benda itu disimpan di buah dadanya dengan ditusukkan ke dalam lalu lenyap di antara dua gumpalan daging empuk itu.
"Tuan, kau mencuri pandang padaku, ya?" goda Jennifer. Ia mencubit pipiku.
"Aih, kau pencuri kecil!" Dean Kau pasti melakukannya demi aku," tuduh Dean.
"Tidak, aku tidak melakukannya!" Jennifer membantah.
"Kalau begitu, coba jelaskan bagaimana kamu mendapatkan banyak uang?" Dean menatap dalam wajah Jennifer.
"Aku mengambil uang orang tuamu."
"A-apa?"
Jennifer tertawa renyah menampakkan gigi-gigi putih kecil yang rapi di dalam mulutnya. Ia meninggalkan Dean dengan jalan lenggak-lenggok.
"Haish... kenapa aku sial sekali!"
Jennifer bukan mencuri di tempat lain, tetapi mencuri uang orang tua Dean. Bagaimana mungkin ia masuk ke kamar orang tuanya yang terkunci rapat. Sebelum Dean meninggalkan rumah, ia sudah memastikan semua pintu dan jendela rumahnya sudah terkunci dengan baik. Dean sedang berada dikamar lalu bangun pagi tahu-tahu telah berdiri di depan gerbang besar di awan-awan. Bagaimana dia melakukannya, dia pun tidak tahu dan tidak mau tahu.
Buku sketsa itu sudah menjadi monster dan memakannya. Ya, pasti begitu. Lalu, bagaimana bisa Jennifer masuk ke kamar orangtuanya, sedangkan Jennie selalu berada di sisinya?
Semuanya harus dicari tahu perlahan-lahan. Dean sekarang membuntuti ke mana sistemnya itu pergi. Kecuali ketika Jennie akan masuk ke toilet kecil sekolah.
"Hem ... tidak semua mahkluk di sini siluman. Pasti ada manusia biasa seperti diriku."
Dean bergumam.
Ia duduk diam di pojok toilet pria. Telinga awas mendengar suara di bilik kiri paling pojok. Ada suara geraman?
Dean tidak ingin terlalu dekat agar tak dicurigai oleh orang yang ada di dalam bilik kiri itu.
"Perempuan cantik sialan!" umpat orang itu.
"Dia sudah membuat reputasiku buruk sebagai guru terkuat yang sudah masuk tingkat tinggi. Aku harus membunuhnya!"
"Bunuh dia atau?"
Dean mendengar orang itu seperti berbicara dengan seseorang ditelepon.
"Baiklah, akan ku tangkap dia dan kuserahkan kepadamu."
Dean jadi penasaran, dengan siapa orang itu berbicara. Kalau mendengar suara orang itu, dia adalah pak Mark wali kelas Dean. Mark tidak mau dirinya dipermalukan dan bermaksud balas dendam, tetapi dengan siapa Mark bicara?
Dean keluar perlahan-lahan tanpa melakukan tindakan apa-apa. Ketika ia berjalan memutar, Dean bertemu dengan Jennifer.
"Jennie, kau harus berhati-hati, ada yang berniat membunuhmu."
"Aku sudah tahu, Tuan Dean tidak perlu khawatir. Sistemmu tidak akan mati dengan mudah."
Sistem apa, sekarang ini kamu bukan himpunan dari susunan angka saja. Kamu sudah menjadi manusia. Manusia sistem!" bantahku menarik hidungnya gemas.
Jennie tertegun. Ia memegang hidung sambil senyum-senyum.
"Apa?"
"Tuan, kenapa wajahmu merona?"
Dean mundur sedikit dan menyadari apa yang diucapkan sistem itu
"Apakah Tuan jatuh cinta pada sistem, jangan, ya. Tidak boleh!" Jennifer melangkah semakin dekat. Dean tidak bisa mundur lagi karena di belakangnya adalah tembok.
"Tidak mungkin, jangan terlalu yakin, aku hanya kasih tau kalau kamu harus hati-hati." Dean beranjak dari situ. Satu tangannya memegang dadanya. Dean membuang napas. Sepertinya debar di dadanya akhir-akhir ini terlalu sering. Apa ia memiliki perasaan pada sistem sendiri? Aneh sekali. Ini tak boleh terjadi, batin Dean.
"Tuan, mau ke mana aku ikut."
Jennifer berjalan di belakang Dean melangkah dengan mensejajarkan langkah mereka. Beberapa mata melirik Dean dan sistemnya.
Sekolah bukan tempat pacaran, begitu yang ada di dalam pikiran orang-orang itu. Pandangan itu bisa diartikan seperti itu, bukan.
Dean menuju taman dan melihat dua makhluk yang pernah diserangnya di gerbang sedang berlatih. Mar dan siapa yang satunya, dia tidak ingat nama makhluk satunya. Mereka saling adu kekuatan. Mar lebih kuat dari mahkluk satunya. Tombak mereka yang disebut Lone Lancer saling beradu sampai bunyi KLANG begitu nyaring terdengar. Dean menutupi telinganya. Tombak besar itu bisa saja menembus jantungnya waktu itu kalau saja tidak dihalangi oleh Jennifer. Monster itu juga memiliki kekuatan di atas dirinya. Matanya bersinar dan menyoroti sinar X-Ray. Beberapa kali mahkluk satunya menghindarinya. Tubuhnya tidak bisa tembus dengan kekuatan biasa. Fantastis! Baju zirah yang dipakai Mar itu Dean yakin cukup tebal dan keras. Baju zirah dengan bahan baja tebal tidak akan mampu tembus. Sinar X-Ray malah mengincar bagian yang tidak tertutupi.
CRASH!
Mar terlempar. Baju zirah kebanggaannya telah hangus. Topeng Kitsune juga terbelah dua oleh sinar X-Ray milik temannya.
"Kau kagum dengan kekuatan Mar bersaudara itu, Tuan Dean?" Jennifer sudah berada di sampingnya.
"Hem. Sinar X matanya itu yang ku kagumi. Kalau bajunya, sih..."
"Berapa kilo bajunya itu, Jennie?" tanya Dean akhirnya tertarik juga dengan baju zirah milik dua penjaga gerbang.
"Sekitar seribu kilo atau lebih. Mungkin saja satu ton beratnya, tidak pasti karena mereka adalah monster dengan level 8 star," jelas Jennifer masih mengira-ngira.
"Mahkluk 8 star apa maksudmu?"
"Ya, Tuan. Makhluk itu di dalam game bisa setara dengan 8 star musuh Player."
"Aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan?"
"Hahaha, Tuan tidak akan bisa mengerti kalau tidak langsung main. Mau main bersamaku?"
Dean merona sekali lagi. Wajah Jennifer yang meminta main itu benar-benar membuatnya tidak mampu berkata-kata. Maksudnya main, main apa?
"Kita bermain game League of Legends, yuk," ajak Jennifer.
Dean mengangguk. Mereka masuk ke ruangan khusus gamer. Di sana ada banyak sekali siswa yang sedang main. Dean memandangi ruangan artistik itu, tidak mirip dengan warnet tempat ia main bersama teman-temannya di bumi. Game LOL yang dimainkan di sini sangat berbeda dengan yang biasa dimainkan oleh manusia bumi. Jennifer memasangkan sebuah alat di mata Dean.
"Alat apa ini?"
"Virtual online, Tuan. Di bumi tuan belum pernah memainkannya, bukan? Game ini sempat populer tahun 1980-an sampai sekarang. Masih ada yang memainkan game ini secara diam-diam. Sebenarnya game ini sempat ditarik karena agak berbahaya. Bahayanya adalah game ini bisa membuat gamer merasakan seolah-olah terjadi di dunia nyata, seolah ia juga masuk di dunia virtual game ini menghadirkan suasana tiga dimensi. Apakah tuan Dean mau main Pokemon Go karena itu yang paling mudah?"
"Game kuno itu, boleh juga."
Mereka kemudian memainkan Pokemon Go bersama. Tanpa sadar, Dean memegang tangan Jennifer.
"Ah, maaf ... !"
Dean segera melepaskan kacamata virtual yang dia kenakan.
"Tuan kenapa?" Jennifer memandangi wajah Dean yang bersemu. Jennie mendekat, berdiri di belakang kursi game dan merangkul Dean dari belakang.
"Lepaskan!" Dean segera berdiri mengatur napasnya.
"Menurutku, debaran dada tuan Dean telah melebihi batas normal debaran manusia, pipi Anda bersemu, keringat dingin, dan bertingkah tidak normal, pupil mata Anda melebar, aku tahu ini reaksi apa." Jennifer mulai bicara panjang lebar lagi. Ia terus memandangi Dean.
"Apa maksudmu?" Dean berpura-pura tidak mengerti.
"Sebuah kesimpulan hebat dari saya, tuan Dean mengalami sakit aneh. Penyakit yang berbahaya ini disebut jatuh cinta. Apa tuan sedang dilanda asmara, siapa gadis yang beruntung itu?" Semua pertanyaan yang dicecar keluar dari mulut mungil Jennifer.
Dean segera tahu akan jadi apa. Semuanya melihat ke arah mereka. Lagi-lagi pandangan itu. Sekolah bukan untuk main-main, main cinta-cintaan!
"Stop! Jangan sering melakukan penelitian palsu!"
"Ini bukan penelitian! Ini fakta, Tuan!"
"Berhenti memanggilku 'tuan'!"
Dean merasa laki-laki khusus karena memiliki penjaga, sistem itu.
"Jennie, dengar, ya. Aku tidak tahu apa tujuan
kamu memasukkan aku di sekolah ini. Aku tidak mau tahu, aku hanya tahu lulus dengan nilai terbaik di sekolah Langit ini." Dean menekankan kata lulus.
Jennifer tertawa kecil.
"Tuan Dean akan lulus dengan baik setelah melewati ujian-ujian yang pelik itu. Aku akan mengajari tuan Dean. Percayalah."
Setelah bicara Jennifer menarik lengan Dean mengajaknya pergi latihan.
Ruangan yang tidak besar, di depannya di kelilingi api. Tempat latihan yang cukup berbahaya. Ruang latihan ini dinamakan Ruangan ujian tahap satu langit.
Continue
{karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
betull
2024-01-06
0
Honeybee🐝🥀
/Awkward/
2023-12-20
0
Honeybee🐝🥀
binar binar cinta mulai muncul /Smile/
2023-12-20
0