Aku, Dean Alexandre dinyatakan tidak lulus ujian pertama masuk sekolah Langit, tetapi malah diterima di sekolah Langit. Aku menjadi murid kelas satu tingkat awal dan duduk di kursi paling belakang.
"Perhatian semua, kita kedatangan siswa baru. Seorang manusia bumi!"
Semua menjadi heboh. Para murid berseragam putih dipadu dengan warna hitam. Mereka bukan murid-murid di sekolahku dulu—saat masih berada di bumi. Mereka setengah monster—mungkin manusia kera atau manusia hybrid. Semua murid berwajah tampan dan cantik bersinar.
"Perkenalkan dirimu dengan singkat," kata guru wali. Matanya hitam semua melirik tajam padaku.
...----------------...
Dean menelan saliva.
"Dean Alexandre. Seorang manusia bumi biasa."
"Hanya itu?" tanya wali kelas
"Ya, itu saja."
Wali kelas menunjuk ke arah bangku kosong di belakang gadis yang menunduk terus. Gadis itu terus menunduk—bukan Ia tidur di meja dengan kepalanya miring ke sisi kiri, ia tertidur beralaskan dua lengannya.
Dean berjalan seraya mendapat sorotan tajam dari semua orang. Pandangan meremehkan yang sudah biasa ia dapatkan.
Dean meletakkan tasnya, ia sadar. Ia membawa buku pelajaran bumi. Apakah pelajaran di sekolah barunya itu sama atau tidak. Itu urusan nanti.
"Di bumi kau belajar apa saja, Dean?" tanya wali kelas sambil berjalan ke meja Dean. Bapak itu berdiri tegap memandangi Dean tanpa kedip.
Aku tak suka tatapannya yang tajam dan tampak meremehkan.
Dean baru mau buka mulut, tetapi tidak jadi karena Jennifer lagi-lagi menjelaskan untuknya.
"Tuan Dean belajar menghitung Aljabar, Ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, pendidikan olahraga dan seni-budaya. Semuanya sama dengan sekolah pada umumnya," kata Jennifer cepat.
Wali kelas itu melirik gadis berseragam putih dengan rok hitam pendek. Ada pita merah di kerahnya. Seragam kelas awal.
"Kamu siapa?" hardik si Mata elang.
Wali kelas melesat cepat ke meja Jennifer berdiri tegap dan melotot padanya.
"Pengawalnya, kali," celetuk seorang siswi.
"Ajudan?" bisik seorang murid laki-laki yang lain.
"Dia penjaganya. Seorang gadis sistem," sahut laki-laki yang duduk paling pojok. Laki-laki itu sedikit melirik ke arah Jennifer. Dean tidak melihat laki-laki itu tadi saat ia duduk. Semua murid berbisik-bisik sembari terus melihat pada Dean. Dia yang tak suka dipandangi terus seperti itu menunduk sedikit khawatir. Takut dibully sama seperti di bumi.
"Saya sistem, tuan Mark," jawab Jennifer yang mengetahui nama wali kelas Dean.
Mark, nama laki-laki yang bisa dikatakan setengah monster. Ia bisa mengubah penampilannya menjadi mengerikan, menghilang secara tiba-tiba dan memiliki kemampuan yang tersembunyi lainnya.
"Baiklah. Kamu tidak akan menemukan pelajaran bumi di sini. Di Langit, kamu akan belajar menggunakan sihir dan pedang. Sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu sihir. Sihir dibagi menjadi dua ...."
Sihir? Pedang?
Dean tidak mengerti. Mengapa ia mendapatkan pelajaran konyol. Mana ada sihir di dunia modern ini. Pedang lagi. Bukannya teknologi bumi lebih maju dari tempat ini, mereka menggunakan senjata. Senjata yang canggih. Di bumi sudah canggih dengan teknologi mutakhir. Robotika, Droid, Artificial intelektual (AI) dan lainnya. Semua sudah ada sejak tahun sekarang. Ah, iya mengapa dia lupa tahun berapa sekarang.
Sejak kapan aku lupa tanggal, bulan, dan tahun berapa?
"Sihir?" gumam Dean. Ia tidak minat.
"Ya. Apa itu sihir, ada yang bisa jawab?" Wali kelas lagi-lagi melemparkan pandangannya ke arah Dean. Mau tidak mau Dean mengacungkan tangan ke atas.
"Sihir adalah sistem konseptual yang merupakan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam melalui mistik, paranormal, atau supranatural."
Wali kelas menunjuk seorang gadis berambut putih. "Sophie, kau bisa menjelaskan apa itu sihir?"
"Sihir adalah kekuatan ajaib yang digunakan untuk mencelakai orang atau juga sebagai penangkal saja. Sihir itu juga disebut Manna!"
"Sihir ada dua. Ada yang bisa menyebutkan bagian sihir?" tanya wali kelas lagi.
"Sihir hitam, putih dan sihir abu-abu," jawab Jennifer. Kelas menjadi heboh kembali, semuanya bisik-bisik.
"Mana ada sihir abu-abu?"
"Dia sengaja membuat Pak Mark marah, ya?"
"Mungkin dia cari muka," bisik Laki-laki dengan wajahnya penuh tato.
"DIAM!" Mark melabrak meja. Tatapannya terus terarah kepada Jennifer.
"Apa kau harus di kelas saya? Bukannya kau siswi kelas dua?" Mark berjalan mendekati Jennifer. Matanya terus mengawasi dengan tajam. Mark melihat Jennifer tanpa kedip.
"Keluar!" bentak Mark.
"Cih!" Jennifer meludahi muka Mark sambil berjalan tanpa peduli semua orang di kelas yang menganga. Mereka terkejut dengan sikap Jennifer.
"Berani sekali kau gadis kecil!"
"Berhenti!" Mark mencengkeram erat leher Jennifer. Dean melihat semua itu.
Apa yang harus aku lakukan?
Apakah aku diam saja berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
Mark menyeret Jennifer dan membanting di dinding hingga dinding kelas terbelah dua.
"Kau! Sudah keterlaluan, menghina guru sendiri, kau tahu apa yang kau lakukan itu akan mendapatkan hukuman berat?" geram Mark.
Tiba-tiba wajahnya berubah mengerikan. Kepalanya dipenuhi dua tanduk runcing. Ia siluman kerbau!?
Apa di Langit menerima siluman juga ...
Dean ingin membantu Jennie berdiri, tetapi Jennie menghentikan gerakannya dengan gelengan kepala.
"Aku hanya bosan, Tuan Mark. Sihir inilah, sihir itulah. Bukannya lebih baik menggunakan droid ball saja sudah tercipta sebuah sihir dari sistem?"
"Lancang!" Mark menerkam Jennifer bak singa kelaparan.
Semuanya keluar dan menyaksikan peperangan lagi. Sekolah yang aneh, sedikitpun tidak belajar. Mereka terus memamerkan kekuatan. Siapa lebih hebat dan diandalkan akan lulus ujian semester. Nilai yang baik dan tentunya yang kalah akan mati lenyap. Dean sedikit takut, ia tidak mengatakan apa-apa kepada ayah dan ibunya, kalau ia masuk sekolah setan yang ada di langit. Ya, anggap saja ini sekolah setan. Mahkluk di sini setan berwajah tampan dan cantik. Kecuali dirinya dan sistem itu.
"Jennifer, tidak seharusnya kau bertingkah," tukas Mark. Nada gusar tingkat tiga
"Kalau begitu ayo bertanding!"
Dean menggeleng kepala. Aku baru masuk sekolah sehari dan sistemku membuat keributan di sekolah Langit ini.
"Bersiaplah!"
Dean melihat semua gerakan sistem perempuannya yang begitu lincah. Matanya terus mempelajari semua gerakan itu. Seolah ia sedang belajar mengikuti dan mengcopy semuanya. Jennifer menari dengan lincah, menendang keras berkali-kali mengeluarkan jurus mematikan. Semua tendangan Jennie ke arah titik-titik vital lawan. Mark tersudut, ia sedikit bingung dengan gerakan lincah Jennifer. Seumur hidupnya bekerja sebagai guru latih tanding sekolah langit tidak pernah ia melihat jurus aneh dan tendangan bebas yang selalu mengarah ke titik vital hidup.
GUBRAK!
"Matamu mengarah ke mana, Tuan Mark. Aku di sini, loh."
Jennifer menendang vital prianya. Titik kebahagiaannya, bisa-bisa ia lumpuh dan menjadi impoten seumur hidup.
Mark mengaduh kesakitan. Ia terlempar keras tubuhnya menabrak batu-batu hias taman langit. Semua murid tampak khawatir karena titik serang gadis itu di bagian "itu".
"Oh, sungguh kasihan pak Mark. Bisa-bisa istrinya menceraikan dia," celetuk seorang siswi.
"Hihihi, siapa suruh dia kurang awas. Lihat betapa kesakitannya dia," ucap siswa lain yang menertawai guru.
Mereka menertawai guru tanpa mau menghentikan pertandingan sialan ini?
"Hai Dean. Hebat juga, ya sistemmu," tegur cowok yang sibuk memerhatikan Jennifer. "Cantik, seksi menggairahkan. Ia pantas di sebut siswi terbaik" tahun ini," sambungnya.
"Kau mengenal sistemku?"
"Yah, siapa yang tidak kenal si seksi Jennifer. Dia kandidat juara satu tahun ini dari pertempuran dengan profesor kita, Tuan Stevenson."
"Siapa beliau?"
"Kau tidak tahu, Pak Stevenson adalah kepala sekolah kita."
Dean meneguk saliva. Pak kepsek dilawan juga, sistem kau sebenarnya siapa?
Suasana tampak semakin memanas, Dean maju dan menghalangi pertandingan Jennifer dan Mark. Sebenarnya ia tidak ingin Jennie terluka meski ia tampak hebat. Ada kalanya Mark menggunakan sihir dan sedikit curang, karena Jennie hanya menyerang dengan tangan kosong. Seharusnya ia mengeluarkan senjata legendarisnya.
"Sistem cukup!" teriak Dean.
"Tuan Dean menyuruh saya berhenti, baiklah." Jennifer menurutinya. Ia tak lagi melanjutkan pertikaian diantara dirinya dan wali kelas itu. Apalagi Mark sudah kewalahan. Ia beristirahat sejenak. Napasnya menderu tak karuan. Mungkin inilah kekalahan dari wali kelas yang sudah cukup tua usianya.
"Terimakasih, ya. Kau menghancurkan kelas lagi," ujar seseorang yang tahu-tahu sudah berada di depan mereka. Stevenson, kepala sekolah.
"Dean Alexandre hukumanmu bertambah setelah gerbang utama kini ruang kelas. Kau harus ganti rugi!"
Apa!?
Ah, sial!
Continue _
{karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
bagus kk tapi msh penasran
2024-01-06
0
Rara
kembali ke awal ya tor
2024-01-06
0
ELVANN
semoga anda terus mendukung saya tx
2023-12-29
1