Mengandung unsur Gore.
Seseorang yang anda kenal merencanakan suatu kejahatan. Ia membenci anda, jadi waspadalah! Itu suara telepati dari Jennifer. Ia memeringati Dean agar waspada kepada siapa pun orang yang terlihat mencurigakan.
Siapa yang membenci Dean? Bisa saja orang di sekolah atau teman dekatnya. Dean tidak tahu itu. Ia akan mencari tahu nanti—dan kalau pun ada orang yang hendak mencelakai dirinya ia harus siap dan bertanding dengan orang itu. Ia memang belum cukup kuat dan masih tak ada pengalaman. Jennifer menurut Dean yang paling kuat dan maha tahu karena dia adalah sistem di tempat itu.
Menurut Jennifer, ada orang yang memprovokasi murid-murid. Dean memikirkan seseorang. Cuma Mark saja yang sanggup melakukan itu semua karena ia pernah bertanding dengan Dean dan kalah telak meskipun semua laki-laki di sekolah selalu menatapnya dengan pandangan bengis, kecuali para gadis.
Perempuan cantik tidak akan membenci pria tampan. Benarkah demikian? Batin Dean. Ia senyum-senyum sendiri. Memang cewek-cewek di sini jauh lebih cantik daripada di bumi. Mereka semua bukan manusia bumi. Dean menganggap satu-satunya manusia bumi ialah dirinya sendiri.
...----------------...
Siswa di kelas A berjumlah tiga puluh enam anak. Dua puluh enam perempuan dan sisanya laki-laki. Seperti biasa, murid lelaki membentuk kru kecil. Masing-masing kru berjumlah genap sehingga semua kru akan seimbang. Dean belum bergabung dengan kru itu.
Apa-apaan mereka, kenapa melihatku begitu? Suasana kelas jadi aneh, rasanya mereka seperti anak kucing yang meringkuk kedinginan. Mereka menjadi takut melihatku sejak kejadian Lion, batin Dean merasa risih terus dipelototi.
"Hei, kalian tahu ke mana Jennie?" tanya Dean akhirnya memecah rasa canggung dirinya. Ia sengaja berbasa-basi. Dean mendekati seorang anak lelaki di pojok kiri duduk di sembarang kursi kosong yang ada di depan anak itu. Apa yang dilakukan Dean menyita semua anak-anak di kelas.
Awalnya mereka terperanjat, kemudian hanya diam sambil menggeleng kepala. Mereka tahu siapa orang yang Dean ajak bicara.
Mereka tidak ingin cari masalah dengan anak itu, oleh karena itu mereka cuma diam dan menunduk, tidak berani melihat ke arah Dean dan murid itu. Ada yang aneh dengan anak-anak ini ketika aku masuk, mereka merasa superior dan meremehkan diriku, gumam Dean. Sekarang nyaris tidak satupun murid kelasnya yang sinis dan meremehkan dirinya, kecuali seorang laki-laki yang diam di pojok sana.
"Charlie," panggil Dean, dagunya sedikit terangkat. Orang yang ia panggil tidak merespon.
Ketika nama Charlie dipanggil, beberapa teman laki-laki menoleh ke arah Dean, sedikit terkejut. Charlie Lee sang juara bertahan di tahun kemarin.
"Mengapa dia memanggil Charlie, anak itu tingkat ilmu sihirnya sudah level 9, apa dia nggak takut ?" bisik mereka khawatir pada Dean.
Charlie anak pendiam di kelas, ia tidak suka berbaur, tetapi bukan berarti bisa dianggap remeh. Dia yang paling kuat diantara mereka. Charlie mengangkat kepalanya yang sebelumnya ia sedang malas bicara. Moodnya sedang jelek.
"Kenapa?"
"Apa kau lihat Jennie?"
"Tidak."
"Tolong katakan aku menunggunya di ruang latihan," pinta Dean tersenyum tipis.
"Katakan saja sendiri!" Tak dinyana kalau Charlie malah berteriak, alih-alih menjawab dengan ramah ia malah membuang muka.
Dean memandangi Charlie sedikit bingung. "Kau ini, kenapa bicaramu menyebalkan sekali?" Kurang ajar. Anak ini berani buang muka di depan ku! Dean menggeram.
"Jangan ganggu aku!" tegas murid itu. Ia kembali menunduk dan tiduran di mejanya.
Charlie sedikit menguap dengan tasnya dijadikan bantal. karena tidak terima Dean mendekatinya. Charlie terprovokasi oleh keadaan, ia tidak jadi tidur lalu bangkit berdiri memandang dengan dagu sedikit terangkat.
"Kau mau cari masalah rupanya." Dean menghampirinya. Tak tahan dengan sikap Charlie yang sepertinya memusuhi Dean.
"Kenapa?" Charlie tiba-tiba berdiri. "Kau mau pukul aku sampai mati seperti yang kau lakukan kepada Lion?" Suara Charlie meninggi. Dean menyipitkan matanya.
"Ayo sini tampar aku!" Charlie menunjukkan mukanya. "Tampar aku brengsek!" Charlie menendang kursinya.
"Dia tidak mati," dalihnya santai. Dean tidak ingin ada keributan, ia akan mengalah kalau nanti Charlie mengamuk.
Charlie membuka sudut bibirnya hendak mengumpat.
"Dasar bajingan ! Lion tidak mati, tetapi hampir mati. Sedikit lagi dia mampus kalau Mark tidak datang melerai kalian. Kita semua sudah melihatnya!" Charlie berteriak lagi.
Ia sengaja memanas-manasi dan berhasil. Beberapa anak laki-laki dan perempuan mengangguk membenarkan ucapannya. Charlie pandai membangkitkan suasana kelas yang tadinya dingin. Beberapa mata melirik ke Dean. Ya, memang benar dia hampir saja membunuh Lion karena sangat emosional.
"Lion minta mati," pungkasnya santai.
"Besok kita akan ujian kedua. Ujian tahap kedua ini tidak sama dengan pertama, sistemmu tidak bisa ikut campur. Kau pikir bakalan menang?" bisik Charlie tepat di telinga Dean.
Dean sudah mendapat informasi dari Jennifer, kalau Mark sudah menunjuk siapa lawannya. Ia harus mengalahkan Thomas. Ujiannya kali ini akan melewati beberapa rintangan. Siapa yang lebih dulu sampai dalam waktu yang sudah ditentukan dialah pemenangnya. Dean berharap bisa menang.
Rintangan pertama ada di puncak Langit. Aneh, tempat itu memang barisan bukit, Dean tidak habis pikir di bumi ia tinggal di kota, jarang melihat bukit besar. Di sekolah Langit, ia semakin banyak melihat bukit dan derasnya air terjun. Tempat itu sudah pernah ditulisnya, ah dia sudah lupa. Semua teka-teki dan misterius sekolah Langit hanya bisa terjawab kalau dia sendiri yang harus menghadapi tantangan dalam ujian nanti. Arti kata lain, ia sedang ujian di buku ceritanya sendiri.
Kalau mau jadi prajurit langit harus mampu mengahadapi segala tantangan, harus bertambah kuat, harus mengalahkan semua lawan tanpa belas kasihan, dan harus bisa mengalahkan Stevenson. Kepala sekolah Langit yang menghilang dua pekan terakhir ini. Sebenarnya dia ada di mana semua orang tidak ada yang peduli. Mengapa Jennifer ingin aku mengalahkan si kepsek itu? Apakah tua bangka itu memang sudah membuat Jennie menderita? Pokoknya aku harus bisa menang di ujian kedua nanti.
"Jangan melamun!" perintah Mark yang sudah berdiri di depan pintu. Ia melipat tangannya di dadanya lalu berjalan dengan cepat ke arah meja guru.
BRAK!
Suara buku dibanting dengan kasar.
"Ketua kelas cepat berikan aba-aba!"
"Berdiri!"
"Beri salam!"
"Selamat pagi Mr Mark!" ~
Mark duduk, tatapannya yang tajam mengawasi semua murid. Satu persatu murid menjawab mendengar absensi oleh wali kelas Mark. Nama Jennifer telah dia panggil dia kali, tetapi tidak ada jawaban. Mark mengangkat wajahnya melihat lurus kepada anak-anak. Lalu pandangan matanya tertumbuk di bangku yang kosong. Ia melihat bangku di sebelah Dean yang tidak ada Jennifer di sana.
"Sistem-mu itu sudah tidak ada, baguslah," katanya senang.
Mark mengusap kacamata yang buram.
"Anak-anak besok ada test kedua, ya. Ujian tahun ini cukup mudah, kalian harus minum darah ular," katanya. Kemudian guru itu berdiri dan menggerakkan tangannya. Pena yang tergeletak di meja tiba-tiba mulai bergerak-gerak.
Mark membuat sihir kecil, sehingga pena itu bisa mencorat-coret sendiri di papan. Pena portabel mulai bergerak sendiri sesuai kemauannya. Suasana sedikit heboh ketika murid-murid mendengar ujian mereka harus minum darah hewan.
"Minum darah ular merupakan latihan ekstrim yang belum pernah dilakukan di tahun sebelumnya. Latihan ini wajib dilakukan oleh kalian kelas awal untuk bertahan hidup dan format uji mental. Mungkin di negara Jepang atau Thailand sudah pernah dilakukan...."
Semua anak-anak makin riuh, terutama kaum perempuan, mereka merasa sangat jijik.
"Pak, kami tidak mau melakukannya. Berikan ujian yang lain saja asal jangan minum darah ular ... hih jijik sekali," keluh seorang murid perempuan sambil menggoyangkan kedua tangannya di udara.
"Kalau begitu, kaum perempuan melakukan penembakan sihir saja di air terjun Langit," tawar pak Mark.
"Bercanda!" Mark melanjutkan bicara dengan serius, "harus minum darah ular, itu ujian tahap kedua yang memang harus dilaksanakan tidak ada kata "tidak mau". Mark menatap tajam satu demi satu anak walinya.
"Huh, aku tidak mau minum darah ular juga," komentar seorang murid laki-laki. Sandi Liem berpura-pura meludah ke lantai.
"Jijik tau!"
"Dixon, kau harus melakukannya, kalau tidak nilai bertahan hidupmu saya kasih C saja!" perintah Mark tersenyum aneh.
"Dia bukan Dixon, dia Sandi Liem, Pak." Anak-anak menyahut dan tertawa.
"Huhu...!" jerit anak-anak heboh.
Mereka memang tidak suka ujian tahap kedua ini. Ujiannya jauh lebih sulit dibandingkan yang sebelumnya. Kalau sebelumnya hanya bertanding dengan kawan berlatih pedang dikelilingi oleh api, maka kali ini berlomba untuk melakukan apa saja dan mendapatkan nilai A. Jika A, bagaimana kalau C? Tentunya mereka tetap masuk ke tahap ketiga dan keempat, tetapi harus melakukan lagi di tahun kedua, dan ujian "minum darah" juga.
Mau bagaimana lagi, harus dilakukan dengan baik bukan?
Buku cerita yang pernah Dean tulis sekarang berada di tangan sistemnya, Jennifer. membaca setiap detail isi buku, terutama di bab ke sepuluh.
Buku yang sangat menarik, ya. Mengapa tuan Dean tidak menerbitkannya?
Sky High, seperti nama sekolahnya. Terdiri dari dua bagian; bangunan megah dan hutan. Hutan Mazi yang sangat angker ada di belakang sekolah, tempat itu biasanya dijadikan sebagai latihan bertahan hidup, ujian bertahap, dan tempat ular-ular besar peliharaan Stevenson. Beberapa ekor hewan mengerikan yang mirip monster serta ikan-ikan piranha yang manis yang ada di sungai Mazi.
Sungai Mazi menguasai sisi kiri hutan Langit. Anak-anak yang menjadi alumni Langit sudah pernah mengikuti ujian tahap, dimulai dari tahap satu sampai tahap kelima. Semuanya lulus, kecuali dua orang. Ketika mereka mengikuti tes tahap keempat, salah seorang murid menghilang di hutan Mazi. Tubuh mereka ditemukan membusuk, Mark dan dua orang guru latih melarung tubuh itu ke sungai, membiarkan ikan-ikan buas memakannya sampai habis.
Jadi ia menulis begitu? Takdirnya mati dimakan ikan Mazi, membosankan sekali. Bagaimana kalau begini....
Jennifer merobek halaman buku itu lalu menulis ulang cerita baru.
...----------------...
"Perhatian!"
"Semuanya bentuk kru kecil, campuran. Jangan ada yang pilih-pilih teman!"
Mark memerintahkan anak-anak membuat kru. Setiap satu kru terdiri dari sembilan orang anggotanya. Ada empat kru dengan nama yang unik. Beberapa menit lamanya, maka terbentuklah empat kru kecil beranggotakan 8 orang bersama seorang ketuanya. Anak-anak pun sibuk menamai kru mereka. Dean berusaha menghubungi Jennifer dengan telepati.
Anak itu ke mana, sih?
Sementara Mark tidak bisa menunggu lama lagi. Kru harus segera dibuat dan ia harus membaca kru anak-anak.
"Baiklah, Bapak bacakan semua nama kru, baik ketua dan anggotanya, harap diperhatikan. Jangan ada yang merubahnya lagi, ya."
Kru satu
Nama kru : HERCULES
Ketua : Charlie Lee
Anggota : Rossie, Elene, Chyntia, Hyerin
Zedrix, Andrew, Athez, Lion
✓ kru dua
Nama kru : BOMB BLASTER
Ketua : Fandy Ang
Anggota : Michelle, Belleza, Freddy Chu, Marlon, Marlin, Caesar Lie, Zefanya Chia, Jennifer Lucas
✓ kru tiga
Nama kru : NEMESIS
Ketua : Dean Alexandre
Anggota : Freza, John, Thomas, Athoz, Stefanus, Sandi Liem, Sean Paul, Gelael King
✓ kru empat
Nama kru : THE FALLEN ANGELS
Ketua : Merry
Anggota : Xavier, Xaviera, Venus, Genaya, Charles, Rozza, Zein, Dave
"Katakan siapa yang tidak hadir hari ini?"
"Jennifer, Pak!" lapor seorang siswi.
"Hem, tidak usah pedulikan sistem itu, mungkin dia sedang sekarat di suatu tempat," duga Mark. Bapak berambut cepak itu tak menyukai Jennie sejak awal. Ia ingin Jennifer segera mati atau angkat kaki dari sekolahnya.
"Jangan berasumsi kalau Jennie semudah itu mati, Pak, Jennie itu sangat kuat dia tidak mungkin mati," protes Rossie.
Dean mengangkat kepalanya. Rossie menjadi dekat dengan Jennie sejak ia buat kekacauan malam itu, itu sebabnya ia membela Jennifer.
( baca bab 7 kekacauan di asrama Langit 1)
"Hum ... baiklah, terserah kamu. Jennifer harus diganti dengan kelas sebelah."
Maksud dari ucapannya, ialah kelas dua ( kelas akhir). Menjalani sekolah Langit di kelas A dan B Awal satu setengah tahun, dan kelas A, B Akhir selama dua setengah tahun. Jadi, setiap murid disiksa oleh latihan selama empat tahun, mereka baru lulus dari akademi Langit dan menerima ijazah. Latihan tersulit adalah latihan tahap kelima dan itu akan segera dilakukan.
Jennifer, cepatlah pulang! Ada ujian menanti kita, kau harus mengajarkan aku dengan latihan-latihan yang banyak dan penuh gairah, batin Dean.
Continue _
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
oiih ngeriii
2024-01-06
1
Rara
gk bener ini sesatt
2024-01-06
1
Honeybee🐝🥀
bukan yang bikin kacw itu gresi ya 🤔
2023-12-20
1