Dean berjalan dengan cepat, bahkan melesat ke arena tanding. Matanya tertumbuk pada dua mahkluk yang satunya sudah kehabisan tenaga, dan satunya lagi berdiri dengan angkuh, matanya bersinar merah siap melakukan eksekusi lawan yang tersudut tidak bergerak. Wanita itu tidak membaca gerak-gerik Dean yang mendekati dirinya. Ia sibuk dengan lawan yang tak berdaya. Stefanus sedang sekarat rupanya. Ia tak mampu berdiri lagi bahkan untuk menggerakkan kedua tangannya saja ia harus berpegang pada tombaknya. Darahnya di mana-mana, sebagian hampir kering. Dean maju. Di tangannya siap sebatang pensil mirip jarum, ukuran benda tersebut 4,5 cm.
Benda itu ditusukkan ke ujung telunjuknya. Jennifer tadi sudah beri tahu bagaimana cara melakukannya.
[ Ingat, Tuan. Jangan pernah ragu mengambil keputusan! Oleskan darah anda ke dahi wanita itu, jika anda bisa menangkapnya hidup-hidup, tapi jika tidak oles saja ke tanah kata "delete" maka dirinya akan binasa dengan sendirinya. ]
[ Tuan, anda hanya bisa mengoleskan satu kali saja ke tubuh atau tanah.]
Bagaimana jika aku mengoleskan dua kali, Jennie?
[ Maka sebagian ingatan anda akan terhapus dan ini berbahaya bagi diri anda sendiri, Tuan Dean. Terjadi keretakan waktu dunia langit dan bumi ]
Dean pun maju dalam sekali serang, ia berhasil menangkap Ellene dan mencekal tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Ellene begitu tahu Dean mencekal lengannya. Ia berusaha meloloskan diri, tetapi tak semudah itu. Dean semakin mencekal erat. Satu tangan lain sibuk dengan pensil yang ia gerakkan secara melayang.
SRAT!
SRAT!
Pensil bergerak sendiri tanpa dipegang dengan. Perintah Dean kepada sistem,
[Jennifer, Ellen sangat kuat ia tidak dapat ditaklukkan! Bantu saya mengikat tangan dan kakinya dengan tali api!]
Namun, tak ada jawaban dari sistem. Jennifer tidak hadir di telepati Dean. Pria itu mati-matian menaklukkan Ellen. Sementara itu di depan mata, Stefanus yang tidak sadarkan diri sudah dipapah oleh dua kawannya. Merry dan lainnya berlari ke arena pertarungan, tetapi di sana sudah lebih Dean. Merry mundur, kakinya menabrak penjaga gerbang —Lane Mar. Monster setengah beruang, setengah droid itu memukul Merry hingga terlempar dan menabrak pintu asrama.
"Aish, sialan! Beruang gila itu cari masalah rupanya!" umpatnya.
Merry bangun lalu jarinya memetik dawai harpa, selarik cahaya keluar dari alat itu. Kekuatan gadis itu ialah Harpa— sejenis alat musik petik. Jari-jarinya yang lincah memetik senar harpa mengalun "song to the afterlife"
ilustrasi Merry Storm Harp level 5. Upgrade level 7
Song afterlife: lagu menuju akhirat
[TRIIIINGG]
MERRY storm's Harp upgrade level 7
kekuatan: Storm Harp. Badai harpa yang maha dahsyat. Larik demi larik dari petikan harpa milik Merry mengeluarkan bunyi keras memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.
"UWARRHHGG!"
"HENTIKAAN!"
Telinga Mar berdarah! Lane Mar ambruk tanpa menyerang Merry. Ia mati seketika. Melihat saudaranya roboh, Lane Mut menyerang Merry dengan Long Lancer miliknya. Keluarlah sinar biru bergaris arah horizontal. Milyaran sinar biru dari spear of light —tombak cahaya milik sang penjaga gerbang kiri Langit menembus alunan musik song afterlife. Merry memetik dawai-dawai harpanya semakin cepat. Ribuan sinar putih dan alunan musik mengerikan keluar dari setiap petikan jemarinya. Merry begitu lihai dalam memainkan lagu menuju akhirat
(song afterlife).
MERRY LEVEL upgrade 9
kekuatan : Song afterlife. Terlalu lama mendengar lagu ini, pembuluh halus di dalam telinga hancur. Lagu menuju kematian level 9.
"Gadis berengsek! Hentikan bunyi sialanmu!"
Mut yang sudah berdarah kedua telinga, hanya bisa bergeming di situ. Sistem fisiologi dalam tubuh Mut tidak berfungsi atau sudah rusak. Damage yang ditimbulkan oleh kekuatan lagu kematian Merry level 9 dapat membuat mata buta dan sel otak hancur. Mut pun ikut ambruk di tempat. Melihat semua itu, Dean tidak bisa diam lagi.
Awalnya ia cukup ragu-ragu melenyapkan Ellene. Kini ia harus bertindak cepat.
[sistem, apa aku harus menghapus semua yang terlibat? Merry yang sudah membunuh dua tetua sekolah, aku harus bagaimana?]
[Tuan, hapus semua orang itu! Mereka sudah membuat sekolah rusak!]
Dean masih bergeming. Ia tidak bisa bersuara atau melangkah mendekati teman-temannya.
[Tuan Dean jangan ragu lagi. Hapus mereka!]
Jennifer terus mengingat Dean dari telepati, tetapi Dean masih bergeming. Keduanya sangat penting, mereka kawan-kawan Dean.
Merry yang baru saja mengajaknya bicara, Ellene juga bisa dibilang "teman baru", mereka menjadi akrab dua hari lalu. Akankah ia melenyapkan kedua gadis tersebut?
Bimbang.
[Tuan, tunggu apalagi!?]
Dean menatap lurus Merry dan Ellene bergantian. Tangannya yang masih mencekal bahu Ellene terangkat, dari belakang Dean menulis di dahi gadis itu, masih dengan hati bimbang.
Delete.
[Tuan, apa yang kau lakukan!]
Save.
Dean menoreh "save" di dahi Ellene. Dahi gadis itu bersinar. Cahaya putih keluar dari setiap goresan darah di jari Dean. Huruf-huruf bergerak acak membentuk "SAVE" yang berurutan, Dean tersadar dari lamunannya dan terperangah. Ia lupa itu bukan DELETE, tetapi SAVE!
"Jennie aku harus bagaimana?"
Ellene mengejang, jatuh di lantai dengan kedua tangannya di perut, seperti orang mati. Ia terbujur, kedua mata terpejam. Seluruh tubuh Ellene tiba-tiba bersinar terang dan melesat hilang.
[WUUUSHH]
"Jennie, ke mana perginya Ellen?" teriak Dean.
Suara Dean yang keras membuat beberapa temannya yang sibuk menolong Stefanus menoleh ke arah Ellene. Begitu juga Merry. Ia tahu Dean akan melenyapkan dirinya juga. Merry begitu takut dan melarikan diri dan sembunyi di pohon-pohon besar yang berada di sekeliling sekolah.
[Tuan menyimpan tubuh Ellene di hutan Mazi, tempat gadis itu diciptakan!]
"Akan kucoba mengambilnya lagi," tukas Dean.
[Jangan bodoh! Mazi penuh teka-teki dan sangat mengerikan, tuan!]
"Aku akan masuk dan mengambil Ellene lagi, kau pulang saja, Jennie." Lalu katanya, Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!"
[Tidak bisa! Kalau tuan masuk ke sana rentang waktu akan berputar, masa lalu tuan akan berubah lagi.]
[Dan saya tidak bisa kembali, tuan! hiks...!]
Jennifer terisak.
Dean menyadari ada yang salah dengan perbuatannya. Itu karena dia ragu-ragu. Andai saja dia langsung bertindak tanpa rasa bimbang, tentu tidak akan melakukan kesalahan fatal.
"Jangan sedih, aku akan menjemputmu!"
Tuan Dean, apa kau bodoh? Sudah banyak kebodohan yang kau lakukan. Kita bisa terjebak selamanya di tempat yang kau ciptakan sendiri, di buku cerita anak-anak!
"Beri tahu caranya ke hutan Mazi?"
[Tidak tuan. Saya tidak bisa membantu anda. Kali ini, anda akan sendirian di sana tanpa sistem.]
Ellene yang tiba-tiba di SAVE oleh Dean karena bimbang memutuskan. Gelael yang masih tertidur dan jiwanya ada di alam ilusi, Zefanya mati meledakkan tubuhnya sendiri demi menghentikan Ellene. Stefanus yang tidak sadarkan diri. Dua monster penjaga setengah beruang setengah android yang mati terkapar di bawah arena. Merry yang kabur. Belum lagi, si Mark yang sedang berlibur entah dia ada di mana. Ini sungguh kacau. Benar-benar malam panjang yang penuh ketegangan. Ada satu hal yang kalian lupa, Stevenson si botak telah kembali dari perjalanan yang misterius.
Aku harus melakukan yang mana dulu, ya. Kenapa aku selalu bimbang, sih?
continue_
Kuis
apa yang akan dilakukan lebih dulu oleh si penulis buku cerita amatir Dean Alexandre?
A. Mencari Ellene di hutan Mazi
B. Mencari Gelael di alam ilusi
C. Mencari Merry dan menangkapnya
D. Mencari Mark si wali kelas edan
E. Berhadapan dengan kepala sekolah
Semua jawaban ada padamu, sobat.
{ karya ini merupakan karya jalur kreatif}
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
ELVANN
mohon dukungan terima kasih. 🙏
2024-01-07
0
Lullaby
abcd
2023-12-27
0
Honeybee🐝🥀
A. Dan E
2023-12-25
0