"Ternyata kau adalah sistem yang dibuat Dean!" dengkus Jennifer. Matanya berkilat menahan emosi.
"Oh ya. Kalau aku sistem lantas apa peduli mu?" Gracie tersenyum mengejek. "Ah, aku tahu kau suka Dean—tuan bodoh mu itu."
Aneh juga. Masa sih aku ini dikatai sistem. Apa itu ... Maksudnya aku robot, gitu? Perempuan gila.
"Kuakui. Sejak melihat Dean masuk aku jadi suka padanya. Apa salahnya kalau ku dekati dirinya?"
Jennifer semakin marah. Ia sudah mengeluarkan pedang andalannya.
"Akan ku hancurkan kau perempuan ular!"
"Memangnya kau apa ... anjing betina?" Gracie sakit hati dibilang ular oleh sistem. Ia juga mengeluarkan senjata lasernya.
"Kamu tidak berhenti menggoda semua laki-laki di sekolah ini, terutama yang ganteng dan baik. Kamu suka mengusik mereka, tak punya malu, ya?" sindiran itu datang dari mulut Jennifer.
Gracie terkekeh.
"Malu? buat apa mesti malu. Aku kan cantik, lagian cowok-cowok di sini juga menyukaiku. Aku bebas memilih siapa yang kusukai, kok kamu nggak usah sok peduli, deh," sinis Gracie
"atau kamu sendiri udah gak laku, ya makanya kamu sok peduli sama aku yang laris manis ini," sambung Gracie seenaknya.
Ingin kurobek mulut bebeknya itu!
"Ayo kita bertarung, kalau kau kalah jangan ganggu tuan Dean lagi! Kau harus pergi dari sekolah Langit!"
"Halah, dasar cewek murah, kau nggak akan menang lawan senior!"
"Biar kubuktikan siapa yang murahan!"
Kedua perempuan itu pergi ke arena tarung. Gracie dan Jennifer.
Gracie memang lebih unggul daripada Jennifer, karena dia kakak kelas. Karena ia bosan menang terus, ia berlagak imut dan selalu tinggal kelas. Setiap ada ujian Gracie selalu unggul dengan peringkat satu setiap babak pertandingan. Lawan yang lemah sampai monster sekali pun Gracie selalu berhasil sampai ke babak final.
Lawannya adalah Jennifer —humanoid wanita pertama di sekolah Langit. Sistem yang mengambil komponen dan membentuk kesatuan humanoid ini tidak kalah dengan Gracie. Hubungan keduanya memang tidak terlalu baik. Mereka musuhan! Mungkin sejak ada Dean, keduanya saling bermusuhan. Kekuatan Jennifer memang tidak sebanding dengan kakak kelasnya. Namun, Jennifer juga memiliki kekuatan misterius. Jennifer memilih senjata Lance. Tombak runcing yang membuat penggunanya bergerak lebih cepat, karena skill dari Lance sendiri membuat pemakainya melakukan Dash. Skill Lance ada dua, yaitu Charge (menusuk ke depan) dan Knigh's Charge. Ia harus berlari ke depan dengan mementalkan musuhnya untuk damage yang lebih besar dari Charge.
Gracie memilih sword. Ia lebih menyukai pedang sedikit lebih pendek. Skill dari sword ada dua yaitu Flurry, dengan menebas musuh, tebasan yang sangat cepat. Kecepatan menyerangnya sebesar 50%. Skill selanjutnya adalah Throw Sword, melemparkan pedang ke depan musuh untuk damage yang besar, yakni sebesar 800%.
Siapakah yang akan menang? Gracie atau Jennifer. Mana yang mendukung Jennifer, mana pula yang mendukung gadis agresif Gracie?
Pertarungan antara dua gadis hebat dimulai.
Jennifer bersiap. Gracie bersiap. Saling memberi hormat.
"HIYAAAHHHH!"
Jennifer berlari melakukan Dash berkali-kali dan menggandakan skillnya. Gracie menangkis dengan Sword miliknya lalu dia menyerang dengan skill Flurry. Gerakan yang begitu indah dan sangat cepat.
Trang! Trang!
Jennifer mengimbangi permainan cepat Gracie di udara. Berkali-kali harus merunduk. Gracie bernafsu menebas leher Jennifer. Gadis itu menangkis dengan Lance di tangannya, berputar lalu menendang bahu kiri Gracie.
BRAK!
Lalu kepala Gracie.
BRAK!
Buah pinggang Gracie tak luput dari tendangan mematikan Jennie.
Bug!
Gracie terhuyung ke belakang sebentar, darah merembes di sudut bibirnya. Gracie meludah kasar.
"MATI KAU!"
Dari ujung Sword keluar selarik cahaya putih yang bersinar terang dan menghantam tubuh Jennifer.
"Argh!" Jennifer terpental menabrak tembok.
Gadis itu memegang perutnya yang sakit akibat terkena sinar dari sword milik Gracie. Sihir mengalir di senjata perempuan mungil itu. Jennifer tersenyum. Ia membuat pergerakan lain yang tak mudah dibaca lawannya. Jennifer terus mengayunkan senjatanya. Dari ujung tombak, keluar sihir keunguan.
"Haiyah!"
Sinar ungu itu menghantam tubuh mungil Gracie. Tubuhnya terpental hebat. Gracie memuntahkan cairan merah kental. Ia mengerang kesakitan sambil memegang dadanya.
"AAAAAK!"
"Dasar wanita kejam, kubunuh kau!" Gracie bangkit, tetapi ia tak mampu berdiri. Sekolah malam itu sungguh berantakan. Beberapa guru datang melerai mereka berdua, Stevenson kepala sekolah keluar melihat apa yang terjadi. Mengapa sekolah Langit bergetar hebat. Rupanya ada dua prajurit wanita yang saling berseteru.
Ini tak boleh dibiarkan. Mereka bisa mati...
Jennifer, gadis itu gigih datang ke Langit. Apa tujuan dia sebenarnya? Siapa lagi laki-laki yang dibawanya ke sini. Kata Mark, laki-laki itu berbahaya? Aku harus menyelidiki mereka berdua. Mark harus membantuku.
"Mark, di mana kau. Tolong tangkap mereka dan masukkan ke penjara Langit!"
Seorang guru dengan perawakan yang tinggi, watak keras datang dan menangkap dua gadis yang sedang bertarung. Guru itu wali kelas Dean. Mark Hughes. Mark merebut senjata milik keduanya dengan kekuatan fantastis. Senjata itu tertarik bagai magnet, Mark memegang Sword dan Lance milik keduanya lalu menyimpannya.
"Gadis-gadis bodoh yang memperebutkan seorang laki-laki, sungguh memalukan!" hardik Mark melihat dua wanita yang bertarung di arena.
ilustrasi dua wanita sedang bertarung. Jennifer dan Gracie. Pict by WLOP
"Kalian harus dihukum karena telah membuat keributan di pintu kepala sekolah. Hukuman kalian adalah ..."
Mark berpikir sejenak, kemudian melanjutkan bicara, "hukuman kalian adalah mengisi air minum di gentong besar. Sepuluh gentong dalam waktu satu jam semuanya sudah terisi. Ayo lakukan!" perintahnya.
"Aish, si Mark gila!" kesal Gracie mengumpat
"Apa kau bilang? Kau mau kubuat hukumannya bertambah dua kali lipat lebih berat, huh?"
"Jangan dong! Semuanya kan salah dia, kalau dia nggak ngajak bertarung, aku nggak bakalan kena hukuman!"
"Diam!"
Begitulah. Mereka berdua kena hukuman dari Mark. Mengisi air minum sepuluh gentong dalam waktu sejam. Siapa yang sanggup melawan wali kelas Mark.
Hehehe, mampus kalian! Siapa suruh berlagak!
...----------------...
Keesokan harinya, Gracie dan Jennifer tergeletak di kasur masing-masing, mereka tidak berdaya karena seluruh tubuh mereka pegal-pegal. Semalaman mereka berdua bergantian mengisi gentong-gentong kosong. Setiap jam Mark menambah hukuman karena mereka tidak mampu mengisi air sepuluh gentong dalam waktu satu jam. Alhasil, gentong tersebut terus terisi menjadi seratus lima puluh gentong air.
"Mark sialan!"
"Semua ini gara-gara kau, wanita murah!" cerocos Jennie marah-marah seraya memukul pundaknya yang pegal-pegal.
"Kau juga, kan yang salah!"
"Kalian berdua yang salah," tukas Dean tertawa geli. Ia melihat gadis-gadis itu masih terus memukuli pundak karena kecapean. Gracie merubah sikapnya, berpura-pura tangguh di depan Dean.
"Kak Dean, sejak kapan datang? Ayo duduk di sini," bujuknya. Gracie menarik tangan Dean, tetapi Jennifer menarik tangan kanan Dean. Mereka saling tarik-menarik.
"Tuan Dean, jangan dengarkan dia. Dia gadis genit gila. Tuan duduklah di sebelah saya!"
"Kau dasar murahan ampas!" Gracie menarik pundak Jennifer dengan kasar. Gadis ungu terjatuh di lantai kelas.
"Aish, sialan kau. Ku pukul kau sampai mati!" Jennie menjambak rambut Gracie. Keduanya saling Jambak. Beberapa siswi ikut menyoraki memberikan semangat. Dean yang melihat suasana memanas dan menjadi heboh, segera menyingkir dari sana.
Apa-apaan dua gadis ini, mereka sungguh kekanakan!
"Bagaimana mungkin kau yang hanya manusia biasa bisa lolos masuk ke sekolah ini?" tegur seseorang kepada Dean. Orang itu berdiri di belakang memerhatikan apa yang dilakukan Dean. Orang itu terus memutari tubuh Dean.
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Kamu yang siapa, berdiri di belakangku sambil bicara?"
"Lion! Kau?"
"Dean Alexandre!" Dean mengulurkan tangannya, tetapi Lion tidak menyambut. Ia tertawa meremehkan. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Cih, manusia biasa!"
"Memangnya kenapa?"
"Manusia mana mungkin bertahan di Langit. Ini sekolah para ksatria berbintang dengan level maksimal, sedangkan kau? Kau hanya manusia biasa di atas rata-rata?"
"Apa urusanmu?" Dean merasa diremehkan dan tidak terima, "Aku di sini bukan kau yang menentukan, aku yang tidak mau berada di sini!"
"Dasar sombong!"
Dean terdiam dikatai sombong.
"Kalau kau berhasil mengalahkan aku, akan kuberikan senjata legendaris milikku ini. Kalahkan aku dulu!" tantang pemuda itu. Pemuda itu tidak seperti lainnya. Ia seperti seorang pangeran yang gagah. Ia memiliki sepasang sayap yang indah. Sayap yang besar.
Apakah dia manusia burung di Dungeon?
Lion mengepakkan kedua sayap besarnya.
Wus! Wus! [ bunyi pedang tertiup angin]
Desain angin yang sangat keras hingga hampir merobek kulit Dean. Dean bertahan, walau angin yang bertiup kencang merusak seragam sekolah Langit. Kulit tangan dan wajah Dean tersayat tipis. Dean mengerang sakit. Ia terlempar hebat ke sana-kemari. Sekali kibasan saja Dean tidak bisa bergerak. Meski ia menghindari kibasan sayap-sayap besar itu, tetapi Dean tetap saja jatuh. Robekan di kulit Dean semakin dalam.
"AAAAH!" Aku harus bertahan. Mengapa kibasan sayap Lion melukai kulit tangan dan mukaku? Bagaimana aku menyerangnya dari dekat, kalau begini aku bisa mati tersobek!
Continue _
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rara
singa
2024-01-06
0
Rara
wahhhh hebat baguss
2024-01-06
0
Rara
wawww
2024-01-06
0