Ayah-Anak
"Perhatian anak-anak!"
Kembali suara Mark bergema di arena latihan. Mark dan Antonio berada di ruang siaran (broadcast room). Tempat itu memiliki layar monitor empat buah lengkap dengan speaker stand, microphone, komputer dan audio mixer.
Mark membaca hasil penilaian lewat microphone untuk siswa yang lolos di tahap kedua. Anak-anak kelas A berkumpul di arena. Ada sepasang speaker diletakkan di sisi arena kanan dan kiri, sebuah kamera CCTV di depan setiap sudut ruang sekolah, mereka melihat ke layar monitor. Semuanya cemas menantikan pembacaan siapa saja yang lulus dan gugur dalam ujian tahap dua.
"Kru tiga, Nemesis ketua Dean Alexandre dinyatakan gagal dalam mengikuti ujian tahap ini. Jika ketua gagal di tahap kedua, anggota kru boleh lanjut atau mengundurkan diri. Terserah dengan kalian saja. Nilai kalian adalah C. Nilai indeks prestasi kumulatif 67".
"Bagaimana dengan kami, pak?" Anak-anak dari kru lain bertanya nilai mereka.
"Kalian tidak bisa diberikan nilai karena kalian tidak minum darah ular itu," jawab Mark dengan ambigu. Anak-anak lain menggeleng. sedangkan kru tiga teman-teman Dean ber ''hu", protes tidak terima kalau mereka cuma dikasih C karena ketua mereka gagal di ujian kedua.
Anggota Nemesis hingar-bingar membicarakan soal kekalahan mereka di tahap kedua.
"Tidak dapat nilai bukan berarti gagal. Saya akan menilai di tahap selanjutnya harap semuanya sabar."
Guru edan! Merry memaki wali kelasnya.
"Tidak adil, Pak! Kenapa ketua kami yang gagal tes, kami semua mendapat nilai C 67?" teriak mereka di arena. Mereka juga menyalahkan Dean. Ketua bego pakai pingsan segala sok kuat, sih.
"Cangkirnya kan cuma satu, Pak. Dean yang meminum darah ularnya, kenapa bukan Dean saja yang dapat C, kami tidak terima nilai kami C!" teriak anggota Nemesis lagi.
"Diam kalian. Saya yang berhak menentukan siapa yang dapat C. Kau mau mengganti saya di sini sebagai guru wali, hah?" Mark tidak suka diprotes.
"Kami tetap tidak mau terima," teriak mereka dengan ekspresi menyalahkan Mark. Mereka menuding kamera dan menunjukkan jari tengah di depan Mark.
"Berengsek!" dengus Mark di depan monitor.
"Jadi mau kalian apa?" sambungnya mulai bosan, ia menoleh ke Antonio. "Hei, Antonio apa-apaan mereka itu?"
Guru latih itu hanya bisa membuang napas. Ia bisa apa di depan Mark. Guru wali sekaligus guru pelaksana ujian adalah Mark sendiri. Semua itu idenya. Setiap tahun memang harus mengadakan ujian sebelum pelantikan militer menjadi tentara langit.
Mark berhenti beberapa menit bicara, setelah ia melihat semuanya terdiam, baru ia melanjutkan pidatonya lagi.
"Anak-anak, bukannya masih ada tahap selanjutnya. Tahap ketiga, lumpur hutan Mazi menantimu persiapkan diri kalian dengan baik."
Semua siswa ketakutan. Mereka tahu tentang asal-usul hutan Mazi. Apalagi soal lumpur yang seolah hidup yang sering dibicarakan oleh beberapa guru pembimbing.
Hutan Mazi terletak di belakang bangunan sekolah yang dikelilingi oleh sungai deras, tak ada satu pun siswa yang berhasil di tahun kemarin, bahkan sudah tersebar rumor ada dua siswa yang hilang di hutan. Ujian kali ini mereka yakin akan gagal. Bukan hanya angker saja, konon, kata penduduk Langit di hutan itu tinggal sepasang suami istri yang senang berburu menangkap manusia untuk dijadikan bahan makanan. Mereka suka berburu anak-anak. Bau wangi anak-anak yang datang ke Mazi sudah tercium aromanya dalam radius seratus meter. Belum lagi lumpurnya. Lumpur hitam pekat yang bisa bergerak-gerak seolah ia hidup merangkak di kaki dan siap menelan korban.
"Tidak mau!"
"Kami nggak akan ke Mazi, biarkan kami nggak ikut ujian ketiga kali ini saja," rengek mereka lagi
"Jangan manja anak-anak!" bentak Mark. Sambungnya, " atau kalian semua dapat nilai D saja dan tidak usah melanjutkan ujiannya, pilih mana anak-anak."
"Mau 'D' atau lanjut?" gertak Mark
Guru itu membuang puntung rokok ke lantai, Antonio melihat perbuatan Mark, tangannya memungut puntung rokok dan memasukkan di keranjang sampah di samping meja. Buang sampah sembarangan!
"Kalian harus mengikuti aturan sekolah. Ujian dari tahap satu sampai tahap keempat. Semuanya harus mengikuti ujian, sekian!"
Ia kemudian membacakan lagi sisa kru yang masih bertahan dan melanjutkan ujiannya.
"Kru yang tersisa, kru satu Hercules ketua Charlie Lee, kru dua BOMB BLASTER ketua Fandy Ang, dan kru terakhir ialah kru empat The Fallen Angel ketua Merry. Silakan ke tengah lapangan, kita bersiap-siap masuk ke hutan Mazi!"
Antonio menambahkan pengumuman itu, "Kru yang gugur di tahap kedua anggotanya harap gabung di tiga kru, bubar!"
Freza, John, Thomas, Athoz, Stefanus, Sandi Liem, Sean Paul dan Gelael King. Mereka cuma bisa membuang napas panjang. Berharap ujiannya segera tiba lalu tamat di hutan Mazi. Mereka tidak berharap menang, karena ketua mereka yang kuat saja gagal di ujian kedua, tanpa ketua mereka lemah jika dibandingkan semua kru yang masih memiliki ketua yang mempunyai kemampuan hebat.
Dari jauh, Sean melihat Charlie Lee duduk di kursi besi, pandangan matanya menerawang. Ia melamun. Ia tidak puas dengan hasil yang dibaca Mark. Mengapa Dean langsung dinyatakan gugur? Dirinya tidak yakin kalau Dean sudah gagal di awal ujian. Dean itu salah satu petarung yang diakui Mark kedua setelah dirinya. Ia yang pertama dianggap paling kuat dari semua teman-teman kelas A Lalu si murid baru, Dean Alexandre. Dean petarung terkuat kedua. Dean tidak semudah itu gagal, siapa dalang yang sengaja membuat Dean gagal dan tidak melanjutkan lagi ujian ke tahap selanjutnya, apa benar, Mark sengaja melindungi Dean?
"Yo Bro sepertinya kau tidak suka dengan penilaian kru tiga?" Sean datang dan duduk di sisi Charlie.
"Hg...."
"Kau yakin Mark menyembunyikan sesuatu?"
"Kau menyadarinya?" Charlie balik melempar pertanyaan. Sean mengangguk.
"Aku yakin Bro. Mark sudah merencanakan sejak awal agar Dean keluar dan dianggap tidak lolos. Jennifer tidak ada, kan?"
"Kau benar. Jennifer sudah tidak terlihat sejak diadakan ujian kedua kita, apa menurutmu, Jennifer bekerja sama dengan Mark membuat Dean gagal di ujian kedua?" Charlie menatap lekat batu kerikil di sisinya, kemudian mengambil batu itu. Membuat sihir, tiba-tiba baru itu berubah bentuk menjadi seekor anak ayam yang lucu. Ia menyihir lagi, batu itu kini bergerak dan hidup. Berjalan-jalan di sekitar kaki Sean.
Sean tertegun. "Kau bisa sihir rupanya." Sean menangkap ayam kerdil itu dan menaruhnya di telapak tangan. Sean mengamati anak ayam imut itu.
"Yah, sedikit...."
"Coba, sihir Mark biar jadi anak sapi lucu," usulnya.
"Sapi nggak lucu, bagaimana kalau ku sihir saja dia jadi tirex, biar dia melahap mu," kelakar Charlie.
"Hap!" Sean menambahkan. Tangannya memegang pundak Charlie.
"Yo yo men,Tirex makan Chali, hahahaha!"
"Yo men. Tirex gigit dia!" Charlie kesal lalu menyihir anak ayam tadi menjadi buas. Ayam itu berubah sedikit lebih besar sebesar telapak tangan orang dewasa, paruhnya terbuka siap mencaplok kaki Sean.
"Stop bermain anak-anak!"
Mark muncul di sana dengan wajah serius.
"Pergilah tidur menjaga stamina, besok kalian harus ke hutan Mazi untuk ujian tahap tiga!" Mark mengusir anak-anak itu, tangannya menarik ayam yang mencaplok kepalanya. Ia terlihat jengkel. Sean dan Charlie berusaha untuk tidak tertawa.
Selamat bersenang-senang anak-anak.
...----------------...
"Merry, apa kau sudah tahu?"
Hyerin mendekat dan berbisik di telinga Merry.
"Tahu apa?" tanya Merry polos. Hyerin yang serius duduk di sisi kasurnya.
"Kalau Mark dan Jennifer itu adalah ayah dan anak."
"Apa!?" Merry kaget. Cat kukunya menjadi berantakan.
Ada desas-desus aneh di asrama anak perempuan. Mereka bilang kalau Jennifer ada hubungan dengan Mark. Wali kelas A.
"Masa, sih bukannya Jennie bilang ayahnya adalah Muchen guru menari di kelas bumi?"
Hyerin menambahkan, "lagian mana bisa sistem memiliki seorang ayah?"
"Charlie yang mengatakannya, tanya saja padanya," tandas Hyerin.
"Rossie, bagaimana denganmu?"
Gadis yang ditanya hanya diam merenung. Isi kepalanya bukan tentang desas-desus di asrama mereka. Rossie masih memastikan kalau Dean itu adalah Dean Alexandre yang dia cari selama ini. Dean ganteng yang baik hati dan penurut. Dean dengan bodi atletis. Dean yang pandai berkelahi. Dean yang selalu dibully tetapi tidak pernah menangis. Dean yang...
"Rossie!" sentak Merry.
"Eh, apa?" Rossie terhenyak.
"Kalian bilang apa?"
"Rossie, Hyerin bilang ada desas-desus aneh di asrama kita, katanya Jennie anak dari pak Mark, bagaimana menurutmu?"
Rossie memperbaiki duduknya. Ia bersila.
"Kalian suka bergosip, ya. Guru sendiri digosipin," sindirnya.
"Hyerin, denger tuh. Jangan suka ber-go-sip." Merry dan Cynthia bicara barengan lalu mencubit pipi chubby Hyerin. Mereka tertawa bareng-bareng.
Di luar kamar. Di rooftop, seorang gadis duduk dengan rambut tergerai indah. Rambut ungu bergaris putih itu melambai-lambai tertiup semilir angin malam. Matanya tertuju ke arah oak di sana. Jennie tidak bisa tidur, jadi ia memilih duduk santai menikmati malam dan Langit tanpa bintang. Di atas kerajaan Langit memangnya ada bintang?
Ia juga ikut mendengar desas-desus di asramanya. Semuanya sudah tahu, ya. Hah, berarti tidak akan lama lagi aku dan dirimu harus berpisah. Berpisah dengan takdir yang sama lagi. Ah, sial! Bukumu benar-benar palsu, Dean! Sekeras apa pun aku mengubah takdir kita, menulis kembali, tetap saja tidak terjadi seperti yang kuinginkan. Aku sudah merobek kisah yang tak penting, aku menulis juga kau tahu... Namun, semua itu sia-sia. Kamu adalah dewanya. Kamu dewa dalam bukumu sendiri.
Dewa cerita dan masuk dalam ceritanya sendiri. Dewa yang kehilangan sebagian memorinya. Dewa yang....
Ah!
Air matanya menitik perlahan di kedua pelupuk dan mengalir makin deras dari manik ungu. Jennifer membenamkan wajah di kedua telapak tangannya seolah malu diketahui jangkrik pohon. Ia menangis di dalam diam.
Serangkaian film memutar di kepala sistem itu.
Bertemu, berteman, saling butuh, dan rindu, kemudian berciuman merasakan sentuhan demi sentuhan laki-laki yang membuat dia jatuh dan rela mengorbankan nyawa untuk menjadi petarung dan dapat diandalkan. Mengkhianati kepercayaan orang tuanya. Ditangkap dan hampir diperkosa, masuk ke dungeon monster dan tersesat dalam sejarah. Masuk ke dinasti Xia, tertangkap karena merusak telaga, masuk sel bambu, lalu kabur. Muncul lagi di dungeon iblis, dijadikan bahan percobaan. Akhirnya kembali lagi bertemu dengan kekasih lama. Berpura-pura menjadi sistem dan hilang ingatan demi kekasih. Sebenarnya dia adalah apa? Dean pernah menulis di bukunya Jennifer itu seorang humanoid yang bisa segalanya. Memiliki kekuatan tempur luar biasa sampai level maksimal. Kalau dihitung-hitung, tidak ada ruginya karena setiap kali Dean membuat dirinya terus terbunuh, dihancurkan, semakin sering malah ia semakin jatuh cinta kepada dewa penulis itu. Ia ingin merasakan emosi-emosi manusia bumi dan terus berada di samping tuannya yang adalah dewa. Mengapa ia dijadikan anaknya Mark, bukan anaknya Muchen?
Dean, sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang aku, aku ini apa bagimu?
Hubungan kita sebatas tuan dan sistem, iya kan?
Jennifer membayangkan Dean ada di depannya, memeluk erat. Menciumi dan mencumbunya. Ia begitu mendamba seorang Dean.ilustrasi Jennifer yang sedang sedih
Aku ingin memelukmu erat-erat. Meraba sekujur tubuh indah dirimu. Membelai setiap urat di tubuhmu yang melekuk itu. Menghapus rinai yang turun di pelupuk mu. Membiarkan kau bernapas di telingaku, mengajakku untuk bercinta. Aku mau melakukan apa pun yang kau perintahkan, tetapi tolong jangan tulis perpisahan. Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi, Dean. Tidak mau! Jennifer semakin terbawa suasana hatinya. Sampai badannya berguncang hebat. Air matanya semakin deras. Wajahnya nampak kacau dan letih. Ia merasa semakin dekat dengan kehancuran. Ia akan dihancurkan oleh tangan dewa.
Continue _
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
ELVANN
saya butuh komentar.
2023-12-26
0
Honeybee🐝🥀
wwwwwkkkk mark sapi mark sapi
2023-12-20
0
Honeybee🐝🥀
setuju. bisa aja ada persengkokolan mark sama jeni yey
2023-12-20
0