"Bagaimana kak Dean waktu itu bisa masuk ke lumpur tanpa perhitungan?"
"Aku cuma ingin menolong teman."
"kak Charlie sudah kak Dean anggap teman, ya?"
"Hum."
"Kak ... kok kakak sangat tenang, ya. Kak Dean juga sangat kuat, apa rahasianya?"
"Biasa aja."
Pertanyaan Rossie yang beruntun membuat dirinya risih. Dean menunduk menutupi rona di mukanya, melihat respon alami Dean, Rossie makin gencar menggodanya.
"Kak, ajarin aku, ya nanti ku kasih hadiah," katanya sok imut.
"Berlatih pedang maksudmu?"
"Bukan. Aku ingin menjadi kuat seperti kak Dean," tukasnya. Ia memegang tangan Dean. Laki-laki itu melepaskan dengan pandangan sedikit menekan.
"Jangan pegang-pegang terus, dong!" tegasnya. Tangan perempuan itu meraba-rabanya, Dean menjadi risih. Berkali-kali ia mencekal tangan perempuan itu agar menjaga batas di bagian apa yang dia raba. Rossie yakin Dean adalah pacarnya dulu, terus bermanja-manja kepada Dean. Sejak ia menolong mereka, Dean makin populer di sekolah. Baik laki-laki atau perempuan. Semuanya memuji bahkan ada yang berani mengikutinya ke kamar.
Pernah ketika ia ingin mandi, seseorang mengintip di atasnya. Dean menarik pintu sampai patah dan melabrak dengan pintu. Namun, orang itu tidak takut atau membenci Dean. Ia hanya tertawa ambigu. Bagi mereka laki-laki itu bukan lagi bocah sombong berambut cokelat. Julukan Mark kepadanya.
Satu hal yang selalu terjadi jika Dean menyalurkan energinya ke pedangnya. Wajah Dean bersinar, rambutnya berubah putih perak. Itu juga yang membuat mereka kagum.
"Kak, kok kakak diam aja, sih?"
"Rambutnya keren, deh!"
"Ya?" Dean berhenti, sedikit menurunkan pandangannya. Apa maunya?
"Ajarin aku, gimana supaya jadi jago seperti Kak Dean." Rossie gencar menempel di sisi Dean. Beberapa siswi mengikuti mereka.
"Kak Deaaan!" Para siswa datang!
"Kak, ajarin aku juga dong!" Merry tak kalah heboh.
Zefanya, Elaine, Chyntia, Stefanus, Sean Paul, dan siswa lainnya.
Dari manusia sampai siluman pun ke sini!?
Mereka kena angin apa?
Dean lari dan menghilang di bilik toilet. Para siswa mencari-carinya. Hampir sebagian siswa yang berterima kasih dan menganggap Dean pahlawan baru bagi mereka. Namun, ada seorang siswa yang sakit hati karena merasa kehilangan.
Hyerin duduk di sudut ruangan yang cukup sepi. Ruang B. Ia menangis, Merry sudah membujuknya tetapi ia tak ingin dibujuk.
"Mengapa kak Dean tidak menolong Fandy?" isaknya
"Mengapa hanya Fandy yang tidak selamat!"
Mata Dean menerawang ke hutan itu. Ia mendengar isakan Hyerin dengan keluh kesahnya. Ruang kelas B bersebelahan dengan toilet pria. Dean yang hanya duduk di atas dudukan kloset, keluar dari WC, berjalan melewati pintu kelas B. Berdiri sebentar di situ...
Ingin ia membuka bibirnya mengatakan pesan itu. Namun, ia tidak mau mengganggu dan membuat gadis itu makin menjerit. Dean merogoh sebuah benda tipis di saku celananya. Secarik kertas dengan tulisan cakar ayam. Ia sudah membaca ribuan kali, bahkan menghafalnya.
Jika aku mati di lumpur hisap ini, tolong jaga dia sekuat tenagamu. Lindungi dia, itu sudah cukup. Thanks.
Mark menyuruh mereka mendengar suaranya di mikrofon.
"Kru yang gugur alias tidak lulus ujian hanya satu orang saja Fandy Ang dari kru Bomb Blaster. Sebenarnya sangat disayangkan, karena Fandy Ang adalah ketua kru dua, kru itu akan dihapus. Lolos dalam lumpur bukan berarti lulus dalam ujian. Fandy Ang sudah ditarik dari lumpur oleh si Dean, tetapi tidak berhasil selamat. Mengapa dia tetap tidak lulus ujian, karena orang yang sudah mati tidak mungkin lulus."
Kata-kata Mark membuat Dean geram. Ia sangat marah. Dean memukul tembok di depannya sampai menganga. Kepalan tangan Dean mengeluarkan darah.
"Kak, mengapa Fandy meninggal?" Hyerin yang terkejut mendengar getaran di tembok kelas B segera berlari melihat apa yang terjadi. Dean yang melakukannya. Hyerin masih menangis. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Dean.
"Katanya kau pahlawan. Kau menolong semua teman-teman, tetapi kau melupakan Fandy yang hanya berjarak beberapa meter darimu!" ejek Hyerin.
"Kau sengaja, kan ... Kak Dean memang tidak mau menolong karena kak Dean tidak menyukai Fandy, iya?" Mata gadis itu sembab. Ia mengusap kasar sudut matanya.
"Tolong jawab, jangan diam saja!" Hyerin menggila. Berkali-kali ia menarik baju Dean.
Hyerin masih terus menjerit.
Dean yang tidak tahan lagi dengan teriakan gadis itu, lengan kokohnya merengkuh kepala Hyerin, membenamkan di dadanya. Memeluknya sampai Hyerin merasa sesak.
"Kalau kamu mau bunuh aku!"
Hyerin makin menjerit. Tangannya yang bisa mengeluarkan sihir. Sinar putih energi dari kekuatan Hyerin membuat rambutnya bergerak-gerak menjadi sulur-sulur tajam yang mematikan. Rambut Hyerin mencengkeram leher Dean. Seluruh rambut silver melilit di tubuh dan kaki Dean.
"Kubunuh kau!" jerit Hyerin.
Dean yang merasa bersalah membiarkan dirinya terus dicekik.
Rossie, Merry, Stefanus, Gelael, dan Charlie berlari ke arah Dean. Mereka menenangkan Hyerin yang berubah menjadi silver ghost.
"Kau sudah gila, Hyerin. Jangan lupa, Dean juga pernah menolong mu sekali!"
"Sadarlah, Hyerin!"
Iblis perak tertawa dengan suara menyeramkan. Rambutnya berhasil menusuk leher Dean sampai berdarah. Ia sudah pingsan, luka di lehernya cukup serius.
Charlie memungut secarik kertas lusuh di kaki Dean. Kertas?
Charlie langsung menarik kepala iblis perak dan membanting tubuhnya ke tanah. Wajah Hyerin yang kacau tepat mengenai kertas itu.
Perlahan, rambut-rambut silver miliknya melemah. Cengkeraman rambutnya di leher Dean terlepas.
"Aaaaaaaaaah!"
Merry melihat isi kertas itu dan membacanya,
"Jika aku mati di lumpur hisap ini, tolong jaga dia sekuat tenagamu. Lindungi dia, itu sudah cukup. Thanks."
Ujian berbahaya tahap ketiga
Lumpur Warna, end
sekilas flashback
Di belakang asrama dua laki-laki berdiri di rooftop.
"Aku tahu, ini tidak akan berhasil. Aku pasti tidak lulus."
"Untuk itu, aku meminta tolong padamu, bro." Fandy Ang mengajak Dean bertemu di rooftop. Ia menulis sesuatu lalu menyerahkan kertas itu di tangan Dean.
"mengapa ini kau berikan padaku?"
"Sampai itu terjadi, tolonglah aku. Anggap kau membalas utangmu!"
Utang? Memangnya aku berutang apa padanya ...
"Aku tahu kau akan bilang aku ini pecundang, lewat tatapanmu itu. Jangan lupa, buku yang dicuri Jennie sudah kutemukan. Selesai ujian ambil bukumu, ada di kolong langit."
Cuma itu.
Permintaan dari Fandy Ang.
flashback off_
Satu minggu Hyerin tidak ingin diganggu. Ia mengurung diri di kelas B—kelas yang sudah lama kosong. Orang-orang yang lulus dan menjadi prajurit kerajaan, tinggal di istana. Mereka sudah menjadi pasukan luar biasa. Kelas B dibiarkan kosong oleh Antonio. Dulunya ia mengajar di kelas itu.
"Kau benar-benar keterlaluan, ya."
Seseorang membuka mulut di balik kelas—dinding sebelah luarnya. Mata Hyerin membulat sempurna. Suara itu dikenalnya. Kak Jennie?
"Padahal sebenarnya kau harus merasa senang karena ada laki-laki hebat yang menjagamu nanti. Melindungi dirimu dan bahkan mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya."
Sok tahu! Hyerin tidak senang, perempuan itu berbicara seolah dia tahu segalanya.
"Kamu mau menyia-nyiakan kesempatan itu?"
Lama mereka saling diam.
Hyerin merasa janggal di setiap ucapannya.
Jennifer menyandarkan dirinya, satu kaki terangkat membentuk sudut lancip.
"Tahukah kamu, demi apa aku merobek semua kertas itu dan menulis baru lagi."
Sebenarnya aku melakukannya bukan untuk Dean, tapi untukku sendiri. Dean tidak perlu tahu...
Hyerin makin tidak mengerti arahnya pembicaraan wanita itu. Ia hendak membuka pintu kelas dan melihat siapa yang bicara sekadar memastikannya. Perkiraan Hyerin tidak meleset. Itu benar ... Jennifer. Gadis misterius.
"Dia terus-menerus menyuruh aku menghapus mereka semua, menuliskan nama kru, dan menghancurkan satu kru lagi. Membuat kru baru lalu menaruh namamu di kru itu. Dia tidak ingin kau terjadi apa-apa."
"Sampai dia bilang akan melindungi kamu, aku makin kesal!"
"Seharusnya akulah yang dijaga olehnya. selamanya. Aku yang lebih dulu menemukannya. Aku mengenal dia jauh dari kalian semua. Kalian tidak tahu apa-apa!"
"Kalian semua pengganggu!" sergah Jennie.
Hyerin menangis. Ia merasa yang diucapkan Jennifer mewakili hatinya. Semakin bersalah membiarkan Fandy mati sia-sia. Fandy juga berjanji akan melindungi dirinya, tapi ... Fandy tidak ada lagi sekarang.
"Siapa pacarmu yang mati itu ... Fandy, ya?"
"Dia pecundang!" Jennifer tertawa
Pecundang memang tempatnya di kubur.
"Dia menyerah sebelum kalah. Akan kubuat Fandy hidup lagi agar kalian bisa bersama."
Setelah bicara Jennifer membuka portal, masuk ke dimensi lain. Hyerin tertegun melihat Jennifer pergi dengan melakukan teleportasi. Hyerin memanggil namanya, tetapi Jennifer tidak tampak lagi.
Kak Jennie sebenarnya siapa? Hyerin bergumam.
Jennifer pergi ke tempat ia menyimpan buku-buku milik Dean. Satu buku tidak ada di sana. Ia menjadi panik. Apakah tuan Dean mengambilnya, itu tidak mungkin. Kalau buku itu hilang, tuan Dean bisa membuatnya lagi.
Continue _
Kuis
Buku apa yang dicari Jennifer?
A. Buku dongeng
B. Buku cerita anak-anak
C. Buku sejarah dinasti Xia
D. Isi sendiri (komentar pembaca)
Karya ini merupakan karya jalur kreatif
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments