Di sisi lain Jia Chen merasa bingung karena ketika ia memakan masakannya sendiri terasa sedikit asin, serta ada yang gosong tapi ia senang temannya terlihat bahagia juga menghabiskan semua makanan pemberiannya.
Tiba-tiba dari arah pintu orang yang selama ini selalu mengikuti Jia Chen berdiri di depan mereka dengan wajah datar, sontak hal itu membuat mereka menjadi kebingungan seraya bertukar pandang.
"Kalian berani mengabaikan aku ya?" gadis itu memukul meja dengan sangat keras bahkan suaranya seperti menggema di seluruh ruang kelas yang sunyi kala itu. "tidak tahukah bahwa—"
Sementara sang gadis berbicara Jia Chen berbisik kepada temannya. "menurutmu tangannya sakit gak? pasti sakit kan ya?" Jia Chen tertawa seraya menutup mulutnya. "kalau aku jadi dia maka akan mengumpet di pojokan."
"Kau ini bisa aja deh, mungkin dia gak tahu kamu siapa makanya sok bikin keributan." Xuan Huang berbisik pada temannya. "ngomong-ngomong sampai kapan dia menatap kita seperti ini ya? kok kayak risih aku."
Saat ingin menjawab pertanyaan dari temannya, tiba-tiba telepon milik Jia Chen berbunyi lagi, dan ketika ia melihatnya ia bahwa itu adalah dari ibunya, ia pun berdiri meninggalkan ruangan kelas, yang ternyata di ikuti oleh temannya.
"Halo, ada apa mama?" tanya Jia Chen penasaran
"Karena kamu pernah meminta hadiah sewaktu usiamu 5 tahun, jadi mama mencarikan sesuatu yang mungkin akan membuatmu bahagia, jadi setelah sekolah usai segera ke rumah, ok!" ucap mamanya dari telepon.
"Tapi mama, aku janji—"
Sebelum Jia Chen melanjutkan kata-katanya, ibunya telah lebih dahulu memutuskan telepon itu secara sepihak sehingga ia tidak memberitahu bahwa akan mampir ke rumah dari temannya, tapi dalam pikirannya semuanya bisa di atur, lagi pula masih ada beberapa jam sampai waktu pulang sekolah.
Sementara temannya yang ternyata tengah mendengarkan pembicaraan menepuk bahu dari Jia Chen. "Serius amat nih, jangan terlalu fokus ntar malah jadi stres loh." Xuan Huang mencoba memberikan semangat pada temannya. "dan sepertinya kau tidak bisa mampir ke rumahku ya! tapi gak apa-apa kok, besok aja kita ke bioskop, jangan ampe telat ya."
"Aku akan mengusahakannya." Jia Chen mengulurkan tinjunya untuk tos. "hari besok ada masalahnya sendiri."
Seraya tersenyum Xuan Huang membalas tos dari temannya itu. "kalaupun gak bisa pergi ke bioskop, nanti kita bikin sendiri aja bahkan buat lebih meriah."
Karena hampir waktu mulai pelajaran berikutnya mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam kelas hingga secara tidak sengaja menabrak gadis yang tadi menghampiri mereka berdua ketika berada di kelas.
"Aduh sakitnya." Jia Chen menepis debu dari pakaiannya lalu mencoba berdiri namun malah terduduk lagi. "apa sih jalan gak liat liat."
"Maaf, aku tidak sengaja." gadis itu berdiri lalu mengulurkan tangannya. "namaku Xiao Yue Lin, aku mungkin terlalu bersikap egois beberapa saat lalu, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi."
"Namaku Wei Jia Chen, dan ini temanku—" Jia Chen memberi isyarat kepada temannya untuk memberikan perkenalan.
"Apa aku harus?" Xuan Huang menatap dengan wajah datar dan tidak bersemangat sama sekali, ia tampaknya masih mengingat kejadian sebelumnya, tapi karena permintaan dari sohibnya ia pun memperkenalkan diri. "namaku Lee Xuan Huang, udah itu aja."
"Kalian tampak seperti sahabat baik ya? atau mungkin—" Yue Lin menatap ke arah dua orang di depannya itu dengan wajah kebingungan. "kalian tidak ber— ya kan?"
"Ber apa? tentu saja kita berteman, bahkan kami sering menghabiskan waktu sepanjang hari." Jia Chen berkata dengan perasaan bangga. "kami bagaikan dua belahan jiwa, keren gak tuh?"
"Tentu saja, kekuatan persahabatan itu nomor satu." Xuan Huang merangkul pundak dari temannya. "apa kau merasa cemburu pada kita? hayoloh ngaku aja."
Namun Yue Lin hanya tersenyum seraya berjalan di depan Jia Chen. "kudengar kau ingin bersama dengan seorang gadis, dan secara teknis aku adalah gadis cantik, benar kan?" Yue Lin berkedip lalu memberikan sebuah ciuman. "kita juga seumuran, dan karena aku ini juga jomblo maka bagaimana jika kita—"
"Apa kau baru saja menyatakan perasaanmu kepadaku?" Jia Chen menggaruk kepala dengan canggung. "aku tidak tahu bagaimana cara merespon hal itu."
"Kata siapa aku menyatakan cinta kepadamu?" Yue Lin memberikan sebuah tamparan di wajah Jia Chen lalu pergi dari sana.
Sementara itu Jia Chen menjadi kebingungan karena ia tidak tahu apapun yang tengah terjadi, ia hanya bisa mengelus pipinya yang terasa sedikit menyakitkan.
"Dasar cewek gak jelas." Xuan Huang tampak sedikit kesal karena ia merasa bahwa temannya di perlakuan tidak baik. "aku tandain wajah kamu ya!"
"Aku tidak apa-apa kok." Jia Chen menunjukkan wajahnya yang tersenyum. "lumayan sakit sih, tapi karena aku ini laki-laki jadi—"
"Kau ini terlalu baik loh, Jia Chen." Xuan Huang menggelengkan kepalanya tidak percaya. "jika seperti ini mungkin kau hanya akan dipukul terus oleh istrimu tiap hari."
Tak terasa lonceng tanda bunyi pelajaran berikutnya berbunyi, jadi mereka segera bergegas ke ruangan kelas, beberapa menit kemudian guru datang lalu duduk di bangku.
"Pak, bukankah ini tidak adil ya?" Jia Chen berkata seraya mengangkat tangannya.
"Apanya yang tidak adil." guru tampak sedikit kebingungan dengan pernyataan dari muridnya.
"Kenapa kalau kita terlambat mendapatkan hukuman, tapi bapak telah terlambat selama 15 menit loh apa gak dapat hukuman?" Jia Chen berkata dengan nada enteng.
"Kalau begitu sebagai hadiah untuk Jia Chen, maka kau akan pergi ke ruang kepala sekolah setelah sekolah usai." Guru tersenyum seraya melanjutkan kegiatan mengajar.
Setelah beberapa saat Jia Chen menjadi kebingungan, karena ia telah berjanji kepada ibunya untuk langsung segera pulang, tapi tampaknya ia baru membuat masalah.
"Kamu sih, kenapa pula malah tanya macam gitu." Xuan Huang menggelengkan kepalanya. "udah tahu guru kita yang satu ini—"
"Yang satu ini apa, tuan Xuan Huang." tiba-tiba guru telah berdiri di samping mereka. "apa lidahmu di gigit semut?"
"Maksudku bapak guru tampak keren, kece dan juga—" tiba-tiba Xuan Huang menjadi sedikit gugup karena yang ia maksud adalah galak. "teehee."
"Kalau begitu kau bersama Jia Chen harus menghadap guru setelah sekolah usai, apa kalian mengerti?" guru menatap dengan sinis.
"Apa apaan ya itu." Jia Chen berbisik kepada temannya. "kayaknya itu deh alasan pak guru tetap jomblo sampai saat ini."
"Jia Chen, kau tidak perlu mengatakannya terlalu keras nanti hukuman kita menjadi tambah lebih parah loh." Xuan Huang berbisik pada temannya.
Sementara itu bapak guru hanya bisa melihat kelakuan dari dua murid peringkat satu juga dua dalam sekolah itu, meski ingin marah tapi karena mereka itu selalu mendapat nilai sempurna jadi di berikan sedikit keringanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments