"Arthur...."
"Hei Arthur...."
"Berapa lama lagi kau akan begini?"
Arthur perlahan membuka matanya.
Sosok berambut biru langit dan warna iris matanya yang selaras dengan warna rambutnya memberikan raut terkejut sekaligus senang.
"Kak Ram?"
Ram/Bram adalah saudara kandung Arthur.
"Ah, akhirnya kau bangun juga!" Ucapnya dengan raut sumringah.
"Dasar orang aneh, apa-apaan dengan wajah itu. Berhentilah berekspresi seperti itu. Kau terlihat menyedihkan" Ucap sosok Elf di belakang pemuda berambut biru langit itu.
"Tsuha...?"
Mata Arthur menjadi berlinang.
"Hei, apa yang terjadi denganmu? Sudah Kakak katakan. Kalau kau sedih lebih baik keluarkan air matamu. Mengapa kau ini bandel sekali?" Tanya Bram sambil menertawakannya.
Arthur melihat Bram dan Tsuha. "Apakah itu tadi mimpi?" Tanya Arthur sambil meraih tangan Bram.
"Aku bermimpi, kalau kalian meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku, kak...." Tangan Arthur meraih langit-langit.
Felix mengapai tangan Arthur. Karena gapaian tangan Felix, Arthur terbangun dari mimpi singkatnya.
Kedua mata Arthur terbuka dengan lebar. Dia tidak bisa berdiri karena sihir yang memilitnya. "Sudah berapa lama kita disini?" Tanya Arthur yang sudah pasrah dengan kondisi tubuhnya.
"Kau tidak sadarkan diri kurang dari setengah jam." Jawab Felix.
"Hahhh, Devina pasti akan mencari kita kalau kita tak kunjung pulang. Maafkan aku karena membuatmu terlibat juga. Aku ingin tidur dan santailah disini akan aman jadi, tidurlah juga" Ucap Arthur.
Felix mengangguk. Dia tidak banyak bicara karena melihat keadaan Arthur.
Di tempat Ruri, Gradenia menyelinap ke kamar sebelah tempat Ruri yang tengah tidur.
Ruri tidur menggunakan wujud aslinya. Dia yang bertelanjang dada, menunjukkan betapa besarnya pangkal sayapnya.
Sayap hitam terlihat jelas di mata Gradenia. Begitu pula dengan rupa Ruri yang memiliki tanda khas Elf hijau di bawah garis mata kiri dan terlihat seperti ada garis retakan pada kelopak mata kanannya.
Rambut Ruri yang hitam membuat Ruri terlihat lebih tegas.
Gradenia menyentuh bulu sayap Ruri karena rasa penasarannya.
Ruri sangat terkejut. Dia langsung terbangun dan tanpa sengaja mengeluarkan pedang mananya ke arah leher Gradenia.
Ruri memiliki pedang mana dengan ukiran teratai dan benalu di sepanjang pedangnya.
Mata Ruri terbuka lebar saat melihat Gradenia mundur selangkah. Dia menghilangkan pedang mana miliknya dan langsung memeriksa kondisi Gradenia.
"Kenapa kau kemari?" Tanya Ruri setelah dia yakin Gradenia baik-baik saja.
Gradenia menunduk tanda dia menyesal. "Devina menangis di kamar. Aku hanya ingin pindah tidur saja" Jawab Gradenia sambil naik ke kasur tempat tidur Ruri sebelumnya.
"Lalu, aku tidur dimana?" Tanyanya.
"Sini, bareng" Ucap Gradenia sambil menepuk kasurnya.
Ruri sungguh tak menduganya. "Aku sungguh tak tau kau ini bodoh atau polos" Jawab Ruri sambil tidur juga di kasur itu dan dia membelakangi Gradenia.
Ruri menghilangkan sayap miliknya dan memeluk guling di depannya.
Gradenia mendekatkan dirinya ke arah Ruri kemudian memeluk pinggang Ruri yang ramping itu.
Disana, Ruri bisa merasakan bagian tubuh Gradenia yang menempel padanya.
Perasaan sejuk dari Gradenia membawa rasa nyaman untuk Ruri. Ruri berbalik kearah Gradenia dan mendekap Gradenia sebagai penganti gulingnya.
"Hah... nyaman sekali" Lirih Ruri sambil meletakkan dagunya pada ubun-ubun Gradenia.
...----------------●●●----------------...
Felix tak bisa bersantai seperti Arthur.
Dia mencari jalan keluar dan mengintip pada lubang ventilasi yang cukup tinggi menggunakan beberapa benda yang dia tumpuk.
Hanya padang hijau yang dilihat oleh Felix.
"Bagaimana kalau para Titisan sungguh menangkap Arthur. Lalu, bagaimana caraku menjelaskannya kepada mereka?" Felix tidak mengkhawatirkan dirinya. Melainkan, dia mengkhawatirkan bagaimana cara menjelaskannya kepada Ruri dan Devina.
Felix turun dari benda yang dia tumpuk. Dia mulai merasa kepanasan. Dan melepas kain hitam yang menutup rambutnya itu.
Dia mengetuk pintu.
"Permisi...." Ucapnya saat mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
Arthur terbangun karena suara langkah kaki Felix yang mondar-mandir.
"Kau gak capek?" Tanya Arthur sambil melepas scraftnya dan duduk.
Felix langsung duduk di tempat. Dia terlihat frustasi. "Bagaimana kau bisa sesantai itu Arthur? Bukankah, kau di tangkap oleh orang yang kau hindari?" Tanya Felix.
Arthur terkekeh. Dia terlihat seperti orang gila. "Tenang saja, kita akan aman di sini, setidaknya kalau dia tidak memberitahu yang lain"-"BRAK!!!" Felix terjungkal saat pintu yang dia sandari di dobrak keras.
Ambareesh langsung masuk dan berdiri di hadapan Arthur.
Seolah, Felix itu tak ada. Ambareesh sungguh tak merasakan adanya aura Felix sedikit pun. Dia duduk sambil mengosok keningnya yang sempat terhantuk lantai kayu.
"Kenapa kau tidak langsung mendatangiku? Apa ini jalan yang kau pilih tiga tahun yang lalu?" Tanya Ambareesh sambil menarik kera pakaian Arthur hingga terangkat sedikit.
Arthur hanya melihat Ambareesh. Ambareesh dapat melihat rambut Arthur yang perlahan berubah menjadi kelabu. Mata kiri Arthur perlahan menjadi ungu. Begitu pula dengan tanda Titisan Arthur yang merambat hingga ke arah mata kirinya.
Ambareesh begitu sedih melihat kondisi Arthur saat ini.
"Hei, katakan padaku. Apa saja yang sudah kau lalui?" Tanya Ambareesh sekali lagi.
Felix melihat punggung Ambareesh dan bagaimana cara Arthur melihat Ambareesh.
"Aku iri dengan dia yang memiliki banyak orang yang mengkhawatirkannya" Batin Felix.
"Guru, belum saatnya untuk aku kembali. Aku masih belum siap untuk segalanya" Jawab Arthur.
"Oh, dia Guru Arthur?"
Bibir Ambareesh mendecih. "Aku tidak peduli kapan saatnya kau siap. Yang ku minta, kau janganlah bertindak sendirian seperti ini. Masih ada aku sebagai Gur-"
"Aku sudah bukan muridmu lagi"
Ucapan Arthur sungguh mematahkan Ambareesh.
"Aku membenci kalian para Titisan. Kalian tidak bisa melihat siapa musuh kalian yang sebenarnya" Ucap Arthur lagi.
Ambareesh melepas kera pakaian Arthur. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat menahan rasa kesal di dalam hatinya.
"Aku tidak tau bagaimana caramu memandang kami. Aku juga tidak tau siapa itu Ruri dan bagaimana sifatnya. Saat ini, aku sungguh butuh bantuanmu untuk kondisi Aosora. Siapapun yang kau pilih itu adalah hak mu. Aku tidak berniat untuk mengalihkan topik pembicaraan. Tapi, menang inilah yang terjadi-"
"Aosora Arthur, kedatanganmu kemari pasti karena kau telah mendengar kematian Aosora Bram dan kondisi Istana Aosora"
"Di luar sana, sungguh ada seorang yang memiliki rupa mirip denganmu dia juga memiliki darah Aosora yang mengalir di nadinya. Dia yang membunuh kakakmu. Dengan kondisimu tanpa sihir seperti ini, sangat mustahil untukmu mengalahkannya" Ucap Ambareesh.
"Shinrin yang telah di rebut, membuat De luce Archie mengutukmu dan kau akan kesulitan untuk bertemu dengannya"
"Setelah kepergianmu tiga tahun yang lalu, bagaikan bencana selalu datang di Arden. Ada satu pesan dariku yang perlu kau perhatikan. Estelle Tsuha bukanlah bocah yang kau kenal saat kau masih di Arden"
Ambareesh mengeluarkan Arthur dan Felix setelah menyuruh mereka untuk makan. Ambareesh juga mengeluarkan Arthur dengan syarat untuk setiap hari berkunjung di rumahnya selama di Arden.
Mengenai informasi apapun yang dibutuhkan Arthur, Ambareesh akan memberikan segalanya.
Felix tidak percaya apabila Ambareesh membebaskannya dengan mudah.
Lebih tidak percayanya lagi, Arthur menerimanya dengan berat hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments