BAB 1 [Surat Izin]

Devina menjadi lebih diam sejak kemunculan Gradenia disisi Arthur.

"Dia cantik"

"Dia terlihat sangat terawat"

"Dia juga kuat"

"Kenapa aku begini?"

Batin Devina di sepanjang perjalanan mereka mencari penginapan untuk istirahat selama lima hari di Arden.

Felix menggunakan Scraft lainnya yang dia bawa di tasnya. Dia sesekali melihat Devina yang selalu menatap punggung Arthur.

Sampai di penginapan, Gardenia masih tetap menempel ke Arthur seperti pranko.

"Yang benar saja. Kau istirahatlah dengan Devina" Ucap Felix yang mulai risih melihatnya.

Gardenia mengkernyitkan keningnya. "Tidak. Aku akan tetap di sebelah Arthur. Kau pindah saja ke kamar lainnya" Ucap Gradenia.

Felix mulai kesal. Dia menarik lengan Gradenia dengan keras. "Jangan membuat orang merasa risih denganmu!" Tegas Felix hingga membuat Gradenia jatuh.

Felix tersadar akan tindakannya. "Eh?! Maaf, apa itu sakit?" Emosi Felix berganti menjadi menyesal begitu cepat.

Gardenia sudah melihat luka di wajah Felix itu. Dia juga merasakan sesuatu yang kuat di dalam tubuh Felix.

"Aku tidak suka denganmu" Gradenia tidak menyukai sesuatu yang ada di dalam tubuh Felix.

"Maafkan aku. Itu tidak sengaja" Sedangkan Felix salah paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Gradenia.

Gradenia berdiri dan menyentuh pipi Felix. Mata Felix terbelalak merasakan sensasi dingin menenangkan di wajahnya itu.

Sedangkan Gradenia, tidak bisa memegang kulit Felix terlalu lama karena dirinya pemiliki spirit air dan bukan angin.

Gradenia melepas tangannya setelah menyentuh pipi Felix.

Becak merah layaknya terkena benda panas terlihat jelas di telapak tangan Gradenia yang menyentuh Felix.

"Sudah ku duga. Aku sangat tidak cocok denganmu" Ucap Gradenia sambil meninggalkan Felix dan kembali memeluk Arthur.

Arthur terkekeh ringan. "Gradenia, kembalilah ke tempat tidur para gadis" Ucap Arthur sambil berjalan mengantarkan Gradenia ke depan pintu kamar penginapan Devina.

Gradenia hanya menurut pada Arthur.

Devina membuka pintu kamarnya setelah mendengar ketukan pintu. "Oh, kenapa kau kemari" Setiap kali Devina melihat Gradenia dan Arthur bersama, Devina selalu merasa jengkel tak jelas.

Arthur mengosok tengkuknya dan cengegesan seperti biasanya. "Gradenia juga perempuan. Jadi, kalian sekamar bersama ya" Ucap Arthur dan dia tiba-tiba merasa tak enak kepada Devina.

"Terserah" Jawab Devina tanpa nada dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Lalu, kapan kita akan berangkat ke Aosora?" Tanya Devina sambil melihat lengan Arthur yang masih di peluk oleh gadis itu.

"Setelah makan siang. Kalau kau tak lelah, kita akan cari makan setelah aku mandi. Bagaimana?"

"Terserah kau dan aku ngikut" Jawab Devina sambil masuk ke dalam kamarnya.

Arthur merasa ada yang mengganjal di hatinya. "Tunggu" Arthur menahan tangan Devina setelah Gradenia masuk ke dalam kamar itu.

Devina mendecih dengan kesal dan menarik lengannya dengan keras dari pegangan Arthur. "Apa lagi?!" Devina setengah membentak kepada Arthur.

"E... itu, apa aku melakukan kesalahan yang berat sampai kau begini lagi? Bukankah tadi pagi kau baik-baik saja?" Tanya Arthur.

Kening Devina yang berkernyit langsung naik ke atas. "Ha... Aku hanya lelah. Pergilah" Ucap Devina sambil menutup pintu kamarnya.

Devina melihat ke belakang. Gradenia melihat dirinya dari bawah hingga ke atas.

"Auramu, paling lemah diantara mereka berdua" Ucap Gradenia.

"Ha?"

"Melihat bagaimana dia melihatmu, kurasa kau sangat dia andalkan. Tapi, maaf sekali. Aku memperingatkanmu terlebih dahulu. Masa depan Aosor-"

"Aku tidak peduli. Berada di dekatnya sudah membuatku senang dan kalau itu memang keinginan Arthur, percuma bagiku untuk menangis ataupun memohon seperti orang bodoh" Devina membuka kancing pakaian atasnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.

...----------------●●●----------------...

Masuk ke dalam Aosora bukanlah hal yang mudah. Mereka membutuhkan izin resmi di bawah tanda izin para Titisan.

"Hah? Sejak kapan aturan Aosora menjadi seperti ini?" Arthur sangat kesal dan dia langsung menayakan hal itu kepada penjaga disana.

"Ini adalah perintah Yang Mulia Baginda Aosora Arthur. Kalian pasti pendatang baru. Saya bisa membantu kalian untuk mengurus izin itu" Ucapnya.

Felix terkejut. Dia langsung melihat ke arah Arthur. Begitu pula dengan Devina dan Gradenia.

Kening Arthur berkernyit. "Apa kau menganggap orang yang duduk di singgahsana itu, benar-benar Aosora Arthur?" Tanya Arthur.

"Siapapun yang tidak mempercayai itu, akan mendapatkan hukuman kalau berada di Tanah Aosora. Saya harap, Anda harus mempercayai itu setelah mendapatkan izin" Penjaga itu masih memberikan kesopanannya kepada Arthur, meski Arthur sudah berkata dengan nada kasar.

"HAH!" Arthur mengosok keras rambutnya. "Kalau begitu, bagaimana mengurusi surat izinnya?"

"Saya akan meneleportasi Anda dan salah satu dari rekan Anda di kediaman Titisan"

"Sial, itu ide buruk" Batin Arthur.

"Untuk surat izin itu hanya bisa berlaku satu kali saja dan Anda bisa membawa rombongan Anda yang lain untuk memasuki area Aosora. Anda hanya perlu mendapatkan surat izin itu. Saya akan menunggunya" Penjaga itu mengulurkan kedua tangannya pada Arthur dan salah satu lagi dari mereka.

"Biar aku yang ikut" Ucap Gradenia.

"Tidak. Aku mengajak Felix. Gradenia, jaga Devina baik-baik" Ucap Arthur.

Felix menunjukkan wajah sombongnya karena Arthur memilih dia. "Sebagai anak ayam, tolong jangan menyusahkan orang"/"WOSH!" Ucap Felix dan mereka bertelportasi di depan gerbang Mansion Titisan.

Bibir Gradenia manyun dan melihat ke arah Devina. "Aku benci Monyet itu" Ucap Gradenia sambil mengibaskan rambut putihnya yang lebat dan halus terawat.

Devina membuang napas ringan sambil duduk menunggu kedatangan yang lainnya.

......----------------●●●----------------......

Di Mansion Titisan, Arthur mengenakan tudung jubahnya dan berdiri di belakang Felix yang duduk di hadapan Alder layaknya seorang pelayannya.

"Jadi, Anda berasal dari Gry?" Tanya Alder.

"Benar, Tuan" Jawab Felix.

"Lalu, bisakah Anda mengatakan apa tujuan Anda ke Aosora?"

Felix hampir melirik ke arah Arthur. "Aa...anu, saya hanya ingin bertemu dengan Aosora Arthur. Dia pernah membantu saya. Saya hanya ingin berterima kasih. Itu saja" Jawab Felix.

Pandangan mata Alder selalu tertuju ke arah Arthur.

"Bertemu dengannya sangatlah sulit. Saya tidak bisa memastikan kalau Anda sungguh bisa masuk ke Istana Aosora. Wilayah itu, sudah di luar kemampuan Titisan. Saya memberikan surat izin ini kepada Anda. Dan surat ini, hanya bisa membantu Anda melewati para penjaga. Tidak sampai masuk ke dalam Istana Aosora" Ucap Alder sambil memberikan gulungan kertas yang berisi sihir.

"Baik terima kasih" Ucap Felix sambil menerimanya.

"Maafkan saya karena hanya bisa membantu sampai sini. Kalau boleh tau, apakah Anda salah satu petinggi Gry?" Alder tidak ingin pendatang dari negri lain seperti Felix pergi begitu saja.

"Tidak juga, saya hanya cucu dari seorang dokter Desa" Jawab Felix sambil berdiri.

Arthur sedikit mendongakkan matanya dan tanpa dia sadari, dia berkontak mata dengan Alder.

Alder tersenyum tipis. Dia berjalan mendekat ke arah Arthur.

"Bisakah, Anda membuka tudung Anda?"

"DEGH!!!" Jantung Arthur langsung berdebar dengan kencang.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!