BAB 1 [Tukang Syair]

Arthur sedikit mendongakkan matanya dan tanpa dia sadari, dia berkontak mata dengan Alder.

Alder tersenyum tipis. Dia berjalan mendekat ke arah Arthur.

"Bisakah, Anda membuka tudung Anda?"

"DEGH!!!" Jantung Arthur langsung berdebar dengan kencang.

Arthur berancang membuka tudung jubahnya perlahan.

"Alder, eh..?" Daeva tiba-tiba muncul dan menyelai Arthur.

Alder melihat ke arah Daeva di dekat pintu ruangannya. "Maaf, apa aku menganggu kalian?" Tanya Daeva kepada mereka bertiga.

Kedua mata Arthur terbelalak saat mendengar suara rendah yang sudah lama tak dia dengar itu. Arthur menoleh ke arah Daeva di belakangnya tanpa dia sadari.

Rambut Daeva yang tipis, kini menjadi panjang dan bisa di kuncir di belakang.

Daeva tidak menyadari keberadaan Arthur.

"Tidak. Apa yang membuatmu terburu seperti itu?" Tanya Alder sambil menepuk bahu Arthur untuk menunggunya.

"Arus di jurang perbatasan Aosora menjadi tenang dan tidak terlihat adanya arus yang datang. Haruskah, kau kesana untuk mengeceknya?" Tanya Daeva.

Bibir Felix dan Arthur menciut bersamaan. Arthur berjalan ke arah Felix. "Ayo, pamit. Kakiku sudah lemas" Bisik Arthur.

Felix mengangguk. "Sepertinya, Anda sangat sibuk, Tuan. Kami akan pamit. Terima kasih atas bantuan Anda" Felix membungkuk di hadapan Daeva dan Alder.

"Eh, sebenarnya saya masih belum selesai" Ucap Alder.

"Keberadaan arus itu, sangat penting bagi keamanan Aosora dan Meganstria, Tuan. Kami akan kemari saat urusan kami selesai" Ucap Arthur.

Daeva melihat ke arah pria berjubah itu (Arthur).

"Oh, baiklah. Saya akan menunggu kalian berdua disini" Ucap Alder.

Arthur dan Felix keluar dengan terburu-buru dari mansion itu.

Kedua kaki Arthur lemas. "Aaaaa, kenapa aku menjadi takut. Padahal, mereka tidak akan membunuhku kalau tau siapa aku" Lirih Arthur sambil bersandar di punggung Felix.

Kaki Felix gemetar. "Aura mereka sungguh sama denganmu" Ucap Felix dengan keringat dingin.

Arthur dan Felix kembali dibawa ke perbatasan Aosora. Disana, mereka bertemu dengan Alder dan Daeva lagi.

"Sial" Umpat Arthur dalam batin.

Gradenia kembali memeluk lengan Arthur sambil melihat ke arah dua Titisan itu. "Mereka berdua punya aura yang kuat" Ucap Gradenia sambil di usap kepalanya oleh Arthur.

"Bagaimana tidak kuat, mereka itu adalah seorang Titisan" Celetus Devina sambil masuk ke dalam Aosora setelah mendapatkan izin dan membuntuti Felix.

Kedua mata Gradenia terbelalak. "Mereka, Titisan yang pernah di katakan oleh Yang Mulia Aosora Alex?-BATSH!" Gradenia langsung menghilang dari lengan Arthur.

"He! Gradenia!?" Arthur sangat terkejut dia melihat Gradenia yang berpindah begitu cepat ke sebrang di tempat Alder dan Daeva berada.

"Gawat kalau dia menyebut namaku" Batin Arthur sambil melihat Felix dan Devina mulai masuk ke dalam Aosora.

Arthur bingung harus menghentikan Gradenia terlebih dahulu atau langsung masuk ke Aosora karena surat itu sudah di terima oleh para penjaga dan dengan otomatis sihirnya akan habis.

DISISI LAIN, RURI TERUS MENGAWASI ARTHUR DARI JARAK DEKAT.

Ruri menyamar menjadi penjaga yang menuntun mereka ke para Titisan itu.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan, Arthur?" Batin Ruri sambil menunjukkan seringaian tipisnya.

"Dan gadis bodoh yang selalu tergila-gila dengan Aosora itu, sungguh mirip sekali seperti yang di ilustrasikan oleh Luna" Lanjut batin Ruri.

"Uhh,..." Arthur melihat ke arah Ruri yang menyamar menjadi penjaga itu tanpa Arthur sadari.

"Tuan, masih bisakah aku masuk tapi tolong tunggu sebentar" Tanya Arthur dengan nada yang terburu.

Sebenarnya, Arthur bisa saja masuk meski dia terlambat asal penjaga sudah mengetahui rombongannya. Tapi sayangnya, Ruri tidak ingin itu terjadi. Beruntung bagi Ruri karena tak ada penjaga lain di dekatnya untuk saat ini.

"Bagaimana ya... saya tidak berani" Ruri menunjukkan senyuman cangungnya. Dia sungguh berlagak layaknya anak yang baru magang.

"Felix!" Arthur memanggil Felix setelah beberapa saat.

Felix menoleh kebelakang dan dia tak mengerti mengapa Arthur tidak masuk.

"Ada apa?" Tanya Felix sambil mendatangi Arthur, Devina mengikuti Felix dari belakang.

Arthur menjelaskan dengan cepat tentang Gradenia yang berteleportasi ke arah Titisan.

"Biar aku yang mengurusnya" Ucap Devina.

"Tunggu, bagaimana kalau aku saja? Aku tidak bisa menggunakan sihir" Felix mengkhawatirkan ketidakmampuannya dalam sihir.

"Kalau aku yang ikut juga percuma saja. Aku tidak bisa sihir pelarian. Bukankah, kau dan Arthur bisa berlari?" Tanya balik Devina dan mendorong mereka berdua untuk masuk ke dalam tanah Aosora.

"Beneran gak papa?" Tanya Arthur sekali lagi.

"Anggap kau berhutang padaku. Pergilah! Wajahmu membuatku muak!" Celetus Devina dengan nadanya yang menusuk.

Mata Arthur berlinang. "Devina... kau masih marah padaku?" Tanya Arthur sambil di geret oleh Felix.

"CIH!" Devina mendecih dan membuang pandangannya dengan cepat.

"Aku akan membayarnya setelah ini. Tunggu di penginapan ya..." Ucap Arthur sambil melambaikan tangannya.

"BODOH!" Bentak Devina yang sudah terlalu kesal padanya.

...----------------●●●----------------...

Gradenia berdiri diantara para Titisan. Daeva dan Alder yang berbincang tentang hilangnya arus kuat itu melihat ke arah Gradenia bersamaan.

"Siapa kau?" Alder dan Daeva bertanya bersamaan kepada Gradenia.

Dua mata Titisan itu, hampir tidak berkedip melihat betapa cantiknya perempuan berambut putih di antara mereka itu.

"Dia milikku" Batin Ruri di sebrang sana yang memperhatikan dua Titisan itu tengah menatap Gradenia.

Devina melihat penjaga yang dibalakangnya itu (Ruri).

"Tuan, bisakah Anda menyebrangkan saya ke sisi itu?" Tanya Devina.

"Oh, tentu" Ruri mengulurkan tangannya kemudian "BWOSH!"

"Sungguh suatu kebanggaan bagi saya bisa bertemu dengan Para Titisan. Saya, Graden-HUMPH!" Devina dengan cepat membekap mulut Gradenia.

Rambut biru itu, adalah rambut yang dikenali Daeva. Mata Daeva terbelalak. Dia melihat wajah Devina.

"Maafkan teman saya. Dia memang selalu antusias saat mendengar Titisan" Ucap Devina sambil menunjukkan senyumannya kepada Alder.

Daeva berusaha mengingat wajah itu. "Nona, apa kita pernah bertemu?" Tanya Daeva kepada Devina.

Ruri baru menyadarinya. Daeva sudah pernah melihat wajah Devina dari dekat.

Begitu pula dengan Devina, dia baru sadar apabila Iblis berambut kelabu itu adalah Daeva Nerezza, sosok yang membantunya kabur dari Istana Aokuma.

Mata Devina membulat dengan lebar saat melihat Daeva.

"Ah, itu tidak mungkin. Pasti Anda salah melihat. Saya baru pertama kali ke Meganstria" Ujar Devina.

"Tidak, di Aokuma dan di Aosora" Sahut Daeva.

Devina langsung dia seribu bahasa. Ruri sudah bersiap untuk membawa mereka berdua pergi.

Gradenia merasakan sihir Ruri di belakangnya. Dia melihat ke arah Ruri yang menyamar menjadi penjaga itu. "Ah! Tukang Syair! Lama tidak berjumpa!" Gradenia langsung memeluk Ruri.

Kedua mata Ruri terbelalak. Dia fikir, Gradenia tak akan mengenalinya.

"Tukang Syair?" Lirih Devina sambil melihat ke arah Penjaga itu.

Ruri mengalihkan pandangannya dari mata Devina yang menatapnya penuh dengan kecurigaan.

"Hei, perasaan wajahmu tidak sejelek ini" Ucap Gradenia sambil memegang pipi Ruri dan menepukknya setelah itu.

"Tuan Titisan, maafkan saya. Saya harus mengantarkan mereka karena rombongan mereka sudah menunggu di sana" Ruri ingin cepat pergi sebelum Gradenia ceplos sama ceplos sini.

"Biar aku yang mengantar mereka" Sela Daeva.

Mata Ruri yang berubah menjadi kecokelatan tengah menatap mata ice blue milik Gradenia. Seolah Gradenia paham dia langsung menarik lengan Devina.

"Aku lapar. Bantu aku cari makan. Ayooo" Gradenia menarik Devina dengan kencang.

Alder menepuk bahu Daeva. "Maafkan dia. Dia memang agak susah kalau bertemu dengan siapapun yang berambut biru. Semoga perjalanan Anda menyenangkan, nona" Ucap Alder dan dia menebarkan senyumannya.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2 BAB 1 [Kegunaan Otak]
3 BAB 1 [Demi Uang]
4 BAB 1 [Adopsi]
5 BAB 1 [Alasan]
6 BAB 1 [Ikatan]
7 BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8 BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9 BAB 1 [Adek?]
10 BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11 BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12 BAB 1 [Kemajuan]
13 BAB 1 [Kabar Arden]
14 BAB 1 [Menuju Arden]
15 BAB 1 [Gradenia]
16 BAB 1 [Surat Izin]
17 BAB 1 [Tukang Syair]
18 BAB 1 [Siapa Dia?]
19 BAB 1 [Tertangkap]
20 BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21 BAB 1 [Monster]
22 BAB 1 [Ketidakpastian]
23 BAB 1 [Pikiran]
24 BAB 1 [Jalan Lain]
25 BAB 1 [Pembuktian]
26 BAB 1 [Malah Minta Izin]
27 BAB 1 [Tonggak keadilan]
28 BAB 1 [Pengorbanan]
29 BAB 1 [BAH]
30 BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31 BAB 1 [Pertarungan Alex]
32 BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33 BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34 BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35 BAB 2 [Perawalan]
36 BAB 2 [Kepekaan]
37 BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38 BAB 2 [Trauma?]
39 BAB 2 [Spirit Api]
40 BAB 2 [Antusias]
41 BAB 2 [Siapa Dia?]
42 BAB 2 [Pengusik Baru]
43 BAB 2 [CELA]
44 BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45 BAB 2 [Pengerogotan]
46 BAB 2 [Debaran]
47 BAB 2 [Ledekan]
48 BAB 2 [Kegegabahan]
49 BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50 Bab 2 [Perasaan]
51 BAB 2 [Sensitivitas]
52 BAB 2 [Harga]
53 BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54 BAB 3 [Mimpi Panjang]
55 BAB 3 [Kesalahpahaman]
56 BAB 3 [Kedatangannya]
57 Bab 3 [Ketatapan]
58 BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59 BAB 3 [Sosokmu]
60 BAB 3 [Keanehan]
61 BAB 3 [Petaka]
62 BAB 3 [Keputusan]
63 BAB 3 [Louis]
64 BAB 3 [Merasuk]
65 BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66 BAB 3 [Kehidupan Louis]
67 BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68 BAB 3 [Misterius]
69 BAB [Tekanan]
70 BAB 3 [Keluar]
71 BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72 BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73 BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74 BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75 SIDE STORY [LOUIS]
76 SIDE STORY [TSUHA]
77 SIDE STORY [FELIX]
Episodes

Updated 77 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kilas Balik Ruri-Ashel]
2
BAB 1 [Kegunaan Otak]
3
BAB 1 [Demi Uang]
4
BAB 1 [Adopsi]
5
BAB 1 [Alasan]
6
BAB 1 [Ikatan]
7
BAB 1 [Kilas Balik Ruri-Ashel_Usai]
8
BAB 1 [Time-Skip Aosora Arthur]
9
BAB 1 [Adek?]
10
BAB 1 [Pertemuan Dengan Protagonis ke-2]
11
BAB 1 [Tanpa Hubungan]
12
BAB 1 [Kemajuan]
13
BAB 1 [Kabar Arden]
14
BAB 1 [Menuju Arden]
15
BAB 1 [Gradenia]
16
BAB 1 [Surat Izin]
17
BAB 1 [Tukang Syair]
18
BAB 1 [Siapa Dia?]
19
BAB 1 [Tertangkap]
20
BAB 1 [Ancaman Dan Persetujuan]
21
BAB 1 [Monster]
22
BAB 1 [Ketidakpastian]
23
BAB 1 [Pikiran]
24
BAB 1 [Jalan Lain]
25
BAB 1 [Pembuktian]
26
BAB 1 [Malah Minta Izin]
27
BAB 1 [Tonggak keadilan]
28
BAB 1 [Pengorbanan]
29
BAB 1 [BAH]
30
BAB 1 [Pertemuan Yang Tak Terduga]
31
BAB 1 [Pertarungan Alex]
32
BAB 1 [Flash Back Alex: Ikatan]
33
BAB 1 [Flash Back Alex: Kepribadian]
34
BAB 1 EPILOG [Flash Back Alex: Kontrak-Selesai]
35
BAB 2 [Perawalan]
36
BAB 2 [Kepekaan]
37
BAB 2 [Candaan Tentang Perasaan]
38
BAB 2 [Trauma?]
39
BAB 2 [Spirit Api]
40
BAB 2 [Antusias]
41
BAB 2 [Siapa Dia?]
42
BAB 2 [Pengusik Baru]
43
BAB 2 [CELA]
44
BAB 2 [Yang Dihiraukan]
45
BAB 2 [Pengerogotan]
46
BAB 2 [Debaran]
47
BAB 2 [Ledekan]
48
BAB 2 [Kegegabahan]
49
BAB 2 [Akibat Penyesalan]
50
Bab 2 [Perasaan]
51
BAB 2 [Sensitivitas]
52
BAB 2 [Harga]
53
BAB 2 [Harapan Di Balik Kesemuan] Selesai
54
BAB 3 [Mimpi Panjang]
55
BAB 3 [Kesalahpahaman]
56
BAB 3 [Kedatangannya]
57
Bab 3 [Ketatapan]
58
BAB 3 [Kedatangan Tuan Muda]
59
BAB 3 [Sosokmu]
60
BAB 3 [Keanehan]
61
BAB 3 [Petaka]
62
BAB 3 [Keputusan]
63
BAB 3 [Louis]
64
BAB 3 [Merasuk]
65
BAB 3 [Titisan Kehancuran]
66
BAB 3 [Kehidupan Louis]
67
BAB 3 [Muncul Juga Akhirnya]
68
BAB 3 [Misterius]
69
BAB [Tekanan]
70
BAB 3 [Keluar]
71
BAB 3 [Pertemuan Kembali Ashel]
72
BAB 3 [kematian Yang Menghampiri]
73
BAB 3 [Kemenangan Mutlak]
74
BAB 3 [Aku Mencintaimu, Pangeran Aosora] TAMAT
75
SIDE STORY [LOUIS]
76
SIDE STORY [TSUHA]
77
SIDE STORY [FELIX]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!