Deruan ombak laut terdengar begitu keras.
Hanya Arthur satu-satunya yang disegel sihirnya oleh Ruri. Arthur tidak akan dapat menggunakan sihirnya selama 7 hari ke depan, terutama pedang mana dan sihir teleport.
Angin dari kapal penyebrangan dari Gry ke Arden yang bertiup kencang membuat rambut Arthur menjadi berantakan.
"Sudah lama sekali" Lirih Arthur sambil melihat ombak air yang di ciptakan oleh kecepatan kapal.
Di bawa laut itu, Arthur dapat melihat ikan yang berkoloni. Arthur tiba-tiba merindukan keluarganya.
Devina dan Felix memperhatikan Arthur dari atas kabin. Sesekali, Devina melihat Felix yang nampak begitu khawatir dengan Arthur. Terutama, dengan apa yang terjadi dengan Arthur tadi pagi. Wajah Felix seakan hampir menangis.
"Felix, Arthur akan baik-baik saja. Dia tidak akan mudah di tangkap oleh siapapun" Ucap Devina.
Felix membelakangkan rambutnya yang maju karena angin. Bekas luka bakar terlihat sedikit di kening kanan Felix yang tak tertutup scraft wajah.
"Dia punya bekas luka di wajahnya?"
Felix terkekeh ringan. "Aku selalu berharap bisa bertemu dengan dia (Aosora Arthur). Aku sungguh yakin kalau dia akan selamat. Tapi, disisi lain.... Aku tidak bisa tenang saat melihat nyawa seseorang yang terancam di depanku. Padahal, dengan sadar aku tau kalau aku tidak mempu membantunya" Felix mengosok tengkuknya.
Devina memperhatikan bagaimana cara gelagat Felix.
Matanya selalu menyipit saat terkekeh.
"Haha, padahal aku sangat malu kalau berdiri di sebelah kalian berdua. Kalian berdua orang yang cukup tangguh. Aku hanya akan menjadi beban kalian. Mau bagaimana lagi, aku sungguh membutuhkan uang" Ucap Felix.
Devina memegang tangan Felix. Telapak tangan Felix begitu dingin dan berkeringat.
"Tidak apa. Kau akan kuat sepanjang waktu berlalu. Aku juga, dulu tidak bisa sihir. Aku sempat memiliki trauma melihat wajah orang lain" Devina menunjukkan senyuman manisnya.
Bertepatan sekali. Arthur tiba-tiba menengok ke atas. Dia sudah lama tidak melihat senyuman Devina seperti itu.
Kening Arthur langsung berkerut cara dia melihat Felix berubah dengan cepat.
"Karena bantuan dari Arthur dan Guru, aku bisa sembuh perlahan. Dan sekarang, aku bisa beberapa sihir penyerangan dan bertahan. Aku masih belum bisa berteleportasi. Jadi, semangat ya! Kau pasti akan bisa sihir juga" Devina memberikan dukungan kepada Felix.
Dukungan seperti itu, sudah sering Felix dengar. "Itu tidak mungkin" Felix mengalihkan pandangannya dengan berat hati.
"Tidak ada yang tidak mungkin. Kau tau, aku punya penciuman yang kuat karena adaptasiku dari masa traumaku. Kau masih memiliki energi mana meski tipis. Aku bisa menciumnya, tapi aku tidak bisa merasakannya" Ucap Devina sambil menunjuk hidungnya sendiri.
Mata Felix terlihat berkilau.
"Apanya yang kau cium tapi tidak kau rasakan?" Arthur tiba-tiba muncul diantara mereka.
"HUAH!!!" Devina terkejut tak main dan dia refleks melesatkan kakinya ke arah Arthur.
Arthur menahan kaki Devina, kemudian dia melepaskannya.
Kening Arthur masih berkernyit saat melihat Felix. Kemudian, dia melihat ke arah Devina dan mendekatkan wajahnya ke arah Devina. Arthur menghalangi jalan keluar Devina.
"Kenapa kau masih menghindariku setelah kau memelukku, hmm?" Arthur memasang wajah memelasnya kepada Devina.
Devina sebenarnya tak bisa mengontrol emosi di wajahnya. Hingga, saat dia salah tingkah, dia memasang wajah datar dan kesalnya ke arah Arthur.
Felix melihat Devina yang menatap Arthur dengan tajam seolah dia marah. Begitu pula dengan pikiran Arthur. Dia langsung mundur karena takut Devina tambah marah.
Jantung Devina berdebar dengan kencang. Dia berjalan melewati Arthur dan langsung masuk ke dalam ruangan kamarnya.
Devina langsung membekap wajahnya dengan bantal dan dia berteriak dalam batin sangking kaget dan senangnya.
Arthur dan Felix saling melihat.
"Kau membuat dia marah lagi" Ucap Felix kepada Arthur.
Lutut Arthur lemas dan dia langsung bersandar di pagar pembatas itu. "Hah... Sebenarnya, aku salah apa?" Ucap Arthur sambil mengacak-acak rambut kelabunya yang sering berubah-ubah dengan cepat.
"Salahmu ada pada tindakanmu yang terlalu berlebihan" Ucap Felix.
Arthur kembali melihat ke arah Felix. Dia mendonggakkan kepalanya. "Ha? Apa maksud ucapanmu?" Tanya Arthur.
"Kau dan dia tidak terlihat seperti partner kerja. Apa kalian berdua pasangan kekasih?"
"Omong kosong apa yang kau katakan?" Arthur semakin kesal.
"Aku melihat setiap tindakanmu pagi itu sampai sekarang. Kau terlihat seperti menyukainya"
Mulut Arthur mengagah mendengarnya. "Itu tidak mungkin. Orang sepertiku, bukanlah type dia. Dia menyukai orang yang lembut seperti kau!" Tegas Arthur.
"Aku? Ha? Apa pekerjaanmu sungguh menutup penglihatanmu?" Tanya Felix sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
Arthur berdiri dengan tegak. "Bukankah itu sudah terlihat jelas? Tinggi, tampan, murah senyum, ceria, cekatan, peka, dan jujur. Kau sungguh tipe dia" Jelas Arthur.
Felix termangun di tempat. "Sungguh, kau mengakui aku tampan?"
Bibir Arthur langsung turun ke bawah. "Tidak juga, aku lebih tampan darimu" Ucap Arthur.
...----------------●●●----------------...
Malam telah tiba. Kabin tempat Arthur berada berisi satu ranjang susun dengan 2 kasur.
Arthur dan Felix berbagi ranjang di bawah sedangkan Devina tidur di ranjang atas.
Devina tidak bisa tidur karena suara ombak dan kapal yang bergoyang. Sesekali, dia mengintip ke tempat tidur Arthur dan Felix. Mereka berdua sungguh tidur dengan nyaman. Dimana Arthur yang tidur dengan keadaan memeluk Felix.
Mereka tidur tanpa memiliki ke khawatiran akan bahaya atau orang yang akan menyusup.
Devina turun dari ranjangnya dan dia duduk di kursi panjang yang tersedia di kamar kabin itu.
Felix terbangun karena mendengar langkah kaki. Dia memindahkn tangan Arthur yang memelukknya dan mendorong pinggang Arthur untuk menghadap ke dinding kamar.
Felix duduk dan mengambil scraftnya. Beruntung baginya karena lampu kamar kabin itu masih belum dinyalakan.
"Tidak bisa tidur?" Tanya Felix.
"Begitulah" Jawab Devina.
"Kau tau, Arthur melarang kita untuk keluar di malam hari, aku akan menunggumu hingga kau tertidur. Aku bisa memberikan beberapa relaksasi agar kau lebih rileks" Ucap Felix sambil duduk disebelah Devina.
"Bolehkah?" Tanya Devina.
Felix menghidupkan lampu buram di dekatnya. "Sekarang, coba punggungi aku dan bernapaslah dengan tenang" Devina menuruti ucapan Felix.
Felix membagi dua rambut Devina yang di gerai. Dia mulai memijat kepala Devina dengan perlahan. Devina mulai nyaman karena pijatan halus itu.
Dia menguap pelan sambil menyandarkan punggungnya di bahu Felix. "Arthur pasti kan suka kalau kau beginikan juga" Lirih Devina dengan mata yang berkedip-kedip ringan.
"Untuk pijatan selanjutnya, aku harus dibayar" Gurau Felix.
Devina terkekeh ringan. Dia kembali duduk dengan tegak dan mengikat rambutnya. "Aku sudah mengantuk. Terima kasih Felix..." Ucap Devina sembari mengusap rambut Felix yang halus.
Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan itu. Dia ingin sekali mendapatkan apresiasi seperti itu lagi.
"Tidurlah, selamat malam" Ucap Felix sambil mematikan lampunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments